14. Selamat Datang Di Kota Solo

3202 Kata
     Setelah berpikir matang-matang dan penuh pertimbangan, kini tekad Zia sudah bulat untuk melanjutkan kuliah di kota Solo, kota kelahiran mama nya, namun Zia menolak untuk tinggal bersama eyang kakung dan mbah putri nya dengan alasan tidak bisa bebas, karena Zia sangat paham didikan orang tua mama nya sangat ketat dan terlalu banyak aturan, akhirnya mereka mengizinkan Zia untuk tidak tinggal bersama eyang kakung tapi dengan syarat mama Bella yang mencarikan tempat tinggal untuk Zia. Setelah sepakat berangkatlah Zia menuju kota Solo.       Pesawat yang Zia naiki sudah landing di Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo Solo, Zia berjalan santai menuju kursi di ruang tunggu dan mendudukkan dirinya di sana, sambil menunggu jemputan datang ia memainkan benda pipih di tangannya      Kemarin sebelum berangkat ke Solo, mama Bella bilang bahwa nanti ada orang yang bernama Toto datang menjemput Zia di bandara, belum sempat Zia menghubungi mamanya, tak lama kemudian ada seorang pria paruh baya menghampiri Zia.      “Maaf—dengan mas Zia..? Tanya orang tersebut. Zia mendongakkan kepalanya.      “Iya pak.. pak Toto ya..?” Tanya Zia balik.      “I.. Iya mas.. selamat datang di kota Solo mas.. saya di tugaskan ibu Bella untuk menjemput mas Zia.. kalo begitu mari ikut saya.” Pak Toto meraih koper dan menyeretnya, sedangkan Zia mengekor di belakang pak Toto.      Pak Toto berjalan menuju mobil Honda berwarna putih namun mobil itu tak sebesar mobil Zia yang dulu.      “Jangan-jangan ini mobil yang di janjikan papa buat gue selama kuliah di sini.” Batin Zia senang.      “Tau aja papa selera gue.” Batin Zia lagi.      “Silahkan mas.” Pak Toto membukakan pintu mobil untuk Zia.      “Terimakasih.” Ucap Zia singkat.       Zia duduk di kursi penumpang samping pak Toto yang duduk di belakang kemudi, sepanjang jalan Zia menikmati pemandangan yang indah, meskipun mamanya berasal dari Solo namun Zia jarang sekali berkunjung ke Solo, keluarganya lebih sering ke Australia untuk menghabiskan waktunya saat liburan dan memilih tinggal di Bali sebelum akhirnya pindah dan menetap di Jakarta.      Tiba-tiba mata Zia tertarik dengan sebuah bangunan unik yang berada di batas kota antrara Colomadu dan Solo, bentuknya seperti kubah masjid namun letakknya di tengah-tengah jalan yang di bawah bisa di lalui mobil, lebih tepatnya terowongan yang berbentuk kubah.      “Itu bangunan apa pak.?” Tanya Zia takjub.      “Anu mas.. bangunan Makutha namanya.. ini tanda perbatasan antara Colomadu dengan Solo, bentuknya seperti mahkota, ini gapura sebagai lambang selamat datang di kota Solo, dulunya ini bangunan Tugu Pura lalu di ubah menjadi Makutha pada tahun 2011-2012, konon memakan biaya mencapai 3,7 M.” Jelas pak Toto.      “Oooh..” Zia hanya ber O ria sambil manggut-manggut.      Lebih kurang satu jam Zia berada di mobil bersama pak Toto, dan akhirnya mereka  sampai juga di sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas, tampak muka di luar rumah itu sangat kental dengan sentuhan Jawanya, namun  ada  beberapa sudut yang di aplikasikan dengan sentuhan modern, terlihat dari bangunannya dan warna cat nya yang minimalis. Rumah besar itu ternyata terdiri dari beberapa bangunan dan pintu yang terpisah.      Hiasan di dinding setiap bangunan  terdapat topeng dan wayang kulit yang menempel, lalu banyak lukisan abstrak hasil dari permainan warna sang pelukis. Iyaaaa.. ini adalah Sumitro’s Homestay milik teman mama Bella, dan Zia akan tinggal di homestay ini selama kuliah di Solo. Homestay yang terdiri dari 50 rumah ini sangat unik, kira-kira ukuran setiap rumah 30m persegi dengan atap yang berbeda warna, warna hijau untuk nomor ganjil dan warna biru untuk nomor genap.      “Silahkan mas.” Ujar pak Toto mempersilahkan Zia turun dari mobil.       Zia turun dari mobil dengan mata yang tadi nya mengantuk dan lelah kini jadi segar kembali karena melihat bentuk atap yang berwarna cerah juga di manjakan dengan pajangan yang unik dan menarik. Zia menempati rumah nomor 17 itu artinya rumah dengan atap warna  hijau. Pak Toto membuka pintu lalu meletakkan barang bawaan Zia di dalam.      “Ini kunci mobil serta surat-suratnya mas.” Pak Toto menyerahkan kunci serta surat-surat mobil kepada Zia.      “Ah ya.. Terimakasih pak.. letakkan saja di meja.” Zia memasuki rumah yang sudah di sewa oleh mama Bella melalui orang kepercayaan nya. Dan papa Ardi pun telah membelikan Zia mobil yang baru untuk memudahkannya ke kampus atau kemana pun selama di Solo, keluarga Dewananta memang pecinta warna putih.      “Baik mas saya permisi dulu ya.. kalo butuh sesuatu tinggal hubungi saya.. disitu tertera nomor selular saya.. dan itu kartu nama pak Sumitro pemilik homestay ini.” Tutur pak Toto sebelum meninggalkan Zia.       “Baik pak.. saya juga sudah punya nomor bapak dan nomor pak Sumitro dari papa saya.. eengg ini pak.. terimakasih banyak.” Ucap Zia seraya merogoh sakunya dan mengeluarkan 2 lembar uang berwarna biru lalu di berikan kepada pak Toto.      Pak Toto adalah orang kepercayaan dari kolega mama Bella, yaitu pak Sumitro pemilik homestay yang di tempati Zia saat ini, rumah nya tidak jauh dari sini sekitar 15 menit.      Pak Toto lah yang mengurus semua keperluan Zia dari mulai mencari tempat tinggal, kendaraan, hingga urusan kuliah, Zia mengambil jurusan Desain dan Seni Rupa. Karena pak Toto sudah mengurusnya semua, sehingga Zia tinggal masuk dan mengikuti makul yang di berikan oleh dosen nanti, bukannya Zia tidak bsa mengurusnya sendiri, akan tetapi karena Zia masih berada di Bali. Akhirnya papa Ardi memutuskan menyuruh pak Toto untuk mengurus saat pendaftaran hingga administrasinya.      Yaaaa Zia mengambil jurusan yang berbeda dengan keluarganya, Zia tidak mau mengikuti jejak orang tuanya maupun kakak nya yang sudah menjadi seorang dokter. Zia ingin menentukan pilihannya sendiri sesuai dengan hobinya. Kalau dulu di Jakarta ia mengambil jurusan bisnis dan managemen agar mampu mengolah dan meneruskan usaha orang tuanya, namun sekarang mereka sudah sepakat tidak ingin mempermasalahkan lagi, Zia ingin mengambil kuliah apa itu sepenuhnya di serahkan ke Zia, karena Zia yang menjalani. Orang tua nya berpikir bahwa Zia sudah dewasa harus mampu menentukan pilihan yang terbaik sesuai dengan keinginannya.      Netra Zia menjelajahi seluruh ruangan, disana nampak tertata rapih dari mulai ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga serta pantry lengkap dengan meja makan simple hanya 1 meja dan 2 kursi. Pandangan mata Zia juga tertuju kearah pintu.      “Itu pasti kamar dan kamar mandi.” Guman Zia lirih.     Zia bangkit dari duduknya mendekati pintu lalu membukanya, kamar ini sudah di lengkapi dengan AC, sebuah tempat tidur di sana, nakas, lemari pakaian dan sebuah sofa single.     Nit..Nit.. Zia menyalakan AC nya.     “Aaaaah.. akhirnya sampe juga.. nyaman banget.” Ucap Zia pelan seraya menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk.      Zia memejamkan mata serta merentangkan kedua tangannya, setelah ini Zia akan menghubungi mamanya juga nininya untuk memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat akan tetapi Zia terlelap karena kelelahan.      Tok.. Tok.. Tok..      Zia yang sedang terlelap di kejutkan dengan suara ketukan di pintu, Zia menggeliat dan menguap, di liriknya jam di tangan ternyata sudah pukul 7 malam, tak terasa Zia tertidur selama 4 jam dan melewatkan kewajibannya yaitu shalat magrib, Zia berjalan malas menuju pintumlalu mengintip terlebih dahulu sebelum membukanya, ternyata seorang ibu-ibu setengah tua membawa nampan.      “Permisi.. maaf den.. saya mbok Ratmi..ini makan malam untuk aden.” Sapa ibu itu seraya memperkenalkan diri, begitu pintu terbuka.      “Iya mbok makasih.. panggil saja Zia.” Ucap Zia dengan mengambil nampan yang berisi makanan.      “Iya den.. kalo butuh apa-apa tinggal tekan angka 3.. itu terhubung langsung ke dapur dan londri.. jangan sungkan-sungkan untuk komplen jika masakannya nggak cocok sama aden.” Kata mbok Ratmi dengan logat jawa yang medok.      “Terimakasih mbok.. untuk makanan saya tidak terlalu rewel.” Ujar Zia tersenyum manis dan sopan.      “Baiklah den mbok Ratmi pamit dulu nggih.” Dengan menundukkan badannya mbok Ratmi pamit.      Zia menutup pintu setelah mbok Ratmi pergi, di liriknya makanan yang kelihatannya masih panas itu, ada nasi dengan lauk pauk ayam kemangi bumbu kuning, perkedel ikan, tempe dan tahu bacem, sambel, krupuk, puding serta pisang dan jeruk sebagai pencuci mulutnya. Zia mencium harum makanan nya kontan di sambut dengan sebuah panggilan dari dalam perutnya.      Kruuuukk..     “Tau aja nih perut.” Gumam Zia terkekeh, kemudian  ia langsung menyantap makan malamnya.      Selesai makan Zia mencoba menghubungi mama serta nininya, memberi kabar bahwa ia sudah sampai dan besok pagi langsung ada jadwal masuk kuliah, tak lupa Zia minta doa restu mamanya juga nininya.      Senin pagi ini Zia menikmati hari pertama nya di kota Solo, udara sangat sejuk dan dingin menusuk rongga hidung, Zia menarik nafas dalam-dalam lalu di hembuskannya perlahan-lahan.      “Aaaaah segaaar.. semangat Zia.” Celotehnya pada diri sendiri, ia tersenyum sembari membuka jendela lebar-lebar.      Terdengar klakson mobil di depan, senin pagi semua orang sudah mulai di sibukkan dengan kegiatannya setelah libur Sabtu Minggu, ada yang berangkat kerja, kuliah, bahkan sekolah menengah atas, mereka itu adalah penghuni Sumitro’s Homestay. Dari berbagai kalangan hingga dari berbagai daerah, salah satunya Zia, ia berasal dari Jakarta meskipun ia berangkat nya dari Bali.      Mulai hari ini Zia akan di sibukkan dengan jadwal kuliahnya juga dengan laporan-laporan dari Ageng mengenai keuangan serta perkembangan hotel nya di Bali. Zia merasa sudah mantap menghadapi hari-hari di mana ia harus sibuk menuntut ilmu juga lelah pekerjaan demi masa depannya. Zia sudah benar-benar melupakan kisah pahitnya saat di Jakarta.     “Come on Zi. U can do it.!” Ucap Zia untuk dirinya sendiri.      Setelah rapih berpakaian dan sarapan pagi,Zia bergegas keluar rumah untuk memanaskan mobilnya, tak jauh dari rumah sewa nya juga ada seseorang yang sedang memanaskan mobilnya, kira-kira 4 rumah dari rumah Zia, mobil yang unik dengan warna oren ngejreng serta banyak tempelan stiker membuat orang yang melihatnya akan menengok 2 kali, dengan suara knalpot yang berisik dan pecah seperti mobil biasa untuk balapan.      Zia hanya menatap dari kejauhan, merasa heran saja di tempat hunian nyaman dan tertib seperti homestay ini kok ada penghuni yang memiliki mobil dengan knalpot berisik seperti itu, Zia acuh tak acuh dan cuek tidak mau ambil pusing, hanya saja suara knalpotnya bisa mengganggu kenyamanan orang yang masih ingin istirahat dan bangun agak siang.      Setelah di rasa cukup panas, Zia bersiap hendak berangkat ke kampus, ia berangkat lebih awal karena tidak ingin telat mengingat Zia belum hafal betul jalanan menuju kampusnya. Zia berangkat dengan santai tak perlu terburu-buru karena masih pagi, sambil mengingat-ingat petunjuk yang di berikan oleh pak Toto. Akhirnya sampailah Zia di kampusnya, sebelum ada makul jam 9, Zia menghadap bagian TU dulu mengambil kartu mahasiswa juga untuk mengisi beberapa berkas serta biodata lengkap. Saat Zia akan ke kelasnya ia mendengar suara knalpot mobil yang tidak asing lagi, benar saja ketika menengok terlihat mobil oren ngejreng melintas di depan taman yang tak jauh dari Zia berdiri.      “Hah..? mobil itu ada di sini.. itu berarti si empunya kuliah juga di sini dong.” Batin Zia dengan senyum smirk nya.      Setelah kuliah nya selesai dan hendak pulang ke rumah, Zia berjalan gontai menuju ke parkiran, tiba-tiba.      “Tin.. Tin.. Woiii kalo jalan jangan ngelamun dooong..” Teriakan seseorang dari dalam mobil mampu membuyarkan lamunan Zia.      "Oppss sorry.. Sorry bro.. " Dengan mengatupkan kedua tangan di d**a Zia meminta maaf kepada si pengemudi mobil itu.      Entah apa yang d pikirkan Zia, hingga dia berjalan sambil melamun. Zia berjalan menuju mobil nya yang terparkir di ujung jalan.      Dan ketika hendak menarik handle pintu mobil      "Tin.. Tin.. Halo Bro.. " Seseorang melongokkan kepala nya dari dalam mobil. Zia menengok ke kiri dan ke kanan.      “Tidak ada siapa-siapa ah.” bathin Zia, yang ada mobil oren ngejrang itu yang berhenti di dekat Zia.      "Yang lo maksud gue Bro..? " Kata Zia sambil mengarahkan telunjuk nya ke dadanya dengan muka bingung.      "Hahaha ya iyalah siapa lagi, kan kaga ada orang lagi selain ente." Tukas orang tadi merasa SA SK SD (sok akrab sok kenal sok dekat) seraya terkekeh.       Zia masih dengan kebingungan nya lalu tersenyum yang di paksakan agar terlihat ramah. Lalu Zia memutar tubuhnya mengikuti arah mobil itu parkir tepat di belakang nya. Seseorang pawakan gendut tidak terlalu tinggi dan agak bantet itu (hihihi..)  turun dari mobil.      "Dodi Taruna Wibisono panggil gue Dodit.. "      "Gue Zia, Zildjian Ganesha Paramayoga" Zia menjabat uluran tangan Dodit.     "Ente dari fakultas apa..? " Tanya Dodit     "Design dan Seni Rupa dan Design." Sahut Zia singkat      "Cocok men gue juga di Fakultas itu. Prodi lo..? " Tanya Dodit kembali     "Gue DKV kalo lo..?"      "Yaaah beda men, gue di Prodi Televisi dan Film"      "Oooh" Zia ber O ria.      Dan inilah kali pertama Zia mendapatkan teman baru, walapun sedikit aneh dan culun tapi keliatannya Dodit ini baik dan seru hanya penampilannya saja yang berantakan dan sedikit gokil, baik Zia maupun Dodit tidak ada yang menyangka jika mereka berdua tinggal di atap yang sama juga kuliah di fakultas yang sama, bertemu dengan Dodit membuat Zia tidak lagi merasa suntuk dan merasa sendirian.      Akhirnya Zia dan Dodit terlibat obrolan seru, Zia sesekali tertawa mendengar cerita Dodit yang seru kadang-kadang konyol, entah apa yang di bicarakan hingga bisa membuat Zia terbahak, padahal selama ini Zia jarang tertawa seperti itu.     Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu, namun dengan karakter Dodit yang rame, supel dan sok akrab tentunya menjadikan perkenalan mereka tidak berakhir dengan kecanggungan. Zia yang pendiam dan Dodit yang rame membuat suasana jadi seru, tak jarang Dodit mendatangi kamar Zia, sebaliknya juga Dodit, setiap hari mereka pergi ke kampus bersama-sama dan hanya menggunakan satu mobil yakni mobil Zia.      Tak terasa sudah dua bulan Zia berada di Solo, kuliah yang di jalani sangat lancar tidak ada kesulitan, serta pekerjaan yang di kerjakan secara jarak jauh pun berjalan lancer tanpa kendala, Ageng pun secara rutin memberikan laporan kepada Zia.      Pagi itu cuaca sangat cerah, awan putih berbaris membuat gumpalan-gumpalan cantik di biru nya langit.      Zia sedang khusyuk membaca  beberapa laporan dari Ageng manager hotel di Bali melalui benda pipih di tangan nya. Tiba-tiba seorang mahasiswi berjalan ke arah Zia, rambutnya kecoklatan panjang sebahu, membawa tas di pundaknya serta buku di depan di d**a nya.      "Haiii.. Kamu Zildjian ya..?" Tanya seorang mahasiswi sambil mengulurkan tangannya dengan ramah.     "Kenalin aku Tasya Nicole Sastradipraja." Ucap mahasiswi itu lagi.     "Hai juga.. i iya.. Panggil aja Zia." Zia pun menyambut uluran tangan Tasya dengan menatap nya sekilas, datar dan tak bersahabat.      "Kamu anak DKV ya.. Aku anak Televisi dan Film, temennya Dodit.. Kamu kenal kan..?" Tanyannya lagi.      " Dodit..? Iya kenal, kenapa dengan dia..?"  Zia mengerutkan kening nya tanpa mengalihkan pandangan nya dari benda pipih yang di pegang.      "Eeeng anu Zi.. Kamu mau ikutan casting nggak..?" Tanya Tasya dengan sorot mata penuh harap dan to the point.      "Casting.." Zia menggeleng kan kepalanya dengan senyum di bibirnya.      "Di coba dulu lah Zi.. Wajah kamu tuh mendukung banget kalo jadi artis.. Yaaa minimal ikut dulu aja.. Perkara kamu ga mau itu bisa kamu putuskan nanti." Ujar Tasya sedikit memaksa.      "Maaf gue nggak ada waktu..! " Ucap Zia lalu melangkahkan kaki nya begitu saja dan meninggalkan Tasya seorang diri.      "Eeggrrhh.. Sombong amat sih..! Gue belum selesai ngomong.. Main pergi aja.." Dengus Tasya sambil menghentakkan kakinya lalu duduk di tempat yang Zia duduki tadi.      Tasya masih melihat badan Zia melenggang begitu saja, lalu Zia berhenti di taman yang ada tempat duduk untuk para mahasiswa biasa kumpul-kumpul. Zia masih asyik dengan handphone nya.      "Huh dasar cowok sok sibuk.. Sok bilang nggak ada waktu.. Awas aja nanti kamu Ziaaaa..  Eerrgghh." Tasya kesal dengan meremas tali tas nya kuat-kuat.      Tak patah semangat, Tasya lalu bangkit dan berjalan mendekati Zia.      "Zildjian.. Sorry kalo aku mengg."      "Panggil gue Zia.." Potong Zia  dengan ketus dan tanpa menoleh.      "I iya Zia.. Sorry kalo aku mengganggu kamu." Tasya jadi gugup.      "Tapi Dodit yang suruh Zi.." Tasya nampak melemah sambil menggigit bibir bawah nya.      "Lalu apa hubungannya dengan  Dodit..? lagipula Dodit nggak bilang apa-apa ke gue." Tanya Zia heran, Lagi-lagi tanpa menoleh.      "Issh gue berasa ngomong sama patung..? Nggak bisa nengok apa sih ni cowok.." Gerutu Tasya dalam hati.      "Yaa ada Dodit juga.. Kan abangnya Dodit yang jadi sutradaranya." Jelas Tasya lagi.      "Please Zia.. Kita coba dulu ya.." Ucap Tasya dengan manja dan sabar menghadapi sikap Zia yang dingin ini.      "Ki.. Kita..?" Lirik Zia dengan tatapan sedikit tidak suka.      "I iya maksudnya.. Aku sama kamu sama-sama ikutan casting itu.. Gimana..?"     "Aku juga di kasih tau Dodit, katanya suruh ngajak kamu, tuh dia lagi ngobrol sama dosen, sebentar lagi dia kemari kok." Papar Tasya     "Sompret Dodit, ngapain pake ngenalin nih cewek ke gue, segala mau ikutan casting." Rutuk Zia dalam hati.      Tasya mendudukkan dirinya di samping Zia, namun Zia merasa agak risih, udah hampir dua tahun Zia nggak pernah deket sama yang namanya cewek. Ada rasa risih, canggung, sebel.      "Bilang sama Dodit.. Gue nggak berminat sama sekali."  Lagi-lagi Zia pergi meninggalkan Tasya.      "Zi.. Ziaaa.. Iiiih.. Tunggu dulu.."  Panggil Tasya, tapi nyatanya sia-sia saja dia teriak.      Dengan kesal untuk yang kedua kalinya, Tasya duduk dengan kasar dan membating buku yang tadi di dekapnya.      "Hai maniiisss.. Kok cemberut gitu sih..? Udah kenalan sama bro Zia..?" Sapa Dodit juga ke Tasya.      "Udah..! Tapi kesel.. Ada ya orang sombong kayak dia.. Seumur-umur.. Baru kali ini gue di kacangin.. Nggak di anggep sama dia." Tasya mencak-mencak ke Dodit.      "Lha-lha.. Emang ngapa kok di kacangin..?" Tanya Dodit heran.      "Lain kali kalo di kacangin.. Kacang nya lo makan.. Kulitnya lo lempar ke muka Zia.. Wkekekekk." Canda Dodit dengan  tertawa geli.     "Iish Dod.. Gue serius..!" Bentak Tasya.     "Apa..! Dot..! Lo kata gue Dot bayi.. Hahhaha." Dodit masih saja tergelak.      Tasya mencebikkan bibirnya dengan kesal. Lagi-lagi..     "Hahahahahaha.. Emang Zia begitu orang nya kalem alias kayak lembu.. Hahahaha. " Pecah tawa Dodit setelah mendengar penjelasan Tasya tentang pertemuan sama Zia tadi.      "Ya udah.. Yuk kite samperin doi.. Noh doi lagi duduk sendirian di sono." Tunjuk Dodit seraya menarik lengan Tasya berjalan ke arah Zia.      "Hai bro Zia.. Kenalin nih temen satu prodi gue.. Tasya."      Zia mendengus kesal mendengar suara Dodit, sedangkan Tasya mengulas senyum di bibir nya walaupun masih ada rasa kesal di hatinya.      "Gue udah tau." Sahut Zia datar.      "Gimana manis..? Ganteng kaaan bro Zia ini..?" Dodit terkekeh, Tasya hanya tersenyum simpul.     "Ganteng banget malah.. Kayaknya gue jatuh cinta pada the first sight deh sama Zia." Batin Tasya dengan mata berbinar.     "Heiii manis kenapa malah bengong sich..?" Bingung Dodit.      "Gimana Zi.. Lo dah tau kan.. Kalo lo gue ajak casting buat main film juga bintang iklan..?" Tanya Dodit mulai serius.      Zia kontan mematikan handphonenya nya dan di masukkan ke dalam tote bag nya, lalu sepintas netra  nya menatap Dodit.     "Gue nggak mau." Jawab Zia singkat.      "Men dengerin  gue dulu.. Jadi.. Bla.. Bla.. Bla.." Bisik Dodit kemudian.     "Viva forever i'll be waiting, everlasting, like the sun" Handphone Tasya  tiba-tiba berdering.      Tasya menyentuh layar berwarna hijau.     "Halo Sya dirimu di mana tho..?"  Dari suara di sebrang sana dengan logat sangat medok.     "Kenapa Stev.?"     "Kita-kita udah di kantin.. Dari tadi dirimu ndak nongol-nongol.. Piye tho..? Cepetan ke kantin lho ya.. Saiki.. Tut.. Tut.. Tut. Stevi mengakhiri telepon nya tanpa menunggu jawaban dari Tasya.     "Sorry Dod.. Gue ke kantin dulu ya.. Teman-teman gue dah nungguin.. Bye.. " Pamit Tasya seraya merapihkan bukunya dan berlalu.      "Dat.. Dot.. Dat.. Dot.. Dasar lo ye.. Nggak takut kualat sama gue lo.. Songong.!" Gerutu Dodit      "Wleeek..!' Ledek  Tasya seraya menjulur kam lidahnya.     "Eeh Sya lo nggak pamitan sama bro Zia yang ganteng ini..?" Teriak Dodit di iringi  dengan tonjokon mendarat di lengan Dodit, Dodit  hanya meringis kesakitan.      "Bodo amat.. Urusin aja tuh temen lo yang dingin  kayak es batu.. Huh.." Tasya menengok lalu melengos dan pergi dengan kesal. Bersambung.. Happy Reading               
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN