Keberangkatan Zia kembali ke Solo membuat penghuni rumah Kemang merasa sedih. Pasalnya mereka sudah merasakan kehangatan seperti dulu, berkumpul bersama saat sarapan pagi, makan malam serta menghabiskan waktu saat weekend tiba. Pagi ini seluruh pekerjaan seni yang selama 2 minggu terlibat shooting harus kembali ke Solo, karena pekerjaan mereka telah usai. Zia, Dodit serta Tasya harus kembali kuliah, namun perjalanan mereka ke Solo menggunakan jasa penerbangan yang berbeda. Zia di antar oleh Zizi dan mamanya serta pak Sakir tentunya, karena pak Sakir lah yang mengemudikan mobil menuju bandara.
"Yaaah nggak ada yang ngejemput mama lagi deh." Rengek mama Bella.
"Doakan Zia dong ma.. Zia kan di sana kuliah." Rajuk Zia seraya merangkul dan mencium pipi mamanya.
"Iya pasti mama doain.. tapi mama tetep aja kesepian kalo nggak ada kamu.. baru ngerasain seperti dulu eeeh udah berakhir aja." Mama Bella masih merengek sambil memeluk Zia erat.
"Kan ada kak Zizi." Zia melirik kakaknya yang sedang sibuk dengan telepon seluler nya.
"Ya beda dong Zi.. kan anak mama cuma 2 kalo nggak ada 1 ya pasti sepi.. lagian kakak mu sekarang super sibuk.. giliran weekend tiba dia juga sibuk sama pacarnya." Mama Bella menyikut pelan lengan Zizi, namun Zizi hanya tersenyum sekilas saja.
"Kak.. jangan main hape terus dong.. ke bandara mau main hape apa nganter Zia sih.?" Kali ini Zia yang merengek ke kakaknya.
"Iya iya.. sekarang adik kakak yang dulu kayak es batu sekarang udah mulai hangat dan bisa protes ya. Heh." Zizi meng off kan hape lalu duduk di samping adiknya.
"Dek jaga diri di sana ya.. hati-hati dengan pergaulan kamu jangan sampai kebablasan.. kalo kamu kenapa-napa bukan hanya nama kamu yang jelek tapi semua jajaran kita ikut jelek.. paham dek.?" Nasihat Zizi kepada Zia seraya mengacak rambut Zia yang gondrong.
"Siap pak dokter." Jawab Zia singkat sambil mengurai senyum. Mama Bella begitu bahagia melihat kedua anaknya sangat akrab dan saling menyayangi.
"Lagipula sekarang Zia di sana bukan hanya kuliah.. bisa di katakan kerja juga.. mantau kerjaan yang setiap hari di kirim oleh om Ageng.. belum lagi bli Nyoman yang seminggu sekali minta laporan dari Zia.. Eenngg.." Zia menjeda ucapannya.
"Belum lagi sekarang kan ada kerjaan tambahan jadi artis.. shooting sana sini.. jepret sana sini iya kaaan.?" Goda Zizi dengan menautkan satu alisnya.
"Yaap itu satu nya lagi." Zia terkekeh saat mama Bella menepuk pipinya.
"Zia akan selalu inget pesan kakak." Lanjut Zia.
"Dan ingat pesan papa juga ya Zi." Kata mama Bella mengingat kan, secara tadi pagi saat mereka sarapan bersama. Papa Ardi pesan bahwa jangan sampai menomor dua kan kuliah, belajar harus tetap nomor 1, pekerjaan nomor 2 dan terakhir nomor 3 profesi baru nya yaitu sebagai artis. Jika point pertama sampai gagal dan molor karena padatnya jadwal shooting dan show, maka papa Ardi tidak segan-segan akan mencoret nama Zia dari daftar penerima warisan. Dengan wajah tenang dan serius papa nya berkata..
"Semua jatah kamu akan papa berikan ke yayasan tanpa terkecuali." Begitulah pesan papa Ardi yang membuat istri serta kedua anaknya ngeri ketika mendengar pesan darinya.
Tibalah saat untuk berpisah Zia memeluk mama serta kakaknya dengan erat, berkali-kali mama Bella mencium pipi Zia.
"Hati-hati ya Zi.. kabarin mama jika sudah sampai." Pesan mama Bella dengan mata berkaca-kaca.
"Save flight bro.!" Ucap Zidni dengan memeluk erat Zia.
