~Selamat membaca~
"Sudah selesai?" tanya Garen setelah menutup panggilan dari sang asisten. Laki laki itu memicing kala tak melihat koper atau tas apapun yang Serena bawa di salah satu tangannya.
Serena menarik nafas panjang sebelum akhirnya menyuarakan pertanyaan yang sudah mengganggunya sejak tadi.
"Kemana kita sebenarnya Garen?" tanya Serena setelah bungkam melihat sikap Garen yang mendadak berbeda sejak mereka terbangun bersama pagi tadi.
Dengan seulas senyum simpul, Garen meraih kedua tangan Serena lalu mendaratkan kecupan di telapak tangan mulus istrinya. Serena hanya diam memperhatikan apa yang Garen lakukan saat ini. Hatinya tak boleh goyah saat sebuah keputusan telah ia buat, meskipun tindakan Garen berpotensi meluluhkan pertahanan egonya. Perpisahan adalah satu satunya jalan terbaik bila Garen tak mampu menentukan pilihan, kemana hatinya akan ia labuhkan sepenuhnya.
"Aku ingin menghabiskan akhir pekan bersamamu di rumah tepi danau selama beberapa hari ke depan. Apakah kamu keberatan menghabiskan waktumu untuk pria tampan ini hmmm?"
Serena tak langsung menjawab melainkan mencari titik ketulusan di kedua netra Garen, atas apa yang Garen rencanakan terhadapnya. Mengingat bila laki laki itu begitu terobsesi untuk menyingkirkan dirinya, tanpa membuat dirinya sendiri sebagai seorang pelaku. Garen pria yang cerdas dan Serena tak ingin gegabah untuk masuk dengan mudah ke dalam perangkap pria tampan tersebut.
Setelah mengabaikan pertanyaan Garen beberapa saat, Serena akhirnya angkat suara.
"Aku hanya merasa sedikit terkejut dengan perubahan sikapmu ini yang begitu tiba tiba," aku Serena jujur.
Kini giliran Garen yang mengesah panjang. Laki laki itu tak menyangka bila sikapnya selama satu tahun ini begitu membekas di ingatan Serena. Kini wanita itu tampak begitu waspada terhadap segala bentuk perhatian darinya.
"Aku hanya ingin bersikap baik sebagai seorang suami sebelum hubungan kita benar benar berakhir seperti yang kamu harapkan." Tukas Garen dengan nada berat. Tampaknya pembahasan yang mengarah pada perpisahan tak terlalu Garen sukai. Namun demi menyudahi kekhawatiran Serena akan perubahan sikapnya, Garen terpaksa mengucapkan kata kata yang mendadak sangat ia benci.
'Sesuai harapanku? tidak salahkah kalimat itu di lontarkan?' Namun Serena memilih tak berkomentar untuk menyanggahnya. Serena malah mengangguk pelan seolah membenarkan apa yang telah Garen ucapkan. Tampak riak kekecewaan terpancar di wajah tampan Garen, tetapi pria itu memilih diam tanpa kata.
"Kalau begitu ayo kita nikmati liburan ini sebagai kenangan pertama dan terakhir, sebelum semuanya benar benar berakhir." Ujar Serena lantang. Tanpa beban wanita itu berbalik meninggalkan Garen yang terpekur dalam kekecewaan yang tak dapat di jelaskan.
'Apa yang kamu pikirkan Garen? apa kamu berharap Serena akan memohon untuk bertahan, sebagai boneka mainanmu yang terbelenggu dalam pernikahan ini' Garen tersenyum getir atas pemikirannya yang terlalu percaya diri.
Serena bahkan tak memperlihatkan raut kesedihan sedikitpun, ketika mengumandangkan kalimat perpisahan mereka seminggu yang lalu.
Drrrtttt drrrtttt
Panggilan dari Laras kembali menyadarkan Garen bahwasanya masih ada seorang wanita yang selalu setia menantikan cintanya. Namun entah mengapa beberapa waktu belakangan ini, pikiran Garen hanya di penuhi oleh bayang bayang Serena tanpa bisa ia hempas dari pikirannya.
"Hmmmm...."
Jawaban Garen yang terkesan acuh rupanya membuat Laras semakin geram. Sejak semalam hingga sore hari ini ia meredam amarah meski dirinya di acuhkan. Berharap Setelah panggilannya di jawab, Garen akan langsung meminta maaf terhadapnya. Tetapi reaksi laki laki itu justru membuat Laras kian meradang.
"Apa aku melakukan sebuah kesalahan padamu mas? kenapa kamu tega mengabaikan aku sejak semalam dan sekarang...." suara Laras tercekat menahan tangis kekesalan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya .
"Apa salah aku mas?! kenapa kamu setega ini sama aku yang selama ini selalu sabar menghadapi ujian dalam hubungan kita. Jawab mas?" cecar Laras meluapkan emosinya yang sudah ia pendam sejak semalam.
Garen tak langsung merespon kemarahan sang kekasih. Salahnya juga tak menggubris panggilan juga pesan Laras, padahal wanita itu tak melakukan kesalahan apapun terhadapnya. Semua karena hatinya yang mendadak di landa dilema, atas perasaan yang baru baru ini merubah sikapnya secara perlahan. Sehingga perasaannya terhadap Laras mulai tawar.
"Maaf," hanya satu kata untuk menjawab sederet pertanyaan panjang yang Laras lontarkan. Membuat wanita itu tertawa miris di ujung telepon.
"Kamu gak sedang meminta maaf mas, tapi kamu mencoba mengalihkan semua pertanyaan aku. Kenapa? apakah wanita itu sudah menyihir hatimu hingg kamu mulai berpaling dariku? jawab mas?!" teriak Laras yang mulai kehabisan kesabaran menghadapi sikap dingin kekasihnya.
Suara isakan tangis Laras menyentuh hati Garen. Laki laki itu merasa bersalah atas sikapnya yang plin plan beberapa waktu belakangan ini .
"Maafkan aku Laras, tapi aku mohon mengertilah posisiku sekali lagi. Aku hanya berusaha untuk keluar dari ikatan pernikahan ini dengan cara baik baik. Kakek tak akan merestui hubungan kita meski kelak Serena dan aku berpisah. Aku masih membutuhkan Serena untuk mengambil semua empati kakek tanpa terpaksa. Bersabarlah sebentar lagi, aku berjanji akan mengakhirinya dengan cepat." Terang Garen menenangkan kekasihnya yang sedang terisak pilu meratapi hubungan mereka yang mulai terasa tawar.
Tanpa Garen sadari bila sejak tadi Serena sudah berdiri di belakangnya, dan mendengar semuanya tanpa satupun terlewati.
Namun alih alih langsung menyela percakapan sepasang kekasih itu, Serena malah sengaja memberikan cukup waktu agar suaminya dapat memberikan ketenangan hati yang saat ini Laras butuhkan.
'Kamu benar benar pria yang naif Garen, pria paling manipulatif yang begitu pandai mempermainkan hati para wanita. Sayang sekali aku sama sekali tak tersentuh oleh sikap manismu ini.'
".....aku harus pergi, jaga dirimu baik baik selama aku pergi." ucap Garen setelah berhasil membujuk Laras.
"Aku mencintaimu Garen jangan pernah melupakan itu," ucap Laras penuh nada intimidasi.
"Aku juga mencintaimu ," balas Garen datar, ia tak ingin membuat Laras kembali kesal. Setelah panggilan berakhir Garen menarik nafas dalam dalam. Terdengar hembusan kasar yang keluar dari mulut Garen. Tampaknya laki laki itu mulai merasakan tekanan atas dua hubungan yang kini sedang ia jalani.
Sesaat kemudian Garen berbalik dan betapa terkejutnya laki laki itu melihat istrinya sedang berdiri tegak di belakangnya, dengan sebuh tas jinjing berukuran sedang di tangannya. Serena bahkan sedang menyunggingkan senyum manis ke arahnya, yang mana semakin membuat degup jantung Garen berpacu kian kencang.
"Ayo, hari sudah semakin sore aku tak ingin kemalaman di perjalanan ." Ajak Serena seolah tak terjadi apa-apa . Garen memutar tubuhnya sembari terus memperhatikan ekspresi sang istri. Garen yakin Serena pasti sudah berdiri di belakangnya untuk waktu yang cukup lama, sembari mendengar perbincangannya dengan Laras.
Namun melihat sikap Serena yang seolah tak mendengar apapun, membuat hati Garen justru di landa kecemasan tak beralasan.
"Kenapa masih berdiri di sana?! apa kita tidak jadi berangkat?" seru Serena dari arah bagasi mobil yang akan mereka gunakan.
Garen segera melangkah meski hatinya masih tidak karuan. Garen hanya berharap, Serena benar benar baru saja tiba di belakangnya, dan tak mendengar apapun.
Dalam hatinya Garen merapalkan doa, agar hubungan mereka bisa membaik setelah liburan singkat yang telah ia rancang.
Sedangkan serena berharap perpisahan mereka berjalan tanpa kendala, mengingat cinta Garen begitu dalam terhadap Laras.
Harapan harapan hati yang bersebrangan dengan kenyataan yang sesungguhnya .
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar. Terimakasih telah berkunjung.
Salam sayang author AQYa TRi