Hangatnya sinar mentari menerobos tanpa permisi dari balik tirai kamar rumah sakit ruang VVIP, Zia mengucek matanya yang silau, di lihatnya jam di dinding sudah pukul 9, Zia menengok ke meja sudah tersedia sarapan pagi terlihat ada bubur ayam, jus wortel, roti serta lemon teh hangat minuman kesukaannya dan buah-buahan juga obat-obatan yang harus di minum setelah sarapan.
Zia menggeliat merasakan badannya sudah mulai enakan hanya masih terasa ngilu di bagian paha sampai ke lutut, Zia berusaha duduk namun masih agak sulit untuk bangun, akhirnya dia pasrah tetap berbaring, dia meraih tombol putih dan menekannya, tak lama seorang suster dan Bond masuk ke kamar Zia.
"Ada yang bisa saya bantu mas.?" Tanya suster.
"Tolong buka tirainya.. Bond bantu saya.. saya mau duduk." Panggil Zia seraya mengangkat tangannya.
"Siap bos." Sahut Bond langsung membantu mendudukkan bos kecilnya itu.
"Mas Zia sarapannya segera di makan mas.. nanti ibu datang kalo liat mas Zia belum sarapan.. saya yang kena tegur." Kata suster seraya membuka plastik bubur.
"Saya sarapan roti sama jus aja sus." Ucap Zia dan meraih jus wortelnya.
"Ni sus." Zia memberikan gelas bekas jus yang sudah tandas.
"Kalo gitu saya permisi dulu mas." Pamit suster langsung berjalan menuju pintu dan di ikuti oleh Bond.
"Bond." Panggil Zia pelan, dan Bond menghentikan langkah nya lalu menengok.
"Iya bos.. kenapa.?" Tanya Bond.
"Selama di rumah sakit Solo apakah ada yang menjenguk saya selain Dodit.?" Tanya Zia berharap ada yang menjenguk nya selain Dodit.
"Ada bos cewek cantik banget rambutnya panjang Buceri bos." Jawab Bond.
"Hah buceri.! paan tuh.?" Zia terheran karena baru mendengar kata buceri untuk sebutan rambut.
"Bule ngecet sendiri bos hehe." Bond terkekeh.
"Hahaha ada-ada aja kamu Bond." Zia tebahak sambil mengingat bahwa yang di maksud adalah Tasya.
"Selain Tasya dan Dodit ada lagi nggak.?" Tanya Zia penasaran.
"Ada bos.. menurut Ronald orang tua dari anak gadis yang bos selamatkan.. di bertiga bos." Kata Bond lagi.
"Siapa aja tau nggak.?" Cecar Zia sambil mencaplok rotinya yang tinggal sepotong.
"Kurang tau saya bos.. kan waktu itu masih Ronald yang jagain bos." Ucap Bond sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kamu boleh keluar." Usir Zia seraya menghelas nafas.
Zia ingat ledekan Zizi dan mama nya, mas Zizi bilang mama nya kenal sama Luna, bagaimana bisa kenal, kenal di mana.? kok bisa.? Zia menjambak kasar rambutnya.
"Agghhh ini paha sakit banget belum bisa di gerakin kenceng." Geram Zia putus asa.
Dilihat di meja nya tidak ada handphone nya, tanpa benda itu seperti hampa hidupnya, mau menghubungi siapa kalo nggak ada handphone. Akhirnya Zia pasrah menunggu mama serta papa nya datang lalu Zia pun tertidur setelah sarapan dan minum obat.
Solo..
Pagi ini nampak ada yang sedang kebakaran jenggot, pasalnya di rumah sakit sudah tidak ada Zia, runag VVIP yang kemarin di pakai Zia kini telah di isi seorang kakek-kakek, dan itu membuat Tasya dongkol, bagaimana tidak saat Tasya datang ke rumah sakit ruangan Zia tidak ada penjaganya, dan itu merupakan sebuah kesempatan bagi Tasya untuk bisa langsung masuk dan menemui Zia. Tapi apa yang di dapat Tasya.?
"Waaah kebeneran nih ! nggak ada bodyguard nya.. mending gue langsung masuk aja deh dan pura-pura sedih, biar Zia tau kalo gue tuh perhatian banget sama dia." Gumam Tasya lirih.
"Dit.. buruan lo dateng kemari mumpung nggak ada bodyguard Zia nih." Tasya mengirimkan pesan singkat kepada Dodit.
