Zia kembali tersadar setelah pikiran nya melanglang buwana kembali ke 2 thn yang lalu, bagaimana dia memergoki Monik yang selingkuh dengan dosen nya lalu menenangkan diri di Bali, banyak sekali pelajaran yang di petik selama tinggal di Bali, wejangan-wejangan dari sang kakek lah yang membuat Zia kuat seperti sekarang ini, hingga meneruskan kuliah di Solo dan bertemu dengan Dodit yang turut andil melambungkan namanya sampai menjadi seorang artis.
Kini saat dirinya melakukan shooting di Jakarta tepat nya di sebuah gedung sekolah yang di dalamnya terdapat mahkluk cantik yang mampu menggetarkan hati nya, ya Luna lah gadis itu, Aluna. Masa bodoh dengan predikat yang di berikan Dodit pada dirinya yang menyukai lalapan alias daun muda. Zia senyum-senyum sendiri saat mengingat Dodit menyebutnya begitu. Pada akhirnya Zia di haruskan kembali ke kamar ini, ia menghela nafas, ia teringat akan wajah Aluna nya. Apa kabar dengan Luna, hampir 1 minggu lebih tidak melihat Luna, walau hanya dari kejauhan saja melihat Luna saat di lokasi shooting Zia sudah merasa senang. Sudah 3 hari shooting break sementara karena Jakarta saat ini di guyur hujan yang terus menerus. Besok akan di teruskan shooting yang tertunda jika cuaca memungkinkan.
"Aluna Zakiya Pra--mitha.." Lirih Zia tiba-tiba saja menyebut nama lengkap Luna.
"Hah.. AZP.. Selendang.!" Zia berlari menuju ruang pakaian lalu mengacak isi tas nya hanya untuk mencari benda panjang dan wangi berwarna merah, setelah di dapati ia mencari tulisan di ujung benda itu.
"AZP--Aluna Zakiya--Pramitha.. Yaaa selendang ini pasti milik Luna." Ucap Zia berbicara sendiri. Lalu di cium lah selendang itu.
"Hmmmm masih berasa wangi nya." Zia memejamkan matanya serta menghirup nya dalam-dalam.
"Tak salah lagi bahwa selendang ini milik Luna." Batin Zia.
Zia tak sabar ingin buru-buru besok agar bisa mengembalikan selendang itu langsung ke Luna.
Di lapangan olahraga saat ini anak-anak kelas 9 sedang melakukan pemanasan untuk mapel PJOK, namun Luna melakukannya dengan setengah hati, badannya di rasa kurang sehat, lemas di sertai keringat dingin yang mengalir deras di dahinya hingga rambutnya sampai keluar kerudung, setelah merapihkan rambutnya lalu ia meneguk air di botol yang sudah ia bawa dari dalam kelas, padahal cuaca hari ini sedang mendung, tapi Luna merasa kegerahan dan seperti mengalami dehidrasi, ia meneguk sekali lagi air nya hingga tandas.
Tak lama pandangannya kabur dan gelap seketika, botol yang ia pegang jatuh, Luna pingsan, kemudian ia di gotong di bawa ke ruang UKS. Akhirnya Luna tidak mengikuti mapel PJOK sampai selesai.
Teman-teman Luna berdatangan ke ruang UKS, mereka khawatir akan keadaan Luna.
"Lo ga papa Lun..? Tadi pagi lo udah sarapan belum.. Muka lo pucet banget.?" Tanya Cila si ketua kelas seraya memijit kaki Luna pelan.
Luna hanya mengangguk saja, tadi pagi ia sudah sarapan nasi goreng special buatan bunda nya. Lalu dokter memasuki ruang UKS dan segera memeriksa keadaan Luna.
"Bagaimana keadaan Luna dok..? Luna kenapa..?" Tanya bu Rike guru BP khawatir, karena tak pernah melihat Luna seperti ini.
"Luna tidak apa-apa bu.. Hanya kelelahan saja sepertinya kurang tidur.. Dan menurut Luna.. Ia juga sedang datang bulan.. Jadi fisik nya lemah.. Tekanan darahnya drop." Ucap dokter mengulas senyuman seraya melipat alat stetoskop.
"Luna hanya perlu istirahat saja dan makan teratur.. Jangan lupa minum obat penambah darahnya." Ucap dokter lagi lalu memberikan Luna obat dan vitamin.
"Baik dok.. Terimakasih." ucap Luna lemah.
