Zia sudah duduk di belakang kemudi untuk memanaskan mobil sambil menunggu mamanya datang. Tak lama mama Bella sudah berada di samping mobil seraya membetulkan letak kacamata nya.
Klek.. Blem.. mama Bella masuk dan duduk di samping Zia.
“Kita kemana dulu ma..?” Tanya Zia tanpa menengok ke arah mamanya.
“Langsung aja ke Apotik S Zi.. Pak Tirto sudah menunggu mama.” Juga tanpa menoleh ke arah Zia, mama Bella sibuk membenahi hijabnya di depan cermin.
Tanpa menyauti Zia langsung tancap gas menuju ke apotik S milik orang tuanya. Karena hari ini hari Sabtu, jalanan sedikit lengang, hanya beberapa kendaraan saja yang lalu lalang, mengingat daerah Kebayoran adalah daerah yang padat dengan kendaraan pribadi dan tingkat kemacetan yang tinggi.
“When you’re hungry I will fill you up.. When you’re thristy.. drink out or my loving cup..” suara bariton Zia mengikuti alunan lagu Diamond Ring nya BonJovi.
Sedangkan mama Bella asyik dengan gadgetnya sedari tadi, entah apa yang di lakukan mamanya, apa kah belanja online atau sedang ngerumpi di group bersama teman- teman pengajian nya atau mungkin mamanya sedang mengecek hasil laporan keuangan..? dengan muka serius mama Bella sesekali membetulkan letak kacamata.
Saat ini mobil Zia berada di lampu merah, suasana di jalan pun masih lengang, hanya beberapa orang saja yang sedang berjalan kaki, di lampu merah pun tidak ada penjaja minuman atau musisi jalanan yang sedang menjual suaranya.
Matahari sudah mulai beranjak naik, namun awan putih nan cantik menutupi sebagian sinarnya, sehingga cuaca hari ini sangat teduh dan bersahabat, tak lama lampu kuning menyala di ikuti lampu hijau yang tak mau kalah, Zia menjalankan mobilnya perlahan.
“Deg.. “ Jantung Zia seakan mau copot, dadanya bergemuruh. Matanya nanar dengan alis bertaut, karena sekilas Zia menangkap sosok yang sudah tidak asing dan familiar sedang memasuki toko distro yang biasa ia dan Monik kunjungi. Cewek tadi sedang menggandeng seorang pria, dan entah pria itupun kok sepertinya Zia sering lihat, Kepala Zia memutar seratus delapan puluh derajat mengikuti sosok itu namun terhalang oleh mobil lain yang sedang melintas.
Sementara di benak Zia tiba-tiba teringat Monik kekasihnya, namun Zia segera menepis perasaan itu, mana mungkin itu adalah sosok Monik !
“Tapi mana mungkin itu Monik, bukan kah hari ini Monik sedang mengerjakan revisi makalah bersama teman-temannya” Bathin Zia sibuk menenangkan diri sendiri, hati nya berdebar-debar. Kebetulan memasuki kawasan perbelanjaan jalanan sedikit tersendat, karena banyak kendaraan yang parkir di tepi jalan. Kepala Zia masih saja terus menengok, namun mama Bella tak memperhatikan putranya yang sedang risau karena sibuk dengan gadgetnya.
Netra Zia focus ke depan sambil sesekali lirik kanan kiri memperhatikan orang-orang yang sedang berjalan. Mobil terparkir di sepanjang jalan, lagi-lagi netra Zia di buat terbelalak dengan mobil pajero sport putih ber plat nomer yang sangat Zia kenal, B 3 TOM.
"Pak Thomas..?!" Zia terpekik pelan.
"Siapa Zi..? Kamu bicara sama mama..?" Tanya mama Bella seraya menurunkan kacamatanya dan menoleh ke arah Zia.
"Nggak ma.. Zia nggak ngomong sama mama kok.." sahut Zia gugup.
"Oooh ya sudah." mama Bella menunduk lagi menatap benda pipih di tangan nya.
"Masa sih.. Monik.. Pak Dosen.. Bukan ah.. Pasti salah liat.. Pak dosen.. Monik.. masa iya..?” Benak Zia sibuk menerka-nerka.
Tiba-tiba..
“Ciiiiittt…” Zia mendadak menginjak rem, karena di depan ada orang yang tiba-tiba lari menyebrang jalan.
"Woooiii.. kalo nyetir yang bener." Teriak orang di pinggir jalan seraya menunjuk-nunjuk ke arah Zia.
“Astagfirullah.. hati-hati dong Zi.. “ Pekik Mama Bella kaget.
“I..i.. iya mah.. maaf.. tadi Zi melamun..” sahut Zia gugup dan matanya masih penarasan, Zia melihat dari kaca spion.
Mama Bella hanya menggeleng-gelengkan kepala saja, lalu matanya kembali kearah benda tipis di tangannya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya sampailah mereka berdua di sebuah bangunan tingkat 3, Ruko itu adalah milik orang tua Zia, lantai atas buat gudang, lantai dua tempat tinggal karyawan yang bekerja di sana, sedangkan lantai bawah untuk Apotik, dan di bagian depan terdapat sebuah mini coffe yang menjual minuman ringan untuk pengunjung jika ingin membeli minuman atau sekedar makanan ringan.
“Zi.. kamu mau ikut turun atau menunggu di mobil.?” Tanya Mama Bella sambil melepas kacamata hitamnya.
“Mmmm.. Zi mau pergi sebentar ya ma.. kira-kira mama sampai jam berapa..?” tanya Zia balik.
“Kamu mau kemana Zi..? terus kenapa dari tadi muka kamu tegang begitu sih.. ada apa..?”
“Eeengg enggak ada apa-apa ma.. biasa Zi lagi banyak tugas di kampus.” Jawab Zia singkat.
"Ya udah, nanti mama kabarin ya, kalo mama sudah selesai urusannya.” Kata Mama Bella sambil berlalu meninggalkan Zia di dalam mobil.
Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, Zia menstarter kunci kontak mobilnya dan menginjak pedal mobilnya keras-keras “Ngeeeng.. Ciiiitt.. “
Zia memutar mobilnya untuk berbalik arah, pikiran Zia tidak tenang, hati Zia seperti terbakar, otak Zia penuh dengan bayang-bayang sosok yang ia liat tadi.
Mobil Zia mengarah ke Distro yang biasa ia dan Monik kunjungi, hati Zia di penuhi dengan pertanyaan, tapi lagi-lagi hati Zia menepis jauh-jauh prasangka itu, namun mata Zia tidak bisa berbohong, bahwa itu adalah Monik dan sang dosen.
Zia tidak salah liat sosok tersebut, dari panjang rambutnya, tinggi tubuhnya, sampai baju yang di kenakan sosok itu, Zia sangat kenal dengan semua barang-barang yang melekat pada sosok tadi.
“Apakah Monik berselingkuh..? Apakah Monik ada main dengan pak Dosen itu di belakang
gue..? Apakah benar..? Jika benar begitu.. sungguh tega nya Monik.” Gumam Zia.
“Aaarrgghhhh..!” Zia berteriak membanting tangannya di atas kemudi. Mukanya memerah, tangannya mengacak rambutnya dengan kasar.
Tak sabar rasanya Zia ingin segera sampai di Distro itu, namun dia juga harus hati-hati dalam berkendara, agar tidak terjadi sesuatu yang tak di inginkan.
“Ayo cepat-cepat.. jangan sampai mereka sudah pergi meninggalkan tempat itu..” Ucap Zia pada dirinya sendiri.
Sesampainya di Distro itu dan setelah memarkirkan mobilnya, lalu Zia segera cepat-cepat berlari masuk ke dalam, namun Zia tiba-tiba saja memperlambat langkahnya, bukan karena Zia sudah melihat dua sosok tersebut, tapi ia berpikir tidak mau gegabah, jika Zia gegabah pasti akan kalap dan membuat keributan ditempat tersebut, dan Zia tidak ingin itu terjadi.
“Huuuuufffttt..” Zia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.
Dengan langkah pelan Zia memasuki Distro dan langsung matanya menyisir area yang di penuhi dengan baju-baju Clothingan edisi terbaru, banyak sekali pengunjung hari ini, mungkin karena weekend sudah pasti anak-anak muda menghabiskan waktu dan koceknya untuk hang out bersama orang terkasih atau bisa juga dengan keluarga tuk hunting barang-barang bagus.
Mata Zia terus mengamati satu persatu pengunjung yang ada di dalam Distro, namun matanya tak satupun mendapatkan sosok yang ia liat tadi, lalu Zia menuju tangga untuk naik ke lantai atas, namun di atas tidak terlalu banyak pengunjung sehingga Zia dengan mudah menyusuri area itu dengan matanya saja, tanpa harus berjalan keliling.
Dengan Langkah berat dan kecewa, Zia setengah berlari menuruni anak tangga lalu bergegas keluar meninggalkan Distro itu, Zia menuju mobil nya matanya masih saja jejalatan kesana kemari, siapa tau mereka masih di sekitar sini.
“Aaaah brengsek..!” Zia menjabak kasar rambutnya, kecewa karena orang di carinya tak bisa di temukan.
Zia sudah berada di belakang kemudi, saat hendak menjalankan kendaraannya, Zia tertegun melihat dua sosok yang tak asing lagi di matanya.
Deg.. Dug.. Deg.. Dug.. jantung Zia deg-degan kembali, matanya nanar, tangannya gemetar dan mengepal menahan amarah, giginya menggemeretak geram, rasanya ingin langsung memaki dan menghajar dua sosok berengsek itu. Tak mungkin kalau mereka tidak ada apa-apanya, sebab yang Zia lihat tadi, Monik jelas-jelas menggandeng lengan pak dosen dengan manja.
Iyaaa tak salah lagi, itu adalah Monik dan pak dosennya. Hati Zia berasa hancur luluh lantak, mukanya memerah, tangan Zia mencengkeran gagang kemudi erat-erat.
Monik dan pak dosen keluar dari sebuah Coffe yang terletak di samping Distro, tangan Monik penuh dengan kantong belanja, sedangkan tangan yang satu lagi bergelayut di lengan pak dosen yang kekar, sedangkan tangan pak dosen memegang sebuah minuman yang saja baru mereka beli. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, Monik tertawa lepas.. entah apa yang mereka bicarakan.
Monik yang memakai kaos putih ketat dan di padu padankan dengan outer jeans yang menjutai hingga ke lutut, dengan bawahan celana jeans panjang dan snecker putih yang membingkai kakinya serta tas kecil panjang menggantung di pundaknya.
Pak Dosen dengan kemeja panjang warna cream yang lengannya di gulung sebatas siku, dan celana berbahan tebal warna senada dengan kemejanya, sepatu pantouvel hitam mengkilap, sungguh muak Zia melihatnya. Dengan wajah yang nakal dan rakus pak dosen seperti di atas angin karena berjalan dengan mahasiswi muda cantik dan seksi.
“Hah..” lagi-lagi Zia membuang nafasnya kasar
Mata Zia terus mengamati dari dalam mobil, lalu mereka berdua berjalan menuju kendaraan yang di parkir agak jauh dari distro, bisa tadi dia tak kebagian tempat parkir, mobil berwarna putih itu emang tak salah lagi, mobil itu milik pak dosen dengan plat nomor yang unik B 3 TOM itu artinya THOMAS, lalu pak dosen membukakan pintu untuk Monik, setelah kedua nya masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu lama kemudian mobil putih itu meluncur ke jalan raya yang lengang.
Dengan perasaan yang marah dan sakit hati karena sudah merasa di khianati oleh kekasihnya. Tak terasa mata Zia sedikit berkaca-kaca, rasanya masih tak percaya apa yang baru saja di lihatnya. dan hampir saja buliran kristal itu jatuh namun segera Zia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tanpa membuang waktu lagi, Zia pun segera mengikuti mobil putih pak dosen. Mata Zia focus kearah jalan yang sudah mulai di padati oleh kendaraan roda empat.