"Dateng kemane.?" Balas Dodit bingung.
"Ya ke rumah sakit lah Dot.. buruan dodol.!" Emot marah.
Berhubung Dodit masih di jalan, jadi dia tidak membaca pesan terakhir dari Tasya, setau Dodit bahwa Zia sudah di bawa pulang ke Jakarta untuk melanjutkan pengobatan di sana. makanya tadi Dodit bingung kok Tasya menyuruh dirinya datang ke rumah sakit. Karena kampus dan rumah sakit searah akhirnya Dodit memutuskan mampir ke rumah sakit, apa betul yang di katakan Tasya, bahwa Zia masih di rumah sakit itu.
Tasya langsung menerobos masuk dan nampak seseorang sedang tertidur membelakangi pintu dengan selimut tertutup rapat hingga kepala.
"Zi.. lo nggak papa kan.? semoga lo cepet sembuh ya.. gue sedih kalo lo sakit terus.. terus pekerjaan lo gimana.. hiks.. hiks." Tasya pura-pura sedih seraya mengelus lembut pucuk rambut Zia. Tasya pikir Zia sedang tertidur pulas.
"Zi.. lo masih lemah ya.. karena banyak kehilangan cairan merah." Ucap Tasya dengan suara yang di buat sedih.
"Zi.. maafi gue ya.. gue nggak sengaja ngelukain lo.. kenapa sih lo selalu ada buat anak kampung itu." Ucap Tasya dalam hati. Tasya terus mengusap kepala yang di sangka Zia.
Pintu tiba-tiba terbuka, Dodit terheran dengan Tasya yang sedang nangis-nangis dan berbicara sendiri, Tasya menengok kearah pintu dan ternyata Dodit yang datang.
"Lo ngapain Sya.. bukannya Zia udeh.." Omongan Dodit di potong Tasya.
"Huusstt jangan berisik Dot.. Zia masih tidur pules.. nih nafasnya aja sampe kedengeran." Potong Tasya seraya meletakkan jati telunjuknya di bibirnya.
"Itu siape Sya.. bukannya Zia kemarin udeh di bawa sama keluarganya ke Jakarta.?" Dodit bingung.
"Hah masa sih.!" Tasya terperangah lalu menatp orang yang sedang tidur di dalam selimut.
Lalu kemudian ada yang datang dengan membawa tentengan besar berupa diaper ukuran jumbo.
"Loh kalian ini siapa.? kamu.! oooh kamu selir nya suami saya ya.. kurang ajar pantesan aja dia jarang pulang.. sekalinya pulang bajunya penuh sama lipstik.. dasar w*************a nggak tau diri.. masih berani datang ke rumah sakit setelah ngabisin isi ATM suami saya.. perempuan b******k kamu ya.!" Maki wanita setengah tua itu kepada Tasya.
"Aduh maaf mungkin ibu salah orang kali.. saya bukan siapa-siapa nya dia.. saya juga nggak kenal sama suami ibu." Bantah Tasya membela diri.
"Kalo nggak kenal ngapain datang kesini hah.!" Bentak ibu itu. Lalu..
"Ono opo iki kok ribut-ribut di ruangan ku.. haah eeh ono bidadari ayune pol.. sakjane aku emoh mati disek.. jebule ketemu karo bidadari ayu yo aku mati saiki wae.. bidadari kuuuu." Ucap seorang yang tadi ada di dalam selimut sambil senyum-senyum genit, ternyata di balik selimut itu adalah seorang kakek tua memakai gigi emas serta batu cincin besar-besar memenuhi sepuluh jarinya.
"Opo tho mas iki.. ojo genit-genit wes tuwek ora pantes." Geram perempuan itu seraya memukul suaminya dengan diaper yang di bawanya.
"Tuh kan saya memang nggak kenal sama suami ibu.. saya salah kamar bu.. maaf.. kabuur Diit." Tasya berteriak dan kabur dari ruangan VVIP itu dengan marah dan malu, sedangkan Dodit ngakak mengikuti Tasya lari dari belakang.
"Hahahaha kan ane bilang ape.. Zia tuh udeh di bawa pulang keluarga nye Sya.. hosh.. hosh." Nafas Dodit ngos-ngosan.
"Sial lo Dit kenapa nggak bilang dari tadi..!" Teriak Tasya nggak kalah ngos-ngosan.