"Terimakasih banyak dok.." Bu Rike mengatupkan kedua telapaknya.
"Oh ya Cila.. Kamu bisa nemenin Luna di sini kan..? Nanti ibu yang izinkan kamu ke pak Edi untuk tidak mengikuti mapel nya." Ujar bu Rike kepada Cila, lalu kemudian bu Rike keluar dari UKS, meninggalkan Luna dan Cila.
"Cil.. Makasih ya.. Jadi kamu nggak dapet nilai dari Pak Edi deh." Ucap Luna mencoba bangun dan duduk di tepi brangkar UKS.
"Kan lo juga nggak dapet nilai.. Jadi ada temennya.. Hehe." Kata Cila terkekeh.
Teeeet
Bel berbunyi satu kali, itu menandakan saatnya jam istirahat. Lalu terdengar suara riuh dari tiap kelas, mereka berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin, ada yang menuju taman, menuju perpustakaan, ada yang berlari ke arah kamar mandi, ada juga yang berjalan dengan bergerombol menuju lokasi shooting hanya untuk melihat artis pujaannya.
Sementara di kantin sekolah bagian utara di kosongkan untuk beberapa minggu, para siswa tidak di perkenankan untuk jajan atau pun sekedar nongkrong di kantin utara, karena sedang ada shooting. Dan selama ada shooting itu sama sekali tidak mengganggu berjalannya KBM.
Luna dan Metha sudah janjian untuk bertemu kantin sekolah SMP yaitu kantin bagian barat, badan Luna sudah agak mendingan.Tadi pagi saat berpapasan di jalan dengan Metha, dia ngajak ketemuan di kantin saat jam istirahat. Walaupun Luna dan Metha satu sekolah namun beda kelas dan gedung. Luna kelas 9 SMP sedangkan Metha kelas 10 SMA. Metha nampak celingukan mencari temannya yang memakai kerudung.
"Hai Metha sini.." Lambai Luna saat melihat Metha celingukan sambil mengurai senyum.
"Hai Lun.. Kenapa muka lo pucet banget sih..?" Sapa Metha setelah berada di samping Luna.
"Iya aku tadi pingsan di lapangan saat olahraga."
"Kok bisa..?" Tanya Metha seraya mencari tempat duduk yang kosong setelah memesan batagor untuk dirinya sendiri dan bubur ayam untuk Luna, serta teh manis hangat.
"Nggak tau tiba-tiba aja aku lemes.. Lalu gelap dan nggak sadar." Jelas Luna.
"Kalo gitu lo harus ke dokter.. Bisa jadi lo kecapean.. Secara kan minggu ini jadwal latihan kita padet banget.. Belum lagi shooting yang katanya masih 2 kali take." Kata Metha sembari menyuapkan batagor ke mulutnya.
"Iya nanti aku ke dokter deh sama bunda." Ujar Luna lemah sambil mengaduk buburnya yang masih panas.
"Jangan lupa minum vitamin juga.. Bulan depan kan lo mau ujian."
"Iya mungkin nanti sore aku ke RS.. Tapi nunggu papa pulang dulu.. Tadi juga aku di kasih obat juga vitamin oleh dokter Binsar." Luna hanya mengaduk-ngaduk bubur nya saja, tapi di makan.
"Lun.. Makan bubur nya.. Kalo adem kan nggak enak." Protes Metha yang meliat Luna hanya memainkan sendok nya saja.
Yang di ajak bicara hanya diam termenung, tanpa ada respon sedikitpun, Luna masih asyik memainkan sendok di atas buburnya dengan tatapan yang kosong lalu kemudian mengurai senyuman di sudut bibirnya.
"Lo kenapa sih Lun.. Gue perhatiin banyak bengong dan melamun.. Hayoo ngakuuu.. Ada paan..?" Mata Metha menatap Luna curiga.
"iih nggak ada apa-apa kok." Luna terkesiap dan buru-buru menyuap bubur nya ke mulut.
"Aluna Zakiyaaaa.. Gue tau elo.. Jangan coba-coba bohongin gue deeh.. Ada apa nggak..!" Ucap Metha setengah menghardik.
Mendengar Metha setengah menghardik, Luna hanya tersenyum kecil, muka nya tertunduk memandangi bubur yang ada di mangkok.
"Aku nggak papa Metha Arta Lovitaaaa.. Aku.. a.. kuu.." Luna menghentikan ucapannya.
"Iyaaaa.. Kamu kenapa..? Jangan bikin gue penasaran deeeeh." Serobot Metha tidak sabaran seraya meraih sendok di tangan Luna dan meletakkan di mangkok, lalu Metha memegang tangan Luna lembut. Sambil terus menatap netra Luna yang nampak menyembunyikan sesuatu.
"Kan gue udah bilang.. Kalo lo ada apa-apa.. Ngomong aja ke gue.. Kayak kita baru kenal aja.. Lo bilang udah nganggep gue kakak lo.." Ucap Metha dengan tersenyum lembut.
"Selendang gue belum ketemu Met.. Dan menurut Saski anak dance.. Yang masuk ke ruang ganti waktu itu hanya--kak Zia.." Ucap Luna berbisik seraya meringis, dan sesekali Luna mengelap keringat yang ada di kening dengan ujung kerudung nya.
"Oh my god.. Jadi menurut lo yang ngambil selendang lo, artis ganteng itu..?" Ujar Metha setengah melotot.
Luna menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Terus apa hubungannya sama pingsan lo tadi..?" Metha nampak bodoh dengan pertanyaan nya.
"Yaaa nggak ada sih.." Luna terdiam sejenak seraya membetulkan kerudung nya.
"Cuma aku nggak habis pikir aja.. Ngapain kak Zia ngumpetin selendang aku." Ucap Luna bingung.
"Aaah dodol lo.. Ya pasti ada hubungannya lah.. Lo mikirin selendang kan.. Dan juga lo mikirin si artis ganteng itu.. Sampe-sampe lo nggak doyan makan.. Akhirnya lemes." Tembak Metha menunjuk Luna dengan sedotan yang di pegang nya.
"iiih Metha suka bener kalo ngomong.. Haduh kalo sampe ketauan bisa malu aku." batin Luna dengan wajah yang tersipu malu.
"Yaa nggak gitu juga Met.. Kada dokter tekanan darah ku rendah.. Ngedrop lalu pingsan.. Itu aja kok nggak yang lain."? Kilah Luna, dan Metha hanya manggut-manggut saja.
"Lalu beneran tuh si Saski liat..?" Tanya Metha.
"Bener lah Met.. Dia bilang sendiri kok.. Waktu aku ketemu di gerbang sekolah tadi pagi.. Berhubung udah bel.. Jadi nya cuma sepotong doang dia ngomong nya.. La.." Belum selesai ngomong, tiba-tiba Metha sudah menarik tangan Luna mengajak berdiri dan pergi dari kantin.
"Eeeh mau kemana Met..?"
"Yuk kita cari Saski di kelasnya.. Lalu kita ke lokasi shooting." Kata Metha dengan terus berjalan dan menarik tangan Luna.
"Eeh Met tunggu.. Aku belum bayar buryam nya."
"Tenang tadi gue udah bayar semua.. Sekarang kita harus cepet-cepet sebelum Bel masuk." Metha terus menarik tangan Luna, namun tiba-tiba Metha sadar kalo Luna sedang kurang sehat, akhirnya Metha berjalan agak santai dan melepaskan pegangannya dari tangan Luna. Dan Luna hanya mengekor saja di belakang Metha.
Luna dan Metha menyusuri koridor sekolah yang ramai di penuhi siswa-siswi yang sedang beristirahat. Lalu Luna menghentikan langkahnya dan setengah ragu untuk berjalan lagi.
"Kenapa berenti Lun..?"
Luna bukannya menjawab malah menundukkan kepalanya.
"Aku nggak mau ah Met.. Nggak enak.. Lagian aku malu tau.. Anak SMP masa masuk-masuk ke SMA.." Seloroh Luna dengan muka gugup nya.
"iiish udah nggak papa.. Kan ada gue.. Kalo ada anak yang macem-macem sama lo.. Siap gue hadapin." Ujar Metha sombong. Benar saja, begitu mereka masuk ke gedung SMA suara suitan dan tepukan tangan ramai menggoda Luna yang berjalan di samping Metha.
Suit.. Suwiiuu..
"Hai Luna cantik.. Mau kemana sih buru-buru amat.. Ke kantin yuuk.. Abang Jeki traktir deh." Sapa salah satu anak SMA yang sedang bergerombol.
"Jangan mau Lun.. Bang Jeki utang nya masih banyak di ibu kantin.. Wkkwkwkwk." Sahut teman nya dan di ikuti suara tawa teman-temannya.
Luna hanya mencebik dan terus menunduk malu.
"Aluna Zakiya.. Kenalin nih aa' Sigit yang punya show room mobil di Kokas" Ledek anak cowok yang terus mengejar Luna sambil menyeret-nyeret cowok yang bernama Sigit dengan kacamata tebal, rambut klimis di sisir dengan belahan pinggir serta kancing baju bagian atas terkancing rapih. Sedangkan cowok culun yang bernama Sigit menuruti saja ulah temannya yang jahil.
"Heh..! Lo apa-apa sih.. Sana pergi jangan ganggu Luna.!" Bentak Metha. Luna yang berada di samping Metha nampak malu dan ketakutan, Luna merasa seperti masuk ke dalam sarang berandalan.
"Neng Lunaaaa.. Jangan mau sama Sigit.. Dia jarang mandi.. Mending sama abang aja.. Abang wangi lho.." Seorang cowok jahil, Lagi-lagi menggoda Luna, kali ini tangan Luna di tarik, hingga langkah Luna terhenti.
"Awas iiiih.. Jangan macem-macem deh lo pada.. minggir nggak..! jangan sampe gue bikin jadi mendol lo ya." Metha terus saja menghalangi cowok-cowok yang menggoda Luna. Bukannya berhenti menggoda malah cowok-cowok itu semakin senang sambil tertawa terbahak-bahak. Muka Luna memerah seketika seperti kepiting rebus.
"Met.. Titip salam ya.. Buat yang di samping lo." Cowok lain menyapa Metha dengan menaik-naikkan alisnya.
"Hush diam lo bemo.!" Bentak Metha sambil melotot.
"Neng Lunaaa.. Udeh ade yang punya belon neng.. Kalo belon.. Mau nggak sama babang tamvan ini." Panggil cowok usil seraya menaik-naikkan kerah nya.
"Iddiiih najis tralala. Kepedean lo bekicot sawah.!" Ucap Metha ketus.
Luna yang sedari tadi hanya menunduk malu dan sekali-kali mengambil ujung kerudung nya untuk menutupi muka nya yang berubah jadi merah saga.
"Metha.. Luna.."
Merasa ada yang memanggil namanya, keduanya menengok dan mencari sumber suara. Ternyata yang memanggil adalah Saski.
"Naaah pucuk di cinta ulam tiba.. Hehehe." Kekeh Metha
"Gue baru mau nyari lo Sas.." Ujar Metha.
"Ada paan emang..? Lun gue denger tadi lo pingsan ya.?" Tanya Saski dan Luna hanya menganggukkan kepala nya.
"Pantesan pucet banget tuh muka."
"Iya Sas.. Lo nggak tau kan penyebab Luna pingsan apaan.? Tanya Metha seraya melirik dan mengangkat satu alisnya ke arah Luna.
"Iiih paan si Metha nih." Luna merajuk sambil memukul lengan Metha pelan.
"Maksud lo..?" Saski terheran-heran.
"Maksud gue.. Lo tau nggak penyebab Luna pingsan apaan.?" Metha memperjelas ucapannya.
"Iyaa apaan.. Gue kaga tau Methaaaa.!"
"Selen -- dang..!"
"Selendang..? Selendang bisa bikin orang pingsan..? Buat gantung diri gitu..? Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Saski berpikir keras.
"Aaaah telmi banget sih lo Sas.! Bukan buat gantung diri juga keles." Metha menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Hihihihi" Luna cekikikan melihat reaksi Saski.
"Laaaah emang gue kaga ngerti Methaaa.. Maksudnya gimana sih Lun. Lo aja deh yang jelasin ke gueee.. Metha galak.!" Saski memcebikkan bibirnya.
Luna menggeleng hebat sambil terkekeh.
"Gini-gini.. Kita duduk dulu di taman sebentar.. Cepetan keburu Bel bunyi nih." Metha menarik tangan Luna dan Saski agar duduk di taman.
"Lo serius Sas.. Liat kak Zia masuk ke ruang ganti pas shooting terakhir waktu itu.? " Tanya Metha dengan muka serius.
"Oooh selendang yaa..? Gue paham sekarang." Saski manggut-manggut, matanya melihat keatas sambil mengingat-ingat.
"Ya gue emang liat kak Zia masuk ke ruang ganti kita-kita.. Tapi kan gue nggak liat do'i ngambil selendang lo apa nggak."
"Soalnya aneh banget.. Masa kita tinggal ke mushola sebentar aja.. Selendang Luna ilang sih.!" Metha masih kepo kira-kira siapa yang ngambil selendang Luna.
"Nah itu dia Met.. Selama ini kita nggak pernah kehilangan properti kan." Luna pun terheran-heran.
"iih udah kayak kisah Si Jaka Tarub aja.. Nyolong selendang bidadari yang bernama Nawangwulan.. Wkwkwk." Saski tergelak.
"Lha yang jadi bidadari nya di sini si Luna." Saski tertawa sampai keluar air mata.
"Terus aja Sas.. Ketawa sampe puas ya kamu." Luna meradang, merasa kesal di ledek terus oleh Saski.
Metha pun ikut tertawa terbahak-bahak, sedangkan Luna akhirnya hanya tersipu malu.
"Hahaha.. iya Jaka Tarub Jaman Now..!" Ujar Metha masih tergelak.
"Nah sekarang gue nanya nih.. Apa hubungannya selendang sama pingsan nya Luna..?" Tanya Saski sembari melongo.
"Hadeuuuh.!" Luna dan Metha sama-sama menepuk jidat.
Flashback On
Sore hari itu setelah Luna cs dan Saski cs selesai melakukan shooting bersama. Mereka ke ruang ganti untuk merapihkan barang-barang mereka sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Luna dan Kirana meletakkan tas nya di dekat jendela. Ketika Luna sedang merapihkan properti narinya, tanpa sengaja Luna meletakkan selendang nya di atas jendela yang terbuka, lalu angin berhembus kencang, selendang Luna terbang dan jatuh di luar jendela, setelah semua nya di rasa sudah beres, tanpa sadar Luna melupakan selendang nya, lalu Putri mendekat, mengajak sholat ashar di mushola, jadilah semuanya berangkat ke mushola bersama-sama.
Saat ruangan sudah sepi, Zia dan Bona melintas di luar jendela ruang ganti.
"Eh Zi ada baju jatuh noh." Tunjuk Bona, lalu kemudian Zia merunduk dan mengambil kain tersebut.
"Ini bukan baju Bon.. Tapi selendang." Ucap Zia seraya membalik-balikkan selendang berwarna merah itu.
"Yaaa palingan selendang anak-anak tim penari Zi." Kata Bona ikut memegang benda panjang berwarna merah itu kemudian Bona berlalu tanpa menunggu Zia.
"Iya." Jawab Zia singkat, namun Zia masih membolak-balikkan selendang itu seperti mencari sesuatu. Benar saja Zia menemukan sesuatu yang di cari, di ujung selendang tersebut ada tulisan berwarna hitam, tertera huruf AZP.
"AZP.. Kira-kira inisial dari nama siapa ya.?" batin Zia.
Angin kencan tiba-tiba menerpa selendang yang di pegang Zia, dan terbang menutupi muka Zia.
"Hhmmmm wangi banget nih selendang.. " Gumam Zia seraya menikmati harum selendang merah itu.
Kemudian Zia berjalan menuju ruang ganti, hendak mengembalikan selendang itu, ketika sampai di depan ruang ganti, Zia melongok kan kepalanya ke dalam, namun sepi tidak ada orang sama sekali. Akhirnya Zia memutuskan membawa kembali selendang yang sudah di lipat rapih, kemudian di masukkan ke dalam saku jaketnya.
"Aaah ga ada orang.. Mending gue simpen dulu aja deh.. Lagian gue pengen tau.. Selendang siapa ini.. Gue penasaran.. Apa punya Luna..? " Ucap Zia lirih bermonolog.
Zia menebak-nebak milik siapa selendang biru sebenarnya. Zia tak menyadari bahwa AZP itu adalah inisial dari nama Luna, yaitu Aluna Zakiya Pramitha. Namun Zia mungkin lupa nama panjang Luna atau bisa saja tidak terpikir oleh Zia.
Saat Zia berbalik badan hendak pergi dari depan ruang ganti, Saski melihat Zia dari kejauhan. Saski mengira kalo Zia keluar dari dalam ruangan, padahal yang sebenarnya Zia hanya melongokkan kepalanya saja, tidak sampai masuk ke dalam, karena Zia tahu ruangan itu kosong.
"Loh itu kan kak Zia.. Ngapain do'i keluar dari ruang ganti extras"? Gumam Saski.
Flashback Off
Tring.. Tring.. Nada dering group what'sApp berbunyi. Luna Metha Saski serentak membuka handphone nya masing-masing.
