Hari sudah mulai gelap dengan pakaian serba hitam sosok itu terus mengikuti rombongan Luna dari belakang. Pandangan nya sangat tajam dan menghunus, iya.. dialah Tasya, lagi-lagi ia menggunakan wig sebagai penyamaran nya, ia juga berdandan ala-ala gotic yang serba hitam, agar tidak mencolok perbedaan nya ia membawa syal yang terbuat dari kain batik yang ia beli dari toko souvenir seolah itu selendang nari. Ketika rombongan Luna berhenti Tasya pun ikut berhenti, sembari berpikir apa yang akan di lakukan terhadap Luna, agar gadis itu tidak lagi mengganggu pikiran Zia. Tasya tidak mau menyerah begitu saja, ia harus memperjuangkan cintanya. Tanpa berpikir panjang Tasya meraih pisau yang ada di meja tukang sosis bakar. Tasya telah di butakan oleh cintanya.
"Untung orang nya lagi sibuk layanin pembeli." Batin Tasya. Lalu pisau tadi di sembunyikan di balik syal yang menjuntai hingga ke paha nya.
Rombongan Luna terus berjalan mengabsen tiap-tiap stand, jika menurutnya ada yang menarik mereka berhenti sejenak, kebetulan saat ini Luna bersama teman-teman nya berhenti di sebuah stand yang menjual kaos-kaos bertuliskan dan berlogo WDD, dan ternyata di dalam tenda itupun ada Zia yang sedang berbelanja, setelah membayar barang yang di belinya Zia hendak keluar dari stand tenda tersebut, namun langkah nya terhenti begitu melihat ada rombongan penari masuk, Zia yang memakai topi dari hudinya serta berkacamata hitam membuat Luna beserta teman-teman nya tidak mengenali kalo itu adalah Zia, termasuk Tasya.
Zia diam-diam memperhatikan Luna dengan senyum di bibirnya, sambil ber pura-pura akan membeli kaos lagi. Begitupun dengan Tasya, ia juga berpura-pura seolah mau belanja kaos, dengan terus mengikuti Luna dari belakang.
Kemudian Luna cs keluar dari tenda yang satu dan masuk ke tenda yang lainnya, Zia terus berjalan di belakang rombongan sambil menikmati Luna nya yang sedang bercengkrama bersama Metha.
“Lun.. kaos tadi keren ya.. sayang nggak ada ukuran buat adek gue.” Kata Metha sambil terus berjalan dan mencari ukuran kaos untuk adiknya.
“Iya nggak ada kali Met itu kan khusus buat anak gede kaosnya.. kalo mau oleh-oleh buat adik kamu nyari di pasar atau di mall pasti ada deh.. hehehe.” Jawab Luna sekenanya.
“Iiih emang ada kaos WDD di pasar atau di mall.?” Tanya Metha heran.
“Ya nggak ada sih. Wkwkwk.” Sahut Luna ngasal lalu terbahak.
“Diih gaje nih Luna.” Cibir Metha setelah itu tertawa bersama.
“Lun tadi gue liat ada orang mirip sama kak Zia deh.” Metha berkata serius sambil menatap Luna.
“Sumpah demi apa Met.” Ucap Luna terbelalak.
“Yaa demi lo lah.. makanya gue bilang sama lo barusan.” Seloroh Metha sedikit sebal karena Luna tak mempercayainya.
“Ngapain kak Zia disini.. dia kan kuliahnya aja di Solo.. hah Solo.! Ini kan Solo Met.!’’ Pekik Luna tak sengaja dan baru menyadari bahwa Zia juga kuliah di Solo.
“Nah.. nah.. mulai ngigo dah lo.. emang dari kemarin juga kita lagi di Solo.. lo kira kita di Jepang apa.?” Bentak Metha sedikit emosi, karena otak Luna tiba-tiba lemot.
“Astagfirullah iya kita di Solo.” Kata Luna sepertinya dia baru sadar jika saat ini sedang berada di Solo.
“Ngomong-ngomong dia kuliah di mana ya.” Tanya Luna, lalu keduanya sama-sama menggeleng.
“Benarkah kak Zia ada disini.?” Batin Luna bertanya.
“Lun.. “ Panggil Metha
“Iya kenapa Met.?” Tanya Luna.
“Kalo misalnya feeling gue bener kak Zia ada di sini gimana.?” Metha menatap intens netra Luna.
“Ya nggak gimana-mana.” Kata Luna gugup.
“Nah lo kok kayak gugup gitu sih.?” Tebak Metha.
“Gugup apaan sih Met.. aku B aja.” Sanggah Luna. Pura-pura membetulkan asesoris dikepalanya.
“Cieee.. gue tantang elo ya Lun.. berani nggak.?” Tantang Metha dengan menaikkan alisnya.
“Maksudnya.?” Tanya Luna tak mengerti.
“Kalo emang ternyata kak Zia ada di sini.. apa lo berani peluk dia.?” Sarkas Metha.
“Tantangan apaan tuh pake peluk-peluk.. bukan muhrim dan belum halal.” Ucap Luna dengan melengoskan kepalanya namun sambil mengulas senyum.
“Yaa cemen nggak berani.” Goda Metha sambil mendorong bahu Luna pelan.
Luna tersimpul simpul dan merasa geli dengan tantangan yang di berikan Metha untuknya, Luna pura-pura sibuk dengan memilah-milah kaos yang tergantung pada hanger.
“Gimana.. berani nggak.?” Tanya Metha lagi dengan alisnya sebelah naik.
“Eng—nggak mungkinlah kak Zia ada di sini.” Sanggah Luna lagi.
“Justru itu Alunaaa.. kalo missal dia ada disini.. berani nggak lo peluk dia.. karena tebakan gue bener dan lo kalah. Hhm.” Lagi Metha menantang Luna.
“Eng—okeh aku berani.. Cuma peluk doang kan.?” Akhirnya Luna menerima tantangan yang di berikan Metha.
“Sipp tos dulu dong.. deal ya.” Ujar Metha mengunci tantangan tersebut.
“Ya ampun.. aku harus memeluk kak Zia.. aaaah semoga Metha salah liat.” Kata hati Luna.
Zia yang mendengar percakapan Luna dan Metha hanya mengulum senyuman, sambil geleng-geleng kepala.
"Aaah dasar ABG.. tapi kamu lucu Luna kamu polos kamu nggemesin." Ucap Zia, meskipun Zia tidak mengecilkan volume suaranya, orang tidak akan mendengar karena kalah dengan suara music dari sound.
“Asyiik gue mau di peluk Luna.” Guman Zia senang.
Dengan terus berjalan mengekor agak jauh di belakang rombongan, Zia melihat sosok berpakaian serba hitam dengan rambut panjang berwarna ungu gelap dan Zia merasa bahwa ada yang mengikuti rombongan Luna selain dirinya, siapa sosok hitam yang memakai syal batik panjang itu.? Zia memperhatikan gerak-gerik sosok itu.
“Hah sepertinya dia sedang megang sesuatu deh di balik syalnya.. mau ngapain orang itu.?” Batin Zia seraya berhati-hati, jangan sampai orang itu merasa di perhatikan oleh Zia.
“Waaah kayaknya dia ngikutin rombongan nya Luna kok.. gue harus ikutin dia.” Batin Zia lagi.
Sementara Tasya tidak mengetahui jika dia di ikutin oleh Zia dari belakang, Tasya sibuk dengan rencanan di hatinya, ia sempat berpikir akan menyingkirkan Luna, namun bayangan sang mami tetiba melintas di benaknya dan ucapan simbok Sami agar ia menjadi anak yang baik dan sukses, sang mami di sana akan tenang jika melihat putri semata wayang nya sehat dan jadi anak yang baik.
"Aarrrggghh shit.! sampe kapan gue ngikutin dia terus tanpa melakukan apa-apa." Tasya bingung dengan benda di tangannya dia harus melakukan apa, mengingat ucapan simbok melintas lagi di benak Tasya. Ia memainkann pisau di tangannya sehingga Zia dapat melihat denagn jelas bahwa itu sebuah pisau.
“Hah.. sebuah pisau.!” Ucap Zia terbelalak.
“Tikam Sya.. ayo tikam.. ayo cepat tunggu apa lagi.” Perintah sisi jahat hatinya.
“Jangan Tasya sayang.. itu tindakan kriminal.. kamu nggak ingin seperti papi kamu kan.?” Larang sisi baik hatinya. Tasya menelan salivanya.
“Tikam.!” “Jangan.!” “Tikam.!” “Jangan.!” “Tikam.!”
Ketika akan membuang pisau yang ada di tangannya ternyata Tasya kaget dengan apa yang di lakukannya, ia berlari dan malah mencoba menancapkan benda tajam itu kearah Luna bukan membuangnya.
Tapi bertepatan dengan itu Zia reflek langsung mendorong tubuh Luna lalu entah bagaimana pisau itu tiba-tiba mengenai dan menancap di paha Zia.
“Awasss LUNAA.!” Pekik Zia sambil mendorong kencang tubuh Luna dan Luna serta Livia yang di samping nya ikut tersungkur ke tanah.
“Astagfirullahalaziim.” Teriak Luna menahan sakit.
“Arrgghhhh heeesstt.. Luna kamu nggak papa.?” Dengan keadaan terluka Zia masih sempat-sempatnya menanyakan keadaan Luna.
“Hahh.. kak Zia.!” Luna terperangah menatap Zia tak percaya, lalu segera menggelengkan kepalanya.
“Kak Zia.!” Serentak Metha, Kirana serta Ghea terkesiap.
“Ya ampun Zia” Teriak kak Adel.
“Cepat minta bantuan ke security.” Perintah Macan.
“Astaga Zia.!” Ucap Tasya pelan, setelah mengetahui Zia terluka karena tindakannya, Tasya langsung melarikan diri.
“Tolooong ada orang di tusuk.” Teriak pengunjung yang menyaksikan kejadian tadi.
“Ituuu orangnya kabur kesana.. pake baju hitam berambut ungu.”
“Kejaaar cepet takut keburu kabur dia.” Perintah Macan lagi.
Cairan berwarna merah terus mengalir dari paha Zia, Luna dan beberapa anak menangis karena ketakutan melihat Zia yang terluka di bagian pahanya, Zia merintih kesakitan, mukanya pucat menahan sakit dan perih akibat benda tajam yang menancap tadi.
Luna reflek menarik selendang nya untuk membebat paha Zia agar cairan merah itu berhenti. Nafas Zia tersengal, susah payah ia menelan air liurnya. Zia menatap lekat wajah Luna, Zia nampak kelelahan dan kesakitan, matanya terpejam dan itu membuat Luna histeris. Sebelum Zia tak sadarkan diri ia memberikan sebuah buket dan paper bag yang ada di tangannya kepada Luna.
"Kak Zia.. bangun kak.. hiks.. kenapa bisa seperti ini.. kak bangun kak." Luna terus menangisi Zia tanpa berpikir malu dan sebagainya.
Luna meraih buket serta paper bag yang ada di tangan Zia, lalu Luna membacanya dalam hati.
"Selamat dan sukses buat Aluna ZP." Tulisan itu tertera di atas memo kecil. Lalu kemudian membuka paper bag dan melongok ke dalam nya yang ternyata isinya berupa kaos 2 buah warna hitam dan putih.
Luna sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar yang menyimpan banyak tanda tanya kepadanya, yang Luna pikir sekarang ia sudah terlanjur sayang sama Zia. Sementara di dalam hati Zia ada perasaan haru dan senang melihat Luna menangisi dirinya.
Tasya lari tanpa menengok ke belakang lagi, ia menuju mobilnya lalu segera mencopot semua asesoris yang menempel di tubuhnya juga segera membersihkan make up di wajahnya. Dengan nafas nya naik turun dan Tasya menangis.
"Brengseeeek kenapa Zia jadi yang terluka.. huaaa.. huaa.. aku telah melukai Zia.. perbuatan ku hampir saja membunuh nya.. hiks." Tasya meraung-raung menyesali tindakan nya.
“Betapa bodohnya gue nggak sadar kalo ada Zia di sana.. hiks.” Teriak Tasya menyalahkan dirinya sendiri. Tasya memukul kemudi dengan keras.
"Kenapa anak kampung itu lagi-lagi lolos dari target gue.. dan yang kena selalu orang lain.. dulu si Cemong lalu Zia.. dan sekarang Zia lagi yang jadi korban gue.." Tasya bermonolog seraya terus menangis.
"Maafin gue Zi.. gue nggak bermaksud melukai kamu.. hiks.. hiks.. gue nggak mau terjadi apa-apa sama Zia." Isak Tasya terus merutuki perbuatannya.
"Sesulit inikah bagi gue buat ngedapetin cinta Zia, harus sesakit inikah perjuangan cinta gue, Ziaaaaa gue nggak rela lo suka sama orang lain.. gue nggak terima ngeliat lo yang terus-terusan nganggep kita cuma temenan.. gue pengen lebih dari sekedar temen Zi.. gue juga nggak mau lo mati sekarang.. tuhaaan tolong selamatkan Zia.. huaaaaa." Tasya terus menangis di dalam mobilnya hingga matanya sembab.
Tanpa di sadari oleh Tasya bahwa perbuatannya akan mempersulit mendapatkan seorang Zia, terlebih jika Zia sudah mengetahui perbuatan jahat nya. Apalagi ia sudah selalu dan berusaha menyakiti, bahkan hampir menghilangkan nyawa Zia, jika tadi Luna yang kena bagaimana.?
"Lu--na.. to--long hu--bungi Do--dit.. i--ni." Zia memberikan handphone nya kepada Luna agar menghubungi Dodit secepatnya.
"I.. iya kak." Ucap Luna sambil menghapus air matanya. Dengan cepat Luna membuka benda pipih milik Zia, Luna dan Metha serta Livia kaget ketika melihat di wall paper hape itu foto Zia dan Luna yang sedang berselfie, Luna malu di buatnya, namun untuk menutupi tatapan mata temannya Luna buru-buru mencari nama Dodit dan segera menghubungi nya.
Tuuuut.. Bersyukur Dodit langsung mengangkat panggilan dari nomor Zia.
"Yoi bro.. posisi di mana ente." Sapa Dodit terdengar nyaring.
"Om Dodit.. bang Dodit.. ini Luna.. Kak Zia terluka om.. di tusuk orang tak di kenal." Luna memanggil Dodit dengan sebutan om lagi.
"Hah Luna.! kok bisa hape Zia di kamu.?" Tanya Dodit heran.
"Iya om cepetan kemari om.. posisi kita di stand kaos deket pendopo." Ucap Luna terburu-buru dan panik.
"I iya om.. eh aduh.. abang segera kesana." Ucap Dodit ikutan panik.
Dengan bantuan Dodit dan beberapa security tubuh Zia di bawa ke rumah sakit terdekat, sementara ada seseorang melihat kejadian langsung di harapkan untuk mendatangi kantor polisi guna di mintai keterangan sebagai saksi. Berita penusukan Zia yang notabene seorang artis langsung menjadi topic trending di televisa melalui berita selebriti.
