~Selamat membaca~
Serena menggeliat karena terusik oleh pancaran sinar yang menerpa wajahnya. Saat hendak meregangkan tubuhnya, Serena merasa kesulitan untuk menggerakkan kedua tangannya. Hingga sebuah suara menyentak kesadaran Serena akan malam panas yang baru saja ia lewati bersama Garen.
"Masih terlalu pagi untuk terbangun..." tubuh Serena menegang saat mendengar suara serak yang sangat khas. Sekelebat bayangan percintaan panasnya semalam kembali menubruk ingatannya. Beruntung saat ini posisi Serena sedang membelakangi suaminya. Kalau tidak bisa di pastikan wajahnya yang bersemu merah akan terlihat oleh laki laki itu.
"Bukankah kamu harus ke kantor lebih awal hari ini?" mendengar penuturan Serena, Garen sadar bila pesan yang muncul di layar pop up handphonenya semalam terlihat oleh wanita itu. Dan pesan tersebut berasal dari sang kekasih setelah beberapa kali pesan serta panggilannya di abaikan.
"Hari ini aku sedikit lelah, jadi aku berpikir untuk menghabiskan waktu di rumah saja bersamamu." Ujar Garen kembali mengeratkan pelukannya yang tadi sempat merenggang. Laki laki itu semakin menyusupkan wajahnya di celah tengkuk Serena dengan manja.
Serena bergeming tanpa berkomentar lagi. Terlalu aneh baginya mendapati Garen di pagi hari seperti ini, masih mendekap erat tubuhnya. Mungkinkah euforia percintaan mereka semalam masih mempengaruhi ingatan pria tersebut? karena sepanjang ingatan Serena, Garen tak pernah bertahan lebih dari lima menit setelah pergumulan panas mereka. Pria itu akan langsung pergi begitu saja seusai merapikan pakaiannya.
"Aku tetap harus membuatkan kita sarapan, bukan?" ujar Serena mencoba mencari alibi untuk meninggalkan kamar Garen. Bukan pagi penuh kehangatan seperti ini yang ia harapkan.
"Kita akan memesan untuk sarapan pagi ini, aku masih sangat mengantuk untuk sarapan terlalu pagi." Jawab Garen acuh. Garen tau bila Serena hanya sedang mencari alasan untuk meniggalkan kamarnya.
Serena tanpa sadar menghela nafas panjang. Tubuhnya pun masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, dan itu membuatnya semakin risih tak nyaman.
"Berhentilah terus menggerakkan tubuhmu sayang , kamu semakin membuatnya terbangun sempurna." Ujar Garen penuh peringatan. Serena dapat merasakan sesuatu mulai mengeras menyentuh bo kongnya, membuat wanita itu meremang seketika dengan tubuh menegang.
"Aku benar benar harus bangun sekarang Garen, aku harus ke kamar mandi sekarang juga." Rengek Serena yang mulai merasa was was.
Garen mengendurkan dekapannya sembari mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi, dan laki laki itu baru menyadari bila saat ini Serena sedang membelakanginya. Dengan sekali hentakan Garen berhasil membalikkan posisi Serena menghadap ke arahnya. Dan segera terlihat wajah cantik alami tanpa polesan makeup sama sekali di wajah istrinya. Meski sebenarnya Serena sendiri jarang menggunakan riasan tebal seperti yang selalu Laras lakukan. Namun kecantikan hakiki wanita itu kian terpancar tak terbantahkan.
"Selamat pagi istriku..." sapa Garen membuat Serena tertegun, apalagi mendapati tatapan teduh dari pria bermata elang tersebut, bagi Serena merupakan sesuatu hal yang langka. Belum lagi ini kali pertamanya Garen mengucapkan sapaan hangat, setelah satu tahun pernikahan mereka.
Serena lekas memutuskan tatapan matanya yang sejak tadi terus memandangi wajah tampan suaminya. Garen mengekeh pelan melihat tingkah menggemaskan istrinya. Dengan gemas laki laki itu memberikan kecupan manis di kening Serena.
"Kenapa tak membalas sapaanku hmmm?"
"Selamat pagi juga," balas Serena meski sedikit terlambat. "Apakah aku boleh pergi ke kamarku sekarang?" tanya Serena dengan sedikit keberanian membalas tatapan suaminya.
"Apakah kamar ini membuatmu tak nyaman sehingga kamu begitu gelisah untuk bergegas pergi?" pertanyaan Garen membuat Serena kelabakan. Lekas wanita itu menggeleng cepat dengan ekspresi cemas karena tak ingin Garen tersinggung.
"Lalu? kenapa kamu begitu kukuh ingin meninggalkan pria yang semalam penuh kamu kuasai, begitu saja hmmm?" goda Garen menahan tawa geli. Karena saat ini wajah istrinya itu terlihat memerah bak kepiting rebus.
"Bisakah tidak membahasnya!" kesal Serena kemudian mendorong tubuh Garen sedikit keras, sehingga ia berhasil memberikan sedikit ruang untuk membebaskan diri dari belenggu suaminya.