"Thanks brother." Jawab Zia membalas pelukan yang tak kalah erat.
Zia memasang kacamata hitamnya lalu menarik koper seraya melambaikan tangannya. Ada perasaan haru yang mendalam yang di rasakan Zia, bukan hanya berpisah kembali dengan keluarga nya namun berpisah pula dengan Luna nya gadis penari yang kerab menari-nari di pelupuk mata serta pikiran nya.
Semalam Zia menelpon Luna namun handphone nya tidak aktif, akhirnya Zia hanya pamitan melalui pesan singkat.
"Luna.. saya akan kembali ke Solo untuk melanjutkan kuliah.. jaga diri kamu baik-baik.. sukses untuk nari kamu.. dan jangan lupakan saya ya." Tertanda "Zildjian Ganesha Paramayoga" Emot smile n kiss.
Oh ya selain kirim kata-kata Zia juga mengirimkan foto-foto saat acara ramah tamah dan perpisahan, juga foto selendang Luna yang ditemukan Zia, dia menceritakan kalo telah imenemukan selendang di luar jendela ruang ganti yang tertulis AZP di ujung nya, dan Zia yakin kalo itu insial nama Luna, dan sekarang di ujung selendang itu sudah ada tanda tangan serta inisial nama Zia pula yaitu ZGPD.
"Haaaah bomatlah gue nulis jangan lupakan saya ya.. emang gue siapanya dia.. terus gue kasih emot kiss segala.. Hhaha. untung cuma lewat tulisan.. coba kalo ketemu belum tentu gue seberani itu." Kata Zia dalam hati dan senyum-senyum seraya melangkahkan kaki nya menaiki pesawat yang akan membawanya terbang ke Solo.
*
*
*
*
Pertama kali melihat wajah Zia di layar kaca, netranya terbelalak serta membuat hati Monik mencelos, ada yang hilang, ada yang sakit di hatinya, Monik tak percaya di buatnya, sampai akhirnya Monik menelpon Susan untuk meminta bantuan agar Susan memastikan bahwa yang di iklan itu Zia atau bukan.
Tuuut.. Tuuut. Tuuut..
"Ayo dong San.. angkat telpon gue please." Kesal Monik nggak sabaran seraya mondar-mandir di kamarnya.
Tuuut.. Tuuut. Tuuut.
"Halo Mo.. Ken.." Sapaan Susan dipotong oleh Monik.
"Eh San lo lama banget sih ngangkat telepon nya.!" Potong Monik sewot.
"Emangnya ada apa Montook.. Gue lagi creambath di salon."
"What..!! Kok lo nggak ngajak-ngajak siih.. Gue juga kan pengen creambath San." Seloroh Monik manja.
"Gue di ajak nyokap Montoook.! Emang ada paan sih.?"
"Lo liat tivi deh sekarang.. Ada Zia di sana.. Tapi bener dia apa bukan.. Gue masih sangsi.. Terus wajah mirip Zia juga ada di iklan s**u pria dewasa.. Itu tuh mirip banget sama Zia.. San."
"Gue masih di salon cayaaang.. Nanti gue liat ya kalo udah selesai."
"Ya udah deh.. Buruan kabarin gue ya.. secepatnya please.. Klik." Sambungan telepon di putus sepihak oleh Monik. Susan hanya geleng-geleng kepala saja.
Tanpa berpikir panjang Monik langsung naik ke group K2 (akronim dari Kece dan Keren) yang beranggotakan Monik, Dhea, Nara, Susan, Donny, Rey. Kenapa group mereka di namakan "kece dan keren", karena ke 6 anggota nya semua cantik dan ganteng juga dari kalangan jetzet semua, tentunya orang tua mereka. Monik memulai obrolan lebih dulu.
Monik : "Hai gaeezz.. Kok group sepi banget sih..!" (Emot mata)
Tak lama Anna langsung On.
Anna : "Hai juga Mon.." (Emot tangan)
Monik : "Hai An.. Mana nih yang laen..?"
Anna : "Kayaknya udah pada bocan n bogan kali ya Mon.." (Emot ketawa)
Monik : "Ya amplop masih sore keles."
Tak lama Rey sedang On dan terlihat sedang typing.
Rey : "Hai nona manizzzz.. Jam segini masih On aja."
Monik : "Hai Rey.. Belum bogan lo.?"