*
*
*
*
Jakarata
Rumah Kemang seketika heboh dengan adanya berita tentang penusukan Zia, nini Nilam juga beberapa kali telepon untuk menanyakan keadaan Zia saat ini.
Mama Bella berusaha menghubungi Zia namun panggilannya tidak di respon oleh Zia. Mama Bella putus asa dan terus saja menangis, karena ia tidak tahu harus menghubungi kemana lagi, akhirnya mama Bella meminta tolong kepada pak Toto yang ada di Solo.
Saat pak Toto sudah sampai di rumah sakit keadaan Zia sudah membaik meskipun Zia belum siuman, hanya saja Zia mendapatkan beberapa jahitan akibat tusukan benda tajam di pahanya. dan pak Toto pun segera memberikan laporan kepada mama Bella di Jakarta agar ia tidak khawatir dengan keadaan Zia.Pak Toto juga sudah mendatangi kantor polisi, agar kasus ini segera di tuntaskan dan harus mencari sosok hitam yang sudah menusuk paha Zia.
Pantas saja menurut mama Bella perasaan nya hari ini tidak tenang, seperti akan ada sesuatu, dan ternyata benar saja, Zia masuk rumah sakit. Papa Ardi berusaha menghubungi pihak rumah sakit di mana Zia di rawat, papa Ardi yang seorang dokter ingin memastikan bahwa anaknya harus mendapatkan penanganan yang baik dan bagus.
Papa Ardi meminta kepada pihak rumah sakit agar menyediakan stok darah, demi menjaga jika sewaktu-waktu Zia membutuhkan darah lagi, dan satu lagi titah papa Ardi bahwa Zia harus di tempatkan di ruang VVIP.
Mama Bella terus mencoba menghubungi nomor Zia siapa tau ada temannya Zia yang menerima panggilannya, namun hasinya nihil. Mama Bella tak kehabisan akal ia meminta pak Toto untuk memberikan telepon genggam nya kepada teman Zia, agar mama Bella bisa mendengar dengan jelas kejadiannya.
"Mas Dodit.. maaf mas.. mama nya mas Zia mau bicara sama mas Dodit." Pak Toto memberikan telepon genggamnya ke Dodit.
"Oh iya boleh pak.." Dodit meraih benda pipih itu.
"Halo tante." Sapa Dodit.
"Iya halo saya dokter Bella mama nya Zia.. apakah ini dengan temannya Zia.?" Tanya mama Bella dari sebrang sana.
''Iya tante saya Dodit.. temen Zia kuliah juga satu homestay." Ucap dodit memperkenalkan diri.
"Hah dokter.? mama Zia seorang dokter.?" Batin Dodit setengah tak percaya.
"EEmm nak Dodit bisa menceritakan kejadiannya kepada tante nak.!" Kata mama Bella.
Setelah menceritakan semua kejadian yang sebenarnya kepada mamanya Zia, lalu Dodit ingin bertanya kepada pak Toto yang sebenarnya memang sudah kenal sebelumnya karena pak Toto suka wara-wiri di homestay.
Namun Dodit tidak mendapatkan informasi dengan lengkap karena memang sudah di pesan oleh Zia, agar tik menceritakan tentang siapa diri Zia. Sedang Dodit masih heran yang tiba-tiba saja Zia di pindahkan ke ruang VVIP.
"Siapa sih sebenernya Zia itu, tadi emaknye ngakunya dokter, tapi kalo cuma dokter aja kenapa sampe pindah ruangan ke VVIP.. kayak anak sultan aje. hehehe." Monolog Dodit penasaran sambil terkekeh.
Keesokan harinya Tasya datang ke rumah sakit di mana Zia di rawat, seolah bukan dia yang berbuat, Tasya melenggang masuk ruang VVIP dan mencoba menunjukkan sikap prihatin dan turut berduka atas kejadian malam itu.
Bersambung..
Happy Reading.. Kiss.