"Mak Poni bilang nanti pulang sekolah suruh latihan buat besok shooting, sekalian briefing buat hari terakhir." Ucap Metha.
"Yaah terus aku mau ke dokter gimana..?" Kata Luna cemas
"Ke dokter nya malem aja Lun.. emang bunda lo dah booking nomer.?" Tanya Metha kepada Luna.
"Belum kayaknya." Jawab Luna sambil menggeleng.
"Coba lo telpon bunda lo dulu.. bilang pulang sekolah ada latihan dadakan." Ujar Metha.
"Iya nanti deh pas di kelas aku WA bunda." Tukas Luna.
"Wah kebetulan dong.. kita sekalian nemuin kak Zia nanyain soal selendang Luna.." Kata Metha kepada Saski.
"Kalo ternyata bukan doi yang ngambil gimana Met.?" Tanya Saski.
"Ya kan kita cuma nanya doang.. kalo bukan dia ya udah.. ga ada salahkan nanya dulu." Jawab Metha santai.
"Ya udah okelah kalo begitu.. yuk ah cabut.. bye Lun." Pamit Saski kepada Luna lalu menggandeng tangan Metha.
Akhirnya mereka bubar dan kembali ke kelas masing-masing dan Luna kembali di gedung sekolah nya.
Saat Luna akan menuju gedung sekolah nya melewati kantin barat tempat ia janjian sama Metha tadi, tapi di sana keliatan ramai sekali tidak seperti tadi, Luna mendekat.
"Ooh ada artis lagi istirahat.. pantesan rame, tapi kok nggak ada kak Zia ya." Batin Luna, yang ia lihat adalah Tasya dan Bona serta asistennya sedang menikmati minuman dingin.
Ketika Luna membalikkan badannya dan akan segera kembali ke kelas, tiba-tiba ada yang memanggil, Luna mengurungkan niat dan menoleh, akan tetapi...
"Aoww.."
Bugh.. Byuur..!
Tasya yang memanggil Luna dengan memegang segelas jus strawberry di tangannya pura-pura tersandung, lalu menabrak Luna dan menumpahkan jus tadi di badan Luna, sehingga krudung serta baju Luna basah dan kotor.
"Astaghfirullah dingiin.." Jerit Luna., sehingga semua mata tertuju ke mereka berdua. Luna reflek melompat-lompat serta mengibas-ngibaskan krudung nya kotor.
"Yaak ampun.. aduuuh jadi kotor ya baju lo.. maaf yaa gue nggak sengaja lho.. tadi tuh gue kesandung." Dengan nada dan raut wajah yang di buat-buat seolah ia menyesal telah menumpahkan jus ke badan Luna.
"I.. iya nggak papa kak.. kak Tasya tadi manggil saya..?" Tanya Luna dengan wajah meringis karena dingin.
"Iyaa.. kenapa lo balik lagi tadi hah..?" Tanya Tasya dengan senyum smirk nya.
"Lo nyari Zia kaan.?" Sambung Tasya seraya mencolek pundak Luna.
"Eng.. nggak kak.. sayaa.." Luna terbata dan sedikit terkejut, tak menyangka Tasya akan berkata seperti itu.
"Halaah sok nggak nga--ku.!" Hardik Tasya seraya mengibaskan tangan nya di depan muka Luna.
Teeet.. Teeet..
Bel sekolah berbunyi nyaring sebanyak 2 kali, pertanda bel masuk.
"Eiimm maaf kak.. Udah bel cisaya harus segera masuk." Ucap Luna langsung membalikkan badannya dan pergi dari hadapan Tasya.
"Awas lo ya.. Hmmm.. Mamp*s baju lo kotor." Batin Tasya puas dengan melengoskan kepala nya.
"Brengs*k saved by the bell.. coba kalo nggak.. ini masih awal ya anak kampung.!" Oceh Tasya kesal.
"Astaghfirullah mau apa kak Tasya.. Kok mukanya serem banget." Batin Luna lalu menggedikkan bahunya.
Sepanjang jalan menuju kelas banyak mata yang menatap nya dan bertanya-tanya, sesampainya di kelas..
"Ya ampun Lunaaa.. kenapa baju lo kotor semua.?" Tanya Cila terkejut saat bertemu dengan Luna.
"Ta--di ketabrak orang di kantin Cil." Jawab Luna sedih.
"Ya udah kalo gitu kita harus koperasi dulu sebelum guru dateng." Ajak Cila seraya menarik tangan Luna.
Mendol = Perkedel Tempe