Cuaca panas di luar mungkin tidak sepanas hati Zia saat ini, ia sudah mulai percaya mungkin Monik lah jodohnya, meskipun pacaran baru sekitar 6 bulan, tapi cukuplah bagi Zia untuk menyudahi semua kebohongan tentang jati dirinya yang selama ini mengaku anak rantau dan mandiri tanpa memberitahukan siapa orang tua Zia sesungguhnya kecuali pihak Universitas tempat kuliah Zia. Zia perlahan akan menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Zia akan berkata jujur sekaligus ingin memberikan kejutan buat Monik.
Namun Tuhan belum mengizinkan, manusia boleh saja menginginkan, merencanakan, tapi Tuhan berkehendak lain. Zia yakin bahwa rencana Tuhan itu lebih baik dari yang dia inginkan.
Akhirnya Zia memutuskan untuk kembali ke apotik dan menunggu mama Bella sampai dengan urusan mama nya selesai, sesampainya di apotik Zia langsung menuju toilet pria, Zia membasuh mukanya yang lesu dan merah, Zia nggak mau nanti mamanya curiga.
“Oooh rupanya ini yang membuat gue enggak b*******h sedari pagi.” Gumam Zia lirih berfirasat.
Zia frustasi..? tentu saja karena selama ini Zia belum pernah menjalin asmara dengan gadis manapun. Pernah sih Zia suka dengan seorang gadis cantik, pintar serta bintang sekolah saat masih duduk di bangku SMP, namun Zia hanya bisa memendamnya, Zia tidak berani mengutarakan maksud hatinya, bahwa Zia menyukai gadis itu. Akhirnya perasaan itu pun ia pendam, hingga cewek gebetannya di serobot orang dech.. gadis pujaan nya di tembak teman dekatnya sendiri. hahaha kasian Zia.
Karena Zia waktu masih SMP dan SMA adalah tipe cowok yang pendiam alim namun cerdas, Zia selalu menjadi juara kelas. Zia juga memiliki teman dua anak saja. Saking terlalu pendiamnya sempat di juluki anak mami. (sebetulnya sampai sekarang sifat Zia masih bertahan seperti itu.. terlalu cool). Haahhh..
benar-benar SadBoy ya Zia.
Tak sedikit yang menyukai Zia, selain tampan, pintar dan tajir, banyak cewek-cewek yang ngejar Zia. Tapi Zia nya tidak merespon sama sekali, Zia berpikir cewek suka sama Zia karena melihat fisik dan materi nya saja.
Zia benar-benar seorang anak yang pandai menyembunyikan perasaannya, saat duduk di bangku SMA pun Zia pernah suka sama teman sekelasnya, tapi lagi-lagi Zia kalah telak oleh teman yang lebih berani nembak cewek. Yaaaah sudahlah.. memang begitu karakater Zia.
Setelah masuk kuliah barulah Zia memiliki teman dekat, yaitu Monik. Itu pun di comblangin sama teman-teman Monik. Monik yang pemberani, manja, cantik, kaya, cerdas, nyaris sempurna di mata lelaki.
Akhirnya Zia berusaha menerima Monik, karena Monik yang selalu berusaha mendekatinya dan membuat membuat serba salah, karena Monik selalu bersikap baik, perhatian, juga sayang pada Zia.
Pertama malu-malu, lalu proses penjajakan, mereka sering hangout bersama genk nya Monik, dari nonton, nongkrong di coffe, mengerjakan tugas bersama-sama, hunting barang-barang layaknya muda-mudi pada umumnya.
Akhirnya mereka berdua jadian, entah kapan persis nya yang pasti Zia dan Monik makin hari makin lengket saja, seperti lem dan perangko.. hhihiihi
Walaupun perasaan Zia sesungguhnya sangat menolak saat sahabat Monik selalu saja menyodor-nyodorkan Monik, agar mereka berdua jadian.Namun akhirnya Zia menyerah.
"Ya udah Don.. Gue coba jalanin dulu ajalah.. Sepertinya Monik juga cewek baik-baik." Ucap Zia kala itu saat nongkrong berduaan sama Donni.
"Eeeh lo pikir cilok apa..? pake dicoba-coba dulu..!" Canda Donny
"Heeeh ya bukan gitu juga maksud gue.. Well gue terima Monik." dengan muka datarnya.
"Nah gitu dong Zi.. Lo jalanin aja dulu.. Daripada lo jadi jones wkwkwkwk." Canda Donni.
"Suek lo." Ujar Zia seraya menonjok lengan Donny
"Lagian nih ya.. Monik tuh suka beneran sama lo Zi.. Masa lo selama ini nggak peka sih." Ucap Donny meyakinkan.
"Yaaah emang gue nggak peka Don.. Karena gue nganggep lo semua temen nongkrong gue.. Nggak lebih.. Termasuk Monik."
"Tapi kucing mana sih Zi yang nggak doyan ikan.. apalagi ikannya nyamperin mulu." Donny terkekeh.
"Lo pikir gue kucing apa..!" Ucap Zia seperti tak terima.
"Ceilah Ziii.. Cowok kayak lo musti dapet cewek yang agresif.. kayak si Monik itu.. Cocok banget lo."
Zia menanggapi ocehan Donni hanya terkekeh.
"Monik body nya Zi.. Suit.. Suit.. Bahenol.. Gitar Spanyol brooo." Donni menyiulkan bibir sambil mengangkat kedua tangannya membentuk lekukan tubuh.
"Aaah omes lo Don."
"Sayang Zi gue naksir Anna.. Kalo nggak.. Udah gue gebet tuh si Monik yang seksi." Donni terus ngoceh sambil sesekali menyesap minumannya.
Selama berpacaran mereka berdua saling melengkapi, Zia yang kalem sabar sedangkan Monik yang lincah dan manja serta agresif,Monik selalu mendapatkan semua keinginannya. Zia selalu mengalah saat ada sesuatu yang membuat mereka harus berdebat.
Monik adalah putri tunggal kesayangan dari pasangan papi Niko dan mami Lisa, kedua orang tua Monik sangat super sibuk dengan perusahaan mereka, sehingga Monik di manjakan dengan materi melulu. Tak segan orang tuanya melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan sesuatu agar putri kesayangannya bahagia. Tanpa mereka berpikir bahwa memanjakan dengan materi yang berlebih itu salah. dan membuat karakter Monik ingin menang sendir dan selalu di turutin kemauannya, beruntung teman-teman dekat Monik sangat paham dan mengerti akan diri Monik yang seperti itu.
Keesokan harinya Monik berusaha menghubungi Zia, namun nomer nya sudah tidak aktif lagi. Monik mencari ke kampus, namun tidak ada. Lalu Monik mencari ke tempat-tempat biasa Zia nongkrong pun tidak pula di dapatinya.
Akhirnya Monik bersama genknya berusaha mencari tau lewat teman sejurusan dengan Zia, namun mereka pun tidak mengetahui keberadaan Zia.
"Gilaakkk.. Zia kayak di telan bumi.. tiba-tiba menghilang tanpa jejak.. nggak seorang pun yang tau keberadaan Zia saat ini." Susan menyerah karena sudah lelah menemani Monik kesana-kemari untuk mencari Zia.
"Lo gimana Don..? nyari kemana aja..?" Tanya Susan penarasan, karena sejak kemarin Donny tidak jalan bersama.
"Gue juga udah nyari seantero jagat alam ini.. tapi nya nihil.." Ungkap Donny lebay.
'Huuuu.. sekalian nyari ke liang lahat.. hhahaha.." Sorak Rey seraya menoyor kepala donny.
"Ngaco lo don.." ucap Monik sambil memberengut.
Sudah hampir satu minggu Zia tidak ngampus. Monik putus asa, ia sedih dan menangis dengan penuh penyesalan. Monik memutuskan ke kos an Zia, karena selama ini Zia tidak pernah mengungkapkan siapa jati dirinya yang sebenarnya, Zia mengaku hanya mahasiswa yang nge-kos bersama teman-temannya yang dari luar kota, tepatnya mahasiswa dari Bali.
