~Selamat membaca~
Garen menghentikan langkahnya ketika mendapati Serena kini tengah berdiri menghalanginya jalannya menuju tangga.
"Aku sangat lelah Serena," desis Garen berusaha menekan perasaan yang kembali berkecamuk dalam benaknya. Dia yakin Serena tak akan menyerah untuk membahas tentang perpisahan mereka, sampai wanita itu mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Mari makan malam sebelum kamu naik untuk beristirahat, aku hanya ingin sekali saja memiliki satu momen manis yang bisa aku kenang." Tanpa menunggu jawaban Garen Serena menggandeng lengan kekar yang selama ini selalu ia kagumi.
Garen menghela nafas panjang karena tak sanggup menolak. Entah mengapa malam ini Serena bagian begitu mempesona.
Makan malam tersebut begitu hikmat. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang berbenturan dengan permintaan piring. Garen sebisa mungkin tak memulai perbincangan agar seusai makan malam, dirinya bisa langsung meninggalkan Serena tanpa perlu mengucapkan apapun. Termasuk kata terimakasih untuk makanan lezat yang selalu Serena hidangkan untuk dirinya selama satu tahun ini.
Seusai makan malam penuh ketegangan, Garen meraih serbet lalu mengusap bibirnya. Tanpa sepatah kata Garen beranjak dari kursinya begitu saja.
Namun sebelum sempat laki laki itu melangkah jauh, suara Serena menguar kembali.
"Bolehkah aku meminta sebuah permohonan sebagai hadiah perpisahan kita?" ucap Serena ringan.
Garen bergeming, kemudian memutar tubuhnya kemudian menatap Serena dengan tatapan datar yang tak dapat di mengerti.
Serena mengulas senyum manis, karena sadar permintaannya tak akan dengan mudah Garen berikan.
"Ijinkan aku menunaikan bakti terkahir ku sebagai istrimu sebelum perpisahan kita benar benar terjadi." Tukas Serena lagi membuat Garen melotot tajam penuh kemarahan.
Namun Serena tetap teguh pada apa yang telah ia putuskan. Menunaikan bakti terakhir sebagai istri Garen adalah keinginannya sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Apa kamu sadar, bila permintaanmu tak ubahnya seperti seorang wanita ja lang yang meminta hak atas ketidakpantasannya?" tukas Garen dengan nada dingin.
Deg
Sakit. Sangat! Kalimat yang Garen lontarkan mampu mengoyak hatinya hingga remuk tak berbentuk. Tetapi Serena tak memperlihatkan betapa kalimat tersebut melukai perasaannya hingga menembus tulang.
"Mungkin ada sedikit perbedaannya tuan Garen, karena kini statusku masihlah seorang istri sah. Bukan seorang kekasih simpanan yang merasa dirinya seorang permaisuri, di kerjaan yang telah dia rampas tanpa perasaan." Tukas Serena lugas.
Tubuh Garen membeku, suaranya tercekat di tenggorokan, saat mendengar pernyataan yang menyindir telak kenyataan yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Pria itu menatap lekat manik bening Serena yang bahkan tak memperlihatkan guratan luka atas pengkhianatannya. Serena masih mampu menyunggingkan senyum terbaiknya, padahal jelas jelas Garen telah menabur beling yang mengoyak sanubari wanita berhati bidadari tersebut.
"Aku tunggu di kamar utama," ucap Serena membawa kesadaran Garen kembali ke kenyataan, tanpa peduli reaksi Garen atas sikapnya yang lancang. Dengan berjinjit akhirnya Serena bisa mencapai titik di mana dia dapat memberikan kecupan hangat di pipi kanan Garen.
Sekali lagi, tubuh Garen bagai tersengat listrik jutaan volt. Inilah alasannya kenapa beberapa bulan ini Garen tak lagi menyentuh Serena, karena setiap kali ia menyatu dengan istrinya, Garen mampu melupakan segalanya. Termasuk sang kekasih tercinta.
Garen masih mematung di tempatnya sambil menatap punggung ramping Serena, yang berjalan gemulai menuju lantai dua, di mana kamar utama yang dia tempati berada.
Selama ini, Serena tak pernah menyentuh area lantai dua. Wanita itu hanya boleh berkeliaran di lantai satu di mana kamarnya berada. Garen akan mendatanginya layaknya seorang wanita simpanan bila pria itu menginginkan haknya terpenuhi. Setelah itu, Serena akan di tinggalkan begitu saja sesaat semuanya usai.
Tak pernah Garen ketahui, bila sepeninggalannya Serena kerap menangis dalam diam meratapi nasibnya yang tak ubah seperti wanita tak berharga.
Garen memutuskan untuk menenangkan pikirannya dengan duduk di sofa ruang keluarga. Garen menatap sekeliling hingga netranya tertuju pada pintu kamar yang berada persis di bawah tangga.
Kamar itu adalah kamar Serena. Selama satu tahun ini, di sanalah Serena menghabiskan malam harinya dalam kesepian sembari merenungi nasib pernikahannya yang tak pernah bahagia.
"Apa yang harus aku lakukan padamu Serena?" gumam Garen frustasi. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar.
