Siang itu surya membelai bumi dengan pancaran sinarnya yang baru muncul, sebab sedari pagi cuaca agak mendung. Luna, Metha dan Saski nampak berjalan beriringan menuju lokasi shooting yang terletak di sisi barat gedung sekolah nya, mereka bertiga berjanji akan mampir ke lokasi shooting dahulu sebelum pulang ke rumah. Namun ternyata mak Poni meminta anak-anak tari untuk latihan serta briefing.
Lalu lalang kru film terlihat sangat sibuk membenahi perkakas nya untuk kembali melakukan take setelah istirahat makan siang.
"Sas.. Met.. Shooting nya belum di mulai lagi nih." Ucap Luna sesekali mencium minyak kayu putih yang di pegangnya.
"Iya sabar dulu.. Palingan juga sebentar lagi mulai." Sahut Metha seraya mendeteksi ke setiap penjuru, bahwa di sana belum terlihat artis-artis yang shooting hari ini.
"Iya kayaknya sih bentar lagi deh.. Tuh liat kru nya udah siap-siap." Ucap Saski tanpa menoleh. Mereka bertiga melihat dari kejauhan saja. Karena mereka bertiga perlu bertemu dengan Zia si artis ganteng itu.
"Siang neng.. Eneng-eneng ini mau shooting ya.? Langsung aja ke ruang ganti atuh." Tanya mang Soleh.
"Eh mang Soleh.. Ssttt.. Iya mang.. Tapi kita lagi nggak ada shooting mang.. Cuma di suruh latihan sama briefing aja kata mak Poni." Papar Metha dengan telunjuk di bibirnya.
"Iya mang.. Kita juga mau ketemu sama kak Zia." Kata Saski keceplosan.
Luna dan Metha melotot ke arah Saski. Saski sontak langsung menutup mulutnya dengan tangan, namun sayang, mang Soleh sudah dengar ucapan Saski.
"Oooh." Kata mang Soleh manggut-manggut.
"Eeh ada neng Luna." Mang Soleh baru menyadari jika ada Luna. Luna hanya tersenyum saja sambil menganggukkan kepalanya.
"Ssstt mang Soleh.. Mamang tau nggak.. Hari ini--kak Zia.. eeng.. dia ada shooting apa nggak.?" Tanya Metha dengan suara yang sangat pelan.
"Sepertinya nggak ada neng.. Mamang liat mobilnya aja nggak ada." Sahut mang Soleh.
"Yaaah nggak ada ya mang..?" Gumam Saski.
"Iya neng nggak ada.. Mungkin emang sekarang bukan gilirannya atau nanti kali.. dapet giliran yang sore." Ucap mang Soleh.
"Ya udah deh mang makasih ya." Tukas Luna.
"Kalo aja mak Poni nggak WA aku bisa langsung pulang." Batin Luna.
"Iya mang makasih ya.. kita tunggu di situ aja sekalian nunggu yang lain." Kata Saski kepada mang Soleh.
"Iya neng.. silahkan.. Kalo gitu mamang permisi dulu ya..mau lanjut bebenah." Ucap mang Soleh lalu kemudian pergi untuk menyelesaikan tugasnya. Akhirnya mereka bertiga menunggu di taman di bawah pohon yang rindang seraya menunggu tim extras lain yang belum datang.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tajam berada di belakang mereka, sehingga pemilik sepasang mata tajam itu mendengar semua percakapan mereka berempat. Pemilik sepasang mata itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan senyum smirk nya.
"Pasti mereka itu nyari Zia.. Mau ngapain mereka..? Awas aja lo ya anak kampung.!" Sepasang mata itu bermonolog, lalu ia bersembunyi di belakang tiang tembok sekolah, karena Metha, Luna dan Saski membalikkan badannya untuk pergi dari sana menuju dan duduk di taman.
Tak lama gerombolan tim extras yang lainnya muncul, seketika suasana jadi heboh.
"Hai sis.." Sapa Kirana, Putri dan yang lainnya.
"Dah lama nunggu.?" Sapa Rida sambil menghenyakkan tubuhnya duduk di samping Luna.
