TA - 52

1220 Kata

Saat dirinya terjaga, matahari belum sepenuhnya muncul untuk duduk di peraduan. Suasana kamar masih segelap malam. Yang tersisa hanya lampu kamar temaram. Vania mengambil napas. Merasakan tempat tidur yang terjangkau cukup luas, menyempit. Ini bukan karena badannya yang melebar, melainkan karena pelukan Fagan yang terlalu erat. Seolah dirinya mampu berlari tanpa pamit di tengah malam. Ia bergerak, berusaha mengubah posisi agar bisa leluasa menggerakan tubuhnya dan hasilnya nihil. Percuma saja mencoba memisahkan diri dengan pria yang tertidur di sampingnya yang terlelap tanpa mimpi buruk. Dengan berakhir sebagai dirinya yang menyaksikan Fagan tertidur pulas. Mungkin pemandangan semacam ini langka menurutnya. Karena malam pertama mereka, Vania terlalu bimbang. Membayangkan perasaan sesal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN