Laras yang gundah

1131 Kata
~Selamat membaca~ Garen tampaknya benar benar niat dalam melakukan segala hal yang sudah ia rencanakan bersama Serena hari ini. Menghabiskan waktu di tepi danau dan memancing menggunakan perahu kayu model jadul milik sang kakek. "Masih terlalu pagi aku pikir kamu tak akan keluar di cuaca yang masih berkabut embun seperti ini." Celetuk Serena yang baru saja ikut bergabung meski hanya memperhatikan apa yang Garen lakukan. Garen menoleh dan melihat Serena masih menggunakan setelan piyama tidurnya semalam, yang di tutupi oleh sehelai selimut tebal membalut tubuhnya. "Aku yakin tak akan menyenangkan bila kita memancing di tengah terik matahari yang sudah tinggi. Jadi aku berinisiatif untuk memasang tenda sebelum kita memulai piknik." Terang Garen yang masih sibuk merakit tenda. "Tolong ambilkan aku pasak yang ada di atas kursi itu," pinta Garen menunjuk ke arah kursi di mana pasak yang ia maksud berada. Serena mengangguk lalu berjalan untuk mengambil apa yang Garen butuhkan. "Apa yang bisa aku bantu?" tanya Serena setelah memberikan pasak yang Garen minta. "Mungkin menyiapkan beberapa menu yang cocok untuk kita bersantai di luar rumah hari ini. Aku belum mengeluarkan pemanggang dari dapur, akan aku lakukan setelah semua ini selesai. Duduk saja di kursi itu, aku sudah menyiapkan su su hangat untukmu." Garen memberikan isyarat menggunakan bahasa tubuh dengan gerakan wajahnya, yang mengarah ke sebuah meja kecil yang sudah ia pasang serta dengan sepaket kursinya. "Terimakasih, seharusnya tak perlu repot-repot menyiapkan apapun. Itu hanya akan menghambat pekerjaanmu yang lain, aku bisa melakukannya sendiri." Ujar Serena merasa tak enak hati. Garen benar benar memperlakukannya layaknya seorang istri terkasih. Itu membuat Serena merasa tak nyaman sama sekali. "Tak apa, aku juga membuat minuman hangat untuk diriku. Hanya segelas lagi untukmu bukan perkara besar," balas Garen yang kini sudah selesai dengan pekerjaannya. Laki-laki itu berdiri di hadapan Serena sembari membenahi selimut yang sedikit merosot dari bahu istrinya. "Masuklah, di sini masih sangat dingin. Ada beberapa bahan makanan di freezer di ruang bawah, juga beberapa sayuran di kulkas dapur. Masak apa yang kamu sukai aku selalu menyukai apapun yang kamu hidangkan untukku." Tutur Garen menatap sendu manik bening Serena yang pagi itu tampak semakin berseri. Padahal Garen tau benar, Serena bahkan belum membasuh wajahnya. Serena mengangguk pelan lalu mengangkat gelas su su nya kemudian pamit masuk kembali ke dalam kabin. Waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, dan mereka berada di udara pegunungan yang sejuk. Jelas saja di jam jam seperti ini siapapun pasti enggan melakukan aktivitas di luar ruangan. Garen melanjutkan aktivitasnya dengan memeriksa perahu boat untuk memastikan keamanan mereka berdua. Dirinya memiliki trauma di tambah lagi memang ia tak pandai berenang, dan takut akan kedalaman air. Namun demi Serena ia rela bertaruh dengan keterbatasannya dalam menguasai perairan. Saat kakinya menginjak ujung dermaga, sekelebat bayangan seorang gadis kecil yang tenggelam di tengah danau. Garen memundurkan langkahnya dengan nafas memburu. Laki laki itu memejamkan matanya berusaha untuk menghalau segala ingatan masa lalu, yang bisa membuat liburannya bersama sang istri terganggu. "Aku mohon Seren, lepaskan aku dari janji janji kita dahulu." Pinta Garen memohon frustasi. Trauma yang ia alami membuat Garen tak pernah ingin bermain dengan air sungai bahkan kolam renang sekalipun. "Garen? apa yang terjadi?" Garen tersentak saat sebuah suara tiba tiba menguar di saat dirinya sedang mengumpulkan segenap nyali, untuk menghadapi ketakutannya. Rupanya Serena lah yang ada di belakangnya dengan Appron bermotif bunga terpasang di bagian depan tubuhnya. "Aku baik baik saja, kenapa kamu kemari?" tanya Garen heran. "Aku melihatmu seperti orang yang sedang tak sehat dari jendela dapur. Jadi