Solo..
Semburat cahaya pagi terpendar menembus tirai kamar Tasya. Ia menggeliat malas dengan mata yang di rasa masih sepat itu terpaksa menarik selimut lagi hingga menutup matanya agar tidak silau.
Hari ini ada makul Tata Artistik dan Estetika jam 9 pagi, Tasya melirik jam weker di atas nakas saat ini pukul 7 itu berarti masih bisa malas-malasan di tempat tidur toh masih ada 2 jam lagi, namun tak sesuai dengan ekspektasi nya, tiba-tiba mbok Sami datang dan mengetuk pintu kamar Tasya untuk mengantarkan sarapannya.
"Non Tasya.. buka pintunya non.. simbok di suruh tuan membawakan sarapan buat non." Teriak mbok Sami dari luar.
"Eeeghhh ngapain simbok mau aja di suruh-suruh.. tumben peduli." Gerutu Tasya malah menutup kedua telinganya dengan bantal. Tapi suara mbok Sami masih tetap terdengar.
"Non bangun sudah siang." Teriak mbok Sami lagi.
"Eegrrhh taruh aja di meja makan mbok..!!" Pekik Tasya geram.
"Baik Non.. tapi jangan lama-lama ya non.. bubur kalo dingin nggak enak." Ucap mbok Sami dengan sabar.
Setelah sampai di kampus, Tasya melihat mobil Zia sudah terparkir, artinya Zia sudah datang, Tasya mencari Zia ke tempatyang biasa buat nongkong tapi tidak di dapatinya di sana.
"Zia kok nggak keliatan sih.. tapi mobilnya ada tadi gue liat." Guman Tasya dengan mata mencari kesana-kemari. Karena tak di jumpai Zia akhirnya Tasya memutuskan untuk masuk ke kelas karena jam sudah menunjukkan pkl 8.45 menit, sebentar lagi kelas di mulai.
Sementara saat menunggu makul jam kedua Zia mendapatkan laporan dari dokter Bobby melalui pesan singkat, bahwa di dalam jus yang Zia minum terdapat kandungan obat pencuci perut dengan dosis tinggi dan telah diketahui nama obatnya yaitu Lactulax.
Saat Zia membaca laporan dari dokter Bobby bahwa Lactulac nama obat itu, seketika ia mengingat beberapa minggu ini yang lalu saat menjemput mamanya di apotik ia mendapati Tasya sedang membeli obat yang sama yaitu dengan jumlah yang banyak. Zia segera menemui Dodit di kantin setelah sebelumnya mengirim pesan singkat untuk menanyakan posisi Dodit saat ini. Dan Zia bolos tidak mengikuti makul berikutnya untuk yang pertama kalinya.
"Whats up bro Zi.!" Tanya Dodit sambil menikmati soto ayam nya.
"Nih men lo baca sendiri deh." Zia menyodorkan benda pipih ke Dodit agar dia baca pesan dari dokter Bobby. Tanpa di sadari Zia dan Dodit ada Tasya yang sedang jalan kearah mereka, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Zia memberitahu kan sesuatu lewat handphone.
"Zia ngasih liat apa ya ke Dodit.. kok serius gitu mukanya.. dih serem amat tuh muka." Kata Tasya dalam hati seraya berjalan mindik-mindik lalu duduk di bangku kosong tak jauh dari Zia dan Dodit duduk, muka Tasya di halangi oleh buku menu, seolah sedang memilih makanan.
"Wah gokil.. kira-kira siapa sih yang niat jahatin Luna.?" Dodit mengembalikan benda pipih itu ke Zia. Dan Zia hanya mengangkat bahunya dengan bibir bulan sabit.
"Lo udah hubungin satpam sekolah supaya ngecek CCTV nya.?" Tanya Dodit antusias.
"Waduh bahaya nih.! kenapa gue nggak keingetan ada CCTV ya.. b**o banget gue." Rutuk Tasya dalam hati. Sembari hati deg-degan Tasya pasang kuping baik-baik, agar nyimak dengan jelas obrolan Zia sama Dodit.