"Belum lama kok." Sahut Luna.
"Oh ya Luna kata Cila tadi baju lo kotor habis kesiram jus.?" Tanya Putri sembari mengeluarkan bungkusan kertas yang di lapisi plastik yang ternyata isinya gorengan.
"Nih pada makan sembari nunggu makan siang dari mak Poni." Putri meletakkan gorengan di meja taman yang terbuat dari batu.
"Hah..! Kok lo nggak cerita sama gue Lun..? kesiram atau disiram..?" Tanya Metha posesif.
"I.. Iya ke siram jus.. Orang itu nggak sengaja kesandung.. tapi aku udah ganti baju kok tadi di koperasi sama Cila." Terang Luna sambil menyedot minuman yang tadi di belinya.
"Emg siapa orangnya Lun.?" Tanya Saski seraya mencomot pisang goreng.
"Kak Tasya.?" Cicit Luna dengan pandangan matanya tertuju ke lokasi shooting.
"Hasa..?!" Ucap Metha dengan mulut penuh bakwan dan cabe.
"Kak Tasya siapa.?" Tanya Saski.
"Itu lho Tasya yang jadi Vena.?" Sahut Rida sambil kipas-kipas karena kegerahan.
"Huush haa.. Terus dia minta maaf nggak.?" Tanya Metha kepedasan.
"Iya.. udah minta maaf." Lirih Luna ngeri kalau ingat tadi tatapan mata Tasya yang tidak bersahabat.
"Ooh Tasya si artis jutek itu.. gue kurang begitu suka tuh sama dia.. sok cantik.. sombong.. masih banyak artis yang lebih cantik dari dia tapi nggak sombong." Seloroh Rida.
"Iyaak.. gue setuju sama lo Da.. gue juga pertama liat dia pas shooting.. dia itu nggak bersahabat banget saat liat kita-kita.. sombong amat.!" Metha menambahi ucapan Rida seraya mengikuti ucapan pelawak betawi kondang.
"Beda banget sama kak Laras ya.. Kak Laras itu baik murah senyum.. kalo di mintain foto jawabnya juga baik dan sopan.. Iya sayang sebentar yaa." Kata Putri sambil mengikuti gaya Laras.
"Udah ah kok jadi pada nyinyir gini sih.. hehehe." Ujar Luna terkekeh sembari nyomot pisang molen dan mencaplok nya.
"Ssttt.. Tuh mak Poni lagi jalan kemari." Sambung Luna.
"Halo anak-anak.. kok belum pada latihan..?" Mak Poni datang dengan membawa kantong merah besar berisi box makan siang.
"Halo juga mak.. kita nunggu mak Poni kaannnn." Sapa Metha.
"Kangen sama emak yaa.?" Canda mak Poni
"Emak tau aja hehehe." Kata Rida balik mencandai mak Poni.
"Nih makan siang kalian ya.. setelah makan siang buru-buru sholat dulu.. lepas itu langsung latihan.. nggak usah di suruh.. kalian kan udah gede.. masing-masing saling koreksi jika ada temennya ada kurang.. saling mengingatkan juga.. harus kompak.. kalo kalian nari dan aktingnya bagus kan.. nama mak Poni ikut bagus dan itu buat kalian juga.. besok-besok jadi di calling lagi.. para artis yang terkenal itukan dulu nya juga ada yang seperti kalian.. dari bawah dulu nggak ujuk-ujuk langsung terkenal dan naik daun." Nasehat mak Poni panjang lebar.
"Iya mak." Jawab anak-anak serempak dan singkat.
Ke 10 anak tim extras sedang asyik makan, Luna, Metha, Kirana dan Putri memisahkan diri dari yang lainnya, ber 4 akan makan di meja bundar di kantin sekolah yang buat lokasi shooting, namun sebelum menyantap jatah makan siangnya mereka hendak menunaikan sholat dhuhur, dan makanannya di letakkan di atas meja, sedangkan yang lain makan di taman sekolah yang tidak jauh dari kantin.