Rey : "Ya belum lah Mon.. Kan gue lagi On." (Emot ketawa)
Anna : "Emot ngakak"
Monik : "Emot menjulurlan lidah"
Nara bergabung dan sedang typing.
Nara : "Hai muaaa.. Gi pain..? Ada berita apa neeeh..?"
Monik : "Ada hot news Nar."
Anna : "Paan tuh Mon..?"
Rey : "Aaah palingan berita tentang dosen gomoz lo itu kan Mon.. Bosen gue." (Emot ngakak dan tangan sedang mengatup)
Monik : "iiih sotoy lo Rey.. Ini bukan pak Thom.. Tapi lebih dari sekedar pak Thom."
Nara : "Sapose" Mon.?"
Monik : "Tapi gue nunggu Susan, Dhea sama Donny gabung dulu.. Biar sekalian gue nyampeinnya.. Dan pasti kalian nggak percaya apa yang bakal gue sampein nanti."
Anna : "Yaaah Mon.. Lo bikin penasaran aja dah."
Rey : "Sekarang aja Mon.. Mereka nggak bakal On.. Udah molor tau."
Nara : "Iya Mon.. Begitu mereka On juga nanti pasti baca.. Dah sekarang aja lo cerita ke kita-kita."
Monik : "iiish lo nggak sabaran banget sih."
Rey : "Emot ketawa"
Monik : "ini tentang Zia.!"
Anna : "Zia..?"
Nara : "Emang kenapa Zia Mon.?"
Rey : "Zia..?"
Monik : "iya Zia.!" (Emot sedih)
Monik : "Gue sih nggak tau itu Zia apa bukan.. Yang pasti mirip banget sama Zia.."
Rey : "Lo ketemu di mana Mon.?"
Monik : "Gue nggak ketemu Rey.. Gue liat di tivi.. Dia main di FTV.. Dia juga jadi bintang iklan s**u pria dewasa."
Nara : "Maksud lo sekarang Zia jadi artis Mon.?"
Monik : "Ya gue nggak tau Nar.. Belum yakin juga itu Zia apa bukan."
Rey : "Tapi gue belum pernah liat Mon."
Monik : "Baru hari ini kayak nya sih."
Anna : "Coba aja lo searching Mon."
Monik : "Gue udah cari Nar.. Kan lo tau dari dulu dia nggak main sosmed.. Dan dia emang anti sosmed."
Rey : "itu kan dulu Mon.. Kali aja sekarang dia punya sosmed."
Monik : "Gue udah cari Rey.. Tapi nggak ada." (Emot nangis)
Anna : "Gini aja Mon.. Besok kita ketemuan di cafe biasa kita nongki.. Sekarang lo tenang dulu Mon."
Rey : "Ya udah lo ciwi-ciwi pada molor dah sana.. Gue mau pantengin nih tivi.. Siapa tau ada iklannya."
Monik : "iya Rey."
Rey : "Emang itu di tivi apa Mon.. Nanti gue liat di tivi On Demand."
Monik : "Di tivi swasta Rey.."
Nara : "Mon mata gue juga udah sepet nih.. Lanjut besok ya."
Monik : "Ok.. Bye All." (Emot cium)
Akhirnya mereka mengakhiri chat di grup, Monik masih mengutak-atik hape nya, mata nya belum bisa terpejam, angan nya menerawang jauh teringat akan masa-masa indah bersama Zia. Namun Monik sadar semua karena kesalahan nya, mau menyesal pun sudah terlambat, Zia telah menjauh pergi, dan nggak mungkin bisa kembali lagi, Zia merasa terluka oleh pengkhianatan Monik, niatan Monik hanya main-main saja bersama sang dosen demi mendapatkan nilai tinggi, akan tetapi tertangkap tangan oleh Zia, dan pak Thomas, dia menganggap serius dan tak ingin melepaskan Monik begitu saja. Pak Thomas sudah terlanjur jatuh hati terhadap Monik, perlakuan pak Thomas tak di ragukan lagi, dia begitu romantis, sering memberikan kejutan untuk Monik bahkan teman-teman Monik, tak jarang geng K2 nya di ajak hangout bareng, dari sisi romantis nya pak Thomas pasti ada jeleknya yaitu pencemburu berat, iyaaah dosen yang usia nya terpaut 10thn dengan Monik itu terlalu posesif. Secara menurut Susan pak Thomas itu bujang lapuk sehingga nggak akan menyia-nyiakan waktunya ketika Monik melakukan pendekatan hanya untuk memanfaatkan posisinya sebagai dosen. Haha Monik kena batunya.
Seperti waktu Monik baru saja putus dengan Zia, pak Thomas selalu berusaha menghibur Monik, dia selalu memberi kejutan hampir setiap hari, entah itu bunga, kue tart, coklat bahkan hadiah berupa barang seperti boneka, tas, sepatu, baju, parfum dan masih banyak lagi, setiap weekend pak Thomas selalu menjemput Monik pagi-pagi sekali untuk di ajak pergi ke pantai atau ke tempat-tempat wisata yang sedang viral dan instagramable. Monik sedikit terhibur dengan kejutan yang di berikan oleh dosennya itu, namun tetap saja hati kecil Monik selalu ingat akan Zia.
Zia yang penyabar dan kalem membuat Monik selalu saja menyalahkan dirinya sendiri dan juga menyalahkan pak Thomas atas putusnya hubungan mereka.
Pak Thomas yang romantis nya kebangetan itu mulai berani menyatakan perasaan nya selama ini ke Monik.
Jam di tangan Monik menunjukkan pukul enam lewat lima puluh menit, itu artinya waktu yang tersisa hanya sepuluh menit saja. Ceplak.. Ceplek.. Ceplak.. Ceplek.. Suara sepatu memenuhi koridor kampus yang sepi. Hati Monik berdebar hebat mana kala pak Thomas si dosen gemes itu meminta dirinya untuk menemui di kampus jam tujuh malam.
Sebelum berangkat ke kampus, Monik sedang hangout di waroeng steak bersama Susan dan Dhea.
"Gilak aja jam segitu kan kampus sepi nek.. Gue takut.." Ucap Monik cemberut.
"Lagian ngapain tuh si dosen gemes minta lo dateng jam tujuh malem.. Mana di suruh dateng sendirian." Susan mencak-mencak karena nggak boleh ikut menemani Monik.
Monik mengedikkan bahunya, lalu memotong daging steak kemudian di masukkan ke dalam mulut nya.
"Lo harus jawab dengan jujur pertanyaan gue Mon.. Sejauh mana hubungan lo sama si dosen gemes itu.. Lo bilang hanya sekedar iseng doangan.. hah Mon..?" Selidik Susan dengan tatapan tajamnya menusuk netra Monik. Monik memutar bola mata nya, ia terlihat gugup dengan menggigit-gigit sedotan
"Mon.. Jawab tuh pertanyaan Susan." Dhea berhasil merebut sedotan dari tangan Monik dengan sebal. Biar bagaimanapun juga Dhea penasaran dengan sahabat nya yang satu ini.
"Iiiih apaan si lo Dhe." Monik memberengut mencebikkan bibir nya.
"Yaaaa gue sich ga terlalu jauh jugaaaa.. Cumaaa." Monik menghentikan ucapannya.
"Cuma apa..? Nah terus kenapa si dosen yang menurut lo gemes-genit mesra itu seenak udel nya nyuruh-nyuruh lo nemuin gini hari di kampus..?" Susan nggak sabaran menunggu jawaban Monik yang lama itu.
"Gue udah pernah chek inn tapi nggak ngapa-ngapain cuma close up." Cicit Monik dengan tampang innocent.
"Ow em ji.. Montook..!" Susan melotot.
"Plak..!" Susan menepuk jidat nya sendiri.
"Ciuuzz Mon.. Gimana rasanya.. Eheem sama pak Thom yang ganteng ituh.?" Ucap Dhea seraya menyatukan kedua telunjuk nya saat berkata Eheem dengan wajah yang ngeselin bagi Susan.
"Apaan sih Dhe.. Nggak usah nanya gitu kali..!" Hardik Susan seraya menampik kedua telunjuk Dhea yang menyatu. Dhea terkejut dan langsung membekap mulutnya sendiri sambil menahan tawa.
''I iya.. Lo berdua nggak usah kaget kayak gitu dech.. Lebaaayy.. Gu.. gue nggak ngapa-ngapain kok.. Nggak sejauh yang lo pada pikirin sistaaa.." Monik mencoba membuang piktor tentang dirinya dari kedua temannya ini.
"San.. Udah jam setengah tujuh nich.. Gue harus segera nemuin pak Thom.. Kalo telat gue bissaaa." Monik terdiam tiba-tiba, kebiasaan baru Monik yang suka nggak menyelesaikan ucapan nya dan meremas benda pipih yang ada di tangannya.
