Kemarahan Garen

1317 Kata
~Selamat membaca~ "Dahulu saat kalian masih kanak kanak, Garen memperlakukanmu layaknya permata. Seekor semutpun tak dia ijinkan menggigitmu, tetapi setelah dewasa, bukan hanya serangga kecil seekor singa pun dia ijinkan untuk melahapmu hidup hidup." Tutur Suryo mengulik kisah lampau. Serena merasa tersentuh oleh kisah lalu yang dahulu selalu menjadi sebuah harapan baginya. Kini semua hanya tinggal kenangan dalam sebuah cerita yang di bingkai banyak duri tajam. Hati Serena telah menanggung banyak luka memar, dan kini terkoyak habis. "Garen hanya tak mengenaliku kek bukan berarti Garen jahat," timpal Serena menyanggah. "Kamu tau Serena, namamu itu adalah nama pilihan Garen. Saat keluargamu berkunjung ke Jakarta, saat itu ibumu sedang mengandung dirimu tujuh bulan. Dan Garen kecil kami yang kala itu berusia 3 tahun, Garen begitu menyukai perut bulat ibumu. Apalagi saat dia mengetahui, ada bayi perempuan cantik di dalam sana. Garen langsung menyematkan nama Serena, hanya karena saat itu ibunya menyuguhkan sekaleng biskuit dengan merk yang kini menjadi namamu." Cerita Suryo melanjutkan kisahnya. Suryo terkekeh kecil mengenang masa lalu itu. Sedangkan Serena tak tau harus menangis haru atau meratap pilu. Garen adalah sahabat kecilnya, dan Serena bagi Garen adalah cinta masa remajanya. Keduanya berpisah saat Garen berusia 14 tahun, Serena kala itu berusia 10 tahun. "Aku masih sangat menyukai nama ini kek, aku tak menyesalinya meski namaku kerap di jadikan bahan ledekan teman teman di sekolah." Ujar Serena tertawa kecil. Sembari mengingat bagaimana namanya selalu menjadi bahan ledekan teman temannya di sekolah, karena ia di anggap sebagai kaleng biskuit berjalan. "Kamu begitu tulus dan baik terhadap keluarga kami nak, tak seharusnya kamu mengalami perjalanan pahit berliku tajam seperti ini. Di masa lalu, kakek hanyalah anak seorang buruh tani. Tapi mendiang kakekmu merubah nasib anak buruh sawah ini, menjadi seseorang tuan di mata banyak orang. Lalu di suatu generasi yang berbeda, Tuhan mengirimkan seorang pembunuh di keturunan kakek. Alangkah kejam, bukan? air su su telah kakek balas dengan air tuba." Suryo mengakhiri kisahnya dengan kekehan getir. Senyum Serena seketika surut. Tak bisa ia tampik, kenyataannya Garen adalah penyebab kedua orang tuanya meninggal dunia. Pria yang menyematkan status yatim piatu untuk dirinya. Pria yang juga menggoreskan belati di jantungnya, hingga kini mulai mati rasa. "Sebaiknya kita tak perlu lagi membahas masa masa penuh kepiluan itu kek. Ada baiknya kisah pahit kita lupakan dan memulai kisah baru untuk mengubur cerita lama." Ujar Serena bijak. Namun Suryo menggeleng samar. "Di sisa hidup kakek yang entah sampai kapan ini, kakek tak berharap menjadi saksi kehancuran rumah tanggamu nak. Andai Garen tak buta dalam mencintai seorang wanita, hari ini kakek tak akan melihat senyum palsu terus terukir di bibirmu agar kakek tak merasa bersalah." Sambung pria tua itu dengan nada sedih dan kecewa. Tatapan dalam yang Suryo berikan kepada Serena mampu membuat air mata wanita itu mengalir deras. Sekuat apapun ia berusaha menjadi sosok yang tangguh, Serena hanyalah manusia biasa. Suryo mengusap lembut surai panjang Serena yang kini sedang menjadikan bahunya sebagai sandaran. "Menangislah nak, bukan hal memalukan memperlihatkannya air matamu di hadapan seseorang." Tukas Suryo bijak. ************* Di tempat berbeda, Garen tampak murka saat mendapati laporan keuangan perusahaan yang tak sesuai dengan anggaran pengeluaran. "Siapa yang membuat laporan sampah ini?!" seru Garen marah. Berkas laporan tersebut kini teronggok bagai sampah di atas lantai setelah di hempas oleh Garen. Laras tak berani mengeluarkan statemen apapun. Wanita itu tampak ketakutan saat melihat reaksi tak terduga yang Garen perlihatkan. Sedangkan Seno masih bergeming, menunggu pak Handoko menjelaskan perihal laporan rugi laba perusahaan yang melenceng jauh dari kenyataan. Dengan suara bergetar ketakutan, pak Handoko mulai menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan arus pengeluaran beberapa bulan belakangan ini. "Saya hanya menindaklanjuti laporan yang sudah di audit oleh bagian management tuan. Laporan ini semua reel tanpa saya rekayasa sama sekali," ujar pak Handoko membela diri. Keringat dingin sebesar biji jagung tampak membulir di kening pria paruh baya itu. Tampaknya baru kali ini pak Handoko menghadapi kemarahan CEO perusahaan tersebut secara langsung. "Apa pak Handoko lupa apa jabatan pak Handoko di perusahaan ini?" pertanyaan tersebut tak mampu di jawab oleh pak Handoko. Pria itu hanya mampu