"Kak Zia." Metha terkejut seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak dan Luna buru-buru mengusap matanya dengan tisu agar tidak terlihat habis menangis.
"Lun.. itu kak Zia kenapa ada di sini.. apa dia udah sembuh.. ta--piii bukan deh.. ini bukan kak Zia." Cicit Metha meremas lengan Luna.
Luna dan Zizi senyum-senyum melihat Metha yang kebingungan nanya sendiri di jawab sendiri.
"Met kenalin ini dokter Zidni kakaknya kak Zia.. dan ini Metha dok." Ucap Luna terkekeh saat mengenal kan mereka berdua karena sikap Metha yang sepertinya terkesima.
"Zidni.! Metha.!" Jabat keduanya seraya menyebutkan nama masing-masing.
"Njiiir cute banget.. mana wangi.. hhmm.. heran gue sama Luna.. kenal aja sama yang ganteng-ganteng." Batin Metha.
"Panggil aja dokter Zizi." Ujar Luna mengulas senyum.
"Lun kok lo panggil dia dokter sih.?" Bisik Metha sambil mata melirik ke arah Zizi.
"Iya beliau ini dokter ortopedi." Sahut Luna lirih seraya ikut melirik.
"Oh ya kalo kalian masih lama berangkat nya mending kita ngobrol dulu di cafe yuk." Ajak Zizi
Metha terus melihat Zizi dengan intens, Metha tak percaya bahwa kakaknya Zia juga nggak kalah ganteng dari Zia, sekilas memang ada garis bulenya bedanya hanya di warna kulit saja.
"Met.. ssttt ngeliatinnya jangan kayak gitu.. malu tau ih." Sikut Luna pelan.
"I.. iya dok.. kita masih nunggu mobil katanya sedang isi bensin." Sahut Metha sedikit kikuk.
"Nah kalo gitu kita ngobrol di sana aja sambil sarapan.. silahkan.!" Ajak Zizi lagi seraya mempersilahkan mereka jalan lebih dulu.
"Maaf dok tadi kita udah sarapan kok." Kata Luna lagi-lagi menyikut Metha, karena Metha sepertinya tersihir oleh ketampanan sang dokter yang membuat Metha menuruti ajakannya dan sedikit menyeret paksa tangan Luna.
"Met nanti kita di cariin kak Adel." Ucap Luna menolak tarikan tangan Metha.
"Ssstt.. udah kita ikut aja lagian mobil nya belum dateng." Bisik Metha sembari menengok Zizi yang ada di belakang sambil senyum-senyum melihat tingkah anak ABG yang di depannya.
Sepertinya Zizi bahagia bisa bertemu dengan Luna lagi, gadis yang baik dan jujur, parasnya yang ayu dan kalem terlihat dari sorot matanya yang teduh. Netra Zizi tak lepas dari 2 anak ABG di depannya terlebih kepada Luna. Gadis itu berpakaian tertutup serta berjilbab yang di lengkapi dengan topi bucket hat di atas kerudungnya, Luna juga memakai atasan T-shirt warna hitam serta celana kotak-kotak hitam putih dan di lengkapi tas kecil yang menggantung di lengannya, snacker putih yang membingkai kakinya, ia sangat cantik meski wajahnya hanya di sapu dengan polesan bedak saja, bibirnya yang berwarna pink serta senyum ramah menghiasi bibirnya. Sedangkan Metha gadis tomboi nan cuek ia hanya mengenakan kemeja lengan panjang yang gulung hingga siku, serta celana jins navy sepatu boots coklat yang membingkai kakinya, rambutnya di biarkan tergerai dengan memakai topi terbalik,
"Luna.. kamu terlihat santai dan cantik pakai baju itu." Guman Zizi sambil mengusap wajahnya dan menarik nafas.
"Ck.. kok kamu tiba-tiba aja jadi baik sih sama cowok.. tumbenan" Decak Luna pelan dan pasrah mengikuti Metha berjalan.
"Udah diem lo ikut aja." Bentak Metha pelan dengan sorot mata yang sulit di artikan.
Setelah sampai di cafe Luna dan Metha menduduki kursi yang kosong, pagi itu lumayan ramai karena pengunjung hotel jam 7 banyak yang menikmati sarapan ringannya dan santai di cafe yang terletak di tepi kolam renang hanya di batasi kaca besar, sehingga terlihat pengunjung yang sedang berenang, kebanyakan yang berenang adalah anak-anak kecil yang didampingi oleh orang tuanya.
"Yaak silahkan duduk Luna.. Metha.. mau pesan apa.. burger.. sosis bakar.. spageti atau minum teh hangat.?" Tanya Zizi layaknya pelayan cafe semua menu buat anak remaja dia sebutkan.
"Tidak dok." Sahut Luna yang bersamaan dengan suara yang keluar dari mulut Metha yang tidak singkron.
"Burger aja dok." Sahut Metha cuek seraya menginjak kaki Luna di bawah kolong meja, Luna terjengit dan melotot ke arah Metha yang pura-pura tidak mengerti.
"Iiiiih Metha malu-maluin aja deh." Batin Luna sebal.
"Hahaha kok ngga kompak gitu sih.. ya sudah saya pesan menu yang sama ya." Ucap Zizi sambil terkekeh seraya memanggil pelayan cafe.
"Pagi kak.. ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan cafe dengan sopan.
"Eemm pagi mas.. saya mau pesan 2 burger dan 2 sosis bakar serta 4 spageti.. minumannya lemon tea hangat 6." Ucap Zizi dengan senyum mengembang.
"Ooh God ganteng pisan euy dokter Zizi ini." Batin Metha, ibarat Zizi makanan Metha sudah ngeces, hehehe.
"Dok kok banyak banget sih pesennya.? kan kita cuma ber 3.?" Luna terheran karena makanan dan minuman yang di pesan Zizi sangat banyak.
"Ooh itu.. nanti ada teman saya yang akan bergabung dengan kita.. karena saya sedang janjian dengan mereka di sini." Ujar Zizi santai.
"O." Luna dan Metha ber O ria sambil manggut-manggut.
Suasana hening sejenak hanya suara musik yang terdengar dari sound cafe yaitu lagu nya Westlife
yang bertitel Uptown Girls.
Uptown girl
She's been living in her uptown world
I bet she never had a back street guy
I bet her mama never told her why
I'm gonna try for an uptown girl
She's been living in her white bread world
As long as anyone with hot blood can
And now she's looking for a downtown man
That's what I am
And when she knows what she wants from her time
And when she wakes up and makes up her mind
She'll see I'm not so tough
Just because
I'm in love with an uptown girl
You know I've seen her in her uptown world
She's getting tired of her high class toys
And all her presents from her uptown boys
She's got a choice
"Ohya Luna.. kalian itu kenal sama Zia dimana." Tanya Zizi guna memecah keheningan seraya menatap Luna dan Metha bergantian.
"Kita ken--." Ucapan Luna terjeda karena lagi-lagi Metha menginjaknya agar diam biar dia saja yang menjawab. Seraya mengerlingkan sebelah matanya ke Luna, dan tentu saja Zizi tidak melihat karena saat itu Zizi sedang menatap Luna. Tak lama pesanan mereka pun tiba.
"Silahkan.. selamat menikmati." Ucap pelayan.
"Terimakasih.. ayo silahkan di makan.. ini burger dan sosisnya untuk kalian.. sambil nunggu mobil datang dan juga sambil nunggu teman saya datang juga." Perintah Zizi seraya mengaduk lemon tea nya.
"Kita kenal kak Zia di lokasi shooting kak di sekolahan." Sambung Metha senang dengan mata berbinar setelah terjeda karena ada pelayan datang.
"Ooh shooting di sekolah kalian.. lalu kalian hanya nonton atau ikutan shooting juga.?" Tanya Zizi lagi.
"Iya dok.. kita tim extras jadi murid nya kak Zia di dalam scene nya.. kak Zia jadi guru tari nya." Jelas Metha bangga. sedangkan Luna hanya diam saja sambil senyum-senyum melihat kelakuan temannya yang mendadak genit.
"Kalian anak seni tari.?" Luna dan Metha mengangguk.
"Tadi Luna bilang kalian di sini sedang acara di ISI..? itu shooting juga atau memang ada perfomance.?" Zizi menunjuk Luna dengan polpen yang di pegang.
"Bukan shooting dok.. kita ngisi acara di WDD.. dan kita nggak tau kalo kak Zia kuliah di sini.. tau nya saat kak Zia berusaha nolongin Luna di kejadian itu.." Jawab Luna dengan raut wajah yang sedih terbukti dengan matanya yang mengembun.
