"Sudah aku duga ini tidak sedikit." Sarah menatap sahabatnya dalam diam. Bibirnya masih terkatup, tidak mengeluarkan komentar apa pun. Sedangkan Vania tampak lesu, memandang anggaran dalam bentuk berkas di atas meja dengan muram. "Kita harus mencari solusi yang tepat." "Uang dari bank itu perlu. Lagi pula, kau tidak membuka investor karena bisnis bersifat pribadi," timpal Sarah. "Aku ikut denganmu ke bank secepatnya." Vania memandangnya skeptis. Masih terlalu sibuk berdiam diri. Saat Sarah menepis cemas pada mata sahabatnya yang berbayang. "Semua akan berhasil, bukan?" "Kau pintar mencari celah. Percayalah, usahamu akan maju. Kau tidak melakukan kesalahan dengan membangun bisnismu kembali," kata Sarah penuh aura positif. Ia membantu Vania menghimpun semangatnya lagi. "Urusan izin mema

