Siang ini cuaca sedikit mendung, awan gelap menghalangi sebagian sinar matahari yang gagah, dan waktu sudah menunjukkan jam 1 namun masih teduh dan sejuk.
Suasana begitu segar karena di sekolah yang buat lokasi shooting di tanami banyak pepohonan yang rindang.
Di sisi barat gedung sekolah sudah ramai orang, karena shooting sudah di mulai sejak pukul 7 pagi tadi, untuk take scene 1 sampai 3.
Namun Zia belum menampakkan batang hidungnya, atau memang Zia itu terkenal dengan jam karet nya, tak heran selalu telat dan telat terus.
Rupanya ada yang resah dan gelisah, tapi tak mau mengakui keresahan nya, meski gesture tubuhnya bisa menyangkal, namun mata dan hati nya tidak bisa berbohong, bahwa saat ini ia sedang gelisah. Itu terlihat dari gerak bola matanya yang sedang mencari seseorang kesana kemari.
Gadis berambut panjang sedang melipat hijab nya lalu kemudian di letakkan di atas meja menyusul barang-barang lainnya.
"Luna.. Sebelum take kita ke parkiran dulu yuk.!" Ajak Metha.
"Mau ngapain ke parkiran..?" Tanya Luna seraya menguncir rambutnya dengan model ekor kuda.
"Selendang ku ketinggalan di mobil nih." Metha sudah membongkar tas nya namun tidak menemukan selendang nya.
"Ooh ok." Sahut Luna datar.
Setelah di parkiran netra Luna menyisir area parkir mobil, entah siapa yang di cari, apakah kalian tau siapa yang di cari nya..? Hhmmm
"Eh Luna.. Lo nyari siapa sih..?" Metha menangkap kegelisahan Luna.
"Eng.. Engga nyari siapa-siapa kok." Luna di buat gugup oleh pertanyaan Metha.
"Ooh.. Ya udah yuk kita balik lagi ke dalem."
"Aduuuh.. Ya ampun bodoh banget aku.. Jangan sampe Metha curiga." Luna menyalahkan dirinya sendiri dalam hati.
"Kok kak Zia nggak shooting ya..? Mobilnya juga nggak ada, Apa dia sakit..?" Batin Luna bertanya-tanya.
Shooting siang ini hanya dialog antara Laras, kepala sekolah dan tim penari saja, tanpa Zia tentunya. Dan Luna menyimpan banyak tanda tanya di hatinya, hanya saja ia tidak berani bertanya kepada siapapun, kenapa hari ini Zia tidak shooting. Lagipula tidak mungkin rasanya Luna menanyakan kenapa Zia tidak ada.
Padahal tanpa di ketahui Luna, bahwa Zia sudah melakukan take scene 1 dan 2 pagi tadi, setelah menyelesaikan pekerjaannya Zia bergegas pergi, karena masih ada pekerjaan yang lain menantinya.
Setelah shooting selesai kawan-kawan Luna masih terus bercengkrama seru di ruang ganti. Putri sedang makan, Rida sedang merapihkan barang sambil bercanda dengan Kirana, Luna dan Metha baru saja selesai melaksanakan sholat ashar, lalu Luna duduk menyendiri sambil menunggu yang lainnya selesai rapih-rapih, ia mendengar kan musik di telinga nya dengan headset.
Tiba-tiba salah satu tim kreatif muncul di balik pintu dengan sebuah paper bag di tangannya.
“Hai adik-adik.. siapa di antara kalian yang namanya Aluna..?” tanya tim kreatif.
Mereka semua lantas beradu pandang dan mengarahkan pandangan nya tertuju ke arah Luna yang sedang berada di sudut ruang.
“Itu Om.. yang namanya Luna..” Tunjuk Metha
Luna yang sedang mendengarkan music duduk menghadap ke jendela membelakangi teman-temannya, sehingga saat tim kreatif mencarinya Luna tidak tahu.
Luna menoleh kaget saat pundaknya ada yang menyentuh.
“Hai.. Kamu Luna ya..?” Tanya tim kreatif ramah. Telah di ketehui namanya Jaka lebih di kenal dengan sebutan bang Jack.
“i.. iya om.. Ada apa..?” tanya Luna bingung seraya melepas headsetnya dari telinga.
“Nich ada titipan buat kamu..” Bang Jack menyerahkan paper bag warna putih tersebut.
“Titipan buat saya Om.. dari siapa ..?” Luna masih bingung dan heran.
“Liat aja sendiri di dalamnya.. OK..!” Sahut Bang Jack sambil berlalu meninggalkan Luna sendiri di sudut ruang
“Ok Om.. Terimakasih..” teriak Luna
Lalu Luna masih merasa ada yang aneh, isinya apa ini..? lalu titipan dari siapa ya..? luna membolak-balikkan paper bag yang tertutup rapat.
Tidak ada petunjuk yang ditujukan untuk dirinya dan juga tidak tertera nama pengirimannya.
"Perasaan aku nggak pernah pesen barang atau makanan deh." Batin Luna masih bertanya-tanya.
“Naaah.. Apaan tuch Lun.. dan dari siapa coba..?” Tiba-tiba saja Metha mengagetkan lamunan Luna yang terheran-heran dengan benda di tangannya itu.
“Tau nich Met.. kata Om yang tadi.. ini titipan buat aku.” Sahut Luna sembari tangannya membuka solatif yang menghubungkan paper bag itu dengan hati-hati. Setelah di buka, Luna melihat ada sebuah kertas kecil seperti memo. Lalu di ambilnya dan di bacanya dalam hati.
“Tolong terima coklat ini.. sebagai bentuk permintaan maafku.” Emot tersenyum dari "Someone”
Luna melihat ke dalam paper bag di sana terdapat sebuah box berwarna coklat bening berukuran 30 x 25 yang di antara sekatannya berisi coklat dalam ukuran bulat-bulat.
Deg..! hati Luna tiba-tiba berdegup kencang. Kening Luna berkerut. Lalu menyerahkan memo itu ke Metha. Sejenak Luna dan Metha bersitatap, ada binar bahagia di sana. Dimata Luna. Namun Luna segera menyembunyikan perasaan bahagia nya. Ia tidak mau Metha sampai mengetahui perasaan nya. Mungkin tidak untuk saat ini. Entah kalau nanti.
Lalu..
"Kak Zia..!” teriak Luna dan Metha bersamaan. Lalu mereka tertawa sambil meletakkan telunjuk di ujung bibir masing-masing.
Tuk kesekian kalinya sepasang mata selalu saja mengintai Aluna, tatapan yang mengandung arti tidak suka terhadap Luna. Sepasang mata itu sedang mengintip di balik jendela. Entah siapa.
Wajah Luna mendadak merah padam, setidaknya Luna masih merasa malu-malu di hadapan Metha mengenai perasaannya ke Zia.
Entah dari mana asalnya tiba-tiba saja seperti ada perasaan yang begitu membuncah tak terkendali. Tanpa sadar kertas kecil itu di letakkan di dadanya di dalam pelukannya kedua tangannya. Melihat hal tersebut Metha merasa ada sesuatu yang di sembunyikan darinya. Yaitu tentang perasaan Luna ke Zia.
“Ssstt.. Ssstt.. Lun.. kayaknya kak Zia suka dech sama lo.” Bisik Metha di telinga Luna, sambil liril kanan lirik kiri memastikan bahwa tidak ada mendengarkan ucapannya barusan.
“Iiisshh.. Paan sich Met.. Udah ach jangan bahas di sini..” Luna pun jadi ikutan lirik kanan lirik kiri, sambil memasukkan coklat ke dalam tas nya.
“Ssstt.. Luna.. jangan lupa jatah gue yaa..” Kata Metha dengan lidah terjulur kesamping bibirnya.
“Iyaaa.. Metha Baweeell.." sahut Luna sambil geleng-geleng kepala.
Belum lagi beranjak, teman-teman Luna berdatangan dengan mata penuh tanda tanya, tas apa yang tadi telah di berikan oleh Bang Jack.
Belum sempat mereka bertanya. Metha mendorong teman-temannya agar tidak mengganggu Luna. “Nanti gue ceritain, sekarang kita beres-beres property kita dulu yuk..” ajak Metha.
Saat di area parkir, mata Luna berkeliling mencari seseorang yang sudah memberinya hadiah coklat dalam ukuran besar. Luna di temani Metha dan Kirana bermaksud ingin mengucapkan terimakasih kepada orang itu, yang tak lain adalah kak Zia. Tapi mobilnya saja sedari tadi tidak ada.
Saat ini sudah sepi, hanya para tim kreatif saja yang masih lalu lalang, tak jauh dari situ didapatinya mang Soleh sedang memunguti gelas-gelas air mineral lalu kemudian di masukkan ke dalam trashbag hitam.
