menghapus masa lalu

1195 Kata
~Selamat membaca~ Serena menatap lurus bangunan kayu dua lantai yang sempat ia kunjungi beberapa hari yang lalu. Garen tak pernah mengetahui bila istrinya bukan kali pertama mendatangi tempat tersebut. Dengan antusias Garen menceritakan tentang sejarah kabin keluarganya itu kepada Serena. Dan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya sesekali, untuk menanggapi apa yang Garen ceritakan kepadanya. "Aku penasaran, apakah ada kisah lain yang tersimpan di kabin tua ini." Celetuk Serena membuat Garen seketika terdiam. Dengan ekspresi mengenang Garen teringat akan sebuah kisah masa kecilnya, bersama seorang gadis yang memiliki nama yang sama dengan nama Serena istrinya. Namun laki laki itu menggeleng cepat, seolah berusaha mengubur sebuah kisah yang pernah terukir indah di sana. "Kurasa hanya kisah kisah klasik yang tak perlu lagi di ingat," tukas Garen datar. Serena meremat ujung bajunya untuk menekan perasaan yang sulit untuk di jabarkan. Dadanya terasa sesak juga sangat menyakitkan. Namun wanita itu memilih tak lagi menanggapi atau hatinya akan semakin terluka. Serena turun terlebih dahulu untuk mengeluarkan barang bawaannya yang tak seberapa. Hanya sebuah tas jinjing berukuran sedang, juga ransel kecil yang berisi beberapa keperluannya selama ia menginap di kabin. Garen menyusul Serena yang kembali bersikap dingin. Entah Kalimat mana yang salah ia ucapkan, sehingga membuat mood wanita itu berubah dalam sekejap mata. Sebelum melangkah menuju teras kabin, perhatian Garen tertuju pada sebuah pohon beringin yang tampaknya sudah tumbuh di sana cukup lama. Terlihat dari batang pohon yang sudah sangat besar juga ranting yang bercabang ke berbagai arah, sehingga membuat dedaunannya tampak rimbun dan sedikit menyeramkan, dengan beberapa akar akar yang menjuntai dari atas pohon. 'Kek, kak Garen nakal!' 'Kak Garen tunggu..Seren capek kak!' 'Kakak janji ya, jangan pernah melupakan serena...' Sekelebat ingatan masa kecilnya kembali mengusik dan di saat bersamaan, degub jantung Garen tiba tiba berdetak tak terkendali manakala ia mendengar, sayup sayup Serena melantunkan sebait lagu yang sering ia nyanyikan untuk serena kecilnya. Namun saat Garen berbalik, Serena bahkan tak sedang menyanyikan lagu apapun. Wanita itu sedang sibuk memperhatikan beberapa pot tanaman hias kesayangan sang kakek. Bunga serta beberapa anggrek langka yang rela sang kakek beli dengan harga fantastis, hanya karena kesukaannya terhadap tanaman tanaman itu. Bagi Garen tanaman tersebut tak ubahnya seperti rumput liar yang bisa tumbuh di mana saja. Garen kembali melanjutkan langkahnya lalu menaiki anak tangga yang mengarah ke teras kabin. "Apa kamu menyukai rumput-rumput liar itu juga?" Serena mengalihkan atensinya saat mendengar nama yang Garen sematkan, untuk anggrek bulan yang berada dalam pot gantung di hadapannya. Anggrek tersebut bahkan di sebut juga sebagai bunga nasional Indonesia. Dan Garen dengan entengnya menyebut bunga tersebut dengan persamaan rumput liar? Serena menggeleng samar, menyayangkan wawasan Garen ternyata hanya sebatas tentang permainan saham serta peluang bisnis yang menjanjikan . "Ini namanya anggrek Bulan atau biasa di sebut dengan Puspa Pesona. Dan anggrek Bulan merupakan bunga nasional negara kita." Terang Serena menjelaskan secara rinci. Garen hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi datar. Bukannya ia tak mengetahui hal tersebut, Garen sengaja memancing obrolan di antara mereka. Sikap dingin Serena lebih mendebarkan daripada saat Laras merajuk kepadanya. "Ayo masuk," ajak Garen mengalihkan pembahasan mereka mengenai anggrek kesayangan sang kakek. Saat Serena melangkah masuk ke dalam kabin terlebih dahulu, Garen melirik sejenak ke arah pot anggrek yang baru saja mereka bahas. 