Keesokan harinya..
Jam di tangan Susan menunjukkan pukul 10, namun panas matahari sudah sangat menyengat. Sesuai kesepakatan Monik dan Susan bahwa hari ini mereka berdua akan mendatangi rumah orang tua Zia.
Mobil Monik memasuki awasan elit di Jakarta Selatan, daerah itu sangat lengang hanya ada beberapa mobil saja yang lalu lalang, dan tidak ada orang yang berjalan kaki untuk di tanya, juga hanya ada satu kios kecil penjual rokok dan minuman serta permen yang berada di tepi jalan, dan itu pun sudah terlewati oleh mobil Monilk. Netra Monik dan Susan terus mengabsen nomor rumah sepanjang jalan, hunian rumah di komplek ini semuanya berwarna cat yang sama yaitu berwarna abu-abu dan putih serta berpagar hitam, bisa jadi dulu nya komplek ini adalah perumnas, mengingat semua bentuk bangunan dan warnanya sama, hanya beberapa fasad saja yang sudah di rubah oleh si penghuni rumah sedangkan warna cat nya masih tetap sama semua, Dan mungkin hanya rumah Zia yang berbeda seperti yang di ceritakan oleh Putu kemarin.
"Ck.. Ck.. Ck.. Ini rumah semua nya hampir sama ya Mon.. Besar-besar dan luas.. Dan beberapa rumah masih bentuk bangunan lama." Decak Susan seperti terkagum-kagum.
"Kalo di perhatiin sih ada yang beda bentuknya San.. Hanya karena cat nya aja yang sama jadi sekilas sama semua." Ujar Monik sambil matanya terus ke depan focus ke jalan dan sesekali nengok ke kanan.
"Lu nggak salah kan San..?” Tanya Monik meragukan Susan yang duduk di sampingnya.
“Kaga lah Mon.. Ini tuh udah jelas jalan Kemang, kita tinggal nyari nomernya aja Mon..” Ujar Susan percaya diri, sambil terus matanya menatap kesana kemari karena mencari nomer rumah yang akan di tuju.
"Yaaa pokoknya kita cari aja cat warna putih yang menurut si Putu beda sendiri." Ucap Susan lagi.
"Naaah Mon.. itu tuh nomer 9..” Tunjuk Susan dengan antusias. Kemudian Monik menepikan mobilnya tepat di depan rumah nomor 9, rumah yang sangat mewah dan megah.
"Iya bener kata Putu.. Rumah ini beda sendiri cat nya.. Dari semua rumah besar dan mewah di kawasan ini.. Tapi rumah ini lebih besar dan lebih mewah." Susan terkesima dengan rumah Zia.
Monik melamun dan heran juga nggak habis pikir kok Zia bisa menyembunyikan identitas dirinya dengan rapih.
"Gue nggak percaya San kalo Zia tinggal di sini." Tukas Monik ragu.
"Sama Mon.. Njiiir ternyata Zia anak dari keluarga Dewananta yang dokter kaya itu. Ck.. Ck.. Ck.." Lagi-lagi Susan berdecak kagum.
“Selama ini kan Zia selalu tampil biasa aja, nggak ada yang mencolok.. Nggak pernah pamer.. Nggak sombong.. Emang sih setiap gue jalan sama dia, tu anak doku nya banyak.. Lo juga kan sering ditraktir San..?" Monik masih saja berceloteh sedangkan Susan terpana dengan melihat pemandangan di depan matanya.
"Iya bukan gue aja Mon.. Sejak Zia masuk Genk kita sering banget kita ditraktir." Ujar Susan tanpa mengalihkan pandangan dari rumah Zia.
“Gue juga nggak percaya Mon, serasa mimpi deh, atau jangan-jangan Zia anak pungut, makanya kenapa dia sembunyiin semuanya, atau Zia anak tiri kali.. bisa juga anak simpenan dan har..” seloroh Susan konyol.
"Husshh mana mungkinlah, lo ngaco banget deh bisa berpikir jauh kesana. Tapi San kalo di pikir-pikir emang masuk akal sih. Kalo Zia emg tajir.. Gue aja pernah di kasih hadiah jam tangan mahal saat gue ultah.." Monik mengingat moment saat ultah dirinya.
"Lo perhatiin cara dia berpakaian..! Branded semua, lalu barang-barang yang dia pake--mehong San. Inget nggak lo..? Zia pernah pake motor ninja warna putih item?.. Rey bilang apa..? Itu motor harganya hampir mendekati 100jetong San. ” Tanya Monik dengan mengingat-ingat saat Zia bawa motor ke kampusnya.