"Udah men.. gue minta tolong mang Soleh.. tapi CCTV nya di matiin."
"Lha kok CCTV bisa di matiin sih.?"
"Emang biasanya seperti itu.. kalo murid-murid udah pada pulang CCTV di periksa sebentar lalu di matiin.. nah pas malemnya di nyalain lagi.. tapi satpam nya kelupaan nyalain.. padahal sore sampe malem ada kegiatan shooting kan." Ucap Zia dengan nada pasrah.
"Hahaha lega dengernya.. untung CCTV nya meot." Tasya merasa menang lagi kali ini karena misi jahatnya aman, meskipun belum berhasil menyakiti Luna.
"Yaaah kita kehilangan jejak dong bro." Ujar Dodit lemas.
"Yaa gitu deh men." Zia masih terpekur seraya membaca ulang informasi dari dokter Bobby.
"Terus dokter Bobby itu siapa bro.?" Curiga Dodit.
"Itu temen gue men." Jawab Zia ngasal.
"Hebat lo bisa punya kenalan seorang dokter."
"Eeng anu men.. tetangga gue di Jakarta." Dusta Zia, karena sampai sekarang Dodit belum tahu siap diri Zia sebenarnya.
"Oh ya men lo liat ini." Zia mengeluarkan benda panjang berwarna merah, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Apaan ini.? Hah selendang.?" Dodit kaget saat memegang benda yang di berikan Zia.
"Yoi lo liat ujungnya ada apaan." Tunjuk Zia bangga.
"Apaan nih AZP.?" Dodit terperangah.
"Hahaha itu inisial Luna men.. Aluna Zakiya Pramitha." Zia terkekeh lalu kemudian membayangkan wajah Luna yang ayu sedang menari dengan luwesnya serta wajah yang di hiasi dengan senyumannya yang manis. Diam-diam Zia selalu memuji Luna, Luna yang berbeda dari yang lainnya.
"Luna.. akulah pemuja rahasiamu.. aku kangen melihat wajahmu." Batin Zia dengan senyum-senyum sendiri.
"Wait bro.. jangan bilang kalo lo nyolong selendang Luna pas dia lagi mandi.?" Tuduh Dodit dengan menepuk pundak Zia.
"Plak..! Bodoh..!" Zia memukul jidat Dodit yang lebar.
"Lo pikir gue Joko Tarub yang nyolong selendang Nawangwulan." Lanjut Zia.
"Hahahaha ya kali gitu pas daun muda lagi mandi lo mindik-mindik ngumpetin selendang nya." Tuduh Dodit konyol dan setelah itu terbahak.
"Otak lo tuh perlu di mandiin biar nggak kotor." Ucap Zia dongkol.
"Terus lo dapet selendang itu dari mana.?"
"Gue nemu di bawah jendela men.. noh saksinya si Bona.. sompret lo." Seloroh Zia sesekali menyesap lemon tea nya.
"Nah terus lo mau apain tuh selendang sampe lo bawa-bawa segala.. kenapa nggak di balikkin hah.! " Heran Dodit.
"Gue lupa men." Zia ber alasan.
"Halaah pura-pura ngelupa kali lo.. apa lo mau ngajar nari kayak si Dion peran lo itu..?" Dodit tergelak.
"Ngaco lo.. ya kagak lah.. buat kenangan gue men.." Ucap Zia dengan wajah berseri.
"Ok men kembali ke topik nih.. andai aja nggak buru-buru balik ke Solo, gue bakal selidikin sendiri soal orang yang niat jahatin Luna."
"Yaaaa pastinya gue juga akan bantu lo bro."
Saat Zia berniat memanggil pelayan, mata Zia menemukan Tasya yang sedang duduk sendiri dengan mata menatap kearahnya. Zia mencolek tangan Dodit memberi isyarat bahwa ada Tasya di sana.
"Men kita lanjutin bahas ini di rumah aja ya.. ada Tasya tuh." Zia menunjuk dengan ujung netranya.
"Asiyaaaap bro.. woles." Dodit paham akan maksud Zia.
Tasya yang menguping pembicaraan antara Zia dan Dodit merasa sedikit lega pasalnya tidak ada yang mengetahui aksi jahatnya, namun itu tak berlangsung lama, karena tetiba obrolan mereka beralih haluan membahas Luna, dan itu membuat sakit hati Tasya.
"Ngapain mereka ngomongin si anak kampung itu.. udah beda pulo keles.. hah.! itu kan selendang nari.. ngapain anak kampung itu ngasih Zia selendang.? buat apaan coba.?" Oceh Tasya sebal. Lalu Tasya beranjak dari duduknya menghampiri Zia dan Dodit.
"Hai guys gabung ya." Tasya langsung duduk tanpa mendapat persetujuan dari Zia dan Dodit, seolah tak terjadi apa-apa, padahal Tasya dari tadi menyimak obrolan mereka.
"Hai Sya.. gabung dah." Sahut Dodit. Sedangkan Zia hanya diam saja tak menjawab sedikit pun.
Dengan gayanya yang manja dan jutek Tasya menyibakkan rambutnya yang sebahu ketika tertiup angin, Zia masih asyik dengan otaknya yang terus memikirkan laporan dari dokter Bobby, Dodit masih seru dengan soto ayamnya serta teh manis hangatnya.
"Zi mikirin apaan sih serius banget.?" Tanya Tasya manja seraya memanggil pelayan kantin.
"Biasa Sya ada tugas dari dosen." Sahut Zia berbohong dan malas.
"Ooh."
"Iya kak mau pesan apa.?" Pelayan sudah berdiri di dekat Tasya.
"Pesan spageti saus tuna dan lemon hangat ya." Kata Tasya sembari menunjuk buku menu.
"Siap mbak.. tunggu sebentar ya." Ucap pelayan.
Sepeninggal pelayan tadi suasana mendadak sepi, Zia yang cuek dengan kehadiran Tasya membuat Tasya merasa di acuhkan. Namun Tasya masih harus menahan kesabarannya menghadapi Zia yang dingin.
Zia sedang berpikir apakah lebih baik langsung bertanya kepada Tasya atau diam saja, Zia masih kepikiran tentang buat apa Tasya membeli obat pencuci perut sebanyak itu. Memang tidak ada bukti yang menunjukkan jika Tasya yang berbuat. Tapi jika mengingat kejadian saat Zia sakit perut, di situ sikap Tasya menuduh Luna dengan rona wajah penuh kebencian, lantas apa alasannya hingga Tasya membenci Luna ?.
"Zi.. hangout yuk ah.. bosen kerja n belajar mulu sekali-kali lah kita jalan." Ajak Tasya memecah keheningan.
"Nah cucok tu Sya.. mall yuk.! itung-itung kita refreshing setelah lelah shooting di jakarta kemaren." Cetus Dodit ngasal.
"Iiih masa mall sih.! pantai lah.. biar ganti suasana." Tasya memberikan ide.
"Hoheh lah ke hantai." Kata Dodit dengan mulut mengunyah.
"Yuk Zi.. lo bisanya kapan.?" Tanya Tasya membuyarkan konsentrasi Zia yang memelototi hapenya terus.
"Hah paan..?" Zia terperangah karena memang tadi tidak begitu mendengarka Tasya dan Dodit ngobrol.
"Iiiih Zia tuh begitu kan.. suka asyik sendiri." rajuk Tasya.
"Kita ke pantai yuk refreshing.. ngilangin penat selama shooting di jakarta Zi." Jelas Tasya.
"Kapan.?"
"Ya lo bisanya kapan."
"Gue.? jangan tanya gue deh.! soalnya gue juga nggak kapan bisanya.. jadwal gue padet Sya.. baru gue terima pesan dari bang Troy.. ada pemotretan buat cover majalah minggu depan." Ucap Zia seraya menggoyangkan hapenya bahwa ia telah menerima pesan dari bang Troy.
"Yaaa Zi sekali-kali lah kita pergi bareng-bareng kayak dulu sebelum kita di sibukkan sama kerjaan kita." Ujar Tasya mencebik. Ya memang dulu sebelum memiliki jadwal yang padat karena banyaknya job shooting film dan bintang iklan, mereka bertiga tak jarang menghabiskan waktu bersama, Tasya yang jutek, manja dan perfeksionis selalu mengingatkan akan jadwal Zia, kadang hal sekecil apapun Tasya selalu berusaha untuk baik dan perhatian di depan Zia. Bahkan hanya sekedar mengambilkan air minum atau makanan kecil untuk Zia dan Dodit.
Namun Zia yang dulu dan Zia yang sekarang sudah berbeda bukan karena sekarang sudah mulai terkenal, tapi lebih mencoba untuk tidak terlalu dekat dengan Tasya, meskipun Zia tidak peka terhadap perasaan Tasya tapi perhatian yang Tasya berikan kepadanya itu terlalu berlebihan, Zia seperti menangkap sinyal bahwa Tasya makin hari makin memiliki sifat yang posesif terhadap dirinya.
Obrolan di kampus siang itu menggantung tak jelas, jadi refresing atau tidak, baik Zia atau Dodit belum mengambil keputusan bisa atau tidak untuk pergi ke pantai.
*
*
*
Minggu ini adalah Minggu tenang bagi Tasya karena tidak ada jadwal shooting atau pemotretan, hingga ia bisa bermalas-malasan di kamarnya, kadang ia bisa menghabiskan waktu berhari-hari di dalam kamarnya tanpa keluar walau sebentar. Tasya yang tinggal bertiga saja dengan papi nya juga mbok Sami selalu merasa kesepian, walaupun semua keinginannya terpenuhi tapi tetap saja ada yang kurang dan hilang dlaam hidupnya, Tasya tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu, karena sejak SMP, maminya Tasya sudah menghadap lebih dulu ke Tuhan oleh sakit kanker yang di deritanya, sebenarnya bukan murni karena kanker saja maminya meninggal, tapi di tambah dari perbuatan papinya yang gemar berselingkuh yang mengakibatkan sakit maminya bertambah parah, maminya selalu memikirkan sang suami yang selalu bergonta-ganti pasangan, dan itu di lakukan sejak Tasya masih SD.
Tasya yang notabene anak tunggal sangat shock dengan meninggalnya sang mami, dan kala itu Tasya sudah memahami bagaimana rasa sakit hati maminya akibat perbuatan papinya, Tasya sering memergoki papinya membawa perempuan lain ke kantor ke rumah mana kala maminya di rumah sakit. Tasya sangat membenci papinya serta wanitanya itu. Akibatnya Tasya tumbuh menjadi anak yang introvert hampir 7 tahun lamanya, ketika remaja Tasya bergaul dengan kalangan yang selevel dengan orang tuanya, di situlah Tasya berubah sikap menjadi anak perfeksionis, ia selalu mencari kepuasan serta kesempurnaan dalam dirinya. Tidak boleh ada yang mengalahkan penampilannya, selain kaya dan cantik, Tasya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, mungkin bisa di katakan sempurna. Namun Tasya selalu merasa dirinya kurang cantik, hingga hari-harinya di habiskan untuk pergi belanja, ke salon dan hura-hura, semua dilakukan hanya untuk mencari kesenangan semata serta membunuh rasa sepinya ketika di rumah. Dia tidak ingin mengalami nasib seperti maminya yang tidak pernah menikmati hidup bebas walapun bergelimang harta, maminya adalah wanita yang setia, yang hanya menunggu suaminya di rumah tanpa mau tau apa yang di lakukan suaminya di luar rumah, pada akhirnya sang mami kecolongan dan menahan semua rasa sakit hatinya yang berbuah penyakit kanker bersarang di tubuhnya. Tasya pun menikmati hidupnya sebagai foto model, ia sering di daulat maju oleh gurunya untuk mengikuti ajang-ajang kecantikan demi mendapatkan nama baik sekolah serta menjadi sekolah yang populer.
Tasya selalu ribut dengan papinya, ia selalu menentang nasehat serta kemauan sang papi, setiap hari Tasya harus melihat pemandangan yang membuat nya ingin mengakhiri hidup dan menyusul maminya, tapi masih ada mbok Sami yang sayang dan memberikan perhatian penuh kepada Tasya. Jiwa Tasya makin hari semakin terguncang dengan keadaan yang menurutnya sangat melelahkan. Di luar sana teman-teman Tasya hanya memanfaatkan isi kantong nya saja, hura-hura dan bersenang-senang terus setiap malam.
Dalam hidup akan ada masa dimana kita di pertemukan dengan yang namanya titik jenuh di mana kita tidak bisa menikmati lagi apa itu kesenangan, keihklasan, bergaul, uang, harta, dan semua fasilitas yang di ada. Disinilah Tasya tak mampu menopang beban berat ujian ketika papinya tersangkut kasus penganiayaan terhadap pasangannya yang ketauan selingkuh, papinya di jebloskan ke penjara dengan membayar uang tuntutan sebesar 1Milyar, karena yang di aniaya papinya dalah seorang aparat negara. Akhirnya semua orang berpaling darinya dan meninggalkannya, jiwanya tergoncang, ia tidak terima dengan semua perlakuan teman-teman dan orang terdekat nya, Tasya menderita depresi berat.
Namun masih ada orang yang sangat menyanyangi Tasya yaitu mbok Sami, keluarga mbok Sami menerima, mengurus dan merawat Tasya hingga benar-benar pulih, Tasya sudah di anggap sebagai bagian dari keluarganya, mengingat mami Tasya sangat baik kepada keluarga mbok Sami. Akhirnya Tasya benar-benar sehat kembali dan bisa menjalani kehidupan normal seperti dulu lagi.
Setelah papinya bebas, kehidupan Tasya kembali normal, akan tetapi Tasya masih belum bisa memaafkan papinya, namun ada satu hal yang di rahasiakan dan di jaga oleh keluarga mbok Sami tentang Tasya selama ini.
Sejak Tasya kuliah dan mengenal Dodit serta Zia, ia seperti menemukan kehidupannya kembali, baik Zia ataupun Dodit tidak pernah memanfaatkan kekayaan serta kecantikan Tasya, mereka berdua biasa-biasa saja. Di situlah Tasya merasa nyaman sampai akhirnya ia mengikuti casting yang di tawarkan Dodit.
Semakin dekat dengan Zia semakin dalam pula perasaan Tasya ke Zia, tapi Tasya tak berani mengungkapkan perasaannya, semakin lama di pendam semakin sakit yang Tasya rasakan, akan tetapi jika mengingat rasa sakit hati sang mami terhadap papinya, Tasya semakin tak berani untuk mengakui nya, akhirnya ia hanya menjadi pemuja rahasia terhadap diri Zia, terbukti banyak foto-foto Zia di dalam kamar Tasya.
"Zi gue sayang sama lo.. gue cinta.. kenapa lo nggak peka-peka sih.? kenapa lo nggak sadar selama ini gue sangat perhatian sama lo, gue kagum sama lo Zi.. dari dulu sampe sekarang.. gue pemuja rahasia lo.. gue nggak rela lo perhatian sama orang lain.. sedangkan yang perhatian sama lo--gue.. gue Tasya.. nggak ada yang lain." Ucap Tasya bermonolog dan putus asa, foto yang ada di tangannya di remas-remas hingga hancur lalu di ciuminya foto itu.
Tasya menangis sambil tertawa merutuki dirinya sendiri yang larut dalam kesedihan, atas cinta nya tak berujung, atas dirinya yang terlalu memuja, atas perasaannya yang selalu merindu.
Zia gue sayang sama lo.. gue cinta.. kenapa lo nggak peka-peka sih.? kenapa lo nggak sadar selama ini gue sangat perhatian sama lo, gue kagum sama lo, dari dulu sampe sekarang.. gue pemuja rahasia lo Zi.. gue nggak rela lo perhatian sama orang lain.. sedang yang perhatian sama lo gue.. gue Tasya.. nggak ada yang lain." Putus asa.