"Kita sudah kecolongan lagi Zi, kurang ajar sekali si Baharudin itu! Apa maunya dia?" Kecam ki Dewo dengan menatap cucunya. "Iya Ki, kita harus waspada, bahkan orang yang tidak kita sangka ternyata dialah mata-matanya, seperti Fian." Sahut Zia dengan muka merah menahan amarah. Zia mengalihkan pandangannya kepada orang-orang yang sedang di evakuasi oleh tim medis, papa, mama serta kakaknya. Ia beranjak dari sisi kakeknya, menghampiri salah satu pelayan restoran yang sedari hanya berdiri mengawasi dan sebentar-sebentar memegang telinga seraya membalikkan badannya menghadap ke tembok. “Apa yang kamu lakukan hah? disaat keadaan sedang genting, kamu hanya terpaku saja disini, ikut saya!” Tegur Zia sambil meraih pergelangan tangan pegawai tersebut dengan kencang. “Maaf tuan mud