“Emm.. Maaf Mang Soleh.. apakah mamang liat Kak Zia..?” Tanya Luna agak ragu
“Ooh Mas Zia sudah pulang neng.. Tuh mobilnya saja sudah tidak ada.. Biasanya mas Zia selalu memarkir mobilnya si situ.. tadi juga mamang tidak ketemu.. pas mamang dateng.. mobil mas Zia keluar.” Tunjuk mang Soleh ke arah sudut lapangan parkir yang teduh, karena di sudut sana terdapat pohon Beringin yang sangat rindang.
"Kalo sudah pulang berarti tadi dia shooting dong.. Tapi kok ga keliatan ya." Batin Luna
“Ooh.. Baiklah mang.. tidak apa-apa.. Makasih ya mang permisi..” Pamit Luna dengan muka kecewa.
“Tunggu neng Luna.. Ada yang bisa mamang bantu..?” Mang Soleh dapat membaca raut wajah Luna.
“Tidak mang.. Terimakasih.. Besok aja.. Kan besok shooting lagi.” Tukas Luna
“Iya neng..” Sahut mang Soleh, dan setelahnya mang Soleh melanjutkan pekerjaannya lagi, namun Kirana menahannya.
"Sebentar mang.. berarti tadi kak Zia dateng..?" Tanya Kirana.
"Iya neng.. mungkin take pagi kali neng.. mamang juga nggak tau." jawab mang Soleh.
"Ok deh mang.. makasih."
"Sama-sama neng."
Flashback On
Handphone Zia berbunyi saat akan makan malam bersama keluarganya, Zia melihat pesan yang di kirim melalui group w******p, Zia dapat jadwal take jam 7 pagi, itu artinya ia harus berangkat pasca subuhan, agar tidak telat, sedangkan schedule tim extras jam 1 siang dan nggak mungkin Zia harus menunggu selama berjam-jam, apalagi jam 11 mama Bella menugasi Zia untuk mengunjungi apotik di bilangan Jakarta Selatan.
"Zi.. Mama Minta tolong ya.. Besok kamu mampir ke apotik S.. Kalo bisa yaa sebelum makan siang deh.. Antar ini ke om Tirto.. Karena akan di kirim ke Solo." Ujar mama Bella malam tadi setelah makan malam seraya menunjuk bungkusan seberat 5 kilo yang ada di atas meja foyer, sepertinya obat-obatan.
"Iya ma.. InshaAllah Zia mampir besok."
"Yaaaah calon gatot lagi nih ngasih coklat ke Luna." batin Zia pasrah.
Keesokan harinya Zia ketemu Dodit di lokasi shooting.
"Eh bro lo dah balik dari Solo..?" Tanya Zia seraya bertos ria.
"Yoi men tadi malem ane balik." Sahut Dodit terkekeh.
"Kira-kira lo sampe jam berapa di sini bro.?" tanya Zia lagi.
"Ane nggak lama men.. Soalnya harus ngambil tripot di rumah bang Troy.. Kenape emang.?"
"Nggak papa bro." Jawab Zia singkat dan langsung memutar otak, akan memintai tolong siapa buat ngasih coklat ke Luna.
"Ooh.. ane kira ada paan.. atau ente mau ikut men..?" Tanya Dodit sambil menyulut r***knya.
"Ngga bisa bro.. Gue ada urusan di nyuruh nyokap." jawab Zia tak bersemangat.
Selama shooting berjalan Zia masih memikirkan kira-kira Zia mau meminta tolong siapa yang bisa jaga rahasia ini, karena tuk sementara jangan sampai orang-orang tahu soal perasaan Zia ke Luna.
Karena mang Soleh belum datang, tetiba Zia teringat akan bang Jack.
Ahaaa.. Bang Jack..! Gue mau minta tolong bang Jack aja.. Dia kan orang nya asyik juga kayak Dodit." batin Zia sedikit tenang.
Akhirnya Zia menitipkan paper bag berwarna putih itu ke bang Jack agar di berikan ke Luna, tentunya dengan tips r***k 2 bungkus.
Flashback Off
*
*
*
*
Sesampainya di rumah, Luna membersihkan diri lalu setelahnya ia merebahkan badannya diatas kasur sambil terus memikirkan apa maksud dari Zia memberinya coklat. Tadi di sepanjang perjalanan pulang dari shooting terus saja teman-temannya meledeki nya soal coklat dari Zia. Sambil mengunyah coklat, terus saja mulut-mulut itu berceloteh kesana-kemari. Geli juga ya kalo ingat mereka, tapi kalo nggak ada mereka pasti sepi.
Luna senyum-senyum sambil memandangi memo di tangannya dan membacanya berulang-ulang. Ada desiran bahagia di hati Luna. Perasaan yang sulit untuk di gambarkan dan di artikan. Masa iya sich Luna jatuh cinta sama Zia..?
Luna selama ini belum pernah jatuh cinta, belum pernah merasakan sesenang ini, sebahagia ini, se deg deg an ini, apa hayo kalo bukan namanya jatuh cinta. Love
Ceklek..
“Luna.. “ bunyi suara pintu di buka dan ternyata Bunda Lea yang datang. Karena Luna sedang asyik sama lamunannya, sehingga tidak menghiraukan kehadiran dan panggilan Bundanya.
“Luna sayang..” Panggil Bunda Lea sekali lagi, kali ini dengan menowel kaki Luna yang sedang terbaring.
“Ehh ada Bunda..” seketika Luna reflek menyembunyikan memo yang tadi ia pegang, namun Bunda Lea sudah terlanjur mengetahui kertas kecil yang di pegang anaknya itu.
“Kertas apa itu sayang..?” Tanya Bunda lembut
“Eh anu bund.. bukan apa-apa.. hanya kertas biasa..” sahut Luna gugup
“Ooh ya sudah kalo nggak mau berbagi cerita sama Bunda.. Hhmmm..” Bunda Lea tersenyum melihat anak gadisnya yang sedari senyum-senyum seperti ada yang di sembunyikan.
“Iiiih apaan sich Bunda.. orang nggak ada cerita apa-apa kok..” ujar Luna masih malu-malu.
"Kalo nggak ada apa-apa.. Kok tangannya di sembunyiin gitu sih.. Hmm..?" Belum sempat Luna menjawab, bunda Lea sudah keburu melihat ke arah meja belajar dan bertanya lagi.
"Waaaah paper bag siapa ini..? Kok bagus banget." Kata bunda sambil meraih paper bag di atas meja belajar Luna.
"Itu bund.. tadi orang yang menabrak Luna kemarin.. Menitipkan coklat melalui kru.. Katanya untuk permintaan maaf nya." Sahut Luna pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
"Waaah coklat mahal ini sayang.. Ada nya cuma di daerah kemang yang bunda tau." Kata bunda Lea merasa takjub.
"Sooo jangan bilang kertas itu juga dari si artis itu..?" Bunda Lea mendekati Luna dan duduk di sampingnya.
"I.. Iya bund..?" Angguk Luna takut-takut.
"Ooh ya sudah.. Jangan lupa coklat nya di bagi ke temen-temen kamu ya sayang.. Jangan di makan sendiri." Kata bunda Lea bijak. Yang di kira bunda Lea akan marah ternyata tidak, padahal wajah Luna sudah tegang ketakutan.
“Kalo gitu.. turun yuk.. temanin Bunda makan.. Papa masih di kantornya.. ada kerjaan yang harus selesai malam mini.. Kamu juga belum makan malam kan..?” Tanya Bunda sambil mengelus pucuk rambut Luna, lalu bergegas turun meninggalkan kamar Luna
“Iya Bund.. Bunda duluan aja.. nanti Luna menyusul ke bawah.” Ujar Luna masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
“Hhhmm ada yang di sebunyikan nich sama Luna.. sepertinya hati Luna sedang berbunga-bunga.. ada apakah gerangan..? Belum pernah Luna sebahagia itu. apa Luna sedang jatuh cinta..? tapi kan Luna masih kelas kecil masih SMP walaupun sebentar lagi dia akan lulus dan memasuki bangku SMA..” Bathin Bunda Lea menerka-nerka.
“Tak biasanya anak gadis bunda ceria kayak gitu, apalagi setelah Lelah seharian aktifitas di luar rumah.. biasanya hanya diem aja.. kalo nggak baca novel.. ya dengerin music..” Gumam Bunda Lea sambil menuruni anak tangga.
Hmmm.. Bunda Lea geleng-geleng kepala heran, cuma menabrak Luna saja si artis sampai rela membelikan coklat yang harganya ratusan ribu rupiah, dan hanya untuk sebuah permintaan maaf saja.
"Semoga tidak ada maksud tersembunyi di bali pemberian coklat itu, bunda Lea penasaran sama artis yang sudah menabrak anaknya dan sekaligus pemberi coklat tersebut." batin bunda Lea.
"Nggak sabar pengen tau orangnya seperti apa.. sudah dewasa kah atau masih seumuran Luna juga." Bunda Lea bermonolog.
Happy Reading #KissnHug