Suasana agak lengang, karena semua kru juga artis sedang beristirahat, ada yang makan, sholat, tidur, ngopi sambil ngobrol, ada yang rebahan tapi tidak tidur. Tasya hendak ke toilet dan melewati kantin yang sepi, lalu Tasya melihat ada 4 kotak nasi yang tergeletak di atas meja kantin, juga tas sekolah. Lalu terlintas pikiran jahat nya untuk mengerjai Luna lagi, diam-diam dia kembali lagi ke ruangannya dan mengambil sesuatu, kemudian Tasya kembali lagi ke kantin, namun di sana sudah ada Putri dan Kirana yang sedang santap siang sambil ngobrol, itu berarti masih ada 2 kotak lagi yang belum tersentuh, milik siapakah box makan siang itu.?
"Ah lebih baik gue ke toilet dulu." Ucap Tasya dalam hati. Pas hendak belok ke toilet dia berpapasan dengan Luna dan Metha, Tasya seolah tak mengenal Luna juga Metha padahal mereka terlibat dalam shooting yang sama, Tasya melengos. Luna dan Metha urung saat mau menyapa nya.
"Jangan-jangan kotak yang sisa 2 tadi punya mereka.. tau gitu gue kerjain aja dia.. biar tau rasa." Batin Tasya jahat.
"Iih sombong banget ya dia." Ujar Metha sebal
"Udah biarin aja.. emang begitu kali orangnya." Luna menarik nafas pelan.
"Lun.. sebelum makan kita ambil air minum dulu yuk di bagian PU." Ajak Metha
"Ayok kebetulan air minumku udah habis." Sahut Luna.
Tasya yang mendengar percakapan Luna dan Metha merasa bahwa inilah saatnya untuk melakukan misi jahatnya, Tasya mengekor dari belakang dengan menjaga jarak, saat kedua sudah tak terlihat Tasya pun segera beraksi, dia mengeluarkan sebuah botol yang berlambang api dari sakunya, lalu di teteskan di atas salah satu makanan yang ada di dalam kotak.
"Pasti yang bawah punya Luna.. gue yakin" Gumam Tasya sambil tengak-tengok waspada takut jika ada orang yang melihat aksinya. Setelah selesai melakukan misi nya Tasya langsung menggeloyor pergi.
Benar saja saat Metha dan Luna kembali, Metha terlebih dulu mengambil box nasi buat dirinya, dan sisanya untuk Luna. Tasya tersenyum puas dari kejauhan melihat aksinya akan segera berhasil.
"Siap-siap lo nggak bisa latihan Luna si anak kampung.! hahaha." Hati Tasya sangat puas.
"Nih Lun buruan makan ntar latihannya keburu di mulai." Ucap Metha dengan menyodorkan kotak nasi untuk Luna. Saat Luna membukanya dan akan memakannya tiba-tiba sendoknya jatuh dan kotor.
"Yaaah sendokku jatuh Met.!" Teriak Luna, kemudian Luna memungut sendoknya dan hendak mencucinya di wastafel.
"Dih alah pake jatuh segala sih.!" Kata Metha seraya menyuap nasi ke mulutnya.
"Iya nih nyangkut di tisu." Sahut Luna setengah berlari menuju wastafel. Sementara Metha asyik menikmati makan siangnya tak di sangka ada kucing datang dan menumpahkan nasi kotak Luna lalu memakannya.
"Astaga naga..!" Metha terkejut melihat makanan Luna di tumpahkan serta di acak-acak oleh seekor kucing.
"Astagfirullah.. makanan nya.!" Luna pun kaget saat mendapati makanan nya sudah di makan kucing,
"Sorry Lun gue nggak liat kucing dateng." Metha merasa iba melihat Luna.
"Ya udah nggak papa.. bukan rezeki.. puussh habisin yaa jangan di acak-acak lho.. mubazir.. pokoknya habisin yaa." Luna mengelus-elus kepala kucing dan mengajaknya berbicara.
"Nti gue mintain lagi sama mak Poni deh." Metha berusaha akan bicara ke mak Poni, mengingat Luna sedang kurang sehat, tadi pagi aja dia pingsan.
"Nggak usah Met malu-maluin aja.. kalo ternyata udah habis gimana.. kan nggak enak sama mak Poni.. mending nanti aku minta tolong mang Soleh beli nasi padang aja di depan." kata Luna akhirnya.
Meong.. Meong.. krookk.. grook.. kucing itu seperti kesakitan setelah makan nasi milik Luna, dia berlari kesana kemari menjulur-julurkan lidahnya serta berusaha memuntahkan isi perutnya, dia menabrakkan tubuhnya ke tembok, tak lama kemudian kucing tersebut lemah kehabisan tenaga dengan nafas tersengal-sengal dan.. Mati.
"Innalillahi Methaaa kenapa kucing itu.!?" Teriak Luna sambil bergidik ngeri.
"Iyaa kenapa ya.. kok habis makan nasi lo dia langsung kayak gitu sih..!" Metha pun tak percaya apa yang baru saja di lihatnya, kucing itu mengeluarkan busa dari muutnya.
"Tolonng.. mang Soleh tolongin doong maaang..!" Metha spontan teriak membuat orang-orang berlarian menuju tempat kucing yang mati tadi.
"Ada apa neng Metha.. ya Allah kenapa si Cemong neng.?" Mang Soleh berlari sambil membawa serbet di pundaknya dan bertanya kepada Metha.
"Ga.. nggak tau mang tiba-tiba dia seperti keracunan gitu setelah makan nasi nya Luna." Jelas Metha ketakutan dan Luna terkesiap hingga tak mampu berucap sepatah kata pun, pikirannya kemana-mana.
"Astagfirullah kucing itu aja langsung mati.. gimana kalo aku yang makan.. masa iya itu makanan ada racunnya.?" Luna bermonolog bertanya pada diri sendiri.
"Jangan-jangan nasi Luna ada racunnya.. masa iya kucing makan bisa langsung mati." Ujar Kirana berandai-andai.
"Huush ngaco kamu.. mana mungkin ada racunnya.. kan isi makanan sama kayak kita.." Sahut Putri ikut nimbrung,
"Yaa kali aja ada yang naruh racun.. hihihi." Kata Kirana asal bicara.
"Enng maaf neng Luna.. apa neng Luna sebelumnya udah makan nasi kotaknya.?" Tanya mang Soleh sembari mengangkat kucing itu dan akan segera di kubur di halaman belakang sekolah.
"Justru belum sempat makan udah di tumpahin kucing duluan." Papar Metha mewakili Luna yang shock.
"Ade ape ini rame-rame.?" Tanya Dodit selaku korlap saat melihat orang-orang berkumpul di kantin.
"Ini bang Dodit.. si Cemong mati habis makan nasinya Luna." Terang mang Soleh kepada Dodit.
"Emang mana yang namanya Luna.?" Dodit ingat kata-kata Zia, bahwa lalapan Zia bernama Aluna.
"Saya om.. Dia om." jawab Luna dan Kirana bersamaan, Luna menundukkan kepalanya takut.
"Ehmm pantesan leher Zia nggak bisa balik nengok.. ekekek." Batin Dodit seraya terkekeh.
"Eeeh sembarangan manggil om.. panggil abang Dodit yang ganteng baik ramah dan nyenengin.. hehehe." Dodit menaikkan alisnya sebelah dengan genit.
"Permisi bang.. saya mau ngubur si cemong dulu ya." Izin Mang Soleh sambil membopong tubuh si Cemong yang sudah di bungkus karung bekas.
"Emang tadi neng Luna makan apaan hmm." Tanya Dodit dengan genit kepada Luna.
"Saya--belum makan om tapi--udah di tumpahin sama kucing duluan.. dan tak lama kucing nya seperti keracunan gitu lalu--mati." Sahut Luna dengan nada lirih dan takut.
"Ehmm Luna cantik manis baik dan masih polos.. bisa ae Zia dapetin lalapan muda." Batin Dodit dengan konyol.
"Diiih nggak jelas banget om Dodit.. genit banget sama Luna.. gelay deh."Kata Metha dalam hati sebel terhadap Dodit.
