Malam makin larut dan dingin, sinar bulan yang terang benderang dengan di temani satu bintang yang tak berhenti berkelip. Derik suara jangkrik berpadu dengan suara gemericik air seperti simfoni mengiringi sang kodok yang sedang bernyanyi di tepi kolam.
Zia masih anteng dengan laptopnya, ia sedang memeriksa laporan yang dikirim oleh Ageng juga Nyoman. Sejak Zia sakit posisinya di gantikan oleh sang kakek, ketika mereka berniat ke Jakarta untuk menjenguk Zia tapi di larang oleh Bella dan Ardi dengan alasan Zia nggak kenapa-napa, karena menurut Ni Luh nenek Nilam sedang kurang sehat maka dari itulah lebih baik di doakan saja untuk kesembuhan Zia.
Karena pemberitaan di infotainment yang sangat heboh lah membuat kakek dan nenek nya Zia yang ada di Bali jadi panik dan khawatir dan menyebabkan nini Nilam sampai pingsan.
"Seorang artis tampan kharismatik ditikam oleh orang yang tidak di kenal.. apakah itu fans fanatik nya atau haters nya.. pihak yang berwajib masih memburu orang berpakaian serba hitam dengan dandanan gotic.. Di duga artis dengan inisial ZGP itu melindungi seorang penari cantik.. siapakah penari cantik itu..? kekasihnya kah atau hanya sekedar kebetulan belaka." Begitu lah cuplikan dari berita infotainment di televisi. Pertama yang melihat berita gosip itu adalah Ni Luh.
Flashback On
"Nini.. Akiii.. Itu ada mas Zia di tivi.. waaah sekarang mas Zia lagi jadi bintang iklan minuman sehat." Teriak Ni Luh kaget saat ada iklan minuman sehat yang menampilkan wajah tampannya Zia.
"Heeh.. uhuk.. uhuk.. apa benar itu Zia nin.?" Tanya aki kepada istri nya.
"Sepertinya sih iya ki.. itu Zia cucu kita." Sahut nini.
"Kenapa Zia sekarang malah jadi artis.. apa Ardi tidak melarang." Decak ki Dewo.
"Entahlah ki.. kalo menurut nini sih tidak masalah.. yang penting Zia bisa bagi waktu." Bela nini Nilam.
"Iiiih aki kenapa ngelarang mas Zia jadi artis.. kan jadi artis keren ki.. wajahnya ada di mana-mana.. apalagi kalo udah terkenal.. ganteng keren tenar.. banyak duitnya.. hhmmm." Seloroh Ni Luh merasa gemas.
"Hussh ngawur kamu.. kurang apa Zia.. nggak perlu jadi artis Zia udah serba berkecukupan.. buat apa tenar hanya untuk jadi santapan publik.. Dewananta udah terkenal dari dulu.. hanya saja Zia selalu menyembunyikan identitas sebenarnya." Ucap aki geleng-geleng seraya menatap layar kaca.
"Iya tapi kan bangga aja ki.. keturunan aki ada yang jadi artis." Ujar Ni Luh bangga.
Itu saat pertama kali Ni Luh melihat Zia di layar kaca sebagai bintang iklan, dan untuk selanjutnya sudah biasa saat Zia tampil lagi di televisi dalam FTV atau sinetron. Saat itu pula aki Dewo langsung menelpon Ardi putranya.
"Assalamu'alaikum pa.. apa kabar.? " Sapa Ardi di sebrang sana.
"Waalaikumsalam Ar.. kabar papa baik dan sehat.. Mamamu juga baik.. papa ingin tanyakan apa kamu dan Bella tidak melakukan tindakan ketika Zia memutuskan jadi seorang artis.? papa sungguh kecewa saat melihat wajah Zia di televisi." Suara aki nampak marah.
"Iya pa.. waktu itu Ar juga sempat marah sama Zia.. karena dia nggak bilang dan nggak izin baik ke Ar ataupun ke mamanya.. kan Zia udah dewasa pa.. bisa menentukan pilihan nya sendiri.. pada akhirnya Ar mencoba damai sama keadaan.. Ar nggak bisa menolak karena udah terjadi pa." Papar Ardi mengalah.
"Hhhhaah.." Aki Dewo menghela nafas.
"Tapi Ar udah ultimatum Zia pa.. kalo sampai kuliah nya molor dan laporan pekerjaannya terbengkalai.. Ar ancam Zia agar namanya di coret dari ahli waris keluarga Dewananta." Ardi mencoba membela diri.