'Terimakasih kek,' bisik Garen tanpa suara. Tanaman hias kesayangan kakeknya tanpa di duga telah mencairkan kembali suasana kaku di antara mereka. Garen merasa berhutang kepada sang ang kakek sekaligus merasa bersalah karena menganggap hobi sang kakek aneh. ************** Seusai makan malam Serena memilih duduk bersantai di teras belakang kabin, sembari menikmati angin malam yang menyejukkan tanpa terkontaminasi oleh polusi kendaraan seperti di perkotaan. Tak lama Garen ikut bergabung dengan dua gelas kopi panas di tangannya. "Aku harap takaran gulanya pas dengan seleramu," ujar Garen seraya meletakkan segelas kopi krimer di meja bundar yang ada di damping kursi Serena. Sementara dirinya sendiri duduk di seberang meja yang sama dengan posisi berdampingan. "Terimakasih," ucap Serena mengulas senyum tipis lalu mengangkat gelasnya. "Hmmm..." Garen hanya menjawab dengan deheman singkat. Ekor matanya melirik wanita yang tengah menatap danau yang tampak samar di kejauhan mata memandang. Redupnya cahaya bulan membuat jarak pandangan mereka terbatas, untuk melihat keindahan danau di malam hari. Hanya ada cahaya lampu di ujung dermaga, yang menyoroti ke arah tepi danau. "Apa yang akan kita lakukan besok?" pertanyaan Serena berhasil memecahkan keheningan yang mulai menyelimuti. "Bagaimana dengan berkemah di tepi danau? atau memancing menggunakan perahu milik kakek? mungkin kita bisa melakukan keduanya di saat bersamaan?" tawar Garen memberikan opsi. Serena tampak berpikir sejenak lalu kemudian mengangguk meski dirinya sendiri ragu. Dahulu ia pernah nyaris tenggelam di danau yang ada di hadapannya itu, bila saja Garen yang takut kedalaman nekat menyelam hanya untuk menyelamatkan dirinya. Begitu banyak kenangan manis mereka di sana melebihi perjalanan kisah cinta Garen bersama Laras, namun dengan mudah laki laki itu melupakan kisah indah mereka hanya karena kehadiran wanita yang baru saja Garen kenal. "Di gudang tersimpan perlengkapan untuk kemah, besok pagi pagi aku akan merakitnya di tepi danau. Sayang sekali kamu tak sempat melihat pohon Trembesi yang menyerupai payung di ujung hulu danau. Kakek menanamnya belasan tahun lalu, berharap suatu saat kelurga kami bisa melakukan liburan keluarga yang menyenangkan di tempat ini, di sela segala kesibukan yang ada. Sayang sekali hingga sekarang harapan itu tak pernah terwujud. Semua orang memiliki kesibukan melebihi batas rasa penat, untuk melakukan hal hal yang membuang waktu seperti berlibur bersama keluarga mereka. Hanya kakeklah yang rutin mengunjungi tempat ini setidaknya tiga sampai empat bulan sekali. Kakek mengatakan banyak kenangan yang selalu membuatnya terpanggil untuk kembali kemari setiap saat." Papar Garen bercerita panjang lebar mengenai keluarganya. Cerita Garen di akhiri kekehan kecil. Entah apa yang lucu dari cerita tersebut, namun yang pasti Serena menyimak setiap cerita suaminya hingga relung hati. 'Bukan hanya kakek yang memiliki cerita yang selalu membuatnya kembali ke tempat ini Garen. Sayang waktu mampu merubah ingatan seseorang hingga menjadi debu.' Serena memalingkan wajahnya saat merasakan matanya mulai memanas. Ia tak ingin menangis di hadapan Garen tanpa sebab yang dapat ia jelaskan. "Sudah malam, sebaiknya kita beristirahat agar besok kita memiliki cukup energi untuk memulai hari." Pungkas Serena mengakhiri santai malam yang mulai terasa dingin menusuk tulang. Garen mengangguk meski sadar Serena tak akan melihatnya. Karena pandangan wanita itu sedang tak mengarah kepadanya. "Benar, beristirahatlah duluan aku harus mencuci gelas ini sebelum menjadi sarang semut." Seloroh Garen mencairkan suasana sembari mengangkat kedua gelas yang nyaris kosong. Serena menoleh ke arah gelasnya lalu terkekeh kecil. "Maaf, aku menitipkan gelas kotor padamu. Selamat malam Garen," ucap Serena sebelum masuk ke dalam rumah. "Tak masalah, selamat malam juga Serena. Semoga mimpimu indah," balas Garen mengulas senyum tipis. Serena masuk ke dalam rumah sedangkan Garen masih enggan beranjak dari kursinya. Entah mengapa setiap kali menatap Serena, bayangan lain ikut muncul di pelupuk matanya. "Ijinkan aku melupakanmu Seren, kehidupanku sudah sangat kacau dengan hubungan pernikahan yang rumit, di tambah keberadaan wanita lain di tengah pernikahan ini. Aku mohon lepaskan kenangan yang masih bersarang di ingatanku hingga tak lagi bersisa tentangmu." Lirih Garen penuh permohonan sembari memejamkan kedua matanya. Garen ingin menghapus bayangan Serena kecilnya yang kini menjadi sering muncul kala ia memandangi Serena istrinya. TBC Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar. Terimakasih telah berkunjung. Salam sayang author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN