Tabanan Bali
Di halaman belakang rumah, selepas sholat ashar Zia dan kakek serta neneknya sedang ngopi asyik sambil berbincang-bincang, dari membahas perkembangan café nya yang saat ini sedang sepi, hotel D'Ziella, tentang apotik yang baru saja di buka hingga tentang masa depan Zia yang saat ini masih vacum dengan kuliahnya. Mereka berbincang di dalam sebuah pendopo yang terbuat dari kayu Merbau, warna kayu ini adalah cokelat dengan sedikit warna merah dan kuning bahkan ada di beberapa tempat berwarna kelabu menuju hitam. Di kanan kiri pendopo terdapat tanaman hias koleksi milik mama Bella yang sekarang di rawat oleh nini Nilam dan Ni Luh art di rumah kakek. Untuk menuju ke pendopo harus melewati jembatan yang terbentang sepanjang 3 meter di bawah nya ada sebuah kolam seluas 5 meter di isi dengan berbagai jenis ikan. Dari jenis ikan mas biasa, ikan mas koi, ikan lele, ikan gurame, ikan patin, juga ikan nila. Ukuran ikan-ikan tersebut lumayan besar ada yang beratnya 4 Kg yakni sebesar betis orang dewasa, begitu juga ikan koi nya. Di tengah kolam tumbuh bunga Teratai sangat besar dan lebar. Suara air menggericik menambah suasana nampak asri dan sejuk. Ada juga Kura-kura Brazil yang saat ini terlihat menyembul kan kepalanya ke atas.
“Bagaimana Zi.. Tentang kuliahmu.. Apa nggak sebaiknya kamu meneruskan disini saja.. Agar bisa terus memantau perkembangan café serta usaha orang tuamu.” Kata kakek Dewo.
“Jangan kelamaan vacum nanti kamu terlena dengan cutinya kamu dan sibuk ngurus café..” Tandas kakek lagi sembari menyesap kopi nya.
“Iya Bagooss.. Nini berharap kamu bisa melanjutkan kuliahmu yang terputus.. kamu kan nggak mau ngecewain orang tuamu..?” Nini Nilam menambahkan.
“Iya Nin.. Tapi Zia ingin melanjutkan kuliahnya bukan di sini..” Ujar Zia sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di pahanya, dan itu memang sudah menjadi kebiasaan Zia saat dia bimbang.
“Lantas mau nerusin kuliah di mana..?’’ Tanya kakek Dewo sambil sesekali menghisap cerutunya dalam-dalam.
“Yang pasti bukan di Jakarta kak.” Sahut Zia lirih dengan mata menerawang jauh, Zia menyenderkan badannya dengan kedua tangannya di belakang kepala.
“Seharusnya dari kemarin-kemarin nyari tempat kuliah. ini kamu malah asyik menikmati musik di kamar dan bermalas-malasan sehingga lupa sama kuliahnya. Kira-kira kamu udah punya gambaran mau nerusin dimana..?” Kali ini nini Nilam yang bicara.
“Di Solo sepertinya..” Jawab Zia santai.
‘’Ya sudah jika keputusan mu mau nerusin di Solo, pekak dan nini selalu mendukung apa yang menjadi keputusan dan pilihan kamu Zi, lagipula sekarang cafe sudah ada yang meng-handle, apotik pun tidak ada masalah, masing-masing sudah ada orang kepercayaan orang tuamu yang bisa di andalkan, kakek hanya memantau saja, tiap hari kakek akan datang berkunjung ke café juga ke hotel.” Jelas kakek masih memegang cerutu di tangannya lalu bangkit dan menepuk-nepuk bahu Zia.
Zia hanya manggut-manggut saja, sedangkan matanya masih menatap langit-langit pendopo.
“Kira-kira kapan kamu mau memulainya..?” Tanya nini serius
“Secepatnya nin.. Zia sudah browsing-browsing kok, nanti saatnya tiba Zia akan kasih tau ke nini” Jawab Zia kali ini duduk seraya merangkul pundak nini Nilam dan bergelayut di pundak nenek manja.
“Ya sudah kalo begitu, lebih cepat lebih baik.. Apakah mamamu sudah dengar keputusan mu..?”
“Mama udah tau nin, kalo Zia akan kuliah di Solo.”
“Syukurlah kalo sudah tau.” Nini memeluk erat Zia seraya mengusik pucuk kepalanya.