Bukannya Zia tak mau terbuka tentang siapa dia, namun Zia berpikir akan lebih baik jika teman-temannya tidak menganggap kalo Zia itu anak pengusaha yang tajir. Zia tidak mau berteman atau bahkan memiliki pacar yang hanya melihat dari sisi materi saja selain wajah tampannya. Lebih baik Zia menge-kos bersama teman-temannya, lagipula kampus dan rumah tinggal Zia lumayan jauh, Kira-kira 60 menit perjalanan. Untuk mengehemat waktu Zia memilih nge-kos bersama Putu teman kecil nya saat tinggal di Bali. Sedangkan kampus dengan kos an hanya 20 menit saja, yang terpenting bahwa Zia ingin hidup mandiri, meski orang tua Zia awalnya tidak setuju.
Dan hanya satu teman yang mengetahui tentang jati diri Zia yaitu teman kos-nya yang berasal dari Bali, yakni Putu, dia sekampus dengan Zia namun beda jurusan.
Monik pun mendatangi kos-kosan Zia di temani Susan sohib kentalnya. Menurut informasi teman donny yang satu kos-an dengan Zia, bahwa Zia sudah tidak nge-kos lagi di situ.
Mobil Susan berhenti tepat di depan bangunan yang bertuliskan "Rumah pemuda". Kos-kosan yang berlantai 2 itu sangat ramai jika weekend seperti sekarang ini, kos-an itu di huni khusus para cowok, yang di jaga ketat oleh seorang Aparat TNI.
Sehingga ketertiban serta keamanannya pasti terjaga dengan aman. Seseorang berpawakan tinggi besar yang memakai seragam loreng menghampiri mobil Susan.
"Cari siapa mbak.." tanya orang itu dengan tegas dan ramah.
“Permisi pak.. Selamat Sore..” Sapa Monik dengan senyum manisnya
“Sore Mbak.. ada yang bisa saya bantu..?” Tanya Aparat yang di atas saku kanannya tertulis nama Hanafi.
“Maaf pak.. saya mau tanya apakah Zia masih tinggal di sini..?” Sahut Monik dengan harap-harap cemas, karena menurut teman kampusnya Zia sudah pindah, jadi Monik hanya memastikan saja.
“Oooh Zia yang orang Bali .. Tinggi dan ganteng..?” Ucap pak Hanafi kembali bertanya.
“i.. iya pak..” kali Susan yang menyahut.
“Ohh dia sudah tidak disini lagi Mbak.. dia pulang ke rumah orang tua nya di Kemang Jakarta.” Jelas Pak Hanafi yang membuat Monik dan Susan kaget.
“Pulang ke rumah orang tuanya di Jakarta pak..?” Kali ini Susan yang bertanya dengan heran. Mata Monik dan Susan saling beradu.
“Iya Mbak.. emangnya mbak-mbak ini tidak tau ya.. kalo Zia itu anak keluarga Dewananta..?” Pak Hanafi ikutan heran. Terlebih saat Hanafi menyebut keluaga Dewananta, kedua melotot tak percaya.
"Keluarga Dewananta yang punya RS sama restauran itu pak..?" Tanya Monik tak percaya.
"Iya.." Jawab Hanafi singkat.
"Kami belum tau pak.. Bapak bisa kasih tau alamatnya..?” Tanya Susan penasaran.
“Aduuuh.. Maaf saya tidak tau mbak.. yang tau Putu.. Dia temen sekamar Zia..” Jelas Pak Hanafi.
"Emang kalian ini siapa nya Zia..?" Tanya pak Hanafi lagi.
"Kami ini teman kampusnya pak." jawab Monik dn Susan serempak.
“Lalu Putunya ada nggak Pak..?” Monik bertanya dengan tidak sabarnya.
“Kalo ada tolong panggilkan Pak.. Saya ingin bertemu dengannya..” Serobot Susan.
“Ada Mbak sebentar ya..” Pak Hanafi berjalan dengan tegaknya meninggalkan Monik dan Susan yang sedang kebingungan dan menyimpan tanda tanya besar.
Setelah Putu menemui Monik dan Susan di ruangan khusus untuk menerima tamu, Putu menjelaskan semua yang dia tau tentang Zia, awalnya Putu sudah di pesan oleh Zia jangan memberi taukan siapapun tentang sebenarnya Zia itu. Namun Putu pikir, kan Zia sudah tidak tinggal di kos-an lagi. Sebaiknya Putu beritahu saja ke mereka, toh Putu tau bahwa Monik kekasih Zia, meski saat ini Putu sudah tahu jika Monik dan Zia sudah putus.
Monik dan Susan terkejut mendengar penuturan Putu, bahwa orang tua Zia tinggal di Kemang bukan di Bali yang Zia ceritakan selama ini, orang tua Zia pun seorang Dokter dan pemilik RS serta beberapa Apotik dan Restauran. Awalnya Monik tidak percaya, namun Putu memberikan bukti dan beberapa foto dirinya dan Zia sedang mengujungi beberapa apotik serta saat mereka berdua makan di restaurant milik orang tua Zia.
Monik pun tahu tempat itu, namun Monik tidak menyangka bahwa itu milik orang tua Zia. Monik tiba-tiba menangis. Air mata Monik terus mengalir saat mendengar cerita dari Putu. Monik terisak pelan.
“San.. ternyata Zia selama ini bohong ke gue, dia bilang kalo dia anak perantauan dari Bali. Hiks.. Hiks..”
“Tenang dulu Mon.. kita dengerin Putu sampai selesai..” Hibur Susan seraya meraih kepala Monik untuk di sandarkan ke bahu nya.
Lalu Putu melanjutkan ceritanya yang ia tahu tanpa di rekayasa sedikit pun.
"Biarlah Monik tau semuanya.. gue akan ceritain semuanya ke Monik.. betapa kecewanya Zia atas perbuatan Monik.."
“Zia.. kecewa dan frustasi.. awalnya Zia nggak cerita kenapa tiba-tiba dia pindah dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya serta nggak nerusin kuliahnya. Setelah gue temui di RS, baik abangnya juga gue, ndesek dia sampe dia mengaku apa yang terjadi dan kenapa Zia sampe terluka dan di kenai beberapa jahitan di kakinya.. akhirnya dia ceritain semuanya ke gue dan juga bang Zidni.” Jelas Putu sambil sesekali menghisap rokok di tangannya. Monik dan Susan mendengarkan dengan antusias dan tak percaya apa yang baru mereka dengar.
“Zia berenti kuliah, lalu dia bilang mau menenangkan diri di rumahnya Nini dan Pekaknya (nenek dan kakek) di Bali. Dia juga nggak izin ke dosennya.. Hari itu juga saat ngeliat lo sama pak Thomas.. Zia malamnya ngamuk di kamarnya.. handponenya di buang dan simcardnya di bakar, semua dia hancurin tak terkecuali foto kalian berdua yang dia lempar ke pintu lalu remahan kacanya mental ke kaki Zia hingga robek.. lalu Zia di larikan ke rumah sakit oleh Mamanya.. dan setelah kakinya udah mendingan.. Zia minta di pesenin tiket gue buat ke Bali..” begitulah cerita Putu, yang membuat Monik tambah meraung-raung nangis pilu nggak karuan, hatinya di pehuni dengan rasa bersalah serta penyesalan. Namun apa yang harus di perbuat, nasi sudah menjadi bubur. Dan Zia pun sudah berkata “Kita Putus.”
“Huuuu.. Huuuu.. Lalu gue mau cari Zia kemana San..?” Monik terus menangis di pelukan Susan.
“Yaaah begitulah Zia.. Dia sangat tertutup.. Dia nggak mau orang tau tentang keluarganya.. Dan pada hari terakhir di kampus.. Zia sebenernya mau ngajak lo ke rumahnya dan mau ngasih tau semuanya ke elo Mon.. tapi lo nya mau pergi sama Susan ke stationary.. dan sampe akhirnya ada kejadian yang bikin kalian putus.. ya udah deh.. mau gimana lagi.. sebetulnya Zia udah mulai mau nerima lo dan jujur sama elo Mon.. Zia mau ngasih kejutan ke elo Mon.. Gitu maksudnya.. kan Zia pikir pacaran sama lo udah 6 bulan cukuplah buat lo saatnya tau semua tentang Zia..” Jelas Putu panjang lebar.
"Maksud Zia bukan ingin bohongin kalian semua terutama lo Mon.. tapi lebih ke.. mungkin pengalaman Zia atau gimana gue nggak tau ya.. Zia nggak pengen orang-orang atau temen-temen nya bahkan pacarnya tau kalo Zia itu borju.. karena Zia nggak pengen punya temen bahkan pacar yang melihat sisi dari materinya aja.. dan menurut gue sih sah-sah aja ya.. daripada ngaku orkay hanya demi gengsi mendingan ambil sikap kayak Zia gitu." sambung Putu.
“Zia mau ngenalin lo ke orang tua nya.. lalu mau ngunjukin tempat-tempat dan asset milik orang tuanya juga beberapa Apotik yang di kelola Zia dan abangnya.” Putu menghisab dalam-dalam rokoknya lalu meniupkan asapnya perlahan.
Monik mendengarkan Putu bercerita dengan seksama, Monik sedikit tak percaya dan serasa mimpi apa yang di katakan oleh Putu. Nafas Monik sedikit sesak.
“Setelah di Bali Zia mengganti nomer Hp nya lagi.. dan gue nggak di kasih tau sampe sekarang.. dia Cuma bilang nanti suatu saat dia yang hubungin gue.. udah Mon itu doang yang gue tau..” Putu mengakhiri ceritanya, tak lama Putu membuka benda pipih dan membuka kontak nya, lalu memberikan alamat rumah Zia kepada Monik.
"Gue boleh minta alamat nya Zia..?" Tanya Susan mewakili Monik yang masih terus terisak.
"Maksud lo alamat..? lo nggak mungkin ke Bali nyusul Zia kan..?" Tanya Putu sarkas.
"Emang gue--boleh minta alamat Zia di Bali." Tanya Susan ragu.
"Lebih baik lo ke rumah--putih dulu aja.. siapa tau Zia udah balik ke rumahnya." Sahut Putu dengan ragu juga.
"Yaaah aturan gue jangan bilang kalo Zia di Bali.. keceplosan deh gue." Batin putu.
"Rumah putih..? maksud lo Tu..?" Tanya Susan heran.
"Maksud gue rumah putih itu rumah orang tua Zia yang di kemang.. lo perhatiin saat lo kesana.. hampir semua warna cat di komplek itu warna abu-abu putih dan pagar hitam.. tapi rumah Zia beda sendiri,, rumah no 9 itu warnanya putih semua sampe ke pager-pagernya. Cuma ornamen tembok ada warna keemasannya." tambah Putu.
"Pokoknya nggak susah kok nyarinya.. no 9 itu rumah satu0satunya yang berwarna putih" Jelas Putu lagi. Susan dan Monik hanya manggut-manggut saja.
"Ini alamat Zia.. lo catet aja.. nggak susah kok nyari alamatnya.. Tante Bella mama Zia juga kenal banget sama gue.. karena rumah kita di Bali satu komplek hanya beda blok." ucap Putu seraya memberikan alamat Zia.
Setelah mendapatkan informasi yang lengkap dari Putu, lantas keduanya pun pergi dengan hati yang kecewa terutama Monik, dia merasa kehilangan Zia. Setelah menyimpan alamat Zia, keduanya pamit, mobil Susan meninggalkan Putu yang masih berdiri di depan pintu gerbang.
Di dalam mobil Monik dan Susan diam seribu bahasa, pikiran mereka sibuk dengan persepsi mereka masing-masing mengenai Zia.
"Nggak gue sangka Zia anak keluarga Dewananta, pantesan nama belakangnya selalu di singkat D aja. Mon. Mon.. lo nyesel kan akhirnya setelah tau siapa doi lo sebenarnya." Batin Susan sambil terus melajukan mobilnya menuju rumah Monik.
"Zia kenapa sih selama ini kamu berbohong tentang identitas kamu..?" Batin Monikseraya memejamkan matanya, seperti tak ingin di ganggu lamunannya tentang Zia.
Sesampainya di depan rumah Monik.
"Mon dah sampe nih..!" Susan mengoyangkan pundak Monik pelan.
"I--iya San.. thanks ya udah nganterin gue.. besok temenin gue lagi San.. please..!" Ujar Monik setengah memohon.
"Siip.. lo jangan khawatir.. gue ada buat lo Mon.. sekarang lo istirahat ya.. makan dulu.. tadi kan lo makannya ngga habis." Ucap Susan mengingtkan Monik.
"Iya San.." jawab Monik singkat.
Bersambung..
Happy Reading #Kiss