"Ane udeh bilang ente nyerocos aje kagak cayaan dah kayak petasan cabe rawit." Dodit masih tergelak.
"Dasar lo ya.. temen nggak ada akhlak.. temen lagi susah di ketawain.. nggak di ajarin tata krama lo ya.?" Omel Tasya masih tersengal.
"Sembaranga ente.. ane di ajarin kok tata krama.. tata boga.. bahkan tata busana wkwkwkw." Dodit masih menertawakan Tasya. Tasya cemberut seraya mengambil paksa botol minum yang ada di samping tas Dodit lalu menenggaknya.
"Dit.. kenapa Zia di pindah ke Jakarta.?" Tanya Tasya ketika sudah lelahnya hilang.
"Yaa ane kagak tau Sya.. secara anak sultan mah bebas.. ane kagak sengaja denger pak Toto bilang sama suster kalo Zia mau di pindah ke rumah sakit keluarganya yang ada di Depok." Dodit menelan salivanya beberapa kali karen air minumnya habis di minum Tasya.
"Nah mumpung gue inget nih Dit.. ternyata apotik S itu juga milik mama nya Zia.. waktu itu gue beli obat di sana ketemu sama Zia dan mamanya." Tasya meningat-ingat saat di apotik S.
"Jadi gue berpikir ada yang di sembunyiin dari Zia deh.. lo nyium parfum nya abangnya Zia kan Dit.. gilaaak itu parfum mehong Dit." Tasya berdecak kagum.
"Iye Sya.. ane jadi berasa minder kalo di depan die.." Ucap Dodit.
"Jangan-jangan emang Zia anak sultan.?" Dodit curiga.
Setelah sampai di parkiran berdua memutuskan untuk segera ke kampus.
*
*
*
Depok..
Dalam kamar yang letaknya di lantai 2 seorang remaja sedang resah ia mengutak-atik benda yang ada di tangannya, sebentar nampak mengetik sebentar kemudian di hapus, begitu terus sampai beberapa kali. Ada ragu yang tak terjawab manakala ia ingin membuat panggilan atau sekedar mengirimkan pesan, tangannya terus mengetik namun otaknya memerintahkan agar di hapus lagi.
"Gimana keadaan kak Zia ya.. udah sembuh apa belum ya.?" apa aku telpon aja ya.? kalo nggak di angkat gimana.? atau aku kirim pesan ada deh.. nanti kan pasti di baca.. tapi kalo kak Zia yang baca kalo yang baca keluarganya gimana. haduuuh.. ya Allah tolong aku harus bagaiman ini.?" Luna bingung harus bagaimana, ia bolak balik keluar balkon lalu masuk lagi ke kamarnya.
"Kak Zia maafin aku kak.. maafin Luna.. gara-gara Luna kak Zia jadi seperti itu." Air mata Luna mengalir lambat di atas pipinya yang putih dan bersih. Tiba-tiba..
"Woooi Lunaaaa.!" Teriak seseorang dari bawah ketika Luna berada di balkon. Luna buru-buru melongok ke bawah.
"Ya ampuuun kaliaan.! ngapain masih di situ bukannya naik." Pekik Luna saat melongok ke bawah, dan disana ada Metha, Kirana, Ghea serta Livia.
"Oce.. come on guys." Ajak Metha langsung masuk ke dalam rumah Luna.
"Waaikumsalam anak-anak manis." Sapa bunda Lea seraya membawa piring berisi panada.
"Eeeh bunda.. maaf bund.. Assalamualaikum bunda cantiiik.!" Serempak mengucapkan salam lalu mencium punggung tangan bunda Lea.
"Naah gitu doong ucapkan salam dulu." Canda bunda Lea mengulas senyuman.
"Waaah asyikk panada.. itu buat kami ya bund.?" Tanya Kirana sambil meneguk salivanya.
"Eiiits naik dulu deh.. nanti bunda antar ke atas yah." Kata bunda Lea seraya berlalu dari hadapan teman Luna.
"Ok bundaaa.. kita naik dulu ya.. yuk guys." Ucap Metha.
"Hai Lun lagi ngapain lo gue liat tadi dari bawah lo mandar-mandir nggak jelas." Tanya Metha yang langsung rebahan di atas kasur Luna.
"Iiih sejak kapan kamu di bawah sana.?" Tanya Luna balik.
"Ya lumayan lah.. kan gue nunggu Ghea sama Livia dateng.. iya kan Kir." Kata Metha kepada Kirana.
"Yoi.. kita udah dari pagi di bawah hahhaha." Canda Kirana.
"Sekalian aja bilang dari kemarin kalian di bawah." Luna terbahak, yang lain pun ikut tertawa.
"Btw lo nggak nanya kita kemari mau ngapain." Ujar Kirana mengambil bantal lalu di peluknya.
"Kalian kangen sama panada bikinan bunda kan.? atau kalian kangen sama aku.. hehehe." Luna terkekeh.
"Seratus persen salah nona manis." Celetuk Livia.
"Lantas.?" Tanya Luna menatap Livia.
"Lo punya utang omongan ke kita banyak banget Alunaa.!" Seloroh Metha menepuk bahu Luna yang sedang mengaduk masker di depan meja rias nya.
"Oooh kirain apaan" Ujar Luna cuek lalu memoleskan masker ke mukanya.
"Lun.. lo jangan pake masker dulu dong.. lo harus cerita ke kita dulu masalah lo sama kak Zia." Cegah Ghea menahan tangan Luna agar tidak memoleskan maskernya.
"Iiih cerita yang mana sih.?" Luna tertawa.
"Pertama lo jelasin kenapa foto lo sama kak Zia jadi wall paper di hape nya.? kedua kenapa lo bisa kenal sama kakaknya kak Zia yang dokter itu.. ketiga lo juga udah kenal sama mama nya kak Zia.. jauh juga lo jam terbangnya soal kak Zia.. si artis yang gantengnya memukau itu." Cerocos Metha memberondong pertanyaan buat Luna.
"Aaandd ada lagi.?" Tanya Luna meledek.
"Ck.. buruan lah point pertama.!" Decak Ghea.
"Okeey pertama.. aku nggak tau kenapa foto aku ada di wall paper hape kak Zia.. silahkan tanya langsung ke dia.. karena itu hape miliknya.. ada pertanyaan.?" Ejek Luna memeluk pundak Metha sambil tertawa. Wajah Luna seketika memerah.
"Diih bangga banget fotonya di jadiin wall nya." Metha mendengus menjauhi Luna.
"Duuuh julid deehh.. ya kan itu bukan mau aku Metha zeyeeeng." Rayu Luna ke Metha.
"Ok cukup.! pertanyaan kedua harus di jawab jujur nggak boleh muter-muter.. Gece.!" Titah Ghea tergelak.
"Well.. jangan di potong dulu sebelum aku selesai cerita.. pertanyan kedua dan ketiga aku jawab sekaligus yaa." Luna tertawa seraya menyenggol lengan Metha.
"Waktu di rumah sakit aku nggak sengaja nemu dompet ibu-ibu di toilet.. pas aku buka ada kartu nama dokter Bella Zainab beliau adalah dokter specialis anak.. saat aku mau mulangin dompet dokter Bella di lorong rumah sakit nabrak dokter Zidni Gautama yang biasa di panggil Zizi.. aku juga kaget pas pertama liat mukanya kok mirip banget sama kak Zia.. ketika udah sampe di ruangan dokter Bella, dokter Zizi masuk tanpa permisi dan manggil mama ke dokter Bella.. di situlah aku dan bunda di kenalin sama anaknya dokter Bella itu.. waktu itu belum tau kalo dokter Zizi dan dokter Bella itu keluarga kak Zia." Luna meneguk salivanya, ia mengingat kembali kejadian itu.
"Terus Lun.. taunya kalo itu keluarga kak Zia di mana.?" Tanya Kirana penasaran.
"Waktu di Solo pas di hotel.. inget nggak yang cardlock hotel ke bawa aku.. nah aku kan balik lagi ke lobby buat balikin itu kartu.. ada bapak-bapak cardlock nya jatuh.. lalu aku ambil dan ngasihin ke dia.. tenyata dokter Zizi.. dokter Zizi bilang kalo dia ke Solo njenguk adiknya yang di tusuk orang gara-gara nolongin seorang penari.. nah itu aku guys." Ucapan Luna semakin lirih dan lemah, matanya berkaca-kaca lagi jika mengingat kak Zia yang terluka gara-gara dirinya.
"Ohh.. sorry Lun.. gue nggak bermaksud bikin lo sedih lagi." Rangkul Metha di ikuti Ghea, Kirana juga Livia.
"Dah jelas kan sekarang kenapa aku bisa kenal sama kakak dan mama nya kak Zia.. dan itu tuh nggak di sengaja semuanya.. dan kalian pasti nggak percaya.. ternyata rumah sakit itu milik keluarga nya kak Zia." Ucap Luna seraya bangkit dan duduk di kursi meja rias.
"What.. rumah sakit.? itukan milik keluarga Dewananta Lun." Luna mengangguk.
"Itu artinya kak Zia keluarga Dewananta dong." Ucap Livia terbelalak menatap kearah Luna dari cermin.
'Iya emang bener.. dan aku setengah nggak percaya.. karena kak Zia nggak menyebutkan embel-embel Dewananta di belakang namanya.. sedangkan dokter Zizi pake di belakang namanya." Jelas Luna lalu mencabut handphonenya yang sedang di charge.
"Nih kalian liat ini." Luna memberitahukan foto selendang yang di kirim oleh Zia ke handphone Luna melalui w******p.
"AZP lalu ZGPD." Baca Ghea.
"Itu apa artinya Lun.?" Tanya Kirana kepo.
"Itu inisial nama ku dan nama kak Zia.. berarti emang bener namanya ada Dewananta nya." Cicit Luna seraya menggigit bibirnya.
"Dah yakin gue.. dari semua bukti yang udah ada.. 100 persen tebakan gue nggak akan meleset.. bahwa kak Zia itu naksir lo Lun.. tinggal tunggu waktu aja doi nembak lo." Metha menjentikkan jarinya.
"Cieeee di tembak artis." Goda Ghea.
"Cieeee mau dong di tembak artis." Ledek Kirana terkekeh.
Blushing.. Muka Luna seketika merah merona.
"Terima Lun kalo kak Zia nembak lo.. ganteng artis tajir anak sultan tapi nggak sombong." Puji Ghea.
"Tapiiiii.. gue jujur ngerasa patah hati saat tau dokter Zizi udah punya pacar.. gue pertama liat dia gue udah langsung ngerasa tersepona dan gue akuin jatuh cintrong sama doi." Curhat Metha tanpa malu-malu.
"Terpesona keles." Protes Kirana.
"Yaa kan lagi patah hati.. suka-suka gue dong." Cemberut Metha seraya menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Aduuuh... kakak aku yang tomboi akhirnya ngakuin juga kalo jatuh cintrong." Goda Luna sambil menarik bantal Metha agar mukanya terlihat, dan benar saja wajah Metha memerah saga dengan senyum nya yang malu malu meong.
"Iya tapi sayang.. langsung broken heart.. uhuhuhuuu." Metha pura-pura menangis dan di iringi tawa dari teman-teman nya, lalu Metha melempar bantal ke arah Luna, Luna melampar lagi ke muka Kirana, Kirana membuang bantal kearah Livia, mereka berteriak-teriak heboh, terjadilah perang bantal di kamar Luna.
Tok.. Tok.. suara pintu kamar Luna di ketuk.
"Halo anak-anak cantikk.. panada datang." Teriak Bunda Lea seraya meletakkan sepiring panada diatas meja.
"Asyiiiikk.. makasih bunda." Ucap Metha mewakili teman-temannya.
"Lho kok belum di ambilin minum sayang.?" Tanya bunda Lea ke Luna.
"Biar mereka ambil sendiri bund.. kayak tamu aja di ambilin segala." Gurau Luna seraya mengambil botol minuman di kulkas kamarnya.
"Yaak ampuun.. ini kamar berantakan sekali kayak habis ada badai aja." Bunda Lea memunguti bantal yang tidak pada tempatnya.
"Biasa buund.. habis ada badai yang telah memporak-porandakan hati Metha.. hiks.. hiks." Setelah bicara Metha langsung terbahak.
"Lho kok bisa.?" Bunda bertanya dengan terus membenahi bantal serta melipat selimut.
"Hehehe ya bisalah bund.. namanya juga cinta bertepuk sebelah tangan." Keluh Metha di iringi tawa teman-temannya.
"Ehem.. ehem.. yang lagi broken heart curhat nih yee." Ejek Luna sambil mencopot panada di piring.
"Huussst.. diem ach.. gue mau curhat sama bunda.. bolehkan bund.?" Manja Metha dengan menyandarkan kepalanya di pundak bunda Lea.
"Ya boleh masa nggak boleh sih.. kalian kan udah bunda anggap anak bunda juga." Ucap Bunda Lea seraya mengusp pucuk kepala Metha.
"Gue akan ceritain ke bunda soal Luna dan kak Zia hihihi." Batin Metha terkikik.
"Bund.. bunda udah tau belum..? anak bunda kan sedang fallin in love." Bisik Metha di telinga bunda Lea lirih.
"Hah.! apa.? fallin gimana.?" Pekik bunda Lea dan serta merta Luna melotot ke arah Metha.
"Fallin bund.. sama artis ganteng.. kaya.. baik lagi orangnya." Ucap Metha tak memperdulikan pelototan Luna.
"Met.. apaan sih.!" Hardik Luna memberengut.
"Dan Luna--suka ju.. hmmppp" Luna membungkam mulut Metha.
"Bohong bund jangan di dengerin Metha." Rajuk Luna ke bunda Lea.
"Metha tuh bund yang naksir duluan dokter lagi yang di taksir.. hahaha" Balas Luna untuk Metha.
"Tapi kan Metha nggak serius bund.. justru Luna tuh ynag serius bund.. wleeek." Ejek Metha seraya menjulurkan lidahnya.
"Iiih Metha paan sich ah." Desis Luna melirik ke Metha.
"Ya sudah.. kalo Luna.. juga kalian lagi faliin in love itu wajar dan lumrah.. apalagi kalian sudah beranjak dewasa.. dan cantik-cantik.. asal inget ya bisa jaga diri.. jangan sampai bikin malu diri sendiri juga keluarga.. apalagi jaman sekarang jaman sosmed.. jika kita tidak pintar-pintar menggunakannya kita akan terjerumus.. lalu dengan mudahnya kenalan sama orang yang tidak tau asal usul serta seluk beluk nya.. kalo sudah terjadi.. susah di lacak karena bisa saja dia memakai akun palsu.. pesan bunda sih masih kecil jangan pacaran dulu.. sekolah yang tinggi cari ilmu sebanyak-banyaknya.. bahagiakan diri sendiri juga keluarga.. buat keluarga bangga dengan pencapaian prestasi kalian bukan sensasi.. apalagi Luna udah kelas 3 sebentar lagi ujian.. jadi jangan terbuang sia-sia hanya karena memikirkan seseorang yang belum tentu berjodoh dengan kita.. karena jodoh.. rezeki serta maut itu di tangan Allah.. jadi lebih baik kalian belajar dulu dengan tekun.. agar tercapai cita-cita kalian yah.. Luna Metha Kirana Livia juga Ghea." Pesan bunda Lea di dengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Yaa boleh saja kalian suka sama seseorang karena entah itu kagum.. mengidolakan mereka tapi dengan batasan-batasan.. karena kita ini kan orang timur.. sudah ya bunda mau menemani papa dulu di samping." Bunda Lea mengakiri ucapannya dengan mengacak rambut Luna dan Metha.
"Iya bunda makasih nasehat nya.. aku jadi tayang tama unda." Ucap Metha manja dengan menirukan suara anak kecil.
"Tuh dengerin kata bunda Lea." Celetuk Kirana.
"Iya jangan pacaran dulu.. inget.!" Kata Livia dengan penekanan di setiap ucapannya.
"Iya bu ustadzah.. lagian kita kan cuma becanda doang.. tapi kalo Luna mau serius ya mangga atuh neng.. hehehe.. wleek." Ejek Metha lagi.
"Mulai lagi deh." Rajuk Luna.
"Diiih yang lagi sensi.. jangan ngambek mulu ah nanti jadi jelek lo.. niih.!" Goda Metha seraya menorehkan masker di pipi Luna.
Terjadilah lagi kejar-kejaran dan saling mencoret pipi dengan masker, setelah lelah mereka memakai masker bersama-sama lalu kemudian mereka berselfi ria meski wajahnya berlapis masker. Keseruan mereka mengantarkan waktu di penghujung hari, karena lelah ber 5 akhirnya ketiduran.
"Ono opo iki kok ribut-ribut di ruangan ku.. haah eeh ono bidadari ayune pol.. sakjane aku emoh mati disek.. jebule ketemu karo bidadari ayu yo aku mati saiki wae.. bidadari kuuuu."
(Ada apa ini ribut-ribut.. hah ada bidadari cantik.. sebenarnya aku nggak mau mati dulu.. berhubung ketemu bidadari mending aku mati sekarang aja lah.. bidadari kuuu.)
Happy Reading.. kiss
Maafkan jika banyak typo.