“Ya sudah nenek masuk dulu ya, mau bantuin Ni Luh siapin makan malam.” Nini Nilam berjalan meninggalkan Zia sendiri di pendopo, karena sang kakek sudah meninggkaln Zia dan istri sedari tadi yang katanya hendak ke masjid untuk sholat maghrib.
“Iya nek..” Sahut Zia. Kali ini Zia benar-benar merebahkan badannya dan mengganjal kakinya dengan bantal tinggi-tinggi.
Zia sudah nyaman berada di Bali tinggal bersama kakek dan neneknya, tak membutuhkan waktu yang lama setelah lima bulan berlalu dan hanya berdiam diri di kamar, kini Zia mulai jenuh. Saat ini Zia sudah di sibukkan dengan aktifitasnya bersama kakeknya, yaitu mambantu mengurusi dan mengolah apotik, café serta hotel yang ada di Bali. Kehidupan Zia semakin membaik dan bahkan mampu berpikir lebih dewasa lagi, tanpa di suruh oleh sang papa, Zia dengan inisiatif nya sendiri ingin meneruskan usaha orang tuanya yang ada di Bali.
Zia dari kecil memang sudah diajarkan hidup mandiri, meskipun hidup Zia tak pernah kekurangan, namun Zia tidak pernah manja dan tidak pernah mengandalkan kekayaan serta kekuasaan orang tuanya. Tentu saja pekak dan nini Zia sangat senang setelah keberadaan cucunya di rumahnya, meskipun di awal kehadiran Zia, pria itu nampak banyak murung, permasalahan nya dengan Monik menambah Zia lebih pendiam lagi. Meskipun tampan tapi tampang Zia itu sangat datar dan hampir tanpa ekspresi.
Setelah banyak di ajak bicara oleh pekak nya, kemudian setiap hari di ajak pergi mengunjungi Apotik, Hotel serta Cafe milik orang tua nya. Lambat laun Zia sudah mau membuka suara dan memulai obrolan lebih dulu.
Pagi ini kakek Dewo dan Zia sedang mengunjungi Hotel D'Ziella (akronim Ardi, Zi, Bella). Seluruh karyawan menundukkan kepala mereka tanda hormat kepada pekak Dewo dan Zia.
Hotel dengan nuansa khas Bali yang tenang dan nyaman ini memberikan pemandangan alam yang sangat asri karena berdekatan dengan samudra langsung, terutama restorannya saat pengunjung sedang menikmati santapannya juga dapat menyaksikan indahnya kilauan air laut yang biru.
Dewo dan Zia duduk di dekat air mancur, suara gemericik air yang jatuh di pancuran, ikan-ikan yang ada di bawahnya saling dorong untuk mendapatkan pasokan udara. Sesekali Zia melemparkan pelet, ikan-ikan saling berebut mencaplok pelet yang di lempar, kecipak.. kecipak.. Air saling bercipratan.Terlihat sepasang angsa putih besar berenang kesana kemari.
"Eemm Zia, uhuk.. uhuk.. kakek kan sudah tua, alangkah baik nya mulai sekarang kamu lah yang harus mengawasi mereka, sesekali berkunjung lah kemari, agar mereka lebih mengenal kamu sebagai anak pemilik hotel ini, dan mungkin bisa jadi kamulah penerus Ardi, Mas kamu Zidni kan sudah sibuk dengan para pasien nya, nggak mungkin dia seorang dokter mondar-mandir berkunjung ke Bali untuk ngurusin hotel. Uhuk.. Uhuk.." Kakek Dewo berbicara panjang lebar sambil terbatuk-batuk.
"I iya pekak, Zia usahakan. " Cicit Zia pelan seraya melihat ikan-ikan di kolam.
"Jangan di usahakan Zi.. Harus pasti.. jadilah seorang lelaki yang tangguh dan tidak mudah rapuh.. sebagai seorang pria sejati, kamu harus bekerja keras dan membahagiakan orang tua, istri serta keluarga kamu".
" Tapi kak Zia kan ingin kuliah di Solo.. bagaimana Zia bisa mengurus semuanya.. Kan nggak mungkin juga Zia bolak-balik Solo Bali kak." Ucap Zia masih terus saja melemparkan satu dua butir pelet ke kolam.
"Bisa di atur Zia.. saat libur kuliah kamu bisa datang ke sini.. tinggalah satu dua bulan untuk mempelajari semua nya.. setelah paham kamu bisa memantau dari jarak jauh.. sekarang kan jaman sudah canggih." Ucap kakek Dewo terus memberikan nasehat untuk Zia.
