Setelah menenggak jus yang di berikan Luna, beberapa menit kemudian tiba-tiba merasakan melilit di bagian perut, Zia merasakan mules yang luar biasa.
"Aduh kok perut gue sakit mules ya.. sakitnya nggak ketulungan.. sshh.. sshh.. " Rintih Zia dalam hati.
"Luna maaf ya.. saya mau ke toilet sebentar." Pamit Zia dan langsung berlari menuju toilet pria.
"Ya ampun kak Zia gara-gara ngobrol kelamaan sama aku sampe pipis aja di tahan." Batin Luna sambil mengurai senyum setelah melihat apa yang tertulis di telapak nya. Lalu Luna mengeluarkan benda pipih dan terlihat menekan-nekan angka di layarnya, setelah memasukkan nomor hape Zia ia bergabung lagi dengan teman-temannya.
Sementara di dalam toilet pria Zia merasakan kesakitan di bagian perutnya, terhitung sudah 6 kali Zia mondar-mandir keluar masuk toilet.
"Sshh aduh salah makan apa sih ni.. kok mules banget.. sampe panas perut gue." Ucap Zia kesal serta menahan mules.
"Aaarghh." Zia berlari lagi masuk ke dalam toilet.
"Hhh.. Hhh.. Dodit.. gue harus telpon Dodit.. Hhh.. Sshh astaga hape gue ada di tas." Ucap Zia lemah.
Wajahnya pucat serta nafas Zia tersengal-sengal ketika keluar dari bilik toilet, beberapa kali ia nampak menelan saliva nya yang mulai mengering karena dehidrasi. Sangking lemas nya Zia jatuh tak sadarkan diri di luar toilet.
Sedangkan di aula orang-orang sibuk mencari Zia karena akan di adakan jumpa pers, namun tidak ada yang tahu keberadaan nya.
"Tadi gue liat Zia lagi duduk di sana sama Luna penari." Jawab salah kru saat Dodit berteriak mencari Zia.
"Okeh gue cari kesana." Ujar Dodit lalu berjalan cepat menuju tempat Luna cs berada.
"Neng Lun.. Liat Zia nggak.? Katanye tadi ngobrol sama neng Lun.? Tanya Dodit yang suka menyingkat nama orang. Bro Zi.. Mang Sol.. Neng Lun..
"Iya om.. tadi ngobrol sebentar lalu katanya mau ke toilet." Sahut Luna sedikit cemas, pasalnya kok dari tadi ke toilet belum muncul-muncul.
"Wokeh om susul ke toilet.. eeh kok om sih.. abang.. Inget aaabang.!" Kata Dodit penuh penekanan.
"Neng Lun mentang-mentang daun muda sembarangan manggil gue om.. gue gigit baru tau rasa dia.!" Ucap Dodit tergelak.
Sesampainya di toilet Dodit terkejut dengan apa yang di lihatnya.
"Astaga naga bonar wiro sableng 212." Cerocos Dodit terkejut melihat Zia terkapar di depan toilet.
"Wooiii tolooong.. tolooong.. wooii buruan kemari.. Zia pingsan.!" Teriak Dodit menyerukan semua orang agar datang membantu untuk membopong Zia. Sontak semua orang berlari ke arah toilet termasuk mang Soleh juga Luna cs.
"Ada apa bang Dodit.. kok mas Zia sampe pingsan.?" Tanya mang Soleh seraya mencoba memijit kakinya.
"Lah ane kaga tau mang.. dah cepetan angkat ngapa.. nanya nya nanti aja kalo Zia dah sadar.. satu dua tiga." Dodit memberikan aba-aba untuk mulai mengangkat Zia yang berat itu.
"Yaa ampun kak Zia kenapa.. Kok bisa pingsan di kamar mandi.. tadi sehat-sehat aja.. waktu ngobrol." Ucap Luna tanpa sadar lalu menutup mulutnya dengan tangan.