"Yaaa sudahlah.. pokoknya papa kurang setuju titik.. dah ya papa tutup telepon nya."
Aki Dewo menutup teleponnya.
"Tuh kan pasti papa marah begitu liat Zia.. Haaah." Gerutu Papa Ardi.
"Telepon dari siapa pa.?" Tanya mama Bella begitu masuk ke kamar.
"Dari papa Dewo ma.. Jadi papa nih yang jadi sasaran kena semprot.. kenapa ngizinin Zia jadi artis.. kita tau aja nggak." Desah papa Ardi seraya rebahan di kasur dan meletakkan tangannya di atas kepala.
"Hehehe udah lama ya nggak di omelin papa." Istrinya malah meledek.
"Iyalah terakhir di omelin pas SD hehe." Ucap papa Ardi terkekeh.
"Papa udah nebak begitu papa sama mama liat muka Zia di tivi pasti mereka langsung nelpon." Tebakan papa Ardi tidak meleset.
"Iya sudahlah pa.. semua sudah terjadi kan.. kita doakan saja semoga Zia sehat terus jadi bisa handle semua laporan pekerjaannya juga kuliahnya yah." Elus mama Bella di pundak suaminya.
Flasback Off
"Akiii.. niniii.. Mas Zia terluka hiks.. hiks itu liat beritanya." Ni Luh teriak saat melihat berita di televisi, seketika ia lemas karena meliat Zia yang sedang terluka dan di larikan ke rumah sakit.
"Hah.. kenapa dengan cucu nini.. innalillahi." Nini Nilam menutuo mulut nya tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Akii.. akiii... Zia kiii.. uhuuuu.. Zia.. ya Allah Zia kenapa.?" Nini Nilam langsung jatuh dan tak sadarkan diri.
"Akii toloong.. makde Mar.. bli Jayaan.. toloong." Teriak Ni Luh spontan.
"Ada apa Ni Luh.. loh kenapa nini pingsan.?" Pekik aki Dewo lalu berlari memanggil juru masaknya dan sopirnya.
"Maar... Jayan.. cepat kemari bantu saya.!" Teriak ki Dewo panik.
"Iya pak." Sahut Jayan.
"Cepat bantu saya angkat istri saya.. ini kenapa bisa pingsan begini Luh.?" Tukas ki Dewo.
"Tadi nini liat mas Zia lagi di bawa ke rumah sakit karena ditusuk orang nggak di kenal ki." Jelas Ni Luh ketakutan.
"Apa Zia di tusuk orang.?!" Ki Dewo pun terperangah.
"I.. iya ki.. itu ada di tayangan berita nya." Tunjuk Ni Luh kearah benda besar bergambar yang menggantung ditembok.
Setelah nini di bawa ke dalam kamar dan dibaringkan di tempat tidur, ki Dewo segera menghubungi dokter pribad keluarga nya.
Sementara itu Ni Luh di kamar nya sedang bersedih pasalnya ia tak tega dan tak rela melihat idolanya tengah merasakan sakit.
"Mas Zia.. semoga kamu ndak apa-apa.. semoga Tuhan selalu melindungi mas.. hiks.. hiks." Air mata Ni Luh luruh di pipinya.
Ni Luh yang sepertinya menaruh hati sejak Zia tinggal di rumah majikannya itu semakin bertambah kekagumannya terhadap Zia, apalagi sekarang tidak perlu menanti Zia berkunjung ke Bali untuk sekedar melihat wajah Zia, Ni Luh bisa menikmati dan berlama-lama memandangi wajah idola nya itu, di handphone nya, di tembok kamar nya terdapat foto Zia dengan berbagai pose yang dia ambil dari televisi atau dari dunia maya.
"Meskipun mas Zia ndak di sini.. tapi wajah mas Zia masih bisa aku liatin kok.. dari tivi juga bisa." Batin Zia, kadang Ni Luh menonton televisi bukan serius menonton tayangannya melainkan menanti iklan yang di bintangi oleh Zia.
Nah untuk itulah kenapa Bella melarang papa dan mama mertuanya untuk terbang ke Jakarta menjenguk Zia, Bella tidak mau kesehatan mertuanya memburuk setelah melihat keadaan cucu kesayangannya secara langsung, apalagi luka tusukannya mengenai otot dalamnya, sehingga membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk pulih kembali.
Zia menerima banyak laporan dari aki juga Ageng dan semua laporan sudah Zia kerjakan dengan baik, kini giliran laporan dari bli Nyoman bahwa cafe nya saat ini menurun drastis alias sepi pengunjung, menurut laporan bli Nyoman bahwa cafe nya itu sudah ketinggalan jaman apalagi cafe nya itu masih menggunakan bangunan lama, istilah nya sudah jadul dan tidak masuk kategori tempat nongkrong yang sedang happening, mengingat di ujung jalan sedang di bangun yang katanya akan di didirikan cafe and resto. Dari laporan bli Nyoman itu Zia memutar otak nya berpikir bagaimana caranya agar cafenya itu maju dan ramai lagi.
"Gue harus melakukan perubahan serta inovasi baru.. gue akan rubah bangunannya terlebih dahulu supaya lebih gaul dan instagramable.. biar pengunjung pada betah.. gue juga akan pasang wifi gratis lalu desain interior nya juga perlu di ganti semua itu." Monolog Zia seraya mencatat dan menceklis semua apa yang akan dilakukan saat nanti libur kuliah tiba.
"Haaaaaah.. done alhamdulillah." Gumam Zia seraya meregangkan tanganya yang sedikit penat.
Zia meraih benda pipih yang ada di samping laptop, ia membukanya ada wajah Luna dan dirinya di sana, seketika Zia teringat akan Luna, Zia tersenyum saat melihat foto dirinya bersama Luna. Kadang Zia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya memasang foto nya bersama Luna untuk di jadikan wall paper di hape nya, jika di bilang suka pada Luna yaa di akui dirinya memang suka pada Luna, lalu kalo di bilang cinta yaa bisa jadi karena Luna mampu menggetarkan hatinya dan membuat Zia jatuh dalam-dalam saat melihat Luna, perasaan Zia senang dan tenang jika sudah melihat Luna, dan jika ia tidak melihat Luna bawaannya uring-uriangan nggak jelas. Lantas jika ia anggap Luna sebagai kekasihnya karena sudah berani memasang fotonya berdua di handphone tapi Zia belum pernah mengungkapkan apa-apa tentang perasaannya.
Zia sudah beberapa kali memberi hadiah untuk Luna, dan menurut Zia itu sudah cukup untuk mengutarakan isi hatinya dengan bentuk perhatian darinya untuk Luna, namun perhatian saja tidak cukup Zia.. hati kecilnya berkata. Cinta itu perlu di utarakan dan di ungkapkan melalui kata-kata atau tulisan, kalau hanya perhatian saja itu belum cukup.
"Apa gue harus ungkapin perasaan gue ke Luna dengan jujur.?" Tanya Zia kepada dirinya sendiri.
"Iyaaa Ziaa.. bagaimana Luna bisa tau kalo lo suka sama dia." Hati Zia menjawab.
"Yaaa tunggu waktu yang tepat gue akan tembak Luna dengan cara yang romantis.. tapiii--giman a caranya.?" Zia bingun.
"Yaelaaaah lo tanya sama Dodit." Kata hati Zia.
"Hah si Dodit manusia k*****t itu? ngapain gue tanya dia.. dia aja belum tentu pernah nembak cewek dan pacaran.. dengan tampang kayak gitu gue sangsi kalo dia pernah punya pacar. hahaha." Celoteh Zia bermonolog lalu terbahak setelahnya.
"Luna.. mau kah kamu jadi pacar aku." Tanya Zia kepada gambar muka Luna di hapenya. Gambar Luna sedang tersenyum manis.
"Aku kangeeeen banget sama kamu Luna.. Aluna Zakiya.. aku kangen senyum kamu sama teduhnya mata kamu.. kamu sedang apa ya sekarang.?" Gumam Zia sambil terus menatap foto Luna dengan tajam.
"Yaaaah udah jam 10 mungkin udah pules kali Luna." Ucap Zia akhirnya.
"b**o banget ya gue.. kenapa nggak dari tadi telepon Luna malah bengong buang waktu percuma.. bodoh.!" Maki Zia pada dirinya.
"Gue kirim pesen ada deh." Zia memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Luna.
"Assalamualaikum Luna.. apa kabar.? kamu udah tidur ya.? semoga mimpi indah ya." Hati Zia deg-degan saat mengetik kalimat itu, lama Zia terdiam dan tidak langsung mengirimkan pesan itu. Akhirnya tangan Zia menekan tanda panah untuk mengirim.
"Haaaaah lega rasanya.. tapi kenapa gue tadi deg-degan sih.!" Gerutu Zia sambil mengusap-ngusap foto dirinya bersama Luna.
"Tapi kok ceklis satu ya.. apa hapenya di matiin.?" Batin Zia sedikit kecewa.
Zia berjalan menuju kamar pakaian dan mengambil selendang, tapi di mana letak selendang itu berada
Zia lupa.
"Apa jangan-jangan ada di kamar di Solo.?" Zia pasrah deh jika selendang itu ada di Solo, ia tidak bisa mencium harum selendang Luna.
Sementara itu di waktu yang bersamaan namun berbeda tempat, Luna sedang berkutat dengan buku dan pensil, ia sedang konsetrasi belajar demi menghadapi ujian yang akan di laksanakan esok. Seperti sudah menjadi tradisi ketika sedang menghadapi ulangan semester atau pun ulangan harian hape Luna pasti di sita oleh bunda nya, dan itu sudah di lakukan bertahun-tahun oleh orang tua Luna, sikap tegas dari orang tuanya akan menjadikan anak yang bertanggung jawab dan menghargai waktu. Dulu waktu Aleodra kaka Luna pun seperti itu, apalagi sekarang Luna akan menghadapi ujian negara, pengawasan terhadap Luna sangat ketat, dari mulai mengurangi kegiatan narinya sampai hanya sekedar ngumpul bersama teman saja di batasi, mengingat hanya Luna yang masih duduk di kelas 9, dan yang lainnya sudah SMA semua.
Luna terus membaca soal-soal yang di berikan oleh gurunya melalui kisi-kisi ujian, kadang ia berbicara sendiri, bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri, mungkin saat ini Luna harus menghilangkan wajah Zia dari benaknya, karena saat ini otak nya sudah di penuhi dengan ratusan soal yang sudah menanti untuk di jawab dan di hafal. Padahal kata Metha dirinya harus menghubungi Zia sesegera mungkin sebelum hape nya di sita bunda nya.
"Ngapain aku chat kak Zia.?" Tanya Luna dengan wajah polos.
"Yaa minta doa restu lah lo kan mau ujian." Mitha terkekeh dan memeletkan lidahnya.
"Kamu pikir kak Zia mbah kakung ku minta doa restu segala." Luna ikutan terkekeh.
"Ya sekedar basa-basi Lunaaa." Gereget Metha kepada Luna.
"Diiih ogiyaah nanti di bilang modus.. malu ah." Sanggah Luna.
Kalo teringat ucapan Metha, Luna suka tertawa sendiri, memang Luna tadinya akan mengirim pesan ke Zia, ia akan meminta maaf lalu mengucapkan terimakasih serta ingin menanyakan keadaannya bagaimana, namun ia urungkan. Luna sudah memutuskan untuk tidak menghubungi Zia dulu meskipun hatinya ingin sekali menanyakan kabarnya.
Menurut teman-temannya kalo seseorang sudah berani memberikan hadiah terus-menerus serta perhatian terhadapnya, itu pertanda dia suka sama kita, pikiran Luna kembali teringat ucapan Metha dan teman-temannya.
"Met.. menurut gue.. kalo seseorang nagsih perhatian lebih serta sering ngasih hadiah itu bisa di artikan bahwa orang itu suka sama lo." Ucap Kirana kepada Metha.
"Naaah cucok Kir.. apa hayo artinya kalo ada orang begitu.. itu tandanya suka kan Kir.?" Ujar Metha.
"Gue juga setuju dengan statemen seperti itu.. itu tandanya kak Zia suka sama lo Lun." Kali ini suara Livia.
"Yaaap gue yakin 500 % bahwa kak Zia suka n cinta sama lo." Yakin Metha.
"Lalu selendang merah Luna masih ada di kak Zia dan belum dikembalikan." Putri mengingatkan akan selendang Luna yang masih berada di tangan Zia.
"Apa bener kak Zia suka sama aku.?" Tanya Luna dalam hati.
Lamunan Luna buyar manakala ada suara tukang sate yang melintas di depan rumah Luna, karena pintu balkon di biarkan terbuka sehingga suara tukang sate nyaring sekali.
"Astagfirullah.. kok jadi inget kak Zia lagi sih.. haduuh.!" Gumam Luna dengan mengusap wajahnya dengan tangan.
"Masa iya sih aku kangen sama kak Zia.. aiissh belum tentu dia kangen juga sama aku." Luna menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu kemudian Luna kembali serius berjibaku dengan kertas dan buku yang menumpuk di meja belajarnya.