"Ooh ya sudahlah jangan sedih lagi ya.. kan Zia sedang dalam pemulihan sudah di tanganin oleh dokter ahli." Papar Zizi berusaha agar tidak membuat Luna sedih lagi.
"Lalu dokter ke Solo memang mau periksa kak Zia..?" Tanya Metha penasaran lalu menggigit burgernya.
"Iya saya di suruh mama untuk liat keadaan Zia.. nanti jam 8 Zia akan di rontgen agar ketauan robekan nya dalam atau tidak." Sahut Zizi.
"Ya ampun dok.. emang parah ya..? harus di rontgen segala.?" Tanya Luna lirih.
"Kamu tidak usah khawatir Luna berdoa saja ya." Jawab Zizi menenangkan.
"Kalo sampe kak Zia kenapa-napa itu pasti salah Luna dok." Cicit Luna tertunduk seperti akan menangis lagi.
"Yaa nangis lagi ini anak.. sberapa deket sih Luna sama Zia.. sampe-sampe Luna sedih gitu.. dan adiknya bela-belain mempertaruhkan nyawanya untuk gadis ini.. eeeh tapi gue kan nggak tau emang itu mau nusuk Luna atau siapa." Ucap Zizi dalam hati seraya memutar spageti di garpunya.
"iiish udah Lun.. lo cengeng banget sih." Kata Metha mengusap bahu Luna.
"Kak Zia nggak butuh air mata lo.. tapi butuh doa dari lo." Metha kali ini merangkul pundak Luna.
"Betul kata Metha.. doakan saja Zia ya." Angguk Zizi sambil menikmati spagetinya.
"Kalo tante dokter tau.. pasti akan nyalahin Luna." Desah Luna pasrah.
"Siapa lagi itu tante dokter.?" Tanya Metha bingung.
"Tante dokter..? mama saya.?" Tanya Zizi heran lalu terkekeh.
Luna mengangguk dan terisak pelan, ia tidak bisa membayangkan jika bertemu dengan dokter Bella, pasti dokter Bella benci dengan dirinya karena sudah menyebabkan anaknya terluka.
"Lo kenal juga dengan mama nya kak Zia." Tanya Metha terjengit saat Zizi menyebut kata mama saya, lagi-lagi Luna hanya mengangguk dan menggigit bibir nya.
"Eits nggak boleh su'udzon gitu Luna.. mama saya tipe orang yang sangat bijak dalam menilai sesuatu.. jadi kamu jangan khawatir.. mama saya orang baik kok.. seperti saya. hehehe." Zizi terkekeh.
"Tau lo Lun jangan su'udzon." Metha membela Zizi.
"Ya maaf." Jawab Luna singkat.
"Apalagi semalem kita nggak boleh ikut saat njenguk kak Zia.. jadi kita belum ketemu lagi kak Zia lagi sejak peristiwa itu." Ucap Luna lemah.
"Ya sudah nggak usah terlalu di pikirkan yang penting doa nya saja yah." Kata Zizi bijak.
Tak lama ada 3 orang yang pakaian sama yaitu berjas putih, 1 orang wanita berhijab ia sangat cantik sekali, dan 2 orang pria yang 1 gemuk dan yang 1 menenteng tas jinjing hitam.
"Assalamualaikum dokter Zi." Sapa ketiganya.
"Waalaikumussalam waroh matullah.. ayo silahkan duduk.. spageti nya sudah menanti dari tadi tuh." Sambut Zizi seraya berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk wanita cantik tadi.
"Silahkan sayang." Ucap Zizi sangat pelan, namun masih terdengar oleh Luna dan Metha, lalu keduanya saling memandang dan Metha bertanya dengan alis terangkat sebelah, Luna mengangkat bahunya tanda tidak tahu, raut wajah Metha berubah tegang.
"Makasih Zi." Kata wanita cantik itu sambil duduk lalu menatap Luna dan Metha seraya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih, lalu keduanya membalas senyuman wanita itu.
"Sayang.! jangan-jangan itu kekasih dokter Zizi.. cantik sekali.. pasangan serasi." Batin Luna seraya terus memandangi wanita berhijab pasmina warna peach senada dengan bawahannya.
"Sayang.!" Deg, hati Metha terasa panas manakala Zizi memanggil wanita itu dengan sebutan sayang.
"Kok sayang..? apakah itu pacar nya dokter Zizi.? yaaah dia udah pacar ternyata." Kata Metha dalam hati.
"Eeiimm kenalkan ini dokter Zahra.. itu dokter Edo dan yang gemuk itu dokter Pras.. dan ini Luna.. Metha.. mereka ini sahabat Zia." Zizi mengenalkan temannya kepada Luna dan Metha. Saat Luna dan Metha akan salaman namun mereka hanya menangkupkan tangan saja, Luna dan Metha jadi kikuk di buat nya, dan akhirnya mereka tersenyum bersama setelah menyebutkan nama masing-masing.
Setelah memperkenalkan temannya, Zizi sibuk ngobrol, sedangkan Luna dan Metha asyik menikmati sosis bakarnya dengan sedikit bisik-bisik.
"Met ayuk kita ke parkiran.. nanti macan marah lho nunggu kita nggak balik-balik." Ajak Luna pelan.
"Ya ntar dulu Lun.. mereka lagi ngobrol kita kan nggak enak kalo menjeda obrolan mereka. nggak sopan tauk." Omel Metha setengah berbisik.
"Ck sampe kapan.!" Decak Luna gelisah.
"Hai.. kalian teman kuliah Zia..?" Sapa Zahra ramah dengan senyum nya yang lebar.
"Bukan teman kuliah dok.. kita masih sekolah kok.. saya SMA dan Luna masih SMP." Jelas Metha sambil tersenyum kecut merasa kalah dengan Zahra yang berhasil memiliki Zizi lebih dulu.
"Oh kalian masih sekolah.. tapi udah cocok sih jadi mahawsiswi.. hehehe." Ucap Zahra terkekeh, Luna dan Metha ikutan tersenyum.
Tiba-tiba handphone Metha berdering, yang ternyata itu panggilan dari Adel.
"Alhamdulillah.. untung hape nya Metha bunyi.. jadi ada alasan buat pergi dari sini." Batin Luna.
Setelah panggilan di putus, Metha dan Luna pamit kepada Zizi dan temannya.
"Dok.. kita duluan ya.. karena mobilnya udah datang." Pamit Luna mengulas senyum.
"Baiklah Luna terimakasih ya sudah menemani saya di sini juga Metha.. kamu baik-baik ya.. semoga selamat sampai tujuan." Salam buat bunda kamu ya." Kata Zizi dengan hangat.
"Iya dok.. salam juga buat kak Zia.. dan rasa terimaksih Luna." Mata Luna berkaca-kaca lagi.
"Kita pamit ya dok." Luna dan Metha menganggukkan kepala tanda salam kepada tema-teman Zizi.
"Sekarang mainannya sama ABG nih.?" Ledek Pras terkekeh.
"Hahaha itu kan temen Zia.. lagipula masih sekolah." Jawab Zizi tergelak.
"Tapi yang pake jilbab tadi boleh juga.. cantik dan tinggi kayak anak kuliahan ah.. masa masih sekolah." Ujar Edo seraya menoel lengan Zizi.
"Iya dia emang cantik.. jujur.. baik dan solehah lagi." Puji Zizi tanpa sadar.
"Iihhh apaan sih kamu Zi.. muji dia terus." Protes Zahra cemburu.
"Cantikkan kamu sayang." Ralat Zizi daripada kekasihnya ngambek.
"Yang berjilbab tadi masih SMP Zi." Suara Zahra datar.
"Masa sih.. Luna masih SMP.. aku malah nggak tau." Zizi mengernyitkan dahinya.
"Iya tadi kan aku tanya mereka Zi." Kata Zahra meyakinkan.
"Luna itu pacarnya Zia.?" Zahra menatap Zizi.
"Aku nggak tau sayang.. aku juga baru ketemu hari ini.. nggak sengaja tadi aku menjatuhkan cardlock.. dan di temukan oleh Luna." Jelas Zizi.
"Lho kok bisa ngobrol seperti sudah lama akrab.?" Curiga Zahra.
"Ehhemm.. jealous nih doi." Goda Pras.
"Waduh perang dunia kedua.. kita nggak ikutan deh." Ledek Edo menimpali.
"Emang sebelumya udah pernah ketemu juga sayang.. waktu di rumah sakit.. Luna menemukan dompet mama yang ketinggalan di toilet." Papar Zizi jujur.
"Tadi katanya baru ketemu hari ini.? gimana sih.!" Rajuk Zahra cemberut.
"Iyaaa haduh gimana ngomongnya.. setelah kejadian nemu dompet mama baru ketemu lagi sekarang sayang.. gitu maksudnya.. jangan cemburu dong." Kata Zizi meraih tangan Zahra.
"Iidih siapa yang cemburu.. lagian masa cemburu sama anak kecil." Cibir Zahra.
"Yaaah masih anak kecil ya.. mana mau sama dokter Pras yang udah aki-aki." Canda Edo, dan semuanya ikut tergelak, berusaha mengundang tawa agar Zia dan Zahra ikut tertawa.
Pipi Zahra seketika berubah menjadi merah padam karena malu di sangka cemburu sama Luna yang masih SMP itu.
"Meskipun masih SMP tapi dia itu tinggi cantik.. liat aja dari cara berpakaian.. modis dan gaul kayak anak kuliahan.. wajarlah kalo cemburu." Batin Zahra mengakui kalo dirinya cemburu, sedikit sih. hehehe.
"Ohya Zi.. gimana keadaan Zia.? nanti jadi rontgennya.?" Tanya Zahra seraya mengulas senyum.
"Udah baikan sih.. nanti jam 8 atau jam 9 rontgen nya." Sahut zizi sambil menghabiskan minumannya.
"Lho ini kan hampair jam 8.. kamu nggak ke rumah sakit.?" Zahra mengingatkan sambil menikmati spagetinya.
"Iya nggak papa kita santai dulu.. udah ada pak Toto dan Ronald yang menjaga Zia."
Kata Zizi.
*
*
*
"Pagi dok." Sapa para suster saat melihat Zizi melangkah masuk ke dalam rumah sakit dan Zizi menganggukan kepalanya tiap kali ada suster menyapa nya dan senyum manis selalu menghiasi wajah tampan nya.
"Mas Zizi.?" Panggil pak Toto begitu melihat Zizi dan langsung meraih tas Zizi.
"Pak Toto.. baru datang.?" Tanya Zizi saat menengok panggilan orang di belakang nya.
"Dari jam 7 mas.. saat mas Zia sedang sarapan." Sahut pak Toto.
"Oh ya bagaimana perkembangan Zia pagi ini.?" Tanya Zizi sembari membetulkan letak kacamata nya.
"Katanya masih belum bisa menggerakkan pahanya mas." Jawab pak Toto.
Zizi menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuju kamar Zia di rawat yang di ikuti pak Toto di belakangnya. Sesampainya di depan ruang VVIP, Bond buru-buru membukakan pintu untuk Zizi dan pak Toto.
"Assalamualaikum halo jagoan." Sapa Zizi seraya tertawa, lalu melepaskan kacamata nya dan di letakkan di meja.
"Waalaikumsalam.. mas Zizi.. ngapai kemari.?" Zia terkejut tiba-tiba pagi ini ada kakaknya, sedangkan dirinya sudah memesan mamanya agar jangan yang ke Solo menjenguknya, karena dirinya merasa tidak kenapa-napa.
"Kok pake nanya ngapain.?" Zizi meminta tas yang di pegang pak Toto, lalu mengeluarkan stetoskop dan memeriksa denyut jantung Zia. Kemudian melihat jahitan yang ada di paha Zia dan menyentuh dahi serta leher Zia.
"Zia nggak papa kok mas." Ucap Zia datar.
"Coba pahanya kamu gerakkan." Perintah Zizi.
Zia berusaha namun tidak bisa dan masih terasa linu, akhirnya Zia menggelengakan kepalanya. Nampak kecewa terlihat di wajah Zia.
"Ok Zi.. mas harus melakukan rontgen di bagian paha kamu.. sekarang juga agar cepat terdeteksi.. khawatir ada otot yang terluka. Dan kamu kata mama kamu harus pindah rumah sakit di Jakarta, agar kita mudah liat perkembangan dan kesehatan kamu." Terang Zizi seraya duduk di sofa dan melipat stetoskop nya.
"Zia rasa nggak perlu di Jakarta kali mas.. disini juga nggak papa.. kan ada pak Toto juga Ronald juga Bond." Ucap Zia berusaha membujuk kakaknya agar ia tidak di bawa ke Jakarta.
"Kamu nggak bisa ngebantah titah mama dan papa Zi." Ujar Zizi.
"Ohya.. mas pengen denger langsung kejadiannya dari mulut kamu.. siapa cewek yang berusaha kamu lindungi itu.? kamu mau mencoba jadi James Bond.?" Tanya Zizi sambil menatap intens mata Zia berusaha menemukan jawaban di sana, seberapa dekat Zia dengan Luna.
"Zia nggak tau kenapa.. tiba-tiba aja Zia liat ada orang berpakaian serba hitam dengan memegang pisau yang di umpetin di balik bajunya.. Zia penarasan karena dia ngikutin rombongan penari dari Jakarta." Cerita Zia singkat.
"Kamu kenal rombongan penari dari Jakarta itu.?" Cecar Zizi.
"I--iya kenal.. makanya Zia ikutin.. dan tiba-tiba dia lari mau melukai salah satu penari itu.. lalu Zia mendorong cewek itu sampe jatuh.. agar ia nggak kena tikaman.. eeh malah Zia yang kena." Zia membayangkan kejadian malam itu.
"Kamu kenal sama cewek yang kamu dorong itu.?" Pertanyaan Zizi persis seorang hakim yang sedang mendakwah seorang saksi.
Zia terdiam tidak memjawab oertanyan dari Zizi, malah ia memejamkan matanya dan menghela nafas dalam-dalam. Zia menatap langit-langit kamar.
"Gadis penari itu cantik.. berhijab.. cantik.. tinggi.. masih SMP kan.?" Nada bicara Zizi seperti angkuh dan bangga bahwa ia tahu semua tentang gadis yang di selamatkan Zia.
"Iissshh apaan si lo mas." Zia terjengit mendengar penjelasan Zizi bahwa yang di sebutkan Zizi itu adalah ciri-ciri Luna nya. Zizi mengurai senyum.
"Kenapa nggak di jawab hmm.?" Tanya menyelidik seperti meledek.
"Luna.. kenapa kamu nggak njengukin gue di rumah sakit.. apa kamu udah balik ke Depok.. kamu nggak kenapa-napa kan.? Luna.. Aluna.. apa kamu nggak merasa khawatirin gue." Batin Zia.
Zia masih bungkam, ia masih bingung kok kak Zidni bisa kenal sama Luna, apa karena Dodit, Zia jadi tersipu tatkala matanya bertemu dengan mata Zizi.
"Mas Zizi datang kapan.?" Tanya Zia lirih.
"Kemarin malam.. mama yang minta mas kemari.. karena kamu melarang mama dan papa kan.. makanya mas yang kemari." Papar Zizi sembari merebahkan dirinya di sofa.
Pak Toto yang duduk di kursi single nampak senyum-senyum menyimak obrolan antar Zia dan Zizi. Zia masih penasaran bagaimana bisa kakaknya tahu tentang Luna. Zia berusaha bangun namun kaki nya masih terasa sakit.
"Heessstt.. aduuuh.. astagfirullah.. sakit banget." Rintih Zia, pak Toto dan Zizi spontan bangun untuk membantu Zia duduk.
"Aaahh.." Zia menarik nafas sejenak.
"Mas.. kok mas Zizi tau ten--taaang--." Zia menghentikan suaranya.
"Tentang Luna gadis penari yang cantik dengan matanya yang teduh. ehem." Suara Zizi seperti sedang meledek Zia.
"Pantas aja kamu melindungi dia.. karena dia patut di lindungi." Ledek Zizi, Zia masih terpekur tak bergeming saat abangnya meledeki dirinya.
Tok.. Tok..
"Permisi dok.. ruang rontgen nya sudah siap untuk di gunakan." Seorang perawat datang dengan mendorong sebuah kursi roda, serta satu orang perawat pria guna membantu mengangkat tubuh Zia ke kursi roda.
"Ohh ok baiklah.. ayo Zi.. mari bantu saya pak." Perintah Zizi.
Karena hasil rontgen Zia ada sedikit robekan di otot paha bagian dalam, dan itu membutuhkan pemulihan yang tidak sebentar, akhirnya Zia di pindahkan ke Jakarta di rumah sakit milik orang tuanya. Dan tentu saja itu membuat kulianya terganggu serta pekerjaan yang sudah di tanda tangani oleh Zia terpaksa di pending dulu sampai Zia benar-benar sembuh. Dan tentu saja pemindahan Zia di rahasiakan dari publik, khawatir nanti di buru para kuli tinta, malah Zia tidak bisa istrirahat.