"Apa lo bilang.? tadi dia ngobrol sama lo Lun.?" Selidik Metha dengan mata tak percaya.
"I.. Iya tadi emang kak Zia ngobrol sama aku terus minum jus lalu tiba-tiba dia bilang mau ke toilet sebentar.. dan sekarang tau-tau pingsan." Ucap Luna pelan.
Di belakang Luna ternyata ada Tasya juga Laras dan mereka mendengar ucapan Luna tadi.
Deg.. hati Tasya berdegup kencang.
"Jangan-jangan Zia yang minum jus itu.?" Tasya ber asumsi dalam hati.
"Heh anak figuran.. lo apain Zia sampe pingsan gitu.? Jangan-jangan lo kasih jus basi ya.. hah.?" Bentak Tasya serta merta.
"Saya nggak tau kalo jus itu basi--kak." Sahut Luna terbata dan menunduk.
"Heh kak Tasya lo tu kasar banget sih jadi orang.. tanya baik-baik kan bisa.. ini malah menuduh." Bentak Metha balik ke Tasya.
"Diem lo ini bukan urusan lo ya anak kampung.. lagian kenapa bukan lo aja yang minum.. malah di kasih Zia.. dasar pembawa sial." Tasya marah seraya menunjuk-nunjuk Metha dan Luna.
"Eeeeh udah--udah.. ini kok malah ribut.. kita tunggu Zia sampe sadar kenapa sampe dia bisa pingsan." Laras menarik tangan Tasya pergi menuju ruang UKS. Sedangkan Metha menarik tangan Luna yang hampir menangis itu menuju tempat duduk dan mencari botol bekas jus tadi.
Setelah menemukan nya botol bekas jus tadi, lalu Metha mencoba membuka dan mencium nya.
"Nggak bau apa-apa masih seger kok.. belum basi." Kata Metha kepada Luna.
"Iya emang nggak basi.. kan baru tadi sore di kasihnya.. aku sengaja nggak minum karena nggak boleh dokter minum sembarangan.. tuk sementara hanya boleh minum air putih dulu." Jelas Luna ke Metha.
"Yuk kita liat keadaan kak Zia dulu.. siapa tau dia pingsan bukan karena habis minum jus ini tapi karena hal lain." Ajak Metha seraya membawa botol bekas jus tadi.
Di UKS Dodit dan beberapa kru sudah menangani Zia, dengan di oleskan minyak kayu putih pada hidung nya juga sudah di buatkan teh manis hangat oleh mak Poni. Tak lama Zia tersadar dan langsung minum tergesa seperti habis berlari sangat jauh.
"Alhamdulillaaaaah." Teriak orang-orang lega melihat Zia sudah siuman.
"Bro Zia kenape ente bisa pingsan di sana." Tanya Dodit pelan sambil memijit pelipis Zia.
"Gue tadi BAB berkali-kali Dit.. Makanya gue lemes lalu nggak sadar dan tau-tau udah ada di sini." Ucap Zia lemah seraya netra nya mengabsen orang yang sedang mengelilingi nya.
"Emang ente habis makan paan sih.. sampe pingsan kayak gitu.. coba inget-inget dulu." Cecar Dodit yang sekarang sedang memijit ibu jari Zia.
"Perasaan gue nggak makan apa-apa deh.." Zia coba mengingat -ingat.
"Oooh gue inget sekarang.. gue habis minum jus nya Luna.. lalu perut gue langsung mules nggak tahan." Akhirnya Zia ingat juga.
"Tu anak emang pembawa sial kali ya.. kemarin si Cemong habis makan nasi dia langsung mati." Cerocos Tasya penuh dendam. Tatapan Zia menghunus kearah Tasya, namun..
"Aduuh duuh.. Hesstt.. Perih banget perut gue mules lagi.. sorry semua." Zia berlari lagi meskipun lemas daripada Zia kebobolan di tempat.
"Tuh kan gue bilang apa.. Ini pasti gara-gara jus lo kan.?" Kata Tasya kasar dengan menunjuk Luna.
"Ta.. tapi itu kan bukan jus saya.. saya kan dapat dari mak Poni dan semua orang juga minum." Ucap Luna membela diri.
"Tetep aja harusnya lo jangan kasih ke Zia.!" Tasya masih terus membentak Luna.
"Sya.. jaga omongan lo.. nggak pantes lo ngomong gitu ke Luna.. ini tuh bukan sepenuhnya salah Luna." Dodit berusaha menengahi.
"Lo kok jadi belain dia sih Dot.!" Kesal Tasya.
"Ane bukan belain Luna.. tapi ente harus jaga sikap Sya.. ente publik figur.. yang enak dikit kalo ngomong." Lerai Dodit. Tasya pergi seraya menghentakkan kakinya.
"Maafkan saya kak. gara-gara saya kak Zia jadi sakit." Ujar Luna dengan nada sedih dan menyesal, setelah Zia kembali dari toilet.
"Iya nggak papa Lun.. mungkin kondisi tubuh saya yang lagi kurang fit." Ucap Zia dengan senyum di ujung bibirnya dan meneguk saliva beberapa kali.
"Makanya lain kali jangan sok-sok an.. caper banget sih jadi anak." Tasya masih saja menyalahkan Luna.
"Siapa yang caper.? lo tuh gampang banget nuduh orang." Metha membantah ucapan Tasya dengan kesal, karena selalu saja menyalahkan Luna.
"Diam lo anak kecil.. jangan kurang ajar.!" Bentak Tasya.
"Udah Met." Luna coba melerai.
"Sudah Tasya cukup.!" Bentak Zia dengan nada di tahan. Tasya kesal dan pergi.
"Mas Zia ini minum dulu.. buat pertolongan pertama dan semoga langsung mampet." Mak Poni datang dengan membawa sebuah obat diare dan segelas air putih hangat.
"Iya mak makasih." Zia meraih obat dan langsung menenggaknya.
"Ya sudah semua bubar sekarang.. jumpa pers di gelar setelah Zia sembuh saja.. kata bang Troy yang baru sempat datang melongok Zia di UKS.
"Met makasih ya kamu udah belain aku." Ucap Luna lirih seraya mengapit tangan Metha erat.
"Lun.. gue heran ya sepertinya ada yang nggak beres deh.. Udah 2x nih kejadian kayak gini.. kemarin makanan sekarang minuman.. dan anehnya kok selalu jatuhnya di lo gitu.. ngerti nggak maksud gue." Metha ber asumsi begitu karena merasa ada yang janggal.
"Entahlah Met.. aku jadi takut sekarang.. Lalu apa yang harus aku perbuat.?" Tanya Luna pasrah dengan raut wajah yang sedih.
"Ya gue juga nggak tau.. tapi ngomong-ngomong itu jus dari mana sih.?" Metha buntu dalam berpikir.
"Haaaa mak Poni.! kita harus tanya mak Poni." Kirana berteriak seraya menjentikkan ibu jari dan telunjuknya.
"Good idea."!" Kata Putri.
Di tempat Zia pun sama seperti yang di pikirkan Metha.
"Kayaknya ada yang janggal deh men." Kata Zia ke Dodit.
"Maksud ente.?" Tanya Dodit belum konek.
"Coba lo pikir.. kemarin si Cemong mati gegara makan nasinya Luna.. sekarang gue mules-mules setelah minum jus nya Luna." Zia ber asumsi.
"Maksud ente ada orang yang sengaja mau celakain Luna gitu bro.?" Kata Dodit.
"Exactly." Ucap Zia membenarkan ucapan Dodit.
"Mak Poni.!" Ucap Zia dan Dodit bersamaan. Begitu Zia merasa badannya sudah enakan, ia keluar dari UKS berdua Dodit akan mencari mak Poni.
Mak Poni sedang asyik menikmati kopi dan juga r***k nya.
"Mak Poni.!" Zia, Metha datang berbarengan. Metha dan Zia.. Luna dan Dodit saling pandang.
"Kompak bener.. ada apa.?" Tanya mak Poni santai.
"Gini mak.!" Sama lagi untuk yang kali kedua mereka bicara berbarengan.
"Kak Zia dulu deh yang bicara." Ujar Metha mempersilahkan Zia untuk ngomong dulu ke mak Poni.
"Ada apa sih.!?" Mak Poni bingung.
"Jus tadi sore dari siapa mak.? " Tanya Zia.
"Mak nggak tau mas sumpah deh.. tau-tau dus itu udah ada di deket bungkus snack sore." Jelas mak Poni.
"Tapi mak.. Nggak mungkin kan tiba-tiba aje ade di sini.. pasti ade yg ngirim dan ade yang nerima." Selidik Dodit.
"Tapi mak kagak nerima.. mak cuma ngebagiin doang.. apalagi udah ada namanya atuk-atuk.. mak juga sebenarnya bingung.. kok tumbenan kita dapet tambahan jus.. pas mak liat box nya kagak ada tulisan apa-apa alias kosong." Papar mak Poni heran. Lalu mak Poni berjalan mencari box bekas jus tadi dan membawanya ke depan Zia.
"Tuh liat.. kagak ada namanya." Tunjuk mak Poni.
"Iya ya." Ucap Zia singkat.
"Lo neng pengen ngomong apa sama mak.?" Tunjuk mak Poni kepada Metha.
"Maaf mak.. Metha juga pengen nanya kayak gitu tadi." Kata Metha sedikit malu.
Zia menatap botol yang di pegang Metha, ada tulisan nama Luna di sana, lalu Zia meminta botol itu untuk di teliti lebih lanjut, karena merasa ada yang tidak beres dengan ini semua jika di kaitkan dengan peristiwa kematian si Cemong.
“Met botol ini saya minta ya.. mau di periksa.” Pinta Zia.
“Iya kak silahkan ambil aja.” Metha memberikan botol itu kepada Zia.
Tasya yang melihat dari kejauhan nampak panik dan ketakutan, dia bingung lagi-lagi misinya gagal.
“Brengsek.! heran ya sama anak itu.. seperti ada malaikat yang ngelindungin dia.. selalu aja dia selamat.. hah.!” Umpat Tasya dengan tangan terkepal ereat-erat. Tasya hanya berharap semoga saja tidak ketahuan. Tapi apakah Tasya lupa bahwa Zia anak dari seorang dokter dan memiliki sebuah apotik, tapi Tasya tak berpikir kearah situ.
*
*
*
Keesokan harinya di sekolah, riuh ramai siswa-siswi berteriak histeris, namun siswilah yang lebih mendominasi suara histeris itu, beberapa anak berlarian seperti takut tidak kebagian sembako saja.
"Ada paan sih ? Kok heboh banget.!" Tanya Luna pada anak-anak yang berlarian menuju halaman utama sekolah.
"Ada artis beken ibukota yang lagi naik daun di sekolah kita Lun." Sahut anak itu sembari terus berlari.
"Eh.. Eh.. Cila tunggu.. Mau kemana kamu ?" Luna menarik tangan Cila yang lewat setengah berlari.
"Ada Eza sama Zildjian juga Natasha di halaman depan Lun.. Katanya mau bagi-bagi souvenir sama tiket gratis launching film terbaru mereka.. Yuk bareng gue.!" Ajak Cila, Luna diam sejenak tak lama kemudian, gantian kini Cila yang menarik tangan Luna.
Sesampainya di halaman sudah penuh dengan siswa-siswi, hingga Luna dan Cila tidak bisa melihat artis tersebut.
"Harap tertib adik-adik sekalian.. Tenang semua nya pasti kebagian kok.. Yaak kamu yang sudah dapat harap mundur yaa.. Kasih kesempatan pada teman kalian yang belum mendapatkan souvenir nya." suara di toa terdengar sangat jelas.
"Lun.. Hayuuk kita maju.. Biar kebagian." Seret Cila menuju ke tengah-tengah kerumuan siswa-siswi.
"Nggak ah Cil.. Kamu aja.. Aku tunggu di sini." Luna segera menarik dan melepaskan tangannya dari pegangan Cila.
"Yaaah ntar lo nggak kebagian.. Lagipula nggak boleh di wakilin kali." Tukas Cila dengan mata terus memandang ke depan.
"Nggak papa aku nggak kebagian." Ucap Luna datar.
Padahal Luna ingin sekali bertemu dengan Zia, namun Luna malu-malu, belum ketemu saja muka Luna sudah blushing.
"Buruan Lun.. Kita dikasih kesempatan sampe jam pelajaran kedua doang.. Sebelum guru-guru selesai seminar di gedung SMA." Cerocos Cila.
Luna ragu, lagi-lagi hati dan mulut Luna tidak singkron. Luna hanya menatap dari kejauhan saja, di bawah pohon beringin Luna menunggu Cila dan melihat interaksi Zia dan Eza sangat sopan dan ramah. Mungkin bisa di katakan tebar pesona sama anak-anak ABG. Luna menghela nafas. Kemudian menggigit bibir bawahnya seraya meremas ujung kerudung putihnya.
Mungkin saat ini hanya Metha lah yang mengerti perasaan Luna. Perasaan yang sulit untuk di deskripsikan. Luna masih menatap ke arah Eza dan Zia serta beberapa orang artis dan kru yang membantu membagikan souvenir juga tiket gratis ke anak-anak. Zia begitu memesona, apalagi saat berkeringat seperti itu, begitu juga dengan Eza, artis yang lebih dulu terkenal di banding Zia. Pesona Eza mampu membuat ciwi-ciwi histeris hebat. Pesona mereka telah menghipnotis ciwi-ciwi satu sekolahan.
Luna masih terpaku di tempat nya, ia tidak sadar jika sedang di perhatikan oleh artis kondang ibukota.
"Hai kamu yang berada di bawah pohon.. Apakah kamu sudah kebagian souvenir dan tiket nya ? Kalo belum silahkan merapat kemari.. Itu.. Iyaa kamu yang memakai kerudung.." Teriak Eza di toa itu mengingatkan Luna, sontak Luna merasa gugup dan langsung merona mukanya.
"Kamu Aluna kan.? Ayo silahkan kemari.. Nggak usah malu-malu.. Nanti malah malu-maluin.. Hehehe.. Just kidding ya Luna.. Jangan marah." Suara di toa itu masih saja terdengar nyaring. Luna yang meras namanya di panggil, perlahan-lahan maju menuju lapangan.
“Ini pasti kak Zia yang memberi tahu namaku ke kak Eza.” Batin Luna sebab tadi Luna lihat Zia membisikkan sesuatu di telinga Eza. Luna maju perlahan sambil malu-malu.
“Hai Luna.. nih buat kamu.. jangan lupa nonton premiere nya ya.” Sapa Zia hangat dan di tambah senyuman dari Eza.
“Terimakasih kak.. pasti saya nonton.” Ucap Luna menerima tiket dan souvenir sambil menunduk.
“Harus donggg.” Kata Eza sok akrab dengan senyum lebar menampilkan lesung pipinya.
“Za lo liat deh muka nya blushing gitu.. itu yang buat gue seneng menggoda dia.” Bisik Zia ke Eza.
“Naaah ketauan lo ya... punya cem-ceman disini.” Goda Eza.
“Enng kak Zia udah nggak sakit perut lagi.?” Cicit Luna.
“Alhamdulillah udah sehat lagi.. makasih doanya ya.” Zia tersenyum sangat manis sekali, membuat Cila dan Luna betah lama-lama disana.
"Syukurlah." Cicit Luna lagi seraya menggigit bibir bawahnya. Membuat Zia dan Eza gemas.
“Ok kak Zia dan kak Eza.. makasih ya.” Pamit Cila dan Luna, tapi saat Luna menengok kearah Zia, tangan Zia mengisyaratkan agar Luna menghubungi Zia. Luna hanya mengulas senyuman.
"Itu beneran anak SMP ya Zi.. tinggi banget ya.. gue kira anak SMA tapi kok pake rok biru." Puji Eza yang masih menatap Luna dan Cila berjalan.
"Iya gue juga di awal ngeliat dia.. gue kira SMA ternyata masih kelas 9." Cerita Zia tergelak saat mengingat hari pertemuan dengan Luna.
"Yaaah nggak malu-maluin lah kalo di ajak kondangan.. wkwkkwkwk." Eza tergelak.
"Sialan lo.. nggak cuma di ajak kondangan keles.. gue ajak nge-date juga ok.. hahaha." Zia terbahak.
"Cantik kan Za.?" Tanya Zia seraya menaikkan alis sebelah dan senyum di ujung bibir.
"Mayan lah buat ukuran anak SMP." Canda Eza sambil menoyor lengan Zia pelan.
"Sompret.! lo bilang lumayan tapi mata lo masih terus melototin Luna gue." Ejek Zia.
Souvenir dan tiket di meja sudah habis, para kru berkemas agar lapangan bersih kembali, namun pas siswa ciwi-ciwi khususnya masih saja berkerumun di pinggir lapangan hanya ingin menyegarkan matanya dengan melihat artis pujaannya yang ganteng dan ramah-ramah itu.
Mereka meminta dengan sedikit memaksa agar mau foto berkali-kali dengan gaya yang berbeda-beda, Zia dan Eza sampai kewalahan, namun mereka dengan senang hati melayani para gadis remaja itu, Luna melihat dari kejauhan saja, ia tidak mau mendekat, ada perasaan cemburu saat teman-temannya foto bersama Zia bahkan ada yang memegang pipi, mencolek tangannya bahkan berusaha memeluk dan menempel saat berfoto. Luna membuang pandangannya saat Cila menempel lekat di lengan Zia, salahnya kenapa tadi saat Cila mengajak Luna ia menolak.
"Iiisshh.. kak Zia dan kak Eza tebar pesona banget.. modus juga si Cila.. ngapai pake nempel segala.. biasa aja kan bisa." Batin Luna sambil senyum-senyum sambil geleng-geleng.
Hari ini hari yang sangat melelahkan bagi Zia, setelah sampai di rumah ia memanjakan dirinya di kamar mandi selama kurang lebih 1 jam. Badannya kini segar kembali, Zia duduk di balkon sambil menikmati segelas lemon hangat dan roti bakar kesukaannya.
Tuuut.. Tuuut.. Zia menghubungi seseorang.
"Halo Zi." Suara di sebrang sana.
"Malam dok." Sapa Zia.
"Malam juga Zi.. kamu pasti mau nanyain hasil lab kemarin ya.?"
"Iya dok,, sudah ketauan hasilnya dok.?"
"Sudah Zi.. namun hasilnya luar biasa mengejutkan."
"Mengejutkan bagaimana dok.?"
"Iya mengejutkan.! karena ternyata dari hasil penelitian di lab.. bahwa ada kandungan cabai yang super pedas yang di teteskan di nasi.. kira-kira satu tetesnya itu mengandung seribu cabai.. pantas saja kucing nya langsung mati.. karena tidak kuat menahan panas di dalam tubuhnya."
"Astagfirullah.. yang benar saja dok.?"
"Benar Zi.. nanti hasil nya saya kirim melalui w******p ya."
"Apakah itu dari sambelnya dok.?"
"Sepertinya bukan dari sambel Zi.. memang ada orang yang sengaja meneteskan itu.. karena ini berbentuk cairan."
"Apakah itu sangat berbahaya bagi tubuh manusia dok.?"
"Bisa berbahaya jika penggunaannya di luar batas.. terlebih jika tubuh tidak kuat menahan pedas."
"Saya pikir itu racun dok."
"Bukan racun tapi bisa di katakan racun jika bisa berhasil membunuh sesuatu yang hidup."
"Baiklah dok kalau begitu terimaksih ya.. ohya dok saya juga menitipkan botol bekas jus di satpam untuk di teliti lagi.. soalnya kemarin Zia habis minum jus itu langsung BAB sampai pingsan segala dok."
"Dokter Ardi.. eeimm maksudnya papa kamu sudah tau.?"
"Belum dok.. mama juga belum mengetaui hal ini.. tolong rahasiakan dulu ya dok.. Zia nggak mau mama dan papa khawatir."
"Tenang Zi rahasia kamu aman di tangan saya."
"Ok dok terimakasih."
Zia mengakhiri teleponnya, ternyata tadi Zia menghubungi dokter Bobby, ia meminta bantuan dokter Bobby untuk memeriksa apa ada racun di nasi yang di makan si Cemong. Zia berpikir keras, siapa kira-kira yang meneteskan cairan itu di nasi kotak Luna, untung di makan sama si Cemong coba kalo di makan Luna, Zia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Lunanya. Berarti minuman itu juga sengaja untuk Luna agar Luna sakit perut, lagi-lagi untung bukan Luna melainkan dirinya yang meminumnya.
"Siapa yang ingin mencelakai Luna nya, apakah Luna punya musuh..?" Hati Zia bertanya pada dir sendiri.
"Dodit dan bang Troy harus tau ini.. dan ini nggak boleh di biarin berlarut-larut.. bisa bahaya.. tapi siapa ya kira-kira.?" Guman Zia seraya memjiit pelipisnya.
"CCTV.. yaaa gue harus meminta bantuan satpan dan mang Soleh untuk memeriksa CCTV sekolah.. mustahil sekolah bagus nggak ada CCTV nya.. pasti ada gue yakin." Monolog Zia seraya menyesap lemon hangatnya.
Saat akan menghubungi Dodit hape Zia telah berbunyi lebih dulu, mata Zia terbelalak melihat apa yang di lihatnya di layar, Luna.
"LUNA.!" Pekik Zia senang. saat melihat di kalimat terakhir tertulis nama Luna.
"Assalamualaikum kak Zia.. maaf baru sempat mengirimkan pesan ke kak Zia. ini nomor Luna."
"Waalaikumsalam Luna.. kirain kamu lupa sama saya." Emot senyum.
"Mana mungkin Luna sama kak Zia.. gara-gara Luna kak Zia jadi sakit.. maafin Luna ya.. Luna merasa bersalah banget." Emot mengatupkan tangan.
"hadeeuh ini anak polos dan masih kaku aja." Batin Zia.
"Lebih baik gue telpon aja daripada chatting gini nggak seru.. kelamaan.. hehehe." Kekeh Zia.
Tuuut.. Tuuut..
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.. malam gini lagi ngapain.?"
"Kan lagi teleponan sama kak Zia.. hehe."
"Oh iya saya lupa."
Tok.. Tok.. "Luna sayang." tiba-tiba terdengar suara ketukan dan panggilan dari luar kamar Luna, itu suara bunda Lea. Sontak Luna langsung memutuskan hubungan teleponnya denagn Zia.
"Maaf ya kak Zia.. tut.. tut.." telepon terputus.
"Yaaaah di putusin." Ucap Zia dengan perasaan kecewa.
Zia senyum-senyum sendiri mengingat kepolosan Luna nya.. Luna nya..? sejak kapan..? yaaa sejak Zia menabraknya, Zia merasa Luna itu sudah menjadi miliknya. Zia teringat selendang merah milik Luna, lalu ia mengambil spidol hitam lalu menarik ujung benda panjang berwarna merah itu, ia membubuhkan tanda tangannya di ujung selendang di dekat tulisan AZP, selain tanda tangan Zia juga menuliskan inisal namanya yaitu ZGPD.