"Masalah kuliah jangan terlalu di pikirkan begitu pula soal pekerjaan jangan terlalu di buat beban.. di jalani saja itu sudah cukup.. apalagi di iringi ihklas itu lebih dari cukup." Lanjut pekak.
"Iya kak." Kata Zia pelan dengan tatapan kosong nya mengarah ke kolam.
"Nanti pekak kenalkan dengan orang-orang kepercayaan papamu.. biar nanti kamu di ajarin bagaimana cara mengolah dan me-manage hotel."
Nampak pagi ini pegawai hotel sibuk membersihkan debu yang menempel di meja dan di kursi, membereskan letak vase bunga juga taplaknya. Salah satu pegawai hotel dengan seragam warna ungu sebagai atasan nya dan kain batik khas Bali yang menutupi sebagian celana sebagai bawahannya serta udeng di kepala menghampiri pekak dan Zia.
"Silahkan tuan.. ruangannya sudah selesai di bersihkan." Ucapnya.
"Ayo kak kita masuk ke dalam.. disini udah mulai panas." Ajak Zia kepada pekak nya.
"Iyaaah.. Hayok." Kakek Dewo bangkit perlahan dan berjalan menuju ruangan yang telah disediakan yaitu presidential suite room yang mana bisa menikmati air laut yang tenang.
Sebelum memasuki ruangan untuk beristirahat sejenak tetiba ada orang jalan dengan tergesa-gesa.
"Maaf pak saya baru datang.. saya tidak tau kalo bapak berkunjung sepagi ini." Manager yang bernama Ageng baru datang langsung kaget melihat pemilik hotel sudah tiba lebih dulu.
"Tidak apa-apa.. inikan memang belum jam kerja.. dan kamu juga belum terlambat."
"Oh ya kenalkan ini Zia cucu saya.. dan ini adalah Ageng manager di hotel ini."
Zia tersenyum simpul lalu menjabat tangan orang yang berpakaian jas biru lengkap dengan pita kupu-kupu di kerahnya.
"Ini den Zia anaknya pak Ardi.? Waaah sudah besar dan tampang.. tinggi seperti ayahnya." Tanya Ageng sambil terkekeh saat menjabat tangan Zia.
"Eh iya om." Sahut Zia mengurai senyum.
"Eeiim iya Ageng.. sekarang Zia sudah dewasa dan sudah kuliah.. tapi kuliahnya di Solo.. Jadi tolong ajari Zia mengenai pembukuan serta cara bagaimana mengolah hotel." Papar kakek sambil membetulkan letak udeng nya.
"Siap pak.. Jadi mulai kapan den Zia siap untuk belajar.?" Tanya Ageng seraya tangannya memanggil bawahannya.
"Ayu.. tolong siapkan jahe hangat untuk tuan Dewo juga lemon hangat untuk den Zia." Ucap Ageng kepada Ayu bawahannya.
"Jangan lupa segera siapkan makanan untuk sarapan juga.. sarapan untuk tuan yang seperti biasa." Karena sekarang masih pukul 7 pagi, sudah pasti owner dan cucu dari hotel D'Ziella ini belum sarapan, mengingat perjalanan dari rumah kakek Dewo dan hotel di tempuh dengan waktu 60 menit.
"Baik pak." Ayu menundukkan kepalanya lalu akan segera pergi mengambil kan minuman untuk pemilik hotel, tapi Ayu mengurung kan langkah nya.
"Eemm Ayu.. siapkan sarapan untuk kita bertiga.. pasti kamu juga belum sarapan kan Geng.?" Tanya pekak.
"Iya pak.. kalo saya gampang nanti saja." Sahut Ageng tidak enak hati.
"Nggak boleh begitu.. tolong di siapkan saja.. supaya kita sarapan sama-sama agar kalian saling mengenal dan tidak canggung saat nanti mengajari Zia." Paksa kakek.
"Baik tuan." Ayu pun segera pergi ke dapur hotel untuk memerintahkan seorang chef nya agar segera menyiapkan sarapan yang di pesan Ageng dan tuan Dewo.
"Mulai sekarang saja.. tidak harus semuanya di pelajari hari ini.. hanya yang penting-penting dulu saja.. Setalah nya bisa besok-besok."
"Baiklah kalo begitu.. sekarang kita sarapan terlebih dahulu.. selanjutnya den Zia bisa ke ruangan saya." Tutur Ageng dengan menuangkan air putih di gelas kakek dan Zia.
Setelah mereka selesai sarapan, Ageng mengajak kakek Dewo dan Zia ke ruang kerjanya. Ada setumpuk map ungu yang tersusun rapih juga berkas-berkas di meja yang sepertinya belum di periksa oleh Ageng. Hanya memerlukan waktu 2 jam saja, Zia sudah sedikit paham tentang seluk beluk hotel. Selanjutnya Ageng mengajak Zia berkeliling hotel yang diikuti oleh kakek Dewo dan salah satu pelayan.
"Hotel ini di bangun saat Zia masih SD.. Bella sibuk dengan Rumah Sakit nya di Depok serta restoran yang baru saja di buka.. Ardi sibuk dengan Rumah Sakit juga dan beberapa apotik.. jika mengingat bagaimana perjuangan pekak untuk mendapatkan lahan ini.. makanya akan sangat sekali jika tidak ada yang meneruskan.. karena lahan ini lokasinya sangat strategis.. Juga karena letaknya di perbatasan jadi banyak sekali di lintasi orang-orang yang akan ke kota maupun yang akan ke desa.. orang akan singgah untuk sekedar beristirahat atau makan bersama.. karena view nya yang menghadap ke laut langsung sehingga di jadikan tempat favorit para kawula muda.. sebelum kakek jadikan hotel.. dulunya ini restauran.. pekak bersaing dengan pengusaha sukses Kalimantan apalagi dia bekerja sama dengan pihak asing yang jadi musuh bebuyutan daddy nya kakek.. daddy nya pekak berusaha sekuat tenaga agar bisa memenangkan tender lahan ini dengan menjual 3 rumah sekaligus yang ada di Australia yaitu asset satu-satunya yang daddy miliki.. mami pekak tidak keberatan semua rumah di jual demi kakek anak tunggal nya.. akhirnya lahan ini berhasil kakek menangkan dengan selisih hanya sekitar $25.000, - setara dengan Rp. 200.000.000,- kala itu.. tapi kakek kecewa dengan Ardi papa mu itu yang bersikeras ingin menjadi seorang dokter.. Ardi menolak mentah-mentah saat pekak suruh ambil perhotelan atau jurusan bisnis.. lalu Ardi ketemu sama Bella di kampus yang sama-sama kedokteran.. meskipun Bella ingin menjadi seorang dokter namun dia memiliki bisnis sampingan yaitu rumah makan.. mamanya Bella pandai memasak dan itu menurun ke Bella.. kakek dan nini tidak bisa melarang.. setelah Ardi kenal lebih dekat dengan Bella akhirnya dia juga ingin mempunyai bisnis sampingan selain jadi dokter seperti Bella.. pada saat di kenalkan dengan orang tua Bella.. kakek tak percaya ternyata Bella itu anak dari sahabat kakek yang kuliah di Australia.. dengan banyak ngobrol dan sharing sama orang tua Bella.. jadilah bisnis perhotelan kakek maju seperti sekarang.. dan akhirnya mereka menikah.. kakek semakin kuat dengan adanya besan di samping pekak demi melanjutkan bisnis di bidang perhotelan dan kuliner.. ketika memiliki anak Zidni Ardi dan Bella sangat rajin mengunjungi hotel juga restoran yang dulu nya hotel Sadewo dan kini jadilah nama D'Ziella ini.. maka dari itu kakek minta kamu harus bisa meneruskan dan menggantikan posisi papa mu yang sibuk dengan bidang nya." Kakek menceritakan sejarah berdirinya hotel dengan netra berkaca-kaca.
Mereka ber empat di tambah dengan satu orang pelayan hotel untuk menemani berkeliling hotel.
Zia juga Ageng dan satu pelayan mendengarkan kakek dengan seksama. Zia terus mengangguk-anggukkan kepala nya.
"Tenang kak.. nanti Zia yang akan meneruskan usaha papa mama di sini." Batin Zia optimis.
"Oh ya besok kita akan mengunjungi cafe.. sudah hampir 2 bulan menurut Nyoman cafe sepi pengunjung.. karena ada cafe dan restoran yang baru buka di ujung jalan.. makanya besok kita akan memastikannya." Ucap kakek seraya melepas udeng nya dan di letakkan di atas meja.
Mereka terus berjalan dan sampai lah kembali di halaman lobi hotel yang tepatnya tempat air mancur berada, pekak, Zia dan Ageng duduk di kursi, sedangakn pelayan berlari ke dapur untuk mengambil kan minuman dan beberapa macam dessert serta buah.
"Zia.. coba kamu lihat itu ada seorang pelayan memberikan makan sore buat angsa-angsa di atas nampan.. angsa dengan mudahnya makan dari atas.. namun ikan di bawah tidak bisa dan tidak mungkin loncat ke atas nampan untuk mengambil makanan itu.. tapi Allah takdikan angsa yang mengambilkan nya.. jadi jangan takut kehilangan rezeki.. karena rezeki sudah di takar persis yang apa yang Allah kehendaki.. jadi jangan takut berbuat baik dan berbagi.. angsa saja memberi makan ikan-ikan di bawah.. padahal itu adalah hak makan angsa.. Untuk itu berani berbagi dan jangan pelit.. besok kita akan ke cafe ngecek pemasukan selama 2 bulan terakhir.. setelah itu jumat nya kita mampir ke rumah-rumah di pinggiran kota untuk berbagi.. Ageng tolong siapkan nasi box 100 untuk di bagikan jumat berkah." Tutur kakek sembari menyesap jahe hangat minuman favoritnya.
Akhirnya tibalah waktunya makan siang, setelah mereka makan siang bersama di restoran, kakek dan Zia memutuskan untuk menyudahi kunjungan serta pembelajaran buat Zia hari ini, dan akan di lanjutkan lusa, karena besok pekak akan mengajak Zia mengunjungi cafe.
"Bagaimana bagos hari ini belajar nya.?" Tanya nini Nilam setelah sampai di rumah.
"Alhamdulillah nin.. Zia udah tau semua cerita sejarah tentang hotel.. Zia juga udah di kasih tau semua tentang manajemen hotel sama om Ageng." Sahut Zia seraya merebahkan tubuh nya di atas sofa yang empuk, kakinya lelah karena seharian berkeliling hotel.
"Nggak cape dan nggak sulit kok.. kamu tinggal memantau saja.. nanti ada Ageng dan Ayu yang selalu memberitahukan perkembangan nya setiap hari.. toh kakek juga nggak setiap hari ke sana.. hanya seminggu sekali saja." Ucap nini Nilam sambil menuangkan teh lemon untuk Zia. Sedangkan kakek masih dimasjid sedari magrib belum pulang, biasanya sampai nunggu sholat isya baru pekak akan pulang ke rumah.
"Iya nin.. besok rencananya kakek mau ngajak Zia ke cafe.. katanya mau mengenal blo Nyoman ke Zia.. waktu Zia ke sana bli nyoman sedang belanja.. jadi belum ketemu." Kata Zia seraya menyesap lemon hangat nya.
"Lalu jumat kakek mengajak Zia melakukan jumat berkah di rumah-rumah pinggiran kota dengan membagikan 100 nasi box nin." Lanjut Zia.
"Ooh ya sudah nanti biar di bantu Ni Luh dan Jayan untuk membagikannya.. seperti itu biasanya." Terang nini.
Jum'at berkah yang di rencanakan telah tiba, seluruh pegawai restoran hotel D'Ziella di sibukkan dengan kegiatan membuat nasi box sebanyak 100 box nasi lengkap dengan lauk pauknya juga 100 box kue serta minuman botol.
Di rumah pekak Dewo juga tidak terlihat seperti biasanya, kebiasaan kalo pagi kakek dan nini menikmati secangkir teh atau kopi serta pisang atau singkong rebus. Kini selepas subuh makde Mar dan Ni Luh sudah sibuk memasak untuk sarapan lebih awal.
Jam di rumah kakek Dewo menunjukkan pukul 7 pagi, isi rumah yang terdiri dari pekak Dewo, nini Nilam, Zia, Ni Luh, Jayan sopir nya kakek serta makde Mar sebagai juru masak di rmh kakek, setelah siap untuk berangkat menuju rumah-rumah kampung pinggiran kota.
"Kak apa nggak sebaiknya kita mampir dulu ke hotel.. kan rutenya pasti melewati hotel.. kita pastikan apakah semuanya lancar." Ujar Nin seraya memakai hijab nya.
"Iya nin.. kakek juga tadi berpikir seperti itu.. kita pastikan sudah selesai apa belum.. karena tadi pekak telpon Ageng.. handphone nya sedang nada sibuk." kakek menyetujui ajakan istrinya.
Setelah semua nya siap, kini saatnya berangkat, Zia duduk di samping Jayan yang duduk di belakang kemudi, nini dan kakek duduk di kursi penumpang tengah sedangkan Ni Luh duduk di belakang sendirian, sedangkan makde Mar tidak ikut, karena dia harus beres-beres rumah juga akan masak lagi untuk persiapan makan siang nanti.
Tulatit.. Tulalit.. Handphone kakek berdering, ada nama Ageng muncul di layar.
"Assalamu'alaikum Geng.. gimana sudah beres semuanya.?"
"Walaikumsalam.. sudah pak.. siap di kirim sekarang.. posisi bapak di mana.?"
"Saya hampir sampai di hotel ini."
"Kalau begitu bapak langsung ke lokasi saja.. tidak usah masuk ke hotel.. karena nasi box sudah masuk mobil semua tinggal berangkat saja."
"Baiklah kalau begitu saya tunggu di lokasi ya.. siapa yang mengantar ke sana.?"
"Galih sama Kirno pak."
"Ok.. terimakasih Geng."
"Sama-sama pak."
Meluncurlah pekak Dewo ke lokasi yang di maksud, warga di sana sangat antusias dan senang menerima santunan berupa nasi box dan kue dari hotel D'Ziella.
Zia membagikan nasi box di bantu oleh Ni Luh dan Jayan, sesekali Ni Luh mencuri pandang ke Zia, namun Zia sama sekali tidak sadar dan cuek, sejak tinggal di rumah pekak tidak pernah sekalipun Zia memanggil nama nya.
Karakter dan sifat Zia yang pendiam itu tidak masalah bagi Ni Luh, memang seperti itu pembawaannya mau di apakan lagi.
"Nih mas.. minum dulu nanti di lanjutkan lagi.. lagian tinggal sedikit lagi.. biar bli Jayan yang meneruskan." Ucap Ni Luh kepada Zia, saat melihat Zia sudah mulai berkeringat. Zia meraih botol air mineral dan tisu yang di sodorkan Ni Luh.
"Makasih." Ucap Zia tanpa ekspresi.
Dengan Zia menerima pemberian nya saja Ni Luh sudah girang.
"Mas.. eengg.. kata pekak nanti kita di suruh pulang duluan.. karena pekak sama nini ada urusan mau menjenguk teman pekak yang sedang sakit." Ucap Ni Luh seraya menyodorkan tisu ke Zia. Ni Luh menyampaikan pesan nini Nilam saat mengambil tisu buat Zia.
"Ya sudah." Jawab Zia singkat dan lagi-lagi tanpa melihat ke arah Ni Luh.
Sepanjang perjalanan pulang di mobil hanya bertiga yaitu Zia dan Jayan yang duduk di depan serta Ni Luh yang duduk di belakang.
Tidak ada obrolan sama sekali, pandangan Zia anteng ke depan, sedangkan Ni Luh sibuk memperhatikan Zia dari belakang. Sesekali mata Jayan menangkap mata Ni Luh dari kaca spion dalam saat ia menatap Zia dengan intens.
Ni Luh adalah anak Cakra orang kepercayaan kakek Dewo, namun Cakra sekarang sudah tidak bekerja lagi karena dia menderita penyakit diabetes dan sudah parah yang mengakibatkan kaki kiri nya di amputasi. Ibu nya Ni Luh juga dulu nya bekerja sebagai art di rumah kakek, namun sudah meninggal karena tertabrak mobil truk saat ke pasar, kakaknya Ni Luh ikut sang paman ke negeri Sakura yang sampai saat ini tidak ada kabar berita nya. Karena Nilam merasa iba akhirnya biaya sekolah Ni Luh di tanggung oleh pekak, setelah pulang sekolah Ni Luh merawat ayahnya yang lumpuh, baru kemudian ke rumah pekak untuk beres-beres rumah dan membantu pekerjaan makde Mar.
Setelah lulus SMP Ni Luh tidak mau melanjutkan sekolah ke jenjang SMA dengan alasan tidak mau merepotkan kakek terus menerus, karena selama ayahnya sakit pengobatan nya di tanggung pula oleh pekak. Kini Ni Luh sudah dewasa usianya tidak jauh beda dengan Zia, lebih tua Ni Luh 3thn, dulu waktu kecil saat Zidni dan Zia berkunjung ke rumah kakek, keduanya suka meminjam sepeda Ni Luh untuk bermain, namun Ni Luh yang pemalu hanya melihat dari balik pintu saja.
Di awal kehadiran Zia di rumah kakek, Ni Luh biasa saja, namun lambat laun Ni Luh menaruh perhatian yang berlebih terhadap Zia, dari saat menyiapkan makan hingga keperluan yang di butuh kan Zia.Diam-diam Ni Luh sering memperhatikan Zia dari jauh, ketika Zia sedang melamun di tepi kolam, entah saat Zia sedang santai di pendopo atau saat Zia sedang bermain gitar, Ni Luh tidak pernah melewatkan dan tidak menyia-nyiakan waktu nya hanya untuk sekedar melihat wajah Zia.
"Mas Zia ganteng banget.. bule.. tinggi.. baek.. kalem lagi." Gumam Ni Luh.
Di waktu yang sama di dalam mobil kakek dan nini sedang menuju rumah sahabat nya. Mereka bahagia melihat Zia sudah berubah, tidak banyak melamun berdiam diri di kamar, Zia sudah mau dan menuruti ajakan pekak nya untuk meninjau hotel juga cafe, hampir setiap hari Zia di ajak pekak keluar rumah, alasan pekak agar Zia tidak jenuh dan makin terpuruk dalam kesedihan nya.
Tut.. Tut.. Tut.. nini Nilam nampak menghubungi seseorang.
"Telpon siapa nin..?" Tanya pekak dengan mata focus ke jalan.
"Telpon Bella kak.. kemarin Bella telpon tapi ada Zia.. jadi nini belum ngasih tau kalo Zia sekarang udah mulai berubah." Jawab nini.
"Ooh." kakek ber O saja sambil manggut-manggut
"Assalamu'alaikum mam.. apakabar.?"
"Waalaikumsalam Bel.. kabar mama baik dan sehat."
"Mama lagi di mana kok seperti nya lagi di jalan.?"
"Iya mama lagi di jalan sama papa.."
"Ada apa mam..? bagaimana perkembangan Zia mam.?"
"Ini mama mau cerita.. karena kalo di rumah kan.. nggak enak nanti Zia denger."
"Iya mam.."
"Alhamdulillah Bel.. zia akhir-akhir ini sudah berubah.. sudah sibuk ikut pekak kesana kemari.. sekarang Zia sedang membagikan nasi box jumat berkah."
"Alhamdulillah ya mam.. lalu."
"Zia juga udah mau belajar sama Ageng bagaimana cara mengolah hotel."
"Alhamdulillah ya Allah.. Bella seneng dengernya mam.. apalagi nanti papa nya kalo denger ini." Ucap Bella di sebrang sana.
"Iya.. nanti kau saja yang menyampaikan berita baik ini ke Ardi."
"Iya mam."
"Mama nggak bisa cerita banyak.. pokoknya nanti akan ada banyak kejutan tuk kalian saat pulang kesini.. yaa walaupun belum berhasil.. tapi minimal Zia udah nggak lagi menutup diri.. dia udah mau bersosialisasi dengan pegawai apotik juga hotel."
"Syukurlah mam hiks." Bella tak bisa menahan haru.
"Tak perlulah kau menangis Bella.. cukup kau doakan saja supaya Zia berhasil dan sukses seperti Zidni.. papa mu nggak ada cape nya setiap hari memberikan nasehat untuk Zia Bel.. udah jangan sedih.. ini mama udah sampe di rumah temen papa.. salam untuk Ardi dan Zidni ya.. mama tutup telponnya.. Assalamualaikum."
"Hiks iya mam.. terimakasih salam buat papa juga.. Walaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh." Bella menangis bahagia mendengar laporan tentang Zia dari mama mertuanya.
Bella yang saat ini sedang istirahat di ruang kerjanya meraih foto Zidni dan Zia, lalu di peluknya foto itu di dadanya.
"Tidak ada kebahagiaan seorang mama selain melihat kalian bahagia dan sukses nak, terimakasih tuhan, engkau telah memberikan jalan yang terbaik untuk Zia melalui keputusannya untuk tinggal di Bali, Alhamdulillah Zia sudah kembali Move On." Bella bermonolog.
Pekak = Kakek
Nini = Nenek
Bagos = Dalam bahasa Bali artinya Anak ganteng