Zia sesekali mengusap keningnya yang mulai berkeringat, hari itu serasa panas dan pengap, padahal Air Condotioner mobil Zia sudah sangat dingin, akan tetapi mengalahkan perasaan panas yang menerpa Zia.
Tatapan Zia terus menguntiti mobil putih itu, akan tetapi di depan agak macet dan terdapat Traffic light, dan benar saja, mobil putih pak dosen berhasil melewati lampu hijau lalu belok kanan, sedangkan mobil Zia tertahan di lampu merah, karena Zia adalah termasuk anak yang mematuhi akan peraturan, maka Zia pun berhenti dengan pasrah.
Jari Zia mengetuk-ngetukkan di atas gagang kemudi nya, seolah-olah ia tak sabar ingin segera lampunya berubah menjadi warna hijau. Tidak menyia-nyiakan waktu lagi, lalu Zia menyambar benda pipih yang ada di dashboard, Zia menekan dial nama Cayang Monik.
“Tuut.. nomer yang tuju sedang berada di luar jangkauan.”
“Haaaaah!” Zia marah, kalut sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Zia mencoba lagi menghubungi Monik, namun lagi-lagi suara operetar yang menjawab.
Dengan sabar Zia menunggu, lalu tak lama kemudian lampu berubah menjadi kuning, dan segera saja Zia menancapkan gas nya dengan kasar lalu memutar kemudi berbelok ke kanan. Beruntung jalanan itu lurus tanpa ada belokan atau persimpangan, Zia yakin mobil pak dosen pasti masih ada di depan sana.
Zia langsung teringat nama Susan, Zia mengambil handphonenya Kembali dan menekan dial nama Susan.
“Tuuut.. Tuuut.. Tuuut.. “ “ayo dong San.. angkat telpon gueee..” Zia gelisah.
Sambil terus memegang kemudi dan handphonenya, sampailah Zia di ujung pertigaan, Zia bingung apakah ke kanan atau ke kiri..? kalo ke kiri kan menuju arah rumah Monik.
Kalo kekanan menuju arah kampus Zia. Akhirnya menjatuhkan pilihan belok kekanan, Zia memutuskan untuk mendatangi rumah Monik, karena tidak mungkin Sabtu begini mereka menuju kampus.
Jadi pilihannya adalah rumah Monik, tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai rumah Monik, Zia belok kekanan lagi menuju komplek rumah Monik, saat memasuki gapura Zia menyalakan klakson untuk menghormati pak satpam.
Dan mendekati rumah Monik, Zia mengurangi kecepatan laju mobilnya. dari kejauhan Zia melihat mobil putih terparkir di depan rumah Monik yang megah dan mewah bernuansa etnik modern berwarna putih abu-abu.
Zia berenti tepat tiga rumah dari rumah Monik, sekarang hati Zia agak sedikit tenang, tidak seperti tadi di awal melihat pemandangan dan menyakitkan yang telah membuat panas hati nya, karena sudah tau siapa orangnya sehingga Zia tidak penasaran lagi.
Zia masih berusaha menghubungi Monik dan Susan, akan tetapi masih sama seperti tadi, tak ada satupun yang dapat di hubungi.
Sekitar sepuluh menit berlalu, Zia menghempaskan badannya di sandaran mobilnya, dengan kedua tangan sebagai bantalannya, Zia masih menunggu apa yang akan di lihat nya nanti.
Tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari dalam dan berhenti tepat di depan pagar rumah Monik. Itu adalah pak dosen, dan di ikutin oleh seorang cewek di belakangnya, entah apa yang di bicarakan kedua nya. Dengan tidak sabar Zia menginjak pedal gas mobilnya untuk menjumpai mereka berdua.
“Iyaaa lebih baik gue samperin aja, sekalian gue tangkep basah mereka berdua, supaya mereka tau kalo gue ngikuti mereka dari tadi, dan gue ga perlu minta penjelasan dari mereka.. Shitt..!” gumam Zia lirih.
“Ciiiiit… Ceklek.. Blam..!” dengan kasar Zia mengerem mobilnya lalu membuka pintu dan membantingnya. Keduanya tercekat dan kaget begitu melihat siapa yang datang.
“Zi.. Zi.. Ziaa..”
“Ka.. Ka.. Kamuu..” Monik serta pak Dosen terkejut dan melongo bersamaan, dengan cepat Monik melepaskan pegangannya di lengan pak dosen.
Mata Zia nanar dan bertabrakan dengan mata Monik dan mata Pak dosen secara bergantian, dengan tatapan yang menghunus penuh kebencian dan kekecewaan.
Monik memajukan langkahnya kedepan Zia, namun Zia mundur untuk menghindari Monik. Dan pak dosen hanya bisa diam terpekur di tempatnya, dengan senyum kemenangan pak dosen tersenyum sinis kearah Zia.
“Zi.. ini nggak seperti yang kamu liat sayang..” rayu Monik manja seraya meraih tangan Zia
Namun Zia menepis kasar tangan Monik
“Aku nggak perlu penjelasan, dari Distro hingga sampai kesini, semua sudah jelas, mulai sekarang kita jalan masing-masing.. Kita putus.!" ucap Zia pelan, singkat namun tegas, tanpa menatap keduanya Zia pergi meninggalkan Monik dan pak dosen dengan hati yang sangat hancur dan perasaan yang kecewa.
Yaaah.. begitulah Zia sedikit sekali bicaranya, terlebih dalam keadaan marah. Monik paham betul.
“Zia tunggu Zi.. Ziiiii..” Monik berteriak sembari menangis dan mengejar mobil Zia, namun pak Dosen yang di ketahui bernama Thomas itu merengkuh bahu Monik dan menariknya ke dalam dadanya yang bidang, dan Monik menangis tersedu-sedu hingga membasahi kemeja pak Thomas.
“Sudah biarkan Zia tenang dulu, besok kamu bisa menemuinya..” redam pak Thomas
“Tapi pak.. Zia udah mutusin Monik pak.. Monik nggak mau.. Monik nggak terima.. huuhuu..” Monik menangis menyesali perbuatannya.
“Harusnya saya menolak ajakan bapak, kalo jadinya seperti ini.. huhuuu. hiks.”
“Ya sudahlah Monik. Semua sudah terjadi, kan masih ada bapak disisimu.” Pak Thomas berusaha menenangkan yang mengandung unsur modus, kesempatan dalam kesempitan, dasar dosen genit. Huh..!
Monik terus menangis seraya memukul-mukul d**a bidang pak Thomas, lalu kemudian menengok ke arah mobil Zia yang sudah berjalan meninggalkan rumah Monik.
Zia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung di perumahan tempat Monik tinggal sangat sepi.
"Pak Thom.. besok pak Thom bantu Monik bicara sama Zia ya.. ini semua salah Monik.. Hiks." Monik terus menangis, pak Thom semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya sudah Mon.. kamu tenang dulu ya.. sekarang kamu lebih baik masuk ke dalam rumah dan istirahat ya.." Ucap pak Thom berusaha menenangkan hati Monik.
Sementara Zia masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Zia mengklakson semua kendaraan yang ada di depan untuk di dahului. Wajah Zia terasa panas, pandangannya nanar menatap ke depan namun pikiran nya melayang.
"Aaarrgghh.. Monik.. Aarrgghh." Teriak Zia frustasi.
"Kenapa lo tega melakukan ini semua.!" Zia membanting tangannya di kemudi, d**a Zia mendadak sesak, di saat Zia mulai merasa nyaman dengan Monik, mungkin sudah mulai tumbuh rasa sayang dan cinta untuk Monik, mengingat bahwa Zia dan Monik pacaran karena di jodohkan dengan temannya Monik.