Garen terbahak setelah berhasil menggoda sang istri, yang kini terlihat kesal karena malu mendengar kalimat frontal yang ia ucapkan.
"Baiklah maafkan aku," ucap Garen menyudahi kejahilannya. "Aku akan menghubungi Seno untuk memesan sarapan untuk kita. Kamu tak perlu berktutat di dapur sepagi ini," sambung Garen kemudian mulai menghubungi sang asisten.
Serena tak membantah, wanita itu hanya mengangguk pelan sambil memungut kemeja putih milik Garen yang teronggok di bawah kaki ranjang menggunakan jari kakinya. Serena terlalu malu memperlihatkan tubuh polosnya di hadapan Garen, di saat kesadarannya telah kembali seutuhnya.
Sedangkan Garen beranjak dari ranjang dalam keadaan tanpa menggunakan penutup apapun. Laki laki itu berdiri di sisi ranjang di mana Serena tengah memakai kemejanya dengan penuh percaya diri.
wajah Serena pias melihat penampakan tubuh sensitif Garen yang terpampang nyata di hadapannya tanpa penutup apapun. Laki laki itu pun tak merasa canggung mempertontonkan bagian tubuhnya di hadapan Serena, yang terus mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Ini..." ucap Serena menyodorkan boxer milik Garen agar laki laki itu menyadari kondisinya saat ini. Tanpa menatap suaminya Serena meletakkan boxer tersebut di atas ranjang.
Garen menatap sejenak tubuh polosnya seraya mengukir senyum samar. Di raihnya boxer tersebut lalu memakainya. Sedangkan Serena sudah melenggang pergi meninggalkan kamarnya, setelah memungut lingerie yang sudah tak lagi berbentuk utuh, karena atribut tersebut telah di robek oleh keganasannya semalam. Itulah alasannya kenapa Serena terpaksa memakai kemejanya.
"Katakan sekali lagi," pinta Garen setelah tak lagi melihat punggung ramping Serena yang menghilang di ujung tangga. Dengan langkah lebar garen berjalan menuju balkon kamarnya, untuk mencari posisi yang nyaman.
"Nona Laras baru saja menggunakan kartu kredit anda untuk menyewa sebuah villa di bali dengan jadwal reservasi minggu depan. Tepatnya hari rabu, serta membooking tiket pesawat kelas bisnis untuk dua orang. Apakah anda berencana melakukan perjalanan liburan di minggu depan tuan? karena seingat saya anda memiliki janji temu dengan tuan Rageswara di hari rabu pagi pukul 10:30." Papar Seno mengulang kalimatnya yang tadi tak di simak dengan baik oleh Garen, karena laki laki itu tengah teralihkan oleh pesona istrinya yang begitu menggoda dalam balutan kemeja putih miliknya.
Garen terdiam beberapa saat sebelum akhirnya buka suara.
"Aku tak memiliki rencana liburan kemanapun minggu depan," Garen kembali menoleh ke dalam kamarnya dan tatapannya tertuju pada ranjang yang tampak seperti korban keganasan perang.
"Tapi aku memiliki rencana menghabiskan waktu akhir pekan ini di kabin tepi danau. Tolong siapkan semua kebutuhan juga persediaan bahan makanan untuk dua orang selama tiga hari." Ujar Garen melanjutkan kalimatnya di akhiri dengan sebuah perintah yang membuat Seno terheran heran.
'Apakah tuan akan menghabiskan akhir pekan bersama nona Laras di kabin keluarga Rahardian? lalu bagaimana dengan tuan Suryo?' berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Seno, namun laki laki itu hanya mampu berspekulasi dalam pikirannya saja tanpa berani menyuarakan isi hatinya.
"Baik tuan," sahut Seno patuh. "Apa lagi yang harus saya siapkan tuan? di sana mungkin masih ada beberapa sisa stok bahan makanan, karena tuan besar baru saja kembali tadi malam dari kabin." Ujar Seno membuat Garen teringat bila sang kakek baru saja menghabiskan masa liburan rutinnya di kabin, yang akan ia gunakan selama beberapa hari ke depan.
Garen berdehem pelan lalu memerintah kembali agar Seno untuk memastikan beberapa hal yang akan ia butuhkan selama menginap di kabin.
"Pastikan saja untuk menyediakan stok bahan makanan baru yang Serena sukai," perintah Garen sebelum mengakhiri panggilannya.
Seno masih mematung di kursi kebesarannya sembari merenungi perintah sang atasan.
"Sesuatu yang nona Serena sukai hmmm..." monolog Seno mengulang kalimat perintah yang Garen berikan kepadanya. Seno kemudian menggelengkan kepalanya yang mulai berkedut pening, memikirkan hubungan rumit sang atasan yang menjalin percintaan dengan dua wanita sekaligus.
"Ck! kenapa malah aku yang di buat pusing memikirkan hubungan orang lain. Kurang kerjaan sekali," sungut Seno tampak kesal dengan pemikiran pemikiran konyol yang bersarang di kepalanya saat ini.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar. Terimakasih banyak sudah berkunjung.
Salam sayang author AQYa TRi.