Tin.. Tin.. Terlihat mobil putih memasuki area parkir dekat kantin, tak lama sosok tinggi gondrong berkacamata hitam turun dari mobil dengan menenteng tas di tangannya.
"Bro Zi.." Sapa Dodit dengan melambaikan tangannya, dan di sambut dengan lambaian tangan juga seraya membuka kacamata hitamnya, yang tak lain adalah Zia.
"Ada apa ini Dit kok pada ngumpul disini bukannya udah mulai shootingnya." Tanya Zia heran, lalu Zia terhenyak saat pandangannya mengarah ke Luna yang sedang menundukkan kepalanya.
"Luna.!" Guman Zia sangat pelan dan nyaris takkan terdengar oleh siapapun.
"Ini Bro kucing mang Soleh si Cemong mati kayak keracunan setelah makan nasi nye Luna." Jawab Dodit seraya menunjuk Luna dengan lirikan matanya.
"Hah si Cemong mati keracunan nasi.?" Tanya Zia seraya melihat nasi yang bekas di acak-acak kucing.
"Tapi kamu nggak papa kan Lun.?" Tanya Zia kepada Luna yang masih menundukkan kepalanya malu dan sedikit ketakutan.
"Justru Luna belum sempet makan kak." Putri yang menjawab pertanyaan Zia.
"Tapi yang lain juga nggak kenapa-napa kok makan nasi dari mak.. kru dan semua artis juga sama.. dapet jatah makan yang sama nggak di beda-bedain." Ucap mak Poni yang kebetulan sudah ada di kantin dan mendengar dari salah satu kru soal matinya si Cemong.
"Wah kayaknya ada yang nggak beres nih." Kata Zia berbisik ke telinga Dodit.
"Maksud ente ape bro.?" Tanya Dodit tidak mengerti.
"Ya udah sekarang kita bubar.. biar nanti mang Soleh bersihin tempat ini.. kalian segera latihan aja ya.. Luna nanti mak beliin nasi di depan ya.. jangan sedih., udah gede." Ledek mak Poni tergelak.
"Iiih apaan sih mak.. siapa yang sedih." kata Luna malu-malu.
"Lun.. untung lo nggak kenapa-napa." Rangkul Metha seraya menenangkan Luna.
"Iya Alhamdulillah Allah masih melindungi aku." Ucap Luna bersyukur.
Setelah semuanya bubar tinggallah Dodit dan Zia yang masih duduk di kantin, Zia santai karena jadwal shooting nya masih 2 lagi. Rencanya hari ini dia mau mengembalikan selendang kepada Luna, namun sepertinya Zia lupa, karena Zia masih penasaran dengan apa yang barusan terjadi.
"Nasi Luna di makan kucingnya mang Soleh lalu mati.. masa iya di nasi luna ada racunnya.? lalu kenapa yang lain makan nasi kotak nggak kenapa-napa ya.?" Tanya Zia heran.
"Justru itu bro ane juga bingung.. ane tanya tadi Luna belom nyentuh sedikitpun makanannye." Dodit juga ikutan bingung.
"Ente mau ngapain bro.?" Tanya Dodit saat Zia mengambil plastik dan memasukkan sisa makanan yang di makan kucing tadi.
"Ssttt.. gue mau periksa.. apa di makanan ini ada racunnya ato nggak.. gue penasaran aja men.. secara Luna gue men.. untung dia nggak makan.. coba kalo dia yang makan.. gue nggak bisa ngebayangin deh." Kata Zia merasa khawatir. Zia melihat mang Soleh nampak sedih setelah kucing kesayangannya mati.
"Tenang mang.. Zia akan usut kematian si Cemong." Ucap Zia pelan.
Sementara Tasya tidak mengetahui keramaian tadi di kantin karena Tasya sudah pulang duluan setelah selesai shooting.
*
*
*
Jam di tangan Luna menunjukkan pukul 8 malam. Rumah sakit saat ini terlihat sedikit lengang, Luna di antar bunda Lea dan papa Zaki untuk memeriksakan keadaan Luna ke dokter umum. Luna mendapatkan nomor antrian 7. Malam ini Luna memakai tunik ungu muda serta pasmina warna senada di padu celana jeans hitam dan flatshoes warna hitam yang membingkai kakinya, juga tersampir tas kecil di pundaknya.
"Bund.. Pa.. Luna mau ke kamar mandi dulu ya." Kata Luna bangkit dari tempat duduknya.
"Hati-hati sayang." Pesan bunda Lea.
"Nggak sebaiknya di antar bunda aja.. Takut kenapa-napa nanti." Papa Zaki khawatir.
"Luna bisa sendiri kok pa." Luna mengurai senyuman.
"Ya udah jangan lama-lama."
"Iya pa." Jawab Luna singkat.
Saat keluar dari kamar mandi, Luna melihat ada sebuah dompet berukuran 15cm x 10cm di atas wastafel.
"Eeh punya siapa ini..?" Gumam Luna, ia celingukan mencari-cari orang di sekitar toilet, namun semua pintu bikin kamar mandi terbuka, itu artinya sudah tidak ada orang satu pun di toilet ini kecuali Luna.
Luna pun berlari kecil ke luar toilet, tapi ternyata tidak ada orang yang lewat. Luna memberanikan diri untuk membuka dompet tersebut guna mengetahui siapa pemilik dompet itu.
"Dokter Bella Zainab. Sp.A.. spesialis anak." Setelah membaca kartu identitas dan melihat foto yang di ada kartu, Luna menutup kembali dompet itu dan ia segera keluar dari toilet.
Luna keluar dari toilet dan di luar koridor rumah sakit masih terlihat lengang, tidak ada tanda-tanda orang yang kehilangan dompet nya. Lalu Luna bertemu dengan bapak-bapak cleaning service.
" Maaf pak.. Kalo dokter spesialis anak di sebelah mana ya..?" Tanya Luna dengan sopan.
"Itu non lurus aja, nanti belok kiri ruang paling ujung, ada 2 ruangan tergantung non mau dokter siapa." Jawab si bapak cleaning service itu.
"Dokter Bella pak.. Ada nama dokter Bella di RS inj..?" Tanya Luna lagi.
"Ooh dokter Bella.. Ruangan nya yang paling ujung non."
"Baik pak.. Terimakasih banyak ya."
"Sama-sama non."
Luna segera bergegas menuju ruangan dokter anak yang di maksud bapak tadi. Namun saat hendak belok kiri, ia menabrak seorang dokter yang sedang menerima panggilan telepon sambil berdiri.
"Astaghfirullahalaziim.. Ma maaf kan saya.. Saya tidak melihat do -- k." Luna tidak meneruskan ucapannya, tenggorokannya tercekat begitu melihat sosok yang di tabrak nya tadi. Luna melongo seraya menengadahkan kepalanya ke atas menatap sosok jangkung di depannya. Dompet yang tadi di pegang nya jatuh ke lantai. Luna menatap benda kecil yang tersemat di baju orang yang di tabraknya.
"Dr. Zidni Gautama D, Sp.OT. kok mirip banget sama kak Zia. Apa dokter ini kembaran nya kak Zia.? huruf depan namanya juga sama.. kak Zia Zildjian Ganesha--tapi P bukan D." batin Luna masih terpaku menatap orang itu.
"Eehhmm adik nggak apa-apa.. Apa kamu baik-baik saja.?' tanya dokter itu heran, karena melihat Luna yang melongo dan kaget, seperti melihat hantu pada dirinya.
"Ti tidak apa-apa dok.. Ma maafkan saya." Luna gugup dan panik seraya mengambil dompet yang jatuh.
Mata dokter itu juga tertuju ke dompet yang jatuh, lalu sebentar menatap Luna yang panik.
"Sepertinya aku pernah liat dompet itu.. Tapi di mana ya..?" batin sang dokter.
"Sekali lagi maafkan saya.. Permisi." Luna membungkukan badannya dan pergi dari hadapan dokter Zidni.
"Oooh.. Iyah silahkan." Zidni mengurai senyuman.
Luna melangkah kan kakinya dan sesekali ia menengok ke belakang, ia penasaran dengan dokter itu, karena mukanya sangat mirip dengan Zia. Hanya saja dokter itu memakai kacamata dan berambut rapih juga klimis.
"Bund.." Luna melihat bunda Lea yang sedikit cemas.
"Luna.. Kok kamu lama sekali sayang.. Ngantri ya..?"p Tanya bunda Lea sembari merapihkan pasmina Luna.
"Nggak kok bund.. Ini bund liat..!" Luna menunjukkan dompet yang di pegang.
"Dompet siapa itu nak.?" Bunda Lea menautkan kedua alisnya.
"Ini bund.. Luna menemukannya di toilet.. Pas Luna cari-cari orang nya udah pergi.. Lalu Luna buka deh dalamnya.. Ternyata ada nama tag dokter Bella." Papar Luna.
"Hati-hati Luna jangan buka dompet orang sembarangan.. Kalo nanti ada yang hilang bagaimana..?" Bunda Lea mengkhawatirkan sesuatu yang tak di ingin kan terjadi.
"Luna nggak periksa semua nya kok bund.. Cuma ingin tau aja milik siapa dompet ini.. Luna antar dompet ini dulu ya bund.. Katanya sih ruangan dokter Bella ada di ujung." Luna menjelaskan kepada bunda Lea agar tidak khawatir lagi.
Papa Zaki yang sedari tadi menyimak obrolan anak dan istrinya.
"Ya sudah sana.. Antarkan dulu dompet nya.. Siapa tau pemilik nya sedang kelimpungan nyari-nyari.. Ingat.! Jangan lama-lama.! Sebentar lagi nomer kamu di panggil.. Kalo perlu bunda temenin Luna antar dompet itu."
"Iya pa.. Ayo Luna.. Bunda temenin." Ajak bunda Lea lalu mangamit tangan Luna.
"Sore bunda.. Ada yang bisa saya bantu.?" Sapa seorang perawat ramah setelah bunda Lea dan Luna tiba di depan ruangan dokter Bella.
"Sore juga suster.. Saya bisa bertemu dengan dokter Bella ?" Ucap bunda Lea seraya mengurai senyuman.
"Apakah sudah ada janji ?"
"Eehmm.. Belum sih.. Tapi saya bukan mau berobat atau konsultasi.. Melainkan anak saya ingin mengembalikan dompet dokter Bella yang tertinggal di toilet tadi." Ucap bunda Lea dan di ikuti anggukan Luna uang yang tersenyum di samping bunda Lea.
"Ooh ya.. Silahkan masuk kalo begitu.. Kebetulan dokter Bella sudah selesai menangani pasien-pasien." Suster itu tersenyum sangat ramah lalu mengetuk serta membukakan pintu untuk Luna dan bunda nya.
Tok.. Tok..
"Assalamu'alaikum dok.. Ada yang mau bertemu dengan dokter.. Katanya telah menemukan dompet dokter." Ucap perawat itu yang hanya melongokkan kepalanya saja.
"Dompet..? Astaghfirullahalazim.. Iya dompet saya nggak ada. Tapi ketinggilan di mana ya..!?" Dokter Bella kebingungan.
"Silahkan bunda.." Perawat mempersilahkan masuk lalu kemudian berlalu.
"Assalamu'alaikum dokter." Salam bunda Lea dan Luna bersamaan tak lupa di setai senyuman ramah nya.
"Walaikumussalaam.. Mari masuk dan silahkan duduk." Sambut dokter Bella santun.
"Ohiya itu dompet ku yang ketinggalan entah dimana." batin dokter Bella.
"Maaf mengganggu waktunya dok." Ucap bunda Lea sembari meletakkan bokongnya di kursi dan diikuti Luna.
"Oh tidak apa-apa."
"Perkenalkan saya Lea.. Dan ini putri saya Luna."
''Oh ya.. Saya Bella Zainab." Mereka saling berjabatan tangan untuk memperkenalkan diri masing-masing.
"Ini dok.. Putri saya tadi menemukan dompet anda di toilet.. Coba Luna jelaskan." Pinta bunda Lea.
"Iya dompetnya dok.. Tadi saya menemukan di toilet.. Saya sudah cari-cari tetapi tidak ada orang.. Maaf tadi sempat buka sebentar untuk mengetahui siapa pemilik dompet ini. Ternyata ada nama dokter Bella." Luna menjelaskan dengan sangat sopan dan mata yang berbinar karena sudah mengembalikan dompet itu ke pemilik nya.
"Boleh di periksa dulu dokter.. Khawatir ada yang berkurang dalamnya." Ucap bunda Lea menambahkan ucapan Luna.
Dokter Bella malah meletakkan dompet nya di dalam laci.
"Sudah tidak mengapa.. Tidak ada barang berharga kok di dalamnya.. Hanya beberapa kartu saja.. Namun kalo tidak ada kartu-kartu tersebut saya jadi repot." Dokter Bella mengurai senyuman nya dan sesekali membetulkan letak hijab nya dan letak kacamata nya.
"Dokter Bella cantik dan ramah banget." batin Luna.
Tak lama kemudian terdengar sebuah panggilan dan pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum mam.. Mama duluan pulang ya.. Zidni masih ada pasi -- en." Ucapan Zidni terhenti saat melihat ada tamu di ruangan mamanya.
"Ooh maaf saya pikir tidak ada tamu." Zidni tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya di d**a.
"Dokter.."
"Adik ini.." Ucap Zidni dan Luna bersamaan.
"Kalian sudah saling kenal..?" Tanya dokter Bella mengernyitkan dahinya.
"Tidak dok."
"Tidak mam." Lagi-lagi ucapan Zidni dan Luna berbarengan. Lalu kedua tersenyum malu.
"Oh ya Zi.. Kenalkan ini Luna dan bundanya.. Luna ini yang menemukan dompet bunda.. Dan ini putra saya Zidni.. Zizi ini dokter ortopedi di RS ini." Dokter Bella mengenal kan Zidni kepada Luna dan Bundanya seraya tersenyum, mereka lun saling berjabat tangan.
"Ooh pantas saja.. Tadi saat Luna menabrak Zizi.. Zizi liat dompet itu mam.. Kok seperti kenal.. Eeh ternyata emang dompet mama ya. Terimakasih Luna." Ucap Zidni terkekeh seraya melihat ke arah Luna.
Luna mengangguk sambil tersipu malu.
"Anak sama mama nya sama-sama jadi dokter.. Sama-sama baik dan ramah.. Tapi kenapa mirip banget sama kak Zia ya.. Apa sebaiknya aku tanya aja ya.? Apa mereka ini keluarga nya kak Zia.. Tapi nggak perlu lah.. Toh di dunia ini emang ada beberapa orang yang mirip. Luna sibuk dengan hatinya.
"Ooh jadi kalian tadi sudah bertemu." Dokter Bella pun ikut terkekeh. Luna terkesiap.
"Maaf dok.. Kalo begitu kami pamit dulu.. Karena Luna juga sedang menunggu antrian dokter umum." bunda Lea berdiri diikuti Luna.
"Ooh nak Luna sakit apa..?" Tanya dokter Bella.
"Hanya kelelahan saja dok. Kemarin saat jam olahraga berlangsung.. Tiba-tiba Luna pingsan.. Jadi kami ingin memeriksakan nya saja.. Khawatir kenapa-napa." Sahut bunda Lea.
"Ooh semoga lekas sembuh ya Luna.. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih banyak untuk dompet saya.. Untung nak Luna yang menemukan.. Terimakasih ya sayang."
"Sama-sama dok. Dan terimakasih do'anya." Bunda Lea dan Luna pamit lalu meninggalkan ruangan dokter Bella.
"Huush.. Zi.. Zizi.. Kenapa kamu ngeliatin Luna sampe kayak gitu sih..? Cantik yaa..?" Ledek mama Bella.
"iish apaan mama ni.. Iya sih cantik tapi masih kecil.. Ramah lagi.. Dan suka malu-malu." Canda Zidni.
Bersambung..