Rumah Sakit..
Zia sudah berada di rumah sakit milik keluarganya di Jakarta, ia di pindahkan ke ruang VVIP lagi, mama Bella tampak sedikit histeris melhat keadaan anaknya di atas kursi roda.
"Ziaaaaa.. hiks.. hiks.. anak mama kenapa bisa begini Zia.. udah lah nggak usah jadi artis lagi ya sayang.. jadi kamu punya musuh sayang.. hisk.. hisk.. lebih baik kamu dokter atau pengusaha seperti kakek kamu di Bali." Peluk mama Bella seraya menangis dan berkali-kali mencium pucuk kepalanya.
"Zia nggak papa ma.. hanya paha Zia masih ngebet dan linu kalo di gerakin." Ucap Zia sambil mengurai pelukan mamanya.
"Kenapa bisa begini Zia..? apa itu fans fanatik kamu.. apa kamu punya musuh selama ini.? apa dia salah sasaran sehingga kamu yang kena.?" Pertanyaan mama bertub-tubi, jadi Zia bingung jawabnya gimana dulu.
"Zia nggak punya musuh ma." Jawab Zia singkat.
"Lantas siapa itu yang tega menusuk kamu.?" Tanya mama Bella bingung, karena katanya Zia nggak punya musuh atau fans yang fanatik.
"Zia itu menyelamatkan seorang penari dari tikaman orang jahat mam.. dia berusaha menjadi James Bond.. hehehe." Zizi terkekeh dengan geli, dan di ikutin tatapan tajam Zia kearah Zizi.
"Astagfirullah bener Zi..?" Tanya mama Bella dengan mata berbinar tak percaya.
"Iya mam.. masa bohong sih." Goda Zizi seraya terbahak.
"Siapa gadis itu Zi.. kamu kenal.?" Tanya mama Bella kepada Zizi.
"Kenal doang mam.. mama juga kenal kok." Kata Zizi seraya membisikkan sesuatu di telinga mama Bella.
"Yang bener Zi.. masa sih.! mama nggak percaya ah.. kamu bohong niiii.." Ucap mama Bella sangsi.
"Masya Allah.. gadis itu.!" Pekik mama bella lirih sekali.
"Iya mam.. makanya Zia rela pahanya yang kena, daripada gadisnya itu yang kena lebih baik dirinya." Goda Zizi lagi.
"Tapi gadis itu masih SMP mam.. masih kecil.. bau kencur.. wkwkkwk." Zizi terbahak dan Zia sangat geram sama kakaknya yang satu-satunya itu.
"Loh cinta itu nggak memandang umur Zi.. makanya katanya cinta itu buta.. cinta itu universal Zi.. bebas mengartikan kata cinta.. nggak melulu menjurus dia anak kecil atau sudah tua.. makanya pernah denger kan bahwa cinta itu buta.. iya nggak Zi.? mama jadi kebayang giman dulu papa kamu tergila-gila sama.. hehehe." Mama Bella berucap seraya matanya membayangkan dirinya sedang jatuh cinta.
Zia hanya tersenyum kecut tatkala mama Bella dan Zizi kompak ngeledekinnya, nggak habis pikir masa iya mama juga kenal dengan Luna, aah pasti ini kebetulan saja.
"Oooohhh yaaa.. mama inget wajah gadis itu.. cantik.. baik.. jujur.. solehah pula.. dia pake krudung kan.?" Tanya mama Bella jadi heboh sendiri.
"Zizi bilang ke Zia.. ya wajar kalo gadis itu kamu lindungi.. iya kan Ziii.. cantik." Kagum Zizi memanas-manasi Zia. sedangkan yang di panasi hanya diam membeku tak membuka suaranya sepatah katapun.
"Mama dan mas Zia suka sama Luna.. semoga aja mereka merestui jika gue jadian sama Luna.. nyatanya semua mengagumi Luna, karena Luna baik jujur cantik solehah.. baik dan jujur emang keliatan.?' Batin Zia sibuk.
Bersambung..
Happy Reading.
Maaf jika banyak typo.. kiss