~Selamat membaca~
"Cukup Garen aku tak sanggup lagi untuk menghabiskan semuanya," tolak Serena saat garen kembali mengarahkan tangannya yang sedang ingin menyuapi Serena dengan potongan ikan bakar cukup besar.
"Sekali lagi setelah ini selesai," bujuk Garen tak habis akal.
Ikan hasil tangkapan Garen cukup banyak. Sepertinya laki laki itu sedang hoki sehingga mampu mengalahkan rekor dengan strike terbanyak sepanjang sejarah keluarga rahardian. Suryo bahkan hanya pernah mendapatkan ikan Grass carp seberat dua kilogram.
"Ok, i am done!" pekik Serena setelah menerima suapan terakhir dari Garen. Laki laki itu justru terpingkal melihat ekspresi Serena seperti orang yang berusaha untuk menahan mual.
wanita itu kekenyangan padahal Serena hanya makan sedikit nasi, selebihnya Garen memenuhi piring Serena dengan daging ikan bakar yang sudah ia pisahkan dari tulangnya.
"Apa lagi yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Serena setelah mereka duduk bersantai diatas tikar yang menghadap persis ke arah danau yang tampak tenang tanpa riak sama sekali.
Garen menoleh, laki laki itu sedang duduk dengan menopangkan kedua tangannya ke arah belakang tubuhnya sedangkan kedua kakinya berselonjoran ke depan.
"Bagaimana dengan berkeliling perkebunan kakao ? aku yakin kamu pasti akan sangat menyukainya." Tawar Garen.
"Perkebunan yang kita lewati kemarin?"
"Hmmm...mau ke sana?" tawar Garen lagi.
Serena mengangguk setuju.
"Tapi setelah matahari mulai bergeser ke tepi barat, tak sepanjang perjalanan di lindungi oleh pepohonan rindang." Serena lagi lagi hanya mengangguk tanpa protes.
Tak lama Serena sedikit terkejut sat merasakan beban berat di atas pahanya. Rupanya Garen menggunakan pahanya sebagai bantalan kepalanya.
"Kenapa tidak berbaring di dalam saja?"
"Kamu keberatan aku meminjam kedua pahamu?" Garen malah balik melontarkan pertanyaan yang sedikit menjebak.
Serena menggeleng pelan.
"Bagaimana bila kamu tertidur? berapa lama aku harus menahan keram yang akan aku rasakan untuk menunggumu terbangun?" dalih Serena beralasan.
"Cukup berikan aku ciuman, maka aku akan langsung terbangun." Sahut Garen tanpa membuka kedua matanya yang kini mulai terpejam. Efek kenyang juga euforia kebersamaannya dengan Serena membuat Garen benar benar lupa segalanya. Bahkan janji yang kemarin ia ucapkan kepada Laras pun ia lupakan begitu saja.
Serena tak lagi berkomentar saat mendengar dengkuran halus keluar dari mulut Garen.
'Semudah ini kamu tertidur pulas padahal baru saja berbicara denganku. Sama seperti hatimu, begitu mudah berpaling lalu melupakan wanita tercintamu bersama janji janji manis.'
Serena mengangkat wajahnya yang sejak tadi memandangi wajah tampan Garen yang sedang tertidur dengan damai di pangkuannya.
Sembari memandangi permukaan danau yang menenangkan hati, pikiran Serena melanglang mendahului masa depan.
****************
Serena terbangun saat mendengar suara deruman mesin mobil yang perlahan meninggalkan pelataran kabin. Meskipun kedua matanya masih terasa berat, Serena memaksa turun dari ranjangnya. Rasa penasaran membuatnya mengesampingkan rasa kantuk yang menguasai kedua matanya.
Saat menyibak gorden, samar Serena melihat bagian belakang mobil yang kini sedang melaju pelan menuju ke dalam kegelapan malam.
"Garen, pergi?" Serena mulai khawatir, pasalnya handphonenya masih berada dalam mobil sang suami, karena semalam dirinya sangat mengantuk setelah mereka kembali dari mengelilingi desa desa yang tak jauh dari kabin.
Puncaknya Serena melupakan ponselnya, dan saat teringat sudah larut malam. Garen pasti sudah terlelap di kamarnya, Serena merasa sungkan untuk membangunkan sang suami hanya karena perkara handphonenya yang tertinggal di dalam mobil.
Lalu sekarang? kemana laki laki itu pergi di saat hari masih gelap gulita di luar sana. Serena melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 4 dini hari, masih ada sekitar dua jam lagi menuju fajar.
Meski pikiran berkelana memikirkan hal yang tidak tidak, Serena tetap berusaha untuk berpikir positif. Garen mungkin hanya sedang mendapatkan panggilan penting, sehingga pergi terburu buru tanpa sempat berpamitan kepadanya.
"Bagaimana keadaan Laras?"
"Nona Laras di temukan oleh asisten rumah tangganya tergeletak di lantai ruang makan saat baru tiba di apartemen." Jawab Seno datar. Tak ada empati terpatri di wajah dingin asisten Garen tersebut.
"Apa Laras mengatakan sesuatu padamu selama di kantor kemarin?" tanya Garen penasaran. Pesan Laras tak pernah ia balas begitu pula panggilan wanita itu ia abaikan begitu saja.
"Nona Laras tak menanyakan apapun padaku, kecuali hanya sibuk mengomentari dan melayangkan protes tentang laporan yang ia terima." Jawab Seno nyelekit. Garen tak lagi bertanya. Bisa di pastikan pekerjaan Seno selama ia berlibur cukup berat. Menghadapi Laras yang keras kepala terkadang membuat kesabaran berada di ambang batas.
Klek
Seorang dokter keluar dari ruang tindakan di mana Laras tengah di rawat. Luka goresan di kening Laras tak terlalu dalam, namun ada beberapa luka lebam di tubuh wanita itu.
"Bagaimana keadaan Laras dokter Tama?" tanya Garen terlihat cemas.
Dokter Tama mengulas senyum tipis lalu memberikan penjelasan singkat tentang kondisi Laras saat ini.
"Nona Laras mendapatkan 4 jahitan di keningnya selebihnya kondisi nona Laras baik baik saja. Setelah beristirahat beberapa jam nona Laras boleh pulang," terang dokter Tama. Garen menghela nafas lega. Ia benar benar panik saat mendapatkan kabar dari sang asisten, bila apartemen Laras di masuki oleh orang asing yang berusaha memper kosa kekasihnya.
"Ah satu tambahan lagi tuan Garen," ucap dokter Tama terlihat ragu.
"Katakan saja dokter tak perlu merasa sungkan," sambung Garen kian penasaran.
"Begini, mengingat nona Laras baru saja mengalami kasus pele cehan. Saya ingin mengingatkan kepada anda bahwa saat ini kondisi mental nona Laras pasti tengah terguncang hebat. Perlakukan nona Laras dengan lembut, serta jauhkan nona Laras dari lingkungan yang ramai dan juga tontonan yang membuat kondisi psikologisnya semakin tertekan. Nona Laras butuh di temani oleh orang yang tepat, yang bisa ia percaya dan memahaminya." Pesan dokter Tama.
Garen tak langsung membalasnya laki laki itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apakah seorang perawat bisa membantu? maksudku, Laras tak terlalu dekat dengan kedua orang tuanya. Aku berpikir untuk menyewa seorang perawat khusus, untuk merawat Laras ketika sudah di perbolehkan pulang." Usul Garen mengemukakan pendapatnya. Laki laki itu tak bisa serta merta mengambil keputusan tanpa mendengar pendapat sang istri.
"Seperti yang saya katakan, nona Laras membutuhkan perhatian serta rasa aman dari orang yang dia kenal dengan baik tuan Garen. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, nona Laras bisa anda rawat secara langsung karena selama kami menangani nona Laras di ruang tindakan. Nona Laras hanya menyebut nama anda, bahkan saat kondisinya sedang di bawah pengaruh anestesi." Terang dokter Tama agar Garen bisa memahami dengan jelas maksud penjelasan panjangnya.
Garen tak langsung menyuarakan isi hatinya melainkan melontarkan pertanyaan pengalihan.
"Apakah aku boleh menemuinya sekarang?"
"Silahkan tuan Garen, hanya saja jika boleh aku sarankan. Jangan membahas soal yang terjadi saat ini untuk sementara waktu, itu semua untuk memulihkan kondisi psikologis nona Laras. Seseorang yang baru saja mengalami peristiwa naas seperti ini, biasanya mampu berbuat nekat dengan melukai dirinya sendiri." Nasihat dokter Tama bijak.
Garen mengangguk paham lalu permisi untuk masuk ke dalam ruang tindakan. Sedangkan Seno memilih menunggu di luar, karena memang dirinya tak berniat untuk membesuk Laras sama sekali. Ia di sana karena terpaksa untuk menghargai Gare sebagai seorang sahabat sekaligus atasannya.
Garen menatap wajah pucat Laras yang kini tengah menatap ke arahnya dengan tatapan mata sayu. Hatinya merasa bersalah atas apa yang terjadi terhadap kekasihnya itu, semua karena keegoisannya.
"Mas..." lirih Laras mengulurkan tangannya yang lemah ke arah Garen. Garen melebarkan langkahnya menuju ranjang Laras lalu meraih tangan Laras yang terasa sangat dingin.
"Mas kemana saja? kenapa mengabaikan aku hah? aku salah apa mas? katakan!" cecar Laras di sertai isak tangis yang memilukan. Tanpa mampu menjawab, Garen hanya bisa memberikan dekapan hangat, sebagai bentuk permohonan maaf atas tindakannya yang egois.
"Kamu jahat mas! kamu jahat!" Laras berusaha berontak dalam pelukan Garen namun Garen semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku Laras, pekerjaanku sangat padat sehingga tak memiliki waktu untuk menghubungi juga membalas pesan serta panggilan darimu." Dalih Garen membeberkan sebuah kebohongan.
Dengan lembut laki laki itu mengusap surai panjang Laras yang tampak kusut tak terawat.
"Jangan tinggalkan aku lagi mas aku takut orang jahat itu datang lagi. Jika kamu meninggalkan aku tanpa kabar lagi, kamu akan menemukan tubuhku terbujur kaku mas." Ancam Laras tak main main. Garen hanya bisa mengangguk pasrah tanpa berpikir panjang.
Laki laki itu bahkan melupakan istrinya yang sedang menanti kepulangannya ke kabin dalam kecemasan.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar terimakasih atas kunjungan kalian.
Salam sayang author AQYa TRi