"Iya gue inget, tapi kan dia bilang itu motor boleh pinjem temen kost nya, karena boil dia masuk bengkel.” kata Susan
“Naaah coba aja ntar kita liat di dalem.. Boil sama motornya ada apa kagak..?” lanjut Susan.
" Tapi Saaan.." Suara Monik terjeda, dia menelan salivanya.
"Tapi kenapa Mon..?" Tanya Susan heran.
"Kalo emang Zia pasti udah nggak tapi nggak disini.. Ngapain kita kemari.. Percuma." Ucap Monik putus asa.
"Jangan nyerah ah.. Kita temuin dulu nyokap nya.. Siapa tau kita informasi dari nyokap nya." Susan meyakinkan Monik seraya menepuk pundak Monik pelan.
"Lo harus yakin bahwa lo kemari mau minta maaf ke anaknya. Iya kan..?"
"Tapi gue parno San.. takut di salahin sama keluarganya Zia.. gara-gara gue dia jadi nggak nerusin kuliahnya dan jauh dari orang tuanya." Ujar Monik sedih.
"Udah Mon.. bismillah aja.. gue yakin mama nya Zia itu orang baik.. beliau pendidikannya tinggi dan seorang dokter.. dokter anak lagi.. pasti baik lah.. liat aja anaknya." Susan terus berusaha meyakinkan Monik.
"Lagian udah sampe sini juga kali Mon.. dah tanggung.. masa lo mau nyerah.!" Tukas Susan.
"Iya.. oke deh gue jadi yakin.. yuk turun..” Ajak Monik lirih seraya membuka pintu mobilnya dan keluar berjalan pintu gerbang dan di ikuti oleh Susan. Akhirnya keduanya berjalan mendekati pagar.
“Assalamualaikum..” Susan mengucap salam seraya menekan bel yang berada di balik pagar tembok yang menjulang di depannya.
Nampak seorang bapak yang belum terlalu tua keluar dari pos kecil yang terletak di pojok halaman.
“Walaikumsalam.. cari siapa Non..?” Tanyanya dari dalam pagar.
“Saya mau bertemu dengan pemilik rumah ini.. Apa betul Zia tinggal disini pak..?” Ucap Monik dengan mata yang masih terkagum-kagum dengan apa yang di lihatnya.
"Betul Non.. Non-non ini mau cari Mas Zia..?” Tanya bapak itu kembali.
“I..Iya pak.. Saya Monik.. pacarnya Zia..” Jelas Monik.
“Ooh tapi anu Non.. mas Zia nya sudah tidak di sini lagi.. Mas Zia sudah pindah.”
"Hmmm benar saja apa yang di bilang Putu..” Bathin Monik
“Enng kalo Mamanya ada pak..?” Tanya Susan penarasan.
“Oooh.. Sebentar ya Non saya panggilkan Nyonya.. ” Sahut nya masih tak percaya jika anak majikannya yang pendiam itu memiliki pacar yang cantik dan seksi.
“Ck.. Ck.. Ck.. Kok bisa-bisanya ya Zia ngerahasiain semua nya.. Hebat Zia. ” Puji Susan masih dengan kekagumannya.
Kedua nya masuk ke dalam halaman yang luas setelah pak Sakir membukakan pintu gerbang.
Disisi sebelah kiri ada pos satpam dan paviliun serta pendopo kecil dengan sentuhan khas Bali, lalu di sebelah kanan terdapat garasi yang luas, disana nampak beberapa mobil yang terparkir, dan mata Monik menangkap sebuah mobil putih besar yang sangat ia kenal, yaaah itu mobil yang biasa di pakai oleh Zia saat ke kampus, dan tak kalah terkejut, mata Monik dan Susan mendapati kuda besi gagah berwarna hitam putih Ninja 300. Disana juga terparkir mobil sedan hitam mengkilap bernopol B 314 LA. Disamping garasi terdapat pohon-pohon besar nan rindang. Sungguh sejuk dan asri sekali.
“Nah tuh kan Mon.. itu motor yang Zia pake waktu itu, bisa-bisanya ngaku kalo motor boleh pinjem, sungguh keterlaluan Zia itu..” Kesal Susan.
“Iya San.. Gue sendiri aja pacarnya sampe nggak tau kalo dia itu tajir melintir kayak gini." Ucap Monik pelan.
"Kenapa Zia selama ini berbohong sama kita-kita.? Apa takut di porotin sama lo.. Atau di manfaatin orang, setelah tau dia kaya gitu." Susan heran.
"Yaaa gue emang minta ini itu.. tapi kan masih wajar.. lagipula gue juga tinggal minta sama papi pasti di kasih ngapain gue morotin Zia.." Bantah Monik.
"Iya juga sih.. lagian kan sejak awal masuk kampus emang dia low profil kok anaknya.. terus kenapa dia ngaku anak rantauan.?"
"Entahlah San.. Mungkin ada maksud tertentu.. Sampe-sampe dia nyembunyiin semuanya." Jawab Monik lirih seraya menggedikkan bahunya.
Setelah di persilahkan, Monik dan Susan mengikuti pak Sakir masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu yang luas dan sejuk.
Mata Monik dan Susan berselancar ke seluruh ruangan. Nampak foto keluarga Zia beserta kedua orang tuanya, Di foto itu terdiri dari 4 orang, itu pasti kakaknya Zia. Pikir Monik. Di foto itu 3 orang lelaki mengenakan jas hitam resmi dan foto yang wanita mengenakan kebaya yang di d******i dengan warna peach perpaduan antara Jawa dan Bali, sungguh keluarga yang harmonis. Wajah keempat orang itu sangat mirip satu dengan yang lain.
"Mon lo liat foto itu deh.. Jangan-jangan Zia kembar..!" Ucap Susan dengan mata melotot memandangi foto yang terpajang di dinding.
"Iya San.. Mirip banget.. Kayak pinang di belah dua.. Cuma Zia lebih tinggi dan agak bule."
"Pantesan Mon.. Zia bule.. Lo liat bokap nya." Susan masih memperhatikan foto itu dengan seksama.
"Iya.. Gue liat San." Monik pun ikut menilai foto keluarga Zia satu persatu.
Di kanan kiri foto besar tersebut masih ada beberapa foto lagi, yaitu foto-foto di mana orang tua Zia saat menerima beberapa penghargaan serta foto bersama para pejabat tinggi di negeri ini. Di bawah foto terdapat meja panjang yang banyak berisi plakat penghargaan dari dunia kesehatan.
Terlihat sangat jelas kalo keluarga ini adalah keluarga dokter. Ruangan itu sangat lega, terdapat 4 sofa berbentuk L yang tengahnya terdapat meja kaca besar dan kokoh, di atasnya di letakkan vas bunga serta anggrek bulan kecil warna ungu di kelilingi dengan rumput hijau pendek. Nampak di dinding ada beberapa lukisan Bali juga lukisan bunga kamboja kuning yang nyaris mirip dengan aslinya.
Di tepi ruangan ada sebuah lemari kaca yang isinya kristal-kristal cantik koleksi sang tuan rumah. Terdapat juga guci-guci besar di tiap sudut ruang. Ruangan itu sangat hommy sekali, mencerminkan pemiliknya yang hangat.. sepertinya.
Tak lama seorang wanita yang sudah tidak muda lagi, namun sangat cantik dengan hijab sutra merah yang di padankan dengan tunik pink muda.
"Assalamualaikum tante..” Salam Monik dan Susan bersamaan, lalu keduanya menyambut tangan Mama Bella dan menjabatnya.
"Walaikumsalam.. Saya Bella pemilik rumah ini” Ucap Mama Bella ramah.
"Iya tante.. Saya Monik dan ini Susan teman saya.. “ Sahut Monik tak kalah sopan dengan senyumnya yang menawan.
“Ini cantik-cantik sekali darimana, dan kalo boleh tante tau.. kalian cari siapa ya..?” Tanya mama Bella, padahal tadi sudah di beritahu pak Sakir bahwa ada yang mencari Zia dan mengaku pacarnya.
"Emmm saya ingin mencari Zia tante.. apakah Zia nya ada..?” Tanya Monik agak ragu, karena bahwa sebenarnya Zia sudah tidak tinggal di rumah ini lagi.
“Ohya.. kalo boleh tante tau lagi.. kalian ini siapanya Zia ya..?” Tanya mama Bella lagi penasaran dengan mengurai senyuman.
"Saya--kekasih Zia tante..’’ Ujar Monika gak takut-takut.
“Oohhh..” Hanya ber O saja yang keluar dari mulut Mama Bella sambil manggut-manggut.
"Iya tante.. kalo boleh, saya ingin bertemu dengan Zia, karena sudah seminggu ini Zia tidak ke kampus dan nomer hp nya tidak bisa di hubungi..’’ Monik mengutarakan niatnya dengan tampang sangat melas.
“Ennggg.. begini ya nak Monik dan nak Susan.. Zia saat ini sedang menenangkan hati serta pikirannya, dan Zia sudah berpesan sama tante.. Katanya nggak ingin di ganggu untuk sementara waktu.." Mama Bella tersenyum simpul.
"Tapi tante.. Zia ada di mana tan.. Saya perlu bicara sama Zia." Suara Monik memohon.
"Maaf nak Monik.. Tante tidak bisa memberitahukan keberadaan Zia saat ini.. ia tidak depresi saja sudah bagus.. dan tante sangat khawatir terhadap guncangan jiawanya Zia saat ini.. karena tante paham betul siapa dan bagaimana Zia.. selama ini Tante nggak pernah tau kalo Zia sudah memiliki kekasih.. karena Zia sangat pendiam dan tertutup.. apalagi soal pribadi nya..” Mama Bella menjelaskan secara to the point dengan sopan serta ada penekanan pada tiap kata-katanya.
Monik tertunduk sedih, sedangkan Susan diam hanya menyimak obrolan Monik dan mama Bella.
“ini tho yang namanya Monik.. Ayu seksi dan sopan.. sepertinya dia dari kalangan keluarga mampu dan beredukasi tinggi.. tapi sayang ya.. kamu sudah membuat luka di hati putraku..” Bathin Mama Bella seraya terus mengamati Monik.
Mata monik berkaca-kaca mendengar penjelasan dari Mama Bella, hatinya hancur, tangan Monik meremas-remas tisu seakan hancur mengikuti jejak hatinya.
"Jadi Tante rasa.. biarlah untuk sementara waktu jangan dulu mengusiknya.. biarlah waktu yang bisa mengobati luka hati Zia.. Tante minta maaf ya.. pasti kalian kecewa.. khususnya nak Monik..” Ujar Mama Bella bijaksana.
Monik merasa malu dan bersalah. Monik tak dapat membendung butiran kristal yang keluar dari matanya. Susan menepuk-nepuk bahu Monik untuk menenangkannya.
“Dan maaf.. Tante juga nggak bisa memberitahukan alamat di mana Zia berada.. lagipula Zia tidak memegang handphone.. sehingga kita pun tidak bisa menghubungi Zia..” Mama Bella juga tak ingin putra kesayangannya sakit hati lagi.
"Dan Zia sudah memutuskan, tidak kuliah lagi.. Entah sampai kapan." Masih dengan nada yang sopan dan tatapan lembut, mama Bellla meneruskan kata-katnya.
“Maaf Tante.. semua karena saya.. saya sangat menyesal..” Pundak Monik teguncang-guncang akibat tangisannya.
Mama Bella bangkit dan pindah ke tempat duduk di samping Monik.
“Sudahlah.. tidak ada yang perlu di sesalkan.. Toh semuanya sudah terjadi kan.. Kita tidak akan tau rencana Tuhan seperti apa.. semuanya rahasia Tuhan.. termasuk dengan pasangan hidup kita nantinya.” Mama Bella mengusap pundak Monik dengan lembut. Ada kenyamanan serta penyesalan yang membalut perasaan Monik saat ini.
"Hiks.. Hiks.. iya Tante.. Kal.. Kalo nanti tante bertemu dengan Zia.. To.. Tolong sampaikan maaf Monik ke Zia." Ucap Monik terisak dan terbata-bata.
"Baiklah insyaa Allah tante sampaikan ke Zia.. ohya sebentar." Mama Bella tersenyum simpul. Paham apa yang di rasakan Monik. Juga paham apa yang di rasakan Zia putranya.
"Bik.. Bik mina tolong buatkan jus buat teman Zia ya.. 2 ya bik." Kata mama Bella saat bik Mina melintasi ruang tamu.
"Baik buk.. sebentar bibik buatkan." sahut bik Mina.
"Maaf tante tidak usah repot-repot.. kami berdua akan pamit.. sekali lagi maaf tante sudah mengganggu waktu tante." Ujar Susan mewakili Monik bicara, karena Monik masih terlihat sedih dan kecewa.
"Baiklah kalo begitu.. hati-hati di jalan ya nak.. jangan ngebut-ngebut." Pesan mama Bella sembari mengantarkan sampai depan pintu, setelah nya mama Bella masuk ke dalam rumah lagi.
Dengan hati yang kecewa untuk kedua kalinya Monik dan Susan meninggalkan rumah Zia setelah meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada mama Bella.
Saat mereka berdua keluar dari rumah besar itu dan menuju ke mobil Monik, nampak mobil sedan mercedez warna putih menepikan mobilnya di garasi. Lalu kemudian keluarlah pemuda tampan tinggi memakai jas putih, menandakan ia seorang Dokter.
Rambutnya klimis habis, rahangnya tegas dan macho, sangat berwibawa sekali dengan pakaian yang di kenakannya, kacamata yang bertengger di atas hidung nya menambah karisma pada dirinya.
“Mon.. Mon.. Siapa tuh..? Gilaaakk ganteng banget..” Pekik Susan dengan suara tertahan agar tidak terdengar oleh pemuda yang keluar dari dalam mobil.
“I.. Iya.. itu pasti kakaknya Zia San.. Tadi lo liat nggak foto tadi di ruang tamu..?” Monik menerka-nerka.
Iyaa itu adalah Zizi alias Zidni kakak Zia yang sudah menjadi seorang dokter. Susan nggak berkedip, seperti tersihir oleh ketampanan nya.
“Bukan Mooon.. Itu Si Clark Superboy di masa kini." Ucap Susan gugup karena mereka merasa tertangkap basah oleh zidni.
"Alamak zaaaan.. Gue nggak kuat Mon.. Papah gue ke dalam boil lo Mon.. " Kekonyolan Susan dalam Mode On, dia nggak boleh liat cowok licin dikit.
"Ish paan sih lo San.. " Monik sebal dengan tingkah laku Susan yang ke Ge Er an.
Bukan menegurnya alih-alih Zidni hanya melihat sesaat dan hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan serta mengulas senyum di ujung bibir nya, dan lantas bergegas masuk ke dalam rumahnya serta cuek dengan duo mahkluk cantik yang lagi asyik gibahin dan caper sama dirinya.
"Haaah gilaaak.. Somse banget, sama senyum aja pelit.. mereka bukan anak tante Bella kali yaaa.. ? Zia juga gitu kan Mon.. ? Dingin banget malah.. sedang tante Bella camti sopan dan murah senyum. " Curcol Susan dengan kesal.
"Sumpah yaaaa.. Mahkluk itu di ciptain dari sebongkah es kali yaaa.." Beo Susan lagi, Monik pun tak kalah terpana dari Susan, malahan Monik nggak bisa berkata apa-apa, sungguh bagai pinang di belah dua dengan Zia, hanya kalo Zia lebih kecil dan tinggi dengan rambut gondrong tak berkaca mata.
"Heh montooook.. Gue daritadi ngomong kok di kacangin sih..? " Susan menepak Monik yang sedang melamun dan tersepona eeeh terpesona, padahal sosok Zizi sudah menghilang sedari tadi.
"Ya Tuhannn.. itu kakaknya Zia ganteng banget.. sukak banget liat cowok yang dewasa kayak gitu.. tapi nggak mungkin gue deketin abangnya Zia.. sekarang gue nyesel udah bermain api di belakang Zia.. kalo kenyataan Zia tajir kayak gini.. gue nyesel banget." Batin Monik sibuk sendiri.
"Hah paan sih lo San.. Ngagetin gue aja deh.. " Monik sebal dengan kelebaian sohibnya itu, padahal Monik pun sedang menikmati pemandangan indah yang ada di depannya tadi.
"San air liur lo netes tuh.." Canda Monik sambil bergidik geli.
"Diiih mana ada gue ngecezz, nah lo sendiri dari tadi bengong aja ngeliatin makhluk yang gantengnya sungguh terlalu, wleeekkk.. " Balas Susan.
"Paan sich..! " Monik memberengut.
"Mon.. Lo dah nggak sedih lagi..? Apa karena liat cogan yang tadi lewat.. Hahahha.. " Seloroh Susan meledek Monik terus menerus.
"Dah ach yuuk cuuzz.. Gue bete.. Kita langsung ke cafe biasa kita nongki syantik aja.. " Ucap Monik kemudian masih dengan wajah sedih.
"Ajak juga yang lain.. suruh segera dateng ke cafe.. ." Lanjut Monik dan menjalankan mobilnya.
Dan mereka pun meninggalkan rumah super megah itu.
Akhirnya terkuak sudah fakta tentang diri Zia yang sebenarnya.