"Bisa apa Mon..?" Selidik Dhea lagi-lagi penasaran di buatnya.
"Bisa-bisa gue kena hukuman Dhe." Cicit Monik nyaris tak terdengar, dengan tangan semakin erat meremas handphone nya.
"Ya udah yuk kita jalan sekarang.. Lo nanti hati-hati ya Mon.. Gue tunggu di mobil.. Kalo ada apa-apa lo segera hubungi kita.. Oke.!" Tiga mahasiswi itu bergegas meninggalkan cafe menuju parkiran.
Tak lama mereka sampai di kampus yang tak jauh dari cafe mereka hangout tadi, bisa di tempuh dengan waktu hanya lima belas menit.
Suasana kampus nampak mulai lengang, satu persatu mahasiswa atau pun dosen meninggalkan kampus tercinta mereka.
"Ok guys.. Gue turun dulu ya.. Nti gue kabarin." Monik segera keluar dari mobil Susan dan setengah berlari menuju ruangan dosennya yang sekaligus kekasih nya saat ini.
"Ok take care Mon." Sahut Susan.
Tok.. Tok.. Tok.
Monik mengetuk pintu dengan hati-hati. Tak lama kemudian..
"Masuk..!"
Ceklek..
"Permisi pak.!" Monik nampak ragu-ragu dengan menggigit bibir bawahnya.
"Ah yaa.. Monik.. Masuk.!" Pak Thomas mengulas senyum lalu kemudian sibuk dengan berlembar-lembar kertas di atas mejanya.
"Maaf Pak.. Ngapain bapak manggil Monik ke sini dan ini udah gelap pak.. Monik takut kan." Monik setengah merajuk.
"Aduh Moniiik kamu tuh kalo lagi merajuk gitu.. Saya jadi pengeeeen nyubit" Batin pak Thom lalu ia berdiri berjalan kearah Monik dan menarik kursi untuk nya.
"Duduk dulu dong.. nanti saya antar yah." Seraya merangkul pundak Monik dan mendudukkan nya.
"Engg nggak usah pak.. ada Susan yang menunggu di depan." Ucap Monik sambil menggigit bibirnya.
"Ya udah saya ke depan dulu ya.. bilang sama Susan kalo nanti saya yang anter kamu." Kata pak Thom yang langsung saja berjalan keluar ruangan dan Monik tidak bisa mencegahnya.
"Sorry ya San.. gue nggak bisa cegah pak Thom saat dia mau antar gue pulang." Monik mengirim pesan ke Susan sebelum pak Thom sampai di depan di sertai emot tangan mengatup.
"Okeh gue cabut sekarang kalo gitu." Balas Susan yang langsung tancap gas meninggalkan kampus.
"Hmm kamu mau coba bohong ya.?" Pak Thom mencubit gemas pipi Monik saat kembali ke ruangannya.
"Bohong.? bohong apa pak.?" Tanya Monik bingung.
"Katanya Susan nunggu di depan.. tapi nggak ada siapa-siapa tuh." Ucap pak Thom.
"Pak Thom mau ngomong apa ke Monik.?" Tanya Monik seraya menatap mata dosennya.
"Monik.. saya rasa udah waktunya saya ngomong ke kamu.. kalo saya.. kalo saya.." Pak Thom menjeda kata-katanya.
"Bapak kenapa.?"
"Kalo saya udah waktunya harus bilang ke kamu.. kalo saya sayang dan cinta sama kamu.. dan secepatnya ingin melamar kamu." Tembak pak Thom.
Monik terkesiap dan tak percaya mendengar ucapan dosennya yang to the point itu, pasalnya Monik belum siap untuk berumah tangga, mengingat Monik juga belum lulus kuliah, apa kata keluarganya nanti jika pak Thom tiba-tiba datang melamar Monik, di kira nanti Monik MBA (Married by Accident).
"Big no pak.!" Spontan saja keluar dari mulut Monik, dan itu membuat wajah pak Thom berubah menjadi tegang dan menyeramkan.
"Apa kamu bilang.? big no.. you must say yes my bunny sweety.. kamu adalah milikku saat ini dan seterusnya." Kata-kata pak Thom seperti ancaman bagi Monik yang membuatnya ketakutan.
"No pak.. Monik masih ingin bebas dan lagipula Monik kan belum lulus." Kilah Monik.
"Yes Monik.!" Pak Thom menampakkan sifat posesif nya.
"Kamu harus menjadi milik saya.. bukankah selama ini kamu yang selalu mendekati saya.. apa itu artinya.? atau kamu hanya memanfaatkan saya saja.. atau saya ini kamu anggap sebagai pelarian kamu saja hah.!" Hardik pak Thom dengan mencekram pundak Monik.
"Mon.. Monik.. hiks." Monik mulai terisak.
"Jawab Monik.. kamu tidak mencoba memanfaatkan saya kan.?" Kali ini cengekeramannya pindah ke pipi Monik.
"Maaf.. hiks." Cicit Monik.
"Maaf kamu bilang.? benar kamu memanfaatkan saya.! keterlaluan kamu Monik.?" Tangan pak Thom merangkum wajah Monik dan di dekatkan ke wajahnya nyaris tak ada jarak.
Tubuh Monik bergetar hebat, dia sangat takut jika pak Thom akan berbuat macam-macam terhadap dirinya, apalagi saat ini kampus sudah tidak orang dan Susan pun sudah pulang.
"Kamu sudah berhasil memanfaatkan saya.. kamu sudah behasil membuat saya jatuh cinta kepada kamu.. dan kamu sudah berhasil menaklukkan hati saya.. cam kan itu.! dan saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja.. dan sebaliknya kamu tidak bisa meninggalkan saya begitu saja.. dan apa yang sudah kita lalui bersama selama ini.. dan apa yang sudah saya keluarkan selama ini buat kamu itu tidak gratis.. kamu harus ingat itu Monik.!" Tangan pak Thom pun bergetar hebat menahan amarah, mata nya merah berkabut dan menatap nyalang ke mata Monik yang berurai air mata.
"Tapi kamu jangan takut sayang.. karena saya tidak akan menyakiti kamu .. jika kamu menuruti semua kemauan saya.. saya akan segera melamar kamu.. kamu masih tetap kuliah dan bermain bersama genk kamu itu tapi dalam pengawasan saya.. kamu bersedia kan sayang." Bisik pak Thom dengan nada penuh penekanan dan itu sangat menakutkan. Monik membuang mukanya ke samping dan..
Brakkkk !!
Pak Thom meninju meja dengan tangannya membuat Monik terkejut dan mengerutkan badanny, Monik terus terisak dan tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia sangat ketakutan karena pak Thom begitu mengerikan ketika marah.
"Ternyata pak Thom kalo marah nyeremin.. kemana senyuman yang manis dan genit itu.. apa pantas masih di sebut dosen gemes.. dia bukan dosen gemes lagi.. tapi dosen gokil.. dosen killer.. nyebelin." Batin Monik penuh dengan kebencian.
Di dalam mobil Monik terus menangis, dia meratapi nasib nya kini, pak Thom yang romantis kini berubah menjadi monster yang menyeramkan bagi Monik. Pak Thom berusaha meraih tangan Monik dan meminta maaf namun Monik menepisnya, Monik membuang pandangannya keluar jendela tak sedikitpun melirik kearah pak Thom yang ada di sebelahnya. Pak Thom mengelus lembut pipi serta mengusak rambut Monik.
Salah Monik juga yang selalu menerima semua pemberian dosennya dan tak pernah menolak saat di ajak pergi berwisata saat weekend, pernah satu waktu Monik di ajak pak Thom ke pantai Jawa Barat, dan karena keasyikan yang membuat mereka berdua lupa waktu dan akhirnya mereka terpaksa menyewa hotel dan cek inn.
Salah Monik juga yang sudah kebablasan terlalu sering hangout dengan dosennya, dan yang akhirnya membuat keadaan seperti ini, hati Monik sangat sedih, dia teringat akan Zia, mantannya yang tak pernah berkata dan berbuat kasar terhadapnya, meskipun Zia dingin dan tak seromantis pak Thom namun Monik nyaman saat berada di samping Zia.
"Maafin gue Zi.. gue masih sayang sama lo.? jika tau bakalan kayak gini.. gue nggak akan coba main api di belakang lo. hiks." Isak Monik penuh penyesalan.
Nasi sudah menjadi bubur, kini Monik bisa apa dan harus memulai dari mana untuk menjelaskan semua kepada kedua orangtuanya perihal sang dosen yang akan segera melamarnya, dan apa yang terjadi jika genk nya mengetahui hal ini.