Pagi harinya nampak Zia terburu-buru mengendarai mobilnya, padahal Zia sudah berencana berangkat lebih awal, tapi berhubung semalem tidurnya larut jadilah kesiangan. Senin pagi jalanan sudah di padati dengan kendaraan pribadi. Dari kaca spion Zia melihat kendaraan roda dua saling salip, kepot kanan kepot kiri tidak memikirkan takut menyenggol kendaraan lain. Zia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sesekali menekan klaksonnya.
Apa mereka pikir, mereka yang punya jalanan kali ya. Hingga tidak memikirkan keselamatan orang lain.
Tiba-tiba..
“Ciiiitttzz.. Brakk.. Grusaakkk.. Gubraakkkk.!” Motor tersenggol oleh angkot, pengemudi jatuh mental kepinngir jalan, dan motornya berada di depan angkot, beruntung si penunggang motor terpental ke pinggir, kalo tidak.. pasti ada korban.
“Mampus lu..!! kayak yang punya jalanannya aja lu.!!.” Teriak pedagang kaki Lima yang berada di tepi jalan.
“Woooiiii ati-ati lu..!! udah bosen idup lu..!! b******k lu.!!. gua ngga mau ketempuan yaa.!!.” Maki sopir angkot kepada pengendara motor yang menyenggolnya.
Zia menatap acuh dan cuek, karena posisi Zia juga berada di tengah jalan dan waktunya pun sudah mepet.
“Bisa apa gue.. sukurin..! lagian naik motor udah kayak di sirkuit aja.. Geblek..!” Maki Zia dalam mobil, kecelakaan tadi mengakibatkan agak sedikit macet.
Tak lama Zia pun sampai di lokasi shooting yaitu sekolah dimana Luna adalah salah satu murid di sekolah itu.
“Pagi mas Diooon.! Eh mas Zia.!” sambut mang Soleh lengkap dengan sapu lidi dan pengki di tangannya.
“Pagi mang.. Tolong rapatkan mobil saya ya..” Setelah Zia turun dari mobilnya ia menghampiri mang Soleh sembari memberikan sebuah benda kecil ke mang Soleh yaitu kunci mobil.
Dengan muka serius Zia melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat menuju lokasi shooting yang berada di samping sekolah.
Berhubung sekolah sedang libur semester, maka suasana yang hari-hari biasa hingar-bingar oleh suara murid-murid, kali ini terasa sepi sekali. Sesepi hati Zia hari ini, karena Zia tau hari ini shooting tidak ada tim penari, hari ini hanya take percakapan lebih tepatnya pertengkaran antara Dion, Vena dan Vicky saja. Tidak ada take untuk kelas mengajar nari. Padahal Zia sudah menyiapkan sebuah hadiah buat Luna yang ia letakkan di dalam mobil. Sebetulnya tim penari ada take pada pukul 1 siang, namun mak Poni menginfokan di group w******p bahwa untuk tim extras shooting hari ini di cancel karena ada beberapa hal dan di undur keesokan harinya. Dan itu digunakan Luna untuk beristirahat, dan Zia tidak mengetahui hal itu. Makanya Zia tidak bersemangat begitu melihat schedule shooting hari ini.
“Halo Bro.. Baru dateng Lo.. kenapa telat..?” Tegur cameramen
“Sorry Bang.. Macet banget tadi jalanan..” Sahut Zia tanpa ekspresi
Dengan lesu Zia langsung mendudukkan badannya di kursi yang berada di ruang make up artis, dilihatnya Laras, Tasya juga Bona sudah terlihat rapih, Laras dan Tasya hanya melirik Zia dari pantulan cermin. Keduanya memasang wajah bete dan sebal. Karena Zia sudah beberapa kali datang terlambat.
Saat mata Zia bertemu tatap dengan Laras, gadis tomboi itu melengos dan membuang pandangannya keluar jendela. Mengisyaratkan bahwa Laras sebal dengan Zia atas terlambatnya hari ini. Sedangkan Tasya, gadis cantik dengan wajah super jutek tapi sok manja itu hanya geleng-geleng kepala, melihat Zia yang berwajah suram itu.
“Kenapa Zi..?” kok butek gitu sih.? Tumbenan..?” Tanya Tasya heran.
Zia menggelengkan kepala seraya membuka sepatu pantouvelnya dan mengganti dengan sepatu kets untuk keperluan shooting hari ini. Lalu Tasya menautkan kedua alisnya sambil mengangkat bahunya.
“Aiiich.. kenape lo ciiin.. udah telat.. manyuuun ajah.. iich.. Tapi mas Ziyey kalo manyun gitu tambah kece gilingan” Cerocos si Santi dengan gaya ngondek nya, Santi bertugas sebagai MUA.
“Tuch liat Ciin.. Artis ciwi udah bete gicu.. manyun dari tadi kayak nenek-nenek ngemutin sirih, gegara nungguin kamyuu mas Ziyeey.." Dengan tangan melambai sambil mengibas-ngibaskan sisir, Santi terus saja ngecom. Xiixixi geli bingitz dech.
“Daaah Nek.. Pangeran lo dah datang, jangan manyun lagi yee..” Santi masih aja melambai dengan celotehnya
"Sialan lo Santo.. gue di bilang kayak nenek-nenek lagi ngemut sirih.” Laras marah sambil melempar sponge bedak ke muka santi.
“Eeehhh sembarangan Santo.! Santi lah Neeek.! Ciiih..!” Santi marah di panggil Santo. Hahahaha
Padahal kan emang namanya Santo kalo siang, tapi kalo malem berubah jadi Santi. Wkwkkwkwk.
"Emang lo Santo kan.. Bukan Santi wleeek.!" Ledek Laras dengan menjulurkan lidahnya ke arah Santi, dan Tasya si artis jutek itu tak bergeming dengan candaan Santi. Hanya mata nya saja melirik.
“Lo tuh ye.. mulut lo kayak bajaj ngudak setoran.. Berisik.. Rame.!” Kata Laras lagi sambil bersungut-sungut.
"Aduuuuh Neek.. Bergeter dunk badan eike.” Balas Santi dengan wajah kocaknya sambil menirukan seolah-olah di dalam bajaj, badan Santi bergetar.
Zia tergelak melihat Laras dan Santi sedang beradu mulut. Padahal hati Zia sibuk dengan bayangan Luna yang sedang menari-nari.
"Yaaaah.. kenapa shooting hari ini jadi nggak bergairah..?” Bathin Zia bertanya pada diri sendiri
"Apa karena nggak ada Aluna ya..?” Benak Zia masih keras memikirkan dan membayangkan wajah Luna.
Tak lama kemudian Zia menarik nafas Panjang dan dalam lalu di keluarkannya dengan kasar, hingga membuat orang-orang yang ada di ruangan menengok ke arah Zia dengan pandangan curiga dan bertanya-tanya.
“Kenapa lo Zi..?” tanya Laras penasaran dengan alis bertaut. Zia hanya senyum tipis dan melirik Laras sepintas lalu menundukkan mukanya lagi untuk mengikat sepatunya.
“Ada apa Ciin.. Punya masalah lo..?” Santi pun kepo di buatnya, sambil mendekati Zia, Santi sudah siap sponge dan bedak di tangan. Santi akan merias muka Zia dengan bedak tipis-tipis sebelum melakukan shooting.
“Muka ganteng ngga pantes tau cemberong kayak gicu.. nanti di sangka punya banyak utang. Hihihi.. najong tralala dech.. ganteng-ganteng utang nya banyak.” Celoteh Santi ngga henti-henti.
Tangan Santi mulai memoleskan poundation di muka Zia, Zia hanya diam saja. Lalu Santi membubuhkan bedak tabur tipis-tipis setelah itu mengoleskan lipbalm di bibir Zia yang tipis dan merah kecoklatan.
Ekspresi Santi sangat lucu, bagaimana tidak..? pas saat mengoleskan Lipbalm di bibir Zia, lidah Santi keluar masuk sambil mengulum kemudian menggigit bibirnya sendiri.
“Ck.. Ck.. Ck.. Duuh Ciin.. Bibir lo tuh yaa.. Merenong.. bikin Eike nepsong.. iiihh..!’’ Santi mengepalkan tangannya gemas seraya meninju-ninju lengan Zia.
“Paan sich lo.. Dasar Banci Kaleng..!” Zia sewot, dengan menepok muka Santi dengan tisu, kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Santi tanpa ekspresi.
“Eeeeh.. Ciin.. rambutan lo belon di rapihin Ciin.. tunggu Eikee..” Santi berlari dengan khas nya kemayu seorang banci. Zia cuek saja terus berlalu dengan Tasya yang mengekor di belakangnya.
Laras adalah pemeran artis wanita dalam shooting FTV bersama Zia. Laras lumayan terkenal di banding Zia dan Tasya, Laras lebih dulu menjadi selebriti. Sudah puluhan FTV dan film yang ia bintangi. Laras gadis tomboi yang cuek, cerdas, baik dan suka menolong sesama. keseharian Laras memang sudah tomboi. Laras berperan sebagai Vicky guru/pelatih dance modern yang cantik, lincah dan enerjik, juga mengajar di sekolah yang sama dengan Zia. Tak jarang Laras melakukan gerakan yang biasa di lakukan anak cowok. Memang sangat bertentangan sekali antara Laras dan Zia. Zia cowok ganteng, kalem dan keren menjadi guru Tari Tradisional yang lembut serta lemah gemulai.
Tasya adalah pemeran artis wanita selain Laras. Tasya juga belum lama terjun ke dunia keartisan di Indonesia. Tasya teman seangkatan dengan Zia. Sama-sama mengikuti casting saat berada di Kota Solo. Tasya sudah beberapa kali memenangi Lomba Foto majalah remaja dan beberapa kali menjadi bintang iklan serta wajahnya muncul di layar kaca FTV.
Tasya berperan sebagai Vena cewek antagonis yang menjadi kekasih Dion, sebetulnya sih belum resmi sebagai kekasih Dion. Namun Vena berupaya mendapatkan hati Dion dengan kelicikannya. Usaha apapun di tempuh termasuk dengan cara mendekati orang tua Dion, karena Vena tau bahwa Zia adalah anak konglomerat. Vena mencoba caper dan carmuk kepada orang tua Zia, yang di perankan oleh artis senior.
Keseharian Tasya ternyata memang sangat jutek dan selalu ingin tampil perfect di mata orang yang melihatnya. Tak ayal penampilan nya selalu rapih dan cantik.
Di dunia nyata bahwa Tasya sebetulnya sangat menyukai sosok Zia, melihat perlakuan dan tatapan Tasya ke Zia, sepertinya ia sudah lama memendam rasa itu. Namun Zia menganggap Tasya hanya sebagai teman biasa seperti yang lainnya. Tasya beberapa kali ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada Zia, namun selalu saja gagal, dan Zia pun tidak peka terhadap perlakuan dan perhatian Tasya kepada dirinya.
*
*
*
Keesokan hari nya cuaca sangat cerah, para pekerja dan pecinta seni di sibukkan dengan aktifitasnya masing-masing.
Masih dalam adegan shooting FTV.
Hari ini ada take bersama tim penari, dan Zia keliatan sangat bersemangat. Sebab ada Luna, gadis yang sudah berhasil menari-nari di benaknya.
Di ruang kelas yang berbeda namun bersebelahan. ceritanya Vicky dan Dion sedang mengajar muridnya masing-masing. yang mana Dion sedang mengajar Tari Jawa yaitu Srikandi Larasati yang berasal dari Jawa Tengah, yang tentu saja alunan musiknya sangat lembut dan mendayu-dayu. Ketukannya pun sangat lemah namun tegas sesuai dengan gending yang di pukulkan.
Sedangkan di ruang kelas sebelahnya lagi, ada Vicky yang juga sedang mengajar muridnya tari modern dan kontemporer yang tentu saja musiknya ngebit, bahkan menjadi hingar-bingar dengan ketukan yang faster dan enerjik. Suara Vicky pun terdengar sangat lantang saat memberi aba-aba sembari menghentak-hentakkan kakinya mengikuti nada dan irama nya.
"Kamera.. Roooll.."
"Actiooon.!" Teriak sang Sutradara.
Disaat itulah Dion merasa konsentrasinya dalam mengajar menjadi buyar dan terganggu dengan music dan suara lantangnya Vicky.
Dengan berjalan mantap namun tenang Dion menuju pintu di mana Vicky mengajar dan langsung mengetuknya.
"Tok.. Tok.. Tok.. ‘’
Sekali 2 kali bahkan sampai 5 kali, namun tak ada respon dari dalam. Akhirnya Dion menggedor pintu tersebut, karena merasa suara gedorannya kalah sama music yang ada di dalam, percuma saja nggak akan terdengar.
Dengan tidak sabar Dion membuka pintu tersebut yang memang tidak di kunci.
Lalu.
“Stop.. Stop.. Cukup..!” Teriak Dion sambil menekan tombol stop melalui keyboard laptopnya Vicky yang terletak di atas meja. Dengan tampang yang tidak suka ke arah Vicky.
Yang saat itu Vicky tengah asyik mengajar sambil meliuk-liukkan badannya dengan gesit mengikuti hentakan irama. Tiba-tiba saja berhenti karena musiknya berhenti.
Dengan peluh yang mengucur di muka dan leher, Vicky menatap heran ke arah Dion, lantas menghampiri Dion dengan muka yang sangat marah, sesekali Vicky membersihkan muka dan lehernya dari peluh yang mengalir dengan handuk kecilnya.
“Eeeh.. Apa-apaan sih lo, main nyelonong masuk dan matiin musiknya seenak lo aja..” Cerocos Vicky.
"Musik lo tuh yaaa, mengganggu konsentrasi gue dan murid gue tauk..” Hardik Dion.
"Juga suara lo teriak-teriak gitu, nggak bisa di kecilin dikit apa..?” Tanya Dion sewot
“Masalah buat loh.. emang suara gue gini.. lagipula kan gue ngajar modern dance.. jadi harus kenceng.. biar bersemangat dooong..” Sahut Vicky tak mau kalah.
"Jelas masalah lah buat gue, makanya gue minta lo kecilin dikit musiknya..” Teriak Dion sambil menunjuk-nunjuk laptop.
“Nggak bisa ! kalo lo nggak suka.. lo aja yang pindah ruangan sono..!” Tunjuk Vicky mengarah keluar sambil sewot.
"Lo aja yang pindah..!”
“Lo aja sana yang pindah jauh-jauh dari gue..!” Maki Vicky seraya mendorong tubuh Dion keluar hingga pintu.
“Lagian sich jadi cewek pecicilan gitu, nggak ada auranya cewek sama sekali.” Gerutu Dion pelan, namun Vicky masih sempat mendengarnya
“Apa lo bilang..? Hah..! justru elo tuch..! masa cowok ngajar tari yang lemah gemulai, lemes kayak nggak punya tulang, pantesan boNyok lo nggak setuju lo ngajar nari..” Vicky nggak mau kalah dengan membalas memakai kata-kata yang menyakitkan hati Dion.
"Atau mungkin lo emang dasar anak Mami yee.. Yang biasa di lembutin Dioon.. Dioon..” Suara Vicky menirukan anak mami yang manja. Sangat puas Vicky melontarkan kata-kata pedasnya dengan gestur menantang kepada Dion, namun Dion tidak memperdulikan kata-kata Vicky. Dion melangkah keluar ruangan sambil membanting pintu agar tertutup. "Braaakk..!”
“Cut..!!” Teriak sang sutradara
“Good..!” teriaknya lagi dengan mengacungkan ibu jarinya ke atas, menandakan puas dengan Take hari ini. (Dalam adegan shooting FTV).
" iihhhh nek.. Yeey basah mami.. Aooww." Pekik Santi heboh saat mengelap keringat yang mengucur di wajah Laras.
"Aiiihh dunia kebalik nek.. Yeey jejingkrongan sementara lekong akika mas Ziyeey lambretta lembong pula.. iiiih" Beo Santi alias Santo.
Sementara itu di ruang ganti, saat Aluna dan teman-temannya sedang membereskan tas mereka masing-masing. Karena shooting hari ini telah usai.
“Lun.. Lo dari tadi bengong mulu, mikirin paan sich..?’’ Selidik Metha dengan keponya.
“Paan sich Met.. siapa yang bengong..” Seloroh Luna pelan.
“Kayaknya gue tau dech Met.. Luna lagi mikirin siapa.. Hahahha..” Ledek Putri sambil tergelak.
“Coba siapa..? sotoy dech kamu Put..” Jawab Luna tersenyum simpul.
“Ehem.. Ehem.. Itu tuch.. sapa lagi kalo bukan babang tamvan.. xixixixi..” Celetuk Kirana sambil menutup mulutnya sendiri dan cekikikan.
“Oooh kak Zia maksud kalian..?” ujar Rida polos yang rada sedikit telmi.
“Iiissh paan sich.. kak Zia udah aku anggap kayak kakak aku sendiri tauk.” Seloroh Luna menampik.
“Oh yaaa.. masaaa..!!” sahut Rida, Kirana, Metha, Putri secara bersamaan.
“Kakak ketemu gede keles.. Hahaha..” Sambung Metha terus menggoda sambil terbahak-bahak
Luna hanya senyum simpul, tak dapat di pungkiri bahwa hatinya sangat senang saat kawan-kawannya meledeki dirinya tentang Zia, sepanjang perjalanan pulang pun Luna masih bahan olok-olok kawannya.
Sementara tim extras sudah meninggalkan lokasi shooting, sedangkan Zia terlihat masih di ajak bicara bang Troy sang sutradara, padahal saat itu hati Zia tidak tenang.
"Yaah bang Troy ngapain sih manggil gue cuma buat ngobrolin persiapan film terbarunya.. Kan bisa besok-besok bahasnya.. Luna keburu pulang deh." batin Zia serba salah.
Benar saja saat bang Troy selesai ngajak bicara, Zia buru-buru mendatangi ruang ganti yang ternyata sudah kosong, Zia pun berlari ke area parkir dan.. mobil yang di tumpangi Luna cs sudah jalan meninggalkan gedung sekolah.
"Yaaaah gagal lagi." Gumam Zia sambil menghela nafas dengan kasar.
Happy Reading
- BoNyok = Bokap Nyokap = Mama Papa
- Merenong = Merona
- Nepsong = Nafsu
- Gilingan = Gila
- Cemberong = Cemberut
- Rambutan = Rambut
- Basah Mami = cewek seksi/hot
- Jejingkrongan = Jingkrak²
- Lekong Akika = Laki Aku
- Lambretta = Lambat
- Lembong = Lembut