Bayangan sang kekasih bahkan nyaris pudar di saat dirinya sangat mengharapkan sebuah pengalihan. Hingga akhirnya Garen memutuskan untuk menyusul sang istri meski belum tau apa yang harus ia lakukan.
Saat pintu kamarnya terbuka, pemandangan yang meruntuhkan iman langsung menyapanya. Serena berbaring dengan posisi miring menghadap ke arah kamar mandi. Yang otomatis memperlihatkan bongkahan bo kong indah Serena yang kini hanya berbalut lingerie hitam tipis.
Gluk.
Garen menelan ludah susah payah. Sebagai pria normal, terlalu naif bila hasratnya tak terpancing. Satu satunya alasan Garen tak lagi menyentuh Serena adalah, karena tak ingin terhanyut dalam oleh pesona istrinya itu. Bukan karena dirinya tak lagi berhasrat terhadap tubuh indah Serena.
Ada hati yang ingin ia jaga, yaitu Laras sang kekasih.
Tak ingin di anggap pengecut dan di remehkan, Garen melangkah masuk dengan langkah penuh wibawa menuju sisi ranjang king sizenya. Setelah berhadapan dengan sang istri, Garen memberikan tatapan datar tanpa ekspresi apapun.
Serena mengulas senyum tipis lalu beranjak duduk. Tanpa menunggu Garen berucap sepatah kata mengenai persetujuannya Serena mengalungkan kedua tangannya di leher Garen.
"Malam ini aku milikmu, anggap saja sebagai kompensasi perceraian yang sepadan dengan ketabahanku selama satu tahun belakangan ini." Ujar Serena yang kini tengah mengendurkan dasi yang Garen pakai.
"Laras sangat pandai merawatmu di kantor," ucap Serena terkekeh pelan. Berbeda dengan ekspresi Serena, reaksi Garen langsung terlihat menegang. Mungkin laki laki itu yak menyangka, apa yang telah Serena ketahui lebih banyak dari apa yang bisa Garen tebak saat ini.
Garen menatap manik istrinya dengan tatapan menelisik tajam. Kalimat yang Serena lontarkan telah menggambarkan bila wanita di hadapannya itu mengetahui banyak hal, tentang hubungannya dengan Laras selama ini.
Lalu yang menjadi pertanyaan Garen, kenapa wanita itu masih ingin bertahan selama itu dengan segala luka yang ia berikan? adakah wanita itu memang memiliki rencana di balik sikap diamnya selama ini?
Tanpa menyanggah kemudian Garen memberikan jawaban yang menohok tajam.
"Kamu benar sekali istriku, Laras selalu mengerti apa yang aku butuhkan." Jawaban tersebut mampu mengoyak habis harga diri Serena Sebagai seorang istri, namun alih alih memperlihatkan ekspresi marah, terhina atau tersakiti, Serena justru memberikan senyum manis yang mengalahkan manisnya madu.
"Aku senang seseorang dapat memahami apa yang suamiku butuhkan, itu artinya tugasku sebagai seorang istri sedikit terbantu." Tak kalah menohok, Serena memberikan pernyataan yang membuat Garen mengeraskan rahangnya sembari mengepalkan tangannya.
Apa yang dia harapkan, Serena akan meneteskan air mata lalu menangis dramatis? Garen sungguh naif, selama ini Serena bahkan tak pernah memperlihatkan kecemburuan terhadapnya, meski ia selalu di kelilingi oleh wanita wanita cantik dari kalangan kaum elit.
Serena sedikit tersentak saat Garen tanpa aba aba manarik pinggang rampingnya hingga tubuh mereka tak lagi berjarak. Meski mereka sudah pernah melakukan sentuhan intim, tetap saja Serena belum terbiasa dengan segala bentuk sentuhan yang Garen lakukan kepadanya.
"Dan sekarang giliranmu yang memberikan pelayanan terbaik kepadaku, Serena sayang." Timpal Garen menyeringai. Tanpa menunggu jawaban Serena, Garen langsung mendaratkan ciuman penuh gai rah tanpa jeda.
Serena mendorongku kuat bahu Garen karena dirinya kesulitan untuk bernafas. Garen menyeringai setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Kenapa? bukankah ini yang kamu inginkan? sekarang nikmatilah sayang, bukankah kamu menginginkan kompensasi perceraian yang penuh gejolak has_rat mendebarkan?" Garen kembali melanjutkan ciuman yang sempat terjeda, kali ini pria itu tak memberikan sedikitpun jeda.
Gai rah berbalut amarah telah menguasai seluruh tubuhnya. Yang Garen pikirkan hanyalah bagaimana dirinya bisa menguasai tubuh mungil Serena sepenuhnya. Sampai wanita itu memohon pengampunan darinya.
Di tempat lain, Laras menatap kesal layar ponselnya yang sejak tadi terus menampilkan panggilan yang tak kunjung di jawab oleh Garen.
"Kamu lagi ngapain sih mas!" gerutu Laras kemudian melempar handphone-nya secara asal ke atas ranjang. Sedangkan pria yang dia rindukan sedang memadu kasih bersama istrinya, tanpa sedikitpun mengingat bila ada wanita lain yang sedang menunggu kabar darinya.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, terimakasih
Salam sayang author AQYa TRi