Aluna merasa ada yang hilang dalam hatinya, ada ragu yang terselip menyiksa dirinya tatkala membaca pesan singkat yang di kirim oleh Zia, artis yang selama 2 minggu ini wara-wiri di benaknya, Luna membaca lagi pesan itu, dadanya sesak, ia menghela nafas dalam-dalam, netra nya berawan, sebentar lagi awan itu akan berubah menjadi cairan bening yang siap jatuh membasahi pipinya yang putih.
"Luna.. saya akan kembali ke Solo untuk melanjutkan kuliah.. jaga diri kamu baik-baik.. sukses untuk nari kamu.. dan jangan lupakan saya ya." tertanda "Zildjian Ganesha Paramayoga." Emot smile n kiss.
Luna terkesiap ketika melihat foto yang di kirimkan kepadanya, foto selendang merah yang di cari selama ini, ternyata benar apa yang di ucapkan Metha dan di lihat Saski bahwa si artis itu telah mengambil opps bukan mengambil tapi menemukannya di bawah jendela.
Luna sontak tersenyum bahagia saat mendapati tanda tangan Zia di bawah inisial namanya, hati Luna berbunga-bunga, namun Luna merasa heran di bawah tanda tangan Zia ada 4 huruf di sana.. ZGPD. Luna menautkan kedua alisnya.
"ZGPD.. Zildjian Ganesha Paramayoga.. D.. lalu D nya apa ya.?" Luna bermonolog, ia memikirkan apa arti dari huruf D pada nama Zia.
Luna menyenderkan dirinya pada bantal, di peluknya benda pipih tersebut, beribu rasa yang tak bisa di deskripsikan oleh Luna.
"Apa arti dari jangan lupakan saya serta emot smile n kiss itu.?" Tanya Luna pada dirinya sendiri, lagi-lagi senyum menghiasi wajah Luna. ada rona bahagia di sana.
"Tentu kak Zia.. sementara simpan saja selendang itu untuk Luna.. take care. smile n kiss." Luna mengetik smile n kiss namun ragu lalu di delete lagi tulisan itu, tapi tak lama di ketik lagi, hingga berkali-kali ia melakukannya itu dengan tangan gemetar dan perasaan yang malu luar biasa.
Dengan menahan nafas Luna mengklik tanda kirim dengan di awali bacaan Basmallah.
"Bismillah.." Luna melonjak senang tapi juga malu, namun tombol kirim sudah di klik olehnya. Luna memejamkan matanya dengan benda pipih masih berada dalam dekapannya.
*
*
*
"Ok kalian istirahat hanya boleh minum saja.. tidak diperkenankan untuk jajan." Titah pelatih sanggar SC.
Dengan nafas yang terengah anak-anak berhamburan ke tepi ruangan untuk mengambil botol minum mereka dan langsung menenggaknya.
Saat ini sanggar mengadakan audisi untuk mengikuti acara World Dance Day, acara tahunan yang di selenggarakan di kota Solo, di mana seluruh pencinta seni tari akan berkumpul di sana, acara ini di ikuti oleh peserta dari seluruh penjuru dunia dan dari Indonesia sendiri masing-masing pulau mengirimkan penari hebat mereka, bayangkan di Indonesia terdiri dari 33 pulau jika tiap-tiap pulau mengutus para jargon mereka, bisa di bayangkan kan seberapa banyak nanti yang berkumpul saat hari H. Belum lagi perwakilan dari berbagai manca negara. Menurut panitia tahun ini acara World Dance Day akan di ikuti oleh sekitar 6000 penari.
Dengan adanya peringatan Hari Tari Sedunia ini, bisa di pastikan bahwa pemerintah kota Solo akan disibukkan dengan persiapan kurang lebih selama 1 bulan penuh. Pemerintah mengharapkan agar acara ini suksek di gelar, bahkan acara ini akan di helat selama 2 hari di Kawasan Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kegiatan di mulai sekitar pkl 06.00 WIB hingga selesai dan di buka langsung oleh Rektor ISI.
Acara ini di gelar dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya tari di kalangan masyarakat umum, serta meyakinkan pemerintah untuk menyediakan tempat menari disetiap sarana pendidikan dari sekolah hingga perguruan tinggi, mengingat pentingnya melestarikan beragam khasanah budaya yang salah satu cabang seni budaya yakni tari-tarian.
Dengan menampilkan ratusan jenis tarian dalam kegiatan tersebut, di harapkan masyarakat dapat memahami kembali karakteristik budaya Indonesia, serta mengenalkan kepada seluruh dunia betapa beragamnya seni budaya yang ada di Indonesia. begitu sebaliknya kita sebagai masyarakat Indonesia juga menerima dengan tanag terbuka dengan adanya pengenalan budaya barat khususnya di bidang seni tari.
Untuk itu sanggar mengadakan audisi agar penari yang terpilih akan mewakili SC untuk bisa tampil di sana, karena jika tidak melakukan audisi maka akan membutuhkan biaya transportasi serta akomodasi yang tidak sedikit. Untuk itulah mencari penari yang baik dari yang terbaik.
Audisi di lakukan sangat ketat, hanya anak-anak tertentu yang mampu mengikuti audisi, mengingat anak-anak akan di tes seberapa banyak ia menguasai tari dari berbagai daerah, tehnik serta wirasa wirama dan wiraga nya.
"Baiklah anak-anak saat nya kakak akan mengumumkan siapa saja yang layak ikut dalam acara World Dance Day Solo. Disini kakak himbau yang tidak terpilih nanti jangan berkecil hati karena masih banyak kesempatan dan event-event lain nya, dan untuk yang ter pilih jangan besar kepala dan berbangga diri, kalian harus sama-sama terus berlatih agar nanti saat tampil hasilnya akan maksimal.. mengerti semuanya.?"
"Ngerti kak." Jawab anak-anak serempak dengan perasaan harap-harap cemas.
"Ok pertama Aluna Zakiya."
"Yeaaiiii." Teriak Luna dan Metha tanpa sadar.
"Tahan dulu uforia nya.. kakak sebutkan sampai selesai ya.. Metha.. Ghea.. Livia.. dan yang terakhir Kirana.. untuk putri mohon maaf posisi kamu di gantikan Ghea.. karena kamu sedang kurang sehat jadi nggak maksimal."
"Selamat buat kalian yang terpilih.. terus semangat ya." Ucapan selamat di sampaikan oleh kakak pelatih dan di akhiri dengan tepuk tangan.
"Yeaay kita bareng lagi ya Lun." Sorak Metha sambil berpelukan tak lupa senyum selalu menghiasi wajah mereka.
"Selamat ya sayang.. tapi ingat ya saat di sana.. harus yang sopan jaga sikap serta jangan cekikikan terus.. pola makan di jaga.. jangan jajan sembarangan.. ini.. itu.. bla.. bla." Pesan bunda Lea panjang lebar, biasalah yaa namanya juga orangtua pasti mengkhawatirkan anak nya, apalagi ini pergi jauh tanpa di dampingi sang bunda.
"Siap bunda.. doain aja Luna semoga lancar dan sukses di sana." Pinta Luna kepada Bunda nya.
"Nggak minta doa dari papa nih.?" Goda papa Zaki melirik ke arah Luna.
"Iiih ya minta doanya juga doong dari papa." Rajuk Luna seraya menyenderkan kepalanya di bahu papa Zaki.
"Hati-hati ya saat di sana.. jangan jauh-jauh dari Metha juga yang lain.. sholat jangan ditinggalin." Pesan papa Zaki buat putri kesayangannya.
"Iya pa.. bund Luna mau packing dulu ya pa.. dikit lagi lagi selesai.. tinggal alat mandi aja yng belum di masukkin ke dalam tas." Ucap Luna sambil berjalan menuju kamarnya.
"Ya udah nanti bunda cek lagi ya.. jaga-jaga ada yang kelupaan." Kata bunda Lea yang sedang membereskan makan malam mereka.
"Ohya pa.. besok Luna di antar papa atau di antar abang.?" Tanya bunda Lea ke suaminya. Yang di maksud bunda Lea abang adalah kakak nya Luna yang bernama Aleodra Zulfa Perdana. Leo saat ini sudah bekerja pada perusahaan media terbesar di Jakarta, juga di sibukkan sebagai ketua umum di organisasi pecinta alam.
"Kalo papa nggak lembur papa aja bund.. takutnya abang masih cape." Sahut papa Zaki.
"Iya pa.. kalo gitu bunda mau ceki-ceki barang Luna dulu ya pa.'' Ujar bunda Lea.
Persiapan untuk berangkat ke Solo pun sudah 100 persen matang, SC mengirimkan penari berbaik nya menuju acara World Dance Day Solo. Dari mulai kesiapan mental dari ke 5 anak yang terpilih, kostum, alat make up, transportasi serta akomodasi, perlengkapan pribadi yang harus di bawa semua sudah di periksa dan di ceklis oleh kakak pelatih, sedangkan owner SC hanya menerima laporan kalo semua nya sudah siap.
Selama 2 minggu berturut-turut Luna, Metha, Ghea, Kirana serta Livia dituntut untuk disiplin saat latihan, dalam kurun waktu 14 hari anak-anak harus sudah hafal dan menguasai materi tari serta tehniknya. Tak jarang mereka pulang sekolah langsung berlatih dan sampe rumah menjelang magrib.
Kenapa harus anak yang sudah SMP ke atas yang di pilih, karena mereka sudah mandiri tidak harus bergantung sama orang tua khusus nya pada sang mama dan yang terpenting mereka sudah bisa make up masing-masing.
Hari yang ditunggu pun tiba, mereka ber 5 di dampingi 2 pelatih, 1 PJ dan owner yang membawa serta keluarga nya telah sampai di lokasi mobil yang telah di siapkan oleh sanggar. masing-masing menyeret koper serta bawaan mereka lalu di masukkan ke dalam bagasi mobil, mereka menggunakan jasa travel yang berisi hanya 15 penumpang.
Perjalanan menuju Solo di tempuh dengan waktu selama kurang lebih 8 jam, sunguh lelah namun menyenangkan, mereka menikmati pemandangan yang segar mana kala mobil yang mereka tumpangi memasuki kota Solo, mata mereka di suguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata, gunung yang biru menjulang, hutan yang hijau menghampar bak permadani, udara sejuk menusuk hidung hingga ke tulang, belum lagi AC di mobil yang sangat dingin.
"Ayo anak-anak pakai jaket atau sweter nya.. udara mulai dingin.. jaga kesehatan." Titah ibu owner yang duduk di belakang pak sopir seraya sibuk memakaikan jaket anaknya juga suaminya yang berada di depan duduk di samping pak sopir.
Sesampainya di hotel mereka di sambut seorang greeter yang mempersilahkan rombongan dari sanggar SC menuju lobi hotel dan kemudian langsung sarapan, karena jam sudah menunjukkan pkl 8 pagi. Setelah sarapan mereka di antar menuju ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Keesokan harinya adalah jadwal penari dari sanggar SC untuk melakukan gladi resik, setelah itu mereka makan siang guna mengisi amunisi lalu istirahat lagi agar bisa tampil semaksimal mungkin.
Sumitro's homestay.
Zia sedang berada di dalam kamar Dodit untuk membahas projec baru yang di berikan oleh bang Troy yaitu pemotretan untuk iklan sampo. Dodit sebenarnya di daulat untuk menjadi panitia WDD tahun ini, karena banyak nya pekerjaan yang di berikan abangnya dan Dodit berusaha menolaknya, tapi setelah di paksa oleh teman-teman sesama panitia akhirnya dengan berat hati Dodit menerima tawaran itu.
"Gue udah nolak bro.. tapi mereka memaksa gue.. katanya gue cocok jadi seksi repot. jangkrik.!"
"Ya udalah men.. jalani aja.. kan cuma mantau-mantau doang kan.. emang acara apa sih.?" Tanya Zia yang memang belum tahu jika di kampusnya ada acara tahunan WDD.
"Acara Hari Tari Sedunia bro.. hampir tiap taon di adakan di sini." Jawab Dodit dengan mata tidak beralih dari laptopnya.
"Hari tari sedunia..?" Mendengar nama tari sejenak ingatan Zia membayangkan wajah Luna yang sedang menari dengan lincahnya.
"Iya kenapa bro.? kok lo tampang lo langsung b**o gitu sih." Oceh Dodit terkekeh.
"Nggak ada apa-apa." Geleng Zia datar.
"Lo ikut ya bro temenin gue.. banyak ciwi-ciwi kece juga banyak bule pastinya.. kite cuci mata disana." Ajak Dodit dengan muka konyol yang sedang membayangkan banyak cewek kece di sana.
"Otak lo isinya cewek mulu ya.. heran gue." Omel Zia terkekeh.
"Normal bro.. daripada lo katanya udah move on tapi giliran deket cewek mengkeret lo kayak timun laut.. wkwkkwkwk." Ledek Dodit
"Anjiim lo." Umpat Zia.
"Gimana kabar lalapan lo habro.? udah bales chat an lo.?" Tanya Dodit dengan muka serius.
"Udah dong meeen.. dia bales besokannya.. ni lo baca ndiri." Zia memberikan hapenya kepada Dodit.
"Tentu kak Zia.. sementara simpan saja selendang itu untuk Luna.. take care. smile n kiss." Baca Dodit.
"Cieeee take care smile n kiss.. paan tuh maksudnya.?" lo dah tembak doi bro.?" Tanya Dodit seraya mengembalikan handphone ke Zia.
"Nembak paan.. lo kira gue lagi berburu.? sembarangan lo." Seloroh Zia
"Yaaah anggap aja lo emang lagi berburu kan.. buruan jangan sampe keduluan gue. hahhaha." Kata Dodit sambil terbahak.
"Awas aja lo sampe berani-beraninya deketin dia." Ancam Zia serius.
"Yaaaak elaaah seirus amat muke lo.. gue kagak doyan daun muda Zi.. nggak enak masih polos.. ilmunya belum tinggi.. gue hobi nya yang udah mateng.. banyak ilmu nya." Lagi-lagi Dodit terbahak.
"Maksud lo emak-emak gitu.. gelay amat.!" Hina Zia.
"Ya nggak emak-emak juga keles.. minimal kayak tante Dinar lah adiknya pak Sumitro yang ngurusin homestay ini. hhaha." Kata Dodit percaya diri.
"Matre lo bangke.. tante Dinar mana mau sama lo yang kayak nasi bakar gosong." Hina Zia lagi.
"Eiitts jangan salah Zi.. yang gosong kan daunnya.. dalemnya eehmm.. enak rasanya di jamin ketagihan..wkwkwk." Kilah Dodit dengan muka kocak.
"Makin gila aja lo." Maki Zia.
Malam itu di habiskan Zia dan Dodit beradu argumen nggak jelas, dari membahas tugas kuliah, pekerjaan, cewek impian hingga becanda yang menimbulkan cacian satu sama lain dan sampai akhirnya mereka ketiduran.
Jam sudah menunjukkan pkl 4 pagi, nampak rombongan para penari yang menginap di hotel sudah di sibukkan dengan jadwal yang mereka terima untuk tampil di urutan ke berapa. Ribuan penari dari seluruh dunia akan tampil pada hari ini tak terkecuali dengan rombangan dari sanggar SC. Setelah menunaikan ibadah sholat Subuh Luna cs mulai memposisikan dirinya di tempat yang di rasa nyaman untuk make up dan memakai kostum, di awali dengan menguncir 1 rambut nya di atas kepala lalu di sambung dengan cemara panjang dan di sanggul satu. Setelahnya mereka harus memoles beberapa riasan di wajahnya diawali dengan memakai foundation hingga rata, membubuhkan bedak lalu membuat shading, melukis dan merangkai alis, memulaskan eye shadow serta blush on, menyematkan bulu mata dan terakhir memoleskan lisptik di atas bibir.
Setelah berdandan dengan cantik, mereka mulai memakai kostum serta asesoris masing-masing dan saling membantu untuk menyematkan peniti atau jatum pentulnya, kemudian memakai asesoris kepala hingga terlihat makin cantik dan sempurna. Tak lupa tiap-tiap anak membawa properti tari.
Mereka membawakan tarian jaipong dari Jawa Barat sesuai dengan daerah asal mereka. Kini tiba giliran dari sanggar SC tampil, yang sebelumnya di cek dan di periksa oleh kakak pelatih dan ibu sanggar, lalu mereka berdoa sejenak agar tampilan hari ini berjalan lancar dan tidak ada kendala apapun serta sukses di masa mendatang.
Di waktu yang sama namun berbeda tempat, suasana sangat ramai dan meriah, nampak banyak sekali kelompok gadis remaja berjalan dengan riasan muka yang cantik serta lengkap memakai kostum, tak sedikit juga penari pria, terdapat beberapa panggung yang di dirikan oleh panitia, di sisi barat kampus ada panggung kecil, di sisi utara juga ada panggung, di pendopo juga panggung pendek, di tengah taman kampus di didirikan panggung utama yang sangat besar. Selain para penari tampil di atas panggung mereka juga ada yang tampil di jalanan.
Terlihat 6 orang icon WDD yang akan siap menyebar dan membawakan tarian selama 24 jam nonstop, maksudnya..?
Mereka di daulat untuk menjadi icon WDD dengan menari selama 24 jam tidak boleh tanpa ter kecuali ketika sedang di kamar kecil pun tangan mereka harus terus menari, mereka berjalan sambil menari, duduk menari, makam menari, minum menari, berfoto menari, berbicara pun menari, pokoknya tidak boleh berhenti menari sesuai waktu yang di tentukan yaitu 24 jam. mereka terdiri dari sesepuh atau senior tari di kota Solo, mahasiswa ISI jurusan tari. Fisik yang kuat dan tangguh serta sehat di butuhkan bagi mereka yang terpilih sebagai Icon WDD 24 jam menari nonstop.
Stand-stand makanan serta minuman berjejer rapih, juga stand pakaian yang mendominasi halaman kampus ISI, para mahasiswa serta para pengrajin kota Solo pun turut andil dalam memeriahkan WDD, tidak hanya pengrajin dari tuan rumah saja, tetapi pengrajin dari kota Jogyakarta memamerkan serta menjual pernak-pernik khas Jogya hingga makanan khas nya, Pekalongan tak mau kalah ia memamerkan batik terbaiknya serta menjual beberapa hasil karya dari batik, Semarang dengan membanggakan wisata kulinernya dari mulai petis ikan, bandeng presto serta lumpia basah, dan masih banyak lagi.
Selain mengunjung WDD di suguhkan dengan tari-tarian serta parade yang menarik dan unik, pengunjung juga bisa berbelanja serta berwisata kuliner. Tak terkecuali Dodit yang gembul dan doyan makan, ia terlihat sudah beberapa kali mencicipi berbagai makanan yang ada. Dodit di temanin Zia yang mengekor di belakangnya. Zia hanya melihat-lihat saja stand yang ada di sana. Saat Dodit beberapa memesan makanan dan minuman, Zia hanya mencicipi saja, namun yang membayar pesanan Dodit adalah Zia. Dan satu yang nampak menyebalkan bagi Zia, Dodit selalu sibuk dengan handi talki di tangannya, sehingga peringantan Zia tentang pesanan makanan Dodit yang sudah melampui batas wajar tak di hiraukan.
"Bro Zi.. sorry neh.. gue lupa nggak bawa dompet.. ada dolang cuma yang nyangkut di celana aja neh. bayarin yee." Ucap Dodit seraya menaikkan alis sebelah dengan gaya nyebelin menurut Zia.
"Tenang men.. lo nikmatin aja semua.. palingan ntar gue tagih ke bang Troy.. rebes kan." Ledek Zia terkekeh dan merasa menang, karena Dodit sangat takut dengan abangnya yang satu itu.
"Yaa elah bro.. makan gue paling banter cuma 30 ribu sama minum." Kilah Dodit sambil membersihkan sisa-sisa makanan di mulutnya.
"Ya emang 30 ribu sekali makan tapi kan udah gue perhatiin lo udah berkali-kali pesen makanan.. setiap kedai makanan lo ampirin." Terang Zia dongkol.
"Hahahhaha masa iya.. gue nggak berasa bro." Dodit dengan muka sok nggak bersalah terkekeh.
"Serah lo dah.." Ucap Zia seraya mengibaskan tangannya di muka Dodit.
"Coba itung bro paan aja yang gue makan." Tanya Dodit bodoh akibat kekenyangan.
"Laah rajin amat gue ngitungin.. lo aja lo yang makan." Toyor Zia kesal, dan Dodit hanya terkekeh.
"Nah lo kenapa nggak ingetin gue sih bro." Kata Dodit sok polos.
"Gimana gue mau ngingetin.. kalo lo sok sibuk sama HT lo itu." Ujar Zia geram.
"Ya udah tenang bro jangan kuatir semua gue ganti." Ucap Dodit akhirnya.
"Let go bro kite keliling lagi.. noh di sana sambil liat nyang bening-bening." Ajak Dodi dengan menunjukkan jarinya ke arah panggung, Zia mengekor lagi di belakang Dodit.
Berdua berjalan menuju panggung, agak sulit berjalan memang karena pengunjung sangat padat, juga banyak penari yang lalu lalang untuk menikmati sajian di stand-stand atau hanya sekedar cuci mata saja. Akhirnya berdua sampai di dekat panggung, handi talkie di tanga Dodit tidak berhenti bersuara.
Zia mengucek matanya yang tidak gatal, matanya terus menatap intens para penari yang sedang beraksi di atas panggung, sepertinya wajah-wajah mereka tak asing lagi di mata Zia. Ada perasaan bergemuruh di hati Zia, entah itu apa dan kenapa.
"Men.. lo liat deh di atas panggung itu." Zia mencolek bahu Dodit, tapi Dodit tak mengindahkannya, dia sibuk denga HT nya.
"Dit.. coba lo liat penari itu.!" Tunjuk Zia kearah panggung.
"Iya keren ya narinya bagus.. musiknya juga enak buat pencak silat." Ucap Dodit tidak mengerti maksud Zia.
"Bukan itu maksud gue.. coba lo liat muka cewek-cewek yang narinya dong Dit.. aah lo." Kata Zia sebal, karena Dodit tidak paham maksudnya.
"Oh my gosh.! itu Luna bukan sih.?" Tanya Dodit terbelalak.
"Naah maksud gue itu.. nggak salah kan gue." Ada nada senang dari ucapan Zia.
"Sekarang lo harus pikirin apa yang harus lo perbuat bro." Saran Dodit.
"Tentu men gua nggak akan nyia-nyiain moment ini." Kata Zia seirus denga netra yang tajam terus menatap ke atas panggung.
"Luna itu Aluna ku.. kenapa dia tidak ngabarin gue ya.. apa dia nggak tau kalo gue kuliah di sini.. aaah bodoh gue kan nggak bilang ya.. cuma bilang ke Solo mau ngelanjutin kuliah." Desis Zia dengan mata tak lepas dari Luna yang menari di atas panggung.
"Cantik banget kalo dandan." Lirih Zia namun di dengar oleh Dodit.
"Lha nggak dandan juga cantik kan.!" Ledek Dodit.
"Awas lo macem-macem." Lagi-lagi Zia mengancam Dodit dengan bogeman tangan mengarah muka Dodit.
"Bentar men gue mau sesuatu buat mereka.. Luna khususnya." Pamit Zia dan langsung pergi meninggalkan Dodit dengan Ht nya.
Namun lagi-lagi sepasang netra yang tak senang mengintai dari kejauhan, dengan tatapan yang penuh dendam, sepasang netra itu ada di antar kerumunan pengunjung yang hadir.
"Ooooh rupanya mereka ikut acara ini juga ya.. apa sengaja dia ikut.. karena tau kalo Zia kuliah disini.. awas lo ya." Ancam sepasang netra itu, lalu kemudian pergi meninggalkan kerumunan di depan panggung.
"Alhamdulillah keren.. sukses yaa tuk semua.." Ucap kakak pelatih SC setelah muridnya turun dari panggung, lalu mereka bertos ria demi kesuksesan mereka di atas panggung.
"Iya kak makasih." Ucap Livia ngos-ngosan.
"Aduh kak deg-degan tad di atas panggung.. ngeri lupa gerakan." Kata Ghea antara panik dan lega.
"Iya aku juga sempet nervous tadi." Ujar Luna dengan tangan berkeringat.
"Tapi nyatanya sukses kok tuk penampilan kalian.. karena kalian tampil keren.. sekarang mamah traktir kulineran.. hayo pada mau makan apa.?" Ajak owner sanggar sangat puas melihat penampilan anak-anaknya.
"Kita foto-foto dulu sebentar habis itu langsung makan." Kata Pelatihnya,
"Yeeyyy asyikkk.. gue mau makan cumi bakar ah.. aku mau sate kuda.. gue mau makan gudeg.. gue pengen nasi kucing.. bla.. bla..bla." Rombongan sanggar SC sangat bahagia meski lelah.
Setelah seru berfoto-foto, mereka makan, lalu kembali lagi untuk berkeliling sekedar cuci mata atau mau berbelanja membeli souvenir buat oleh-oleh atau kaos yang bergambarkan WDD. Tanpa Luna sadari ada yang mengikuti nya dari belakang.
Bersambung
Happy Reading.. Kiss..