mengangguk tanpa sepatah kata. "Pak Handoko adalah seorang manager keuangan di perusahaan ini. Artinya pak Handoko bertanggung jawab menjalankan keuangan perusahaan agar sesuai dengan rencana. Strategi penyesuaian budget adalah tanggung jawab pak Handoko, agar perusahaan tidak mengalami defisit anggaran. Lalu kenapa perusahaan malah harus menanggung kerugian miliaran rupiah hanya untuk proyek kecil ini hah?!" bentak Garen murka. Tubuh Laras beberapa kali tersentak kaget ketika Garen meninggikan suaranya. Wanita itu pun tak pernah melihat Garen melupakan kemarahannya sehebat ini sebelumnya. Garen cenderung pria yang tenang dalam menghadapi setiap situasi genting apapun. Namun kali ini, Laras seperti melihat sosok lain yang bersemayam dalam tubuh kekasihnya. Aku pikir kamu gak akan semarah ini hanya karena perusahaan mengalami kerugian tak seberapa mas. Siapa sosok pria yang selama ini telah aku perjuangkan mati matian, sampai merelakan harga diriku merayap di titik paling rendah. Laras masih berdiam sembari terus menatap sosok pria, yang dia yakini tak akan pernah memperlihatkan sisi menakutkan di hadapannya itu. Laras terlalu percaya diri selama ini karena menganggap Garen telah berada sepenuhnya dalam genggaman tangannya. "Sebaiknya pak Handoko mencari tau siapa dalang di balik semua kekacauan ini," setelah cukup lama berdiam diri, Seno akhirnya angkat bicara. "Cari tau siapa yang telah memalsukan data analisis keuangan perusahaan, lalu bawa ke hadapan tuan Garen." Lanjut Seno datar. "Baik tuan, akan saya lakukan perintah anda. Tolong beri saya waktu untuk melakukan perintah anda, saya masih sangat membutuhkan pekerjaan ini tuan Garen." Pinta pak Handoko memelas. Pria itu benar benar di landa ketakutan bila dirinya akan di pecat dari pekerjaannya. "Tergantung dari bagaimana usaha yang anda lakukan pak Handoko," balas Seno mewakili Garen yang sejak tadi hanya diam sembari menatap kosong ke arah jendela. "Baik tuan, saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk mengungkap semua kecurangan yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab di perusahaan ini." Tandas pak Handoko penuh tekad. Pria paruh baya itu kemudian pamit setelah memungut berkas laporan yang berserakan di lantai ruangan Garen. "Khemmm...tuan Seno, tolong ingatkan kembali kepada tuan Garen bila pukul tiga sore ini beliau ada pertemuan dengan seorang klien di restoran Star King." Sela Laras yang tak berani menyampaikan secara langsung perihal schedule Garen, padahal pria itu berada tepat di hadapannya meski hanya tampak punggung. "Hmmm..." hanya deheman sebagai jawaban itu membuat Laras merasa tidak di hargai. Namun mengingat situasi saat ini sedang tidak kondusif, Laras memilih untuk mengesampingkan egonya demi kebaikan dirinya sendiri. Setelah Laras keluar dari ruangan Garen, Seno meletakkan sebuah berkas yang sejak tadi berada di tangannya. "Aku tak tau apakah amarahmu ini ada hubungannya dengan apa yang telah Serena lakukan. Tetapi bila ia, maka aku mohon padamu sebagai seorang sahabat. Lepaskan Serena dari jerat pernikahan tak sehat ini Garen. Kita tau, Serena adalah orang yang paling terluka dari siapapun bahkan dirimu. Perlu kamu ingat kembali, Serena tak pernah merampas kebahagiaanmu. Wanita malang itu terpaksa menerima takdir yang bahkan dirinya sendiri tak siap menanggungnya. Cermati berkas pengajuan perceraian ini, lalu putuskan dengan bijak. Serena berhak mendapatkan kebahagiaan serupa, seperti yang kamu inginkan bersama Laras selama ini." Setelah mengucapkan kalimat panjang yang kian menambah daftar kekesalan Garen, Seno pamit undur diri. Meninggalkan berkas yang akan mengubah kehidupan Garen sang sahabat, setelah memutuskan apa yang terbaik dalam hidupnya. "Aku harap kamu puas atas kemenanganmu kali ini, Laras. Pastikan cintamu sekuat karang dan kesetiaan seluas jagad raya tak berujung, karena kini kebahagiaan Garen berada penuh di tanganmu." Ujar Seno saat mendapati Laras sengaja menguping pembicaraannya dengan Garen di balik pintu yang sedikit terbuka. Wanita itu tampak salah tingkah, karena kedapatan menguping. Namun Laras masih mampu bersikap angkuh untuk menyelamatkan harga dirinya. "Garen kekasihku jauh sebelum Serena hadir merusak segalanya, jadi siapa yang harus di khawatirkan menjadi duri dalam hubungan kami?" ketus Laras merasa tersinggung. Seno tak menanggapi, pria itu memilih pergi meninggalkan Laras yang masih menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. TBC Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar terimakasih. Salam sayang author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN