“Arrgghhh.. Sreet.. Bruk.. Brak.. Prang.. Aarrgghhh…” Zia menjabak kasar rambutnya, menyambar kalender di atas nakas lalu di lemparkan ke arah pintu, lalu foto dirinya dan Monik kekasih hatinya yang sudah berkhianat itu di hempaskan ke lantai hingga bingkai kacanya pecah dan hancur. Remahan kaca mental ke kaki Zia dan menancap dalam sekali. Tanpa Zia sadari darah mengucur deras dari kakinya, ternyata kakinya robek akibat dari tancapan beling tersebut. Zia tidak merasakan kakinya yang terus mengeluarkan darah, rasa sakit di kakinya terkalahkan oleh rasa sakit di hatinya.
Kamar Zia nampak sangat kacau dan berantakan. Puas dengan merusak isi kamarnya, Zia mengancam tidak akan menemui kekasihnya yang sudah di putuskan secara sepihak karena kesalahannya.
Zia tidak peduli dengan darah yang terus mengalir, akhirnya Zia lemah lalu kemudian pandangan matanya nampak kabur, Zia terjatuh dan pingsan tak sadarkan diri.
Bik Mina yang sedang merapihkan meja makan untuk makan malam, juga mama Bella yang sedang sholat magrib di kamarnya, terkejut mendengar benturan serta suara gaduh dari pecahan benda yang terbuat dari beling.
Serta merta mereka berlarian kearah suara itu berada, ternyata datang dari arah kamar Zia. Mama Bella serta bik Mina langsung menerobos masuk ke kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu, keduanya terkejut melihat Zia yang sedang terkapar dan berdarah-darah.
"Ya Allah Zia.. kamu kenapa nak..? Tolooong..! Pak Sakirrr..!" Teriak mama Bella panik, bi Mina berlarian mengambil kotak P3K. Mata mama Bella melihat pemandangan di kamar Zia yang begitu berantakan seperti habis ada angin ribut.
"Ini buk untuk pertolongan pertama." kata bik Mina seraya menyerahkan sebuah kotak kecil ke mama Bella.
"Bik.. Zia kenapa ya bik.. hiks.." Mama terus menangisi Zia seraya membersihkan luka Zia sebagai pertolongan pertama agar Zia tidak kehabisan darah.
"Saya juga ndak tau buk.. barang-barang hancur semua di banting sama den Zia." Bik Mina juga ikut sedih. Pak Sakir terengah-engah karena menaiki tangga sambil berlari.
"Innalillahi.. apa yang terjadi Min..?" Tanya pak Sakir ke bi Mina.
"Mboh Kir.. tau-tau den Zia udah seperti ini.. buruan bantu ibu mengangkat den Zia." Kata bi Mina sambil membantu menggotong Zia setelah mama Bella membebat kaki Zia dengan perban dan kucuran obat merah. Akhirnya Mama Bella membawa Zia ke RS yang di bantu oleh pak Sakir. Meskipun mm Bella seorang dokter namun peralatan medis di rumah tidak lah lengkap, hanya tersedia obat-obatan saja. Karena luka Zia itu perlu mendapatkan penanganan khusus dan harus di jahit karena kakinya robek oleh pecahan kaca.
Sampai di RS Zia langsung di larikan ke ruang IGD, mama Bella berlarian di samping Zia yang terbaring di brangkar, sambil terus menangisi Zia. Tangan mama Bella sibuk menghubungi seseorang namun tak satu pun ada yang di hubungi. Zia langsung di tangani oleh dokter dan mendapatkan beberapa jahitan di kakinya. 2 jam sudah Zia tidak sadarkan diri setelah penanganan lukanya selesai, akhirnya sadar juga, namun matanya pandangan matanya masih sedikit kabur, rasa nyeri di kakinya masih terasa sakit luar biasa.
Setelah sadar Zia hanya diam seribu bahasa, ia tidak mau berbicara tentang apa yang telah terjadi, sikap Zia membuat mamanya bingung, mereka tak tahu harus berbuat apa, agar Zia mau berbagi cerita. Mama Bella menghela nafas, raut wajahnya nampak kusut dan masih panuk, karena suaminya dan Zidni belum bisa di hubungi.
Menurut dokter Zia sudah di perbolehkan pulang, namun Zia menolak, toh RS ini kan milik orang tuanya.
"Lebih baik gue nginep di sini aja untuk beberapa hari kedepan." Batin Zia.
Zia masih enggan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kakinya masih terasa cenut-cenut karena obat biusnya pun sudah mulai menghilang, Zia berusaha bangun dan turun dari brangkar, sambil berjalan mondar-mandir Zia terus memikirkan sesuatu agar ada alasan untuk tidak kembali lagi ke rumah orang tuanya, dengan sedikit terpincang-pincang Zia terus saja berjalan perlahan, Zia menarik nafas dalam-dalam dan bingung harus kemana.
Zia tidak mau pulang ke rumahnya, dia tidak ingin kembali ke kamar nya lagi. Lantas Zia terlihat sibuk seperti menghubungi seseorang setelah meminta tolong di ambilkan handphone nya.
"Pelan-pelan sayang.. Kaki kamu masih sakit." Mama Bella mencoba membantu Zia berjalan.
"Zia bisa sendiri ma." Masih terpincang-pincang dan berhasil menelpon seseorang.
"Halo Tu.. Lo bisa bantu gue nggak..?"
"( _ ) "
"Oke.. Lo sekarang bisa dateng ke RS B**.. Gue butuh bantuan lo."
"( _ ) "
"Hesssttt.. Nanti aja gue ceritain.. Ceritanya panjang."
"( _ ) "
"Jangan lupa lo bawain pesenan gue di chat tadi. Uang nya udah gue transfer ke rekening lo."
"( _ ) "
"Hesstt..Thanks bro." Sesekali Zia menahan sakit di kaki nya.
"Makan dulu ya nak." Mama Bella mencoba menyuapi sedikit bubur ke mulut Zia, namun Zia menggeleng.
"Kamu harus makan dulu sebelum minum obat antibiotik Zi.. agar cepet sembuh lukanya, bujuk mama Bella seperti membujuk anak kecil, tapi tetap saja Zia menolak makan. Mama Bella menghela nafas.
"Emm.. Ma.. Zia mau tinggal di rumah pekak untuk sementara waktu." Tatapan Zia kosong keluar jendela.
"Emangnya ada apa sayang.. Kamu sampe seperti ini.. Cerita sama mama." Dengan raut wajah sedih dan khawatir, mama Bella membelai pundak Zia yang membelakanginya.
"Zia nggak bisa cerita sekarang ma." ucap Zia dengan muka datar.
"Lantas kapan Zi..?" Mama Bella menghela nafas.
Tiba-tiba pintu terbuka.
"Halo jagoan..! Udah sadar hah.! " Sapa Zidni seraya membuka jas putihnya dan di letakkan di senderan kursi.
Zia hanya melirik sekilas lalu membuang muka ke jendela lagi.
"Kamu kemana aja sih Zi.. mama hubungi dari tadi kok nggak di angkat-angkat.. papa mu juga nih.!" berondong mama Bella begitu melihat Zidni masuk ke kamar rawat VVIP.
"Zizi tadi sedang sholat ma.." Sahut Zidni
"Lantas siapa yang ngasih tau kamu.. kalo Zia terluka.?" Tanya mama Bella lagi.
"Justru papa yang telpon Zizi ma.. papa di beritahu oleh pak Sakir." Jawab Zidni seraya mencoba melihat luka di kaki adiknya itu.
"Zi.. Adik kamu ini kenapa sih.. Nggak mau cerita sama mama.. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama adik kamu." Mata mama Bella memelas.
"Mama tenang aja ya.. Serahkan semua ke Zizi deh.. Sekarang mama makan dan istirahat dulu ya. Mama belum makan kan..?" Bisik Zidni meyakinkan mamanya.
"Tapi Zi.. Adik kamu mau ke Bali tinggal di rumah pekak." ucap mama Bella sendu.
"Iya nanti Zizi bicara sama Zia.. Mama sabar ya." Zidni mencoba menenangkan mamanya.
Mama Bella hanya mengangguk pasrah.
"Baiklah mama istirahat di ruang kerja mama ya.. Ada papa kamu di sana.. Sedang mengecek laporan dari pak Tirto." Mama Bella mencium pipi dan menepuk pipi Zia.
"Kamu baik-baik ya.. Jangan bertindak macam-macam lagi." Zia hanya menatap datar wajah mama nya.
"Jaga adik kamu dulu ya.. sampai papa datang."
"Ok ma.. Muah.. Muah." Zidni mencium pipi mama Bella.
Dua jam kemudian Putu datang. Dengan menyerahkan bungkusan kecil. ternyata itu handphone baru serta SIMcard nya. Zia menghubungi beberapa teman dan keluarga nya hanya memberitahukan bahwa nomernya sudah ganti. Dan itupun harus di rahasiakan dari semua orang.
Setelah Zidni berhasil membujuk Zia agar cerita apa yang sebenarnya terjadi, barulah Zizi paham, begitu juga Putu.
Zia akan cuti kuliah untuk sementara waktu, dan kelanjutannya nanti akan di pikirkannya sembari mencari alasan untuk bicara kepada orang tuanya. Zia sudah menceritakan semua kejadian ke Zidni juga Putu. Putu dan Zidnilah yang nanti akan mengurus kepergiannya ke Bali. Tak ada barang satupun yang di bawa dari kamar Zia.
Zidni menyuruh orang untuk menyiapkan keperluan Zia. Besoknya Putu memesan secara online barang-barang yang akan di pakai Zia selama di Bali. Dan Bali lah alamat tujuan barang tiba.
Putu adalah sahabat Zia dari Bali yang sedang kuliah di Jakarta. di Bali rumah orang tua Zia dan Putu berdekatan hanya beda blok saja.
Flashback On
Pikiran Zia menerawang, masih belum hilang dari ingatan kejadian itu, kalo saja papa Ardi tidak menyuruhnya menemani mama Bella ke Apotik mungkin tidak akan bisa melihat pemandangan pahit itu.
Saat itu Zia sedang tidak ada mata kuliah, rencananya Zia akan menikmati ME TIME di kamar sambil main ML di laptopnya, dan itu sudah menjadi kebiasaan Zia setelah selesai sholat subuh, Zia akan melanjutkan mimpinya di pulau kapuk. Dan siangnya main games sepuasnya.
“Tok..Tok.. Tok..” “Den Zia, bangun den sudah siang, bapak dan ibu menunggu di meja makan..” Suara bi Mina dari luar kamar.
“Eeiigghh.. Kretek.. Kretek..” Zia mengongkek badannya kekanan dan kekiri, sehingga terdengan bunyi ringkikan tulang badan Zia.
“Hooaaamm..” Zia menguap, lalu Zia bangun dan turun dari tempat tidurnya menuju pintu sambil tangannya masih mengucek-ngucek matanya
“Ceklek.. Iya bi.. nanti saya turun, saya mandi dulu.” Kata Zia
“Baik den..” Sahut bi Mina sambil berlalu meninggalkan Zia yang masih terus saja menguap.
Tak berapa lama kemudian..
Ceplek.. Ceplek.. Ceplek..
Suara sendal jepit Zia menuruni anak tangga. Benar saja kedua orang yang sangat menyanyanginya itu sudah berada di ruang makan. Ruangan yang selalu hangat setiap pagi.
Ruangan yang berhiaskan lampu gantung besar. rak kaca tinggi dengan berbagai macam keramik pajangan dan guci porseleind bermacam bentuknya dari berbagai negara, yang mama Bella perolah saat bepergian keluar negeri. di pojok ruangan terdapat patung loro blonyo yaitu sepasang patung pria dan wanita yang memakai baju adat Bali setinggi satu meter.
Di dinding terdapat lukisan bunga kamboja kuning dan ungu, di tengah ruangan terdapat meja makan yang terbuat dari kayu jati lengkap dengan vas bunga kristal yang di isi dengan bunga sedap malam yang harum semerbak.
“Pagi ma.. pa..” “Greeeetttsss” Zia menarik kursi dari bawah kolong meja lalu mendudukinya.
“Pagi Zi.. kamu tidak kuliah kan hari ini..?” tanya mama Bella seraya menyodorkan piring kecil yang berisi roti da selai serta pisau dan garpu
“He’em.. kenapa mah.. Zia libur hari ini.. kan sekarang Hari Sabtu.” Sambil mengolesi rotinya dengan selai.
“Eeenggg gini Zi.. tolong temani mamamu ke Apotik S yang ada di jalan X yaa.. menurut laporan ada beberapa kotak obat yang sudah kadaluwarsa, dan itu lolos control dari distributornya.” Cerocos papa Ardi yang sedari tadi asyik menghabiskan sarapannya, kini ikut bicara menjelaskan kenapa Zia harus menemani mamanya.
Zia masih diam membeku dengan pisau dan garpu di tangannya, mulutnya masih bergerak-gerak mengunyah rotinya, hanya bola mata Zia yang berselancar kesana-kemari dari wajah papanya lalu menunduk lagi kearah rotinya lalu ke wajahnya mamanya.
“Papa hari ini ada janji dengan DR. Bobby di RS. B. ” Setelah menenguk susunya hingga tak tersisa, papa Ardi bangkit sambil mengacak rambut Zia dengan lembut.
“OK Zi.. papa berangkat dulu ya.’’ papa Ardi berlalu meninggalkan Zia dan tak lupa mencium pipi istrinya terlebih dahulu.
“Iya pa..” sahut Zia singkat sambil senyum kepada mama Bella.
Kemudian mama Bella pun bangun dari duduknya seraya menepuk bahu Zia
“Mama siap-siap dulu ya Zi, kamu habiskan sarapannya setelah itu panaskan mobil..”
“Iya ma.. “ jawab Zia lirih.
Entah mengapa hari ini Zia serasa tidak bersemangat, padahal Zia kemarin setelah sholat isya berusaha menghubungi Monik beberapa kali. Namun tidak aktif, akhirnya Zia tertidur pulas hingga pagi, sampai-sampai Zia melewatkan shalat subuhnya.
Bukankah tidur yang sangat berkualitas kan..? tapi badan Zia pagi ini sangat tak b*******h.
Sehari sebelum nya
Kemarin setelah mengikuti mapel yang di berikan oleh dosennya, Zia langsung menemui Monik di tempat biasa mereka ngumpul, berbincang, bercanda bersama teman-teman kampusnya.
Dari kejauhan Nampak Monik dan temen-temannya, ada Susan, Dhea, Anna, Rey, Nara, dan Donny sedang asyik menikmati minuman dingin serta cemilan kentang goreng, somai dan kripik.
“Mon.. noh yayang bebeb ganteng lo datang..” tunjuk Nara pake kentang goreng.
“Sayaaaaang.. “ Monik langsung menyambut kedatangan kekasih tampannya itu dengan mata berbinar.
Dan seperti biasa Monik dengan sifat manjanya langsung bergelayut di lengan Zia. Dan Zia pun langsung meraih pinggang Monik.
“Hai guyzz.. “ salam Zia sambil mengangkat tangannya.
“Hai juga Bro." Sapa Rey.
"Hai Zi.. Ganteeeng.” Sahut Dhea dan Anna bersamaan.
“Eeeh babang tamvan.. hheehe.” Kata Susan
“Hai Sob..” Sapa Donny dengan mengepalkan tangan kanannya lalu beradu tinju dengan Zia.
Zia menarik kursi dan lansung mendudukinya dan bergabung dengan mereka, sementara Monik berdiri di belakang Zia
“Oh ya Mon.. Besok kamu ada acara nggak..?” tanya Zia kepada Monik sambil mencomot kentang goreng yang ada di meja.
Sedangkan mata Monik, Susan , Anna, Dhea, Nara saling bersitatap
“Aduh maaf yaaang, besok aku sama temen-temen mau ngerjain tugas makalah, iya kan guys..?” jawab Monik sembari mengerlingkan mata genitnya kearah teman-temannya kecuali Donny.
Seperti sebuah kode yang membuat Susan ikut buka suara.
“I..iya zi, makalah yang kemarin kita kerjakan itu, nggak sesuai dengan susunan standart elemen-elemen sebuah makalah, dan itu nggak bisa di tolelir oleh dosen.” Jelas Dhea seolah paham akan arti kerlingan nya Monik tadi.
“Betul Dhea Zi, akhirnya kita di suruh bikin ulang dech .” tambah Susan.
“I’II be there for you, these five words I swear for you, when you breathe.. I want..” Tiba-tiba handphone Zia bunyi, di keluarkanlah benda pipih itu dari saku celananya, nama mama Bella muncul di layar.
“Sebentar ya Mon.. aku ngangkat telpon dari mama dulu..” Zia bergegas menjauh dari tempat Monik dan teman-tamannya ngumpul.
“Assalamua’alaikum mah..” Zia mengawali dengan salam.
Sementara itu di tempat duduk Monik.
“Mon.. ngomong-ngomong besok lo jadi mau jalan sama Do’i..?” Bisik Dhea di telinga Monik
“Hmmm.. He’eh.. Glek..Glek.. “ Monik mengangguk tanpa menoleh sambil menyedot dan meneguk minumannya.
“Serius lo Mon..?” selidik Dhea penasaran.
“Ssssttt.. Yoi.. lo pikir gue becanda Dhe.?” Kata Monik sambil melolot dan meletakkan jari telunjuknya di ujung bibirnya.
“Waaaah gila lo Mon nekat, lalu Zia gimana..? kalo besok dia nyusulin lo kerumah Susan gimana..?” Tanya Dhea serius. Dhea tak menyangka sahabatnya serius akan menerima tawaran nge-Date sang Dosen.
Nara yang sedari diam saja namun memperhatikan kedua temannya berbincang dan menyebut-nyebut pak Dosen, langsung aja nyamber tanpa aba-aba.
“Mon.. gue ikut yaaah.. please..!” Nara dengan wajah memelas
"Lagian gue yang naksir sama pak dosen ganteng, tapi kenapa lo yang ngebet Mon..?” Tatap Nara tajam.
“Iishhh.. bukan gue yang ngebet, tapi pak Dosen ganteng yang ngebet sama gue.. lagian kan gue udah punya Zia.. wleee..” sahut Monik sambil menjulurkan lidahnya kearah Nara.
“Nah justru lo udah punya Zia.. kenapa masih mau sama pak Dosen..?” antusias Nara
“Hadeuuuh, Dhea lo tolong jelasin deh sama temen kita yang rada oon ini..” kata Monik ga kalah antusias.
“Nar.. lo nggak pengen apa dapet nilai Cumlaude..?’’ jelas Dhea
“Lagipula Monik Cuma main-main aja kok.. nggak serius sama pak Dosen.. mana maulah Monik sama pak Dosen itu.. emang ganteng sich.. tapi udah tua.. wkkwkwkkwk..” tambah Dhea lagi.
“So.. how about Zia..?” Nara kali ini agak pinter n sok Inggris
“Emmm.. Zia gampanglah nanti, kan gue udah bilang ke Susan kalo besok Zia nyariin gue.” Jawab Monik enteng dan cuek, sambil nyomot kentang lalu di colekkan ke dalam mangkuk saos.
“San.. lo besok bisa bantu gue kan..? kita udah sepakat tadi, kalo besok Zia nanya, lo udah tau kan harus jawab apa..?” Monik mencolek punggung Susan yang sedang asyik selfie-selfie berdua Dhea.
“Cisss.. Cekrek.. Ciss.. Cekrek.. Ganti gaya dong Dhe..” Teriak Susan yang tidak menghiraukan ucapan Monik.
Karena merasa di kacangin oleh Susan lalu Monik merampas Handphone susan secara paksa.
“Mon.. Mon.. Balikin Hp gue, apa-apaan sih lo Mon!” Susan berusaha merebut handphonenya dari tangan Monik yang mengayun kesana kemari.
“Hahaha.. sukurin lo San, lagian sih lo nyuekin gue dari tadi.” Seloroh Monik dengan terus mempermainkan tangannya di udara.
“Montooook.. Please jangan becanda deeech.. buruan balikin siniiii.. “ kesal Susan sambil cemberut
Tak lama kemudian Zia kembali dari menerima telpon mamanya. Dan Monik pun mengembalikan handphonennya Susan dengan syarat.
“Ada apa mama menelpon kamu Zi..?” tanya Monik
“Mama nanti minta di jemput di rumah tante Tita, kalo kita nggak ada acara kemana-mana.” Jelas Zia
“He’em sayang.. emang nya kita besok mau kemana siiich..?” tanya Monik manja seraya mengalungkan tangannya ke leher Zia.
“Hmmm aku mau nunjukin sesuatu kekamu sayang..” Zia meraih tangan Monik dan di genggamnya erat-erat, sesekali Zia menghirup punggung tangan Monik.
Meskipun menurut Monik, bahwa Zia itu cowok yang dingin, nggak romantis, nggak bisa di ajak mesra-mesraan.
"Ganteng siiiih.. Tapi masa gue yang selalu nyosor duluan ke Zia.. Sebel kan..!" Kata Monik waktu itu.
“Ehem..Ehem.. kok tiba-tiba hareudang sih nih suasana.. panas eeeuuyy..” teriak Nara sambil melirik dua sejoli itu dan mengipas-ngipaskan telapaknya.
“iya nih.. Mendadak hot hot hot..” Timpal Susan sambil cengar-cengir.
“Mana es.. Mana eeeeesss.. Hahahaha..” kata Dhea sambil ngakak.
“Sesuatu apa Yaaang..? selidik Monik masih dengan khas manjanya, dan tak terpengaruh oleh sindiran teman-temannya.
Namun beda dengan Zia, Zia kontan melepaskan pegangan tangannya sambil senyum-senyum, lantas dagunya terangkat menunjuk teman-temannya seperti memberikan kode untuk Monik.
Monik malah sengaja mempererat pelukannya di leher Zia, seraya menjulurkan lidah ke teman-temannya tanpa bersuara.
“Uuuuugghh co cuiiitt.. jadi pengen di peyuuk dech..” Anna merentangkan tangannya ke arah Donni.
Lalu Donni menyambut dengan lemparan kentang goreng ke mulut Anna di ikuti tawaa terbahak-bahak.
“Hahahaa...” “Sialan lo Don..” Anna bersungut-sungut sambil cemberut
Di ikuti suara tawa teman-temannya.
“Makanya cari cowok Na, lo juga Don cari cewek doong, biar ga jadi nyamuk kalo kita lg berduaan.. hihihihi” seloroh Monik
“Eeeh jangan salah Mon, kita nih Joker (Jomblo Keren) tau..! jadi kalo mau cari pacar kudu di seleksi dulu, ya nggak Na..?” kata Donny sambil menaikkan alisnya minta persetujuan Anna
“Secara gue kan gantengnya kebangetan dan Anna cantiknya nggak berseri.. pasti pada ngantri kalo gue mau buka audisi.. hahhaha..” bangga Donny sambil terbahak-bahak.
“Tul Don..” Sahut Anna sambil mencaplok kentang goreng yang sudah di colekkan ujung kentang ke dalam saus.
“Huuuuu.. lo pikir mau audisi nyanyi pake seleksi segala..” sorak teman-temannya serentak, tak mau ketinggalan Zia pun melesatkan tangannya ke jidat Donny, mereka semua tertawa lepas.
“Anjiir lo Zi.. hahhaha..” kata Donny sambil terkekeh-kekeh.
Di saat yang lain masih terus saja bercanda, Monik menundukkan wajahnya kearah Zia yang sedang duduk di depannya dengan mata genitnya mengerling ke Zia
“Gimana sayang..? mau ngasih tau apa sih..? Tanya Monik lagi setelah obrolannya terputus akibat candaan teman-temannya.
“Eemmm. Nanti sajalah kalo kamu ada waktu ya.” Ucap Zia dengan mengurai senyum.
“Oh ya.. udah jam 2 nih, pada balik nggak sih..?” tanya Nara dengan melirik kan matanya ke arah pergelangan tangannya lalu sedikit menggeserkan kursinya hingga keluar meja.
“Dah.. dah.. yuk balik dah keburu sore, jam 4 gue mau nganter adik gue les Inggris nih !” timpal Dhea
“Ok yuk..” kata Donny dan Susan, lalu bangkit secara bersamaan sambil menenteng tas nya dan di selempangkan ke Pundak.
Zia pun melepaskan pelukan tangan Monik yang masih mengalung di lehernya, lalu bangkit membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Monik.
“Aku antar kamu pulang ya sayang..” Zia mengelus pelan pucuk rambut Monik, dan tanpa menunggu persetujuan dari Monik, Zia langsung meraih punggung Monik yang langsing.
Namun Monik melepaskan tangan Zia perlahan.
“Sayang aku pulang bareng Susan aja ya, soalnya kita mau beli tinta printer dulu, ya kan San..?” Monik menjelaskan alasannya kenapa ia tak mau di antar Zia pulang.
“emm.. Ya udah kamu hati-hati ya, jangan malam-malam pulangnya, San gue titip Monik ya.” Pesan Zia untuk Monik dan Susan
“Siap Bro ganteng, palingan pulang pagi, wkkwkwkw..” Ledek Susan, sedangkan Zia hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Ok Don.. Gue cabut dl..”
“Ok Sob.. ati-ati..” Pesan Donny
“Nanti malam aku telpon kamu ya, kalo gitu aku duluan ya, sekalian mau jemput mama di rumah Tante Tita.” Lalu Zia beranjak menuju tempat parkir setelah cipika-cipiki dan pamit kepada teman-teman Monik
Malamnya handphone Monik tidak aktif, padahal Zia sudah mencoba beberapa kali menghubunginya.
Setelah pertemuan di taman kampus kemarin, Zia tak menyangka itulah pertemuan terakhir dengan kekasihnya yang sudah selama 6 bulan menemani dan mengisi hari-hari Zia.
Flashback Off