aku memutuskan untuk menghampirimu kemari," jawab Serena terlihat cemas. Garen malah mengulas senyum, saat mendengar pernyataan Serena yang tampak begitu mencemaskannya. "Tidak, aku baik. Hanya saja aku melupakan sesuatu, perahu kakek biasanya di rantai untuk sekedar berjaga jaga bila kondisi air sedang pasang. Jadi aku memutuskan untuk kembali, tapi aku baru ingat kakek baru saja kembali kemarin malam. Mungkin saja perahunya saat ini tidak di rantai gembok," jelas Garen panjang lebar. Serena mengikuti arah pandangan Garen dan melihat sebuah perahu kayu milik Suryo yang terikat di ujung dermaga kecil tersebut. "Aku rasa kakek baru saja menggunakannya," timpal Serena menunjukkan pada ikatan yang hanya di ikat simpul menggunakan tali tambang kecil. "Ah ya, aku tak terlalu memperhatikannya. Dari jarak sejauh ini pandanganku sedikit mengabur," dalih Garen salah tingkah. Laki laki itu merutuki alasan tak masuk akal yang ia ucapkan, dan berhasil di patahkan oleh Serena hanya dengan sekali pandangan. Serena mengangguk kecil lalu pamit kembali melanjutkan aktivitasnya di dapur. Wanita itu sedang membuatkan menu sarapan juga menyiapkan beberapa kudapan, yang akan mereka santap di bawah pohon rindang hari ini. "Ck, bodoh sekali kau Garen. Bisa bisanya memberikan alasan tak masuk akal seperti tadi kepada wanita teliti seperti istrimu." Tak henti hentinya Garen merutuki dirinya sendiri. Di tempat berbeda, Laras tampak uring uringan sejak pagi. Bahkan pekerjaannya menjadi berantakan karena terus mengeluhkan pekerjanya yang terus menumpuk di atas mejanya. Sedangkan Seno memilih mengabaikan keluhan yang ia terima mengenai sekretaris Garen tersebut. Beberapa divisi mengeluhkan Laras yang selalu komplain mengenai pekerjaan mereka yang ada saja kesalahannya. "Baru sehari Garen mengabaikanmu dan lihat dirimu, kamu seperti anak itik kehilangan induknya. Lalu bagaimana dengan nona Serena yang kehilangan semua empati juga cinta Garen selama satu tahun ini? wanita malang itu bahkan terlihat baik baik saja tanpa perhatian Garen terhadapnya." Monolog Seno yang sedang memperhatikan Laras dari layar laptopnya. Seno memiliki akses sambungan cctv yang merekam semua aktivitas Laras di meja kerjanya. Laki laki itu juga mendapatkan akses untuk memantau kondisi ruangan Garen dari ponsel juga laptopnya. "Kamu ngapain sih mas, susah banget di hubungi." Desis Laras tampak gelisah. Wanita itu hanya mengetahui bila Garen sedang melakukan perjalanan bisnis atas perintah Suryo. Tanpa ia ketahui bila Garen sedang menghabiskan waktu akhir pekannya bersama sang istri. Entah apa yang terjadi bila sampai Laras mengetahui kebenarannya. Bisa jadi wanita itu akan langsung menyambangi kediaman Serena, lalu mencecar Serena dengan berbagai umpatan kasar. Laras tak memiliki kesabaran yang sama besar dengan Serena. Sehingga bisa di pastikan kebohongan Garen akan berdampak buruk jika sampai Laras mengetahuinya. "Angkat mas..aku mohon.." Laras terus menghubungi nomor handphone Garen yang sama sekali tak mendapatkan jawaban sejak semalam. "Semua ini pasti gara gara wanita sialan itu!" tuduh Laras melampiaskan kekesalannya terhadap Serena. Ia yakin Serena sedang melakukan upaya untuk mempertahankan Garen tetap berada di sisinya. "Kamu pikir kamu bisa meraih hati Garen hmmm...sejak awal Garen hanya mencintaiku Serena, bahkan saat sudah menikah denganmu pun Garen masih mempertahankanku di sampingnya." Laras terus berbicara sendiri sembari menyeringai. Tanpa tau bila seringai liciknya di pantau oleh Seno. Seno menggeleng melihat bibir Laras terus bergumam dengan ekspresi licik. Ia tak mendengarnya namun Seno yakin Laras pasti tak sedang berkata hal baik. Wanita itu pasti merencanakan sesuatu yang buruk untuk merebut kembali perhatian Garen yang mulai meredup. TBC Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar terimakasih banyak sudah berkunjung. Salam sayang author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN