"Jadi, Thalia ini benar membuat kekacauan?" Fagan menarik napas. Menyugar rambut gelapnya dengan ekspresi sinis yang kentara. Bukan main, kejengkelannya meningkat seribu persen lebih pesat dari sebelumnya. Mendadak dirinya ingin bertemu Thalia dan bicara semaunya kepada wanita itu. Tetapi Fagan tidak pernah berurusan atau terlibat perselisihan serius dengan para perempuan. Karena dirinya seorang pria dan keluarganya melarang akan hal itu. Pada dasarnya dia lebih suka mengalah dan Thalia sudah menguji kesabarannya sampai tak bersisa. "Kami tidur bersama? Semua gambarnya palsu." "Ini semua tidak benar, kan?" Ivan membeo dengan rasa cemas. Setahunya, sang adik tidak bersikap ceroboh dengan merekam semua kegiatan pribadi hanya sebagai kejahilan semata. "Apa dia sedang mengandung?" "Tidak

