Luna menghabiskan malam nya untuk belajar demi menghadapi ujian negara besok pagi, ia belajar hingga pukul 23 lewat, jika saja papa Zaki tidak melongok Luna dan mengingatkan mungkin bisa sampe jam 12 malam.
"Lho sayang kamu kok belum tidur." Papa Zaki langsung masuk ke kamar Luna karena memang tidak di kunci.
"Belum pa.. Luna masih belajar kan besok mau ujian." Sahut Luna seraya meletakkan bukunya dan menatap papanya yang masuk.
"Iya tapi ini udah larut lho.. besok malah ngantuk dan jadi nggak konsen." Papanya mengingat kan dan mendekati Luna mengusak kepala Luna.
"Dikit lagi pa tanggung." Luna memegang tangan papanya.
"Ya udah papa tungguin sampe kamu selesai belajar boleh.?" Kata papa Zaki akhirnya.
"Beneran papa mau nungguin Luna." Tanya Luna dengan mengulas senyum.
"Tentu dong.. ya udah lanjutin belajar nya papa mw duduk di balkon." Jawab papa Zaki dengan berjalan menuju balkon.
"Hhmmm.. malam ini cerah banget langitnya banyak bintang." Ujar papa Zaki menghirup udara segar di malam hari.
Papa Zaki melihat-lihat tumbuhan yang di tanam di pot oleh istri dan anaknya, harum semerbak bunga mawar dan melati sangat segar, sudah lama dirinya tidak menginjakkan kaki nya di balkon kamar Luna karena kesibukannya, malam ini ia menyempatkan waktu untuk melongok putrinya yang sedang belajar sekaligus melihat pemandangan luar dari balkon. Tak lama..
"Hhmm pa.. Luna udahan belajar nya." Panggil Luna pelan seraya menutup tirai jendela.
"Ooh udahan.. euiimm ya udah kamu istirahat ya sayang.. tidur yang nyenyak agar besok pagi fresh kembali.. papa harap nilai kamu bagus dan mampu mempertahankan posisi kamu seperti semester lalu." Nasehat papanya dengan memeluk Luna dari samping.
"Insya Allah pa." Jawab Luna singkat seraya menelusupkan tangannya di pinggang papanya.
"Ya udah selamat tidur.. jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur semoga di mudahkan dan dilancarkan untuk besok." Pesan papa nya. Luna manggut-manggut mengikuti langkah papanya menuju pintu.
"Iya pa.. Luna nanti mau tahajud pa." Ucap Luna lirih.
"Alhamdulillah.. kalo gitu segera tidur deh.. udah setel alarm.? Tanya papanya.
" Udah pa." Jawab Luna pelan.
"Papa turun ya sayang.. semangat buat besok.!" Support papa Zaki mencium kening Luna sebelum menuruni tangga.
"Siap bos.!" Cium Luna di pipi papanya.
Pagi yang cerah dengan sinar matahari menyapa dan menghangatkan seluruh mahkluk bumi. Suara sendok dan piring terdengar hingga kamar Luna yang terbuka lebar. Bunda Lea yang di bantu mbak Sri tengah menyiapkan sarapan pagi. Luna sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolah, ia menuruni anak tangga satu persatu dengan wajah ceria dan semangat, krudung putih yang tersemat di kepalanya membuat wajahnya nampak bersih bercahaya. Anak tinggi itu masih memakai rok seragam berwarna biru tua yang sudah sedikit mengatung, menurut bunda nya nggak usah beli seragam lagi karena sudah tanggung sebentar lagi lulus. Dan tinggal selangkah lagi Luna segera memasuki jenjang sekolah menengah atas.
"Pagi bund pa." Sapa Luna seraya meletakkan tas nya di sofa ruang tengah.
"Pagi sayang." Sahut papa Zaki yang sedang menikmati teh dan berita pagi di televisi.
"Yang mau ujian semangat banget nih.!" Sapa bunda Lea mengulas senyum.
"Iya dong harus semangat.. doakan Luna ya bund pa.. semoga nanti lancar." Pinta Luna.
"Tentu sayang." Ujar bunda Lea dengan meletakkan mangkok sayur di meja.
Pagi ini keluarga Zaki sarapan nasi merah, capcay, ayam goreng serta bakwan jagung, ada roti bakar dan s**u coklat untuk bekal Luna sudah tersedia di kotak makannya yang belum ditutup karena rotinya masih panas.
"Ayok sarapan dulu.. nanti keburu siang.. ini kan hari Senin khawatir macet." Bunda Lea menyendokkan nasi untuk suami dan anaknya.
"Tenang bund masih lama kok.. kan masuk nya jam 7.30 dan mulai ujiannya jam 8." Kata Luna sambil menarik kursi.
"Abang mana bund.?" Tanya Luna melongok ke atas ke pintu kamar kakaknya.
"Abang masih terbuai mimpi kali.. kan semalem dia begadang nyelesaiin tugas disain nya." Sahut bunda Lea menuangkan air putih di gelas.
Keluarga Zaki menikmati sarapan paginya dengan tenang tanpa bersuara sedikitpun.
"Ayo pa.. Luna sudah siap." Kata Luna kepada papa Zaki begitu mereka selesai sarapan.
"Kan masih jam 6." Kata Papa Zaki yang akhirnya segera berkemas untuk berangkat kerja sekaligus mengantar Luna sekolah terlebih dulu.
"Iya pa biar Luna santai.. nggak deg-degan nanti." Kata Luna seraya mengambil tas nya.
"Bund Luna berangkat dulu.. doakan Luna ya." pamit Luna kepada bundanya seraya mencium punggung tangan juga pipinya.
"Iya anak cantik.. bunda selalu berdoa buat kamu agar di mudah kan semua urusan dan di lancarkan dalam mengerjakan soal-soal ujian." Doa bunda.
"Aamiin.." Sahut Luna dengan mengusap wajahnya.
"Non Luna hari ujian ya.? mbak Sri doain biar lancar ya non.. biar dapet nilai bagus dan dapet sekolah negeri paporit." Ucap mbak Sri turut mendoakan Luna.
"Makasih mbak." Luna mengangguk.
"Sayang sini deh sebentar.. jangan pakai sepatu dulu." Panggil bunda Lea yang sedang mengeluarkan sesuatu dari kantong piyama nya dan memberikannya kepada Luna, itu ternyata hape Luna yang di sita oleh nya.
"Sambil nunggu papa.. kamu liat ini dulu deh.. siapa tau bisa membuat kamu semangat." Kata bunda Lea mengerlingkan matanya.
Tanpa banyak tanya Luna langsung menerima benda pipih itu dan langsung membuka nya, sontak benda pipih itu berbunyi terus menerus menandakan banyaknya pesan yang masuk.
Luna membaca satu persatu siapa saja yang mengirimkan pesan kepada nya, ada Metha, Saski yang mengirimkan pesan melalui japri, ada juga pesan dari group Besti4ever yang beranggotakan Luna, Metha, Saski, Ghea, Livia, Kirana, Putri, Rida, Cila, digrup itu terdapat 47 obrolan, ada juga pesan dari ustadzah Yumna guru ngajinya, dan masih ada beberapa pesan dari kerabat Luna. Rata-rata semua pesan memberikan support buat Luna saat melaksanakan ujian negara.
Deg..!! Sontak mata Luna terbelalak dan jantung nya seperti mau copot tak percaya saat mendapati nama Zia di sana.
"Assalamu'alaikum Luna.. apa kabar.? kamu udah tidur ya.. semoga mimpi indah ya." Sapa Zia dalam pesannya. Luna membaca berulang-ulang pesan itu, bibirnya senyum-senyum, raut wajahnya terpancar kebahagiaan yang tak terkira, Luna tak percaya Zia mengirimkan pesan seperti itu kepada dirinya. Tanpa disadari Luna bundanya memperhatikan dari ruang makan sambil tersenyum dan geleng-geleng. Di peluk nya benda pipih itu seraya membayangkan wajah Zia yang tampan dan sorot mata yang tajam.
"Ehheem." Bunda Lea tau-tau sudah berdiri di sampai Luna yang sedang senyum-senyum sendiri, Luna terkesiap.
"Eeh bunda.. ini bund udah Luna baca semua nya." Ucap Luna pelan.
"Kamu nggak balas pesan nya.?" Tanya bunda nya dengan wajah genit sepertinya mengandung unsur ledekan.
"Eeiimm belum bund." Geleng Luna malu.
"Balas dulu setelah itu bunda sita lagi hp nya hehehe." Ujar bundanya sambil tertawa.
"Iiissh bunda nyebelin banget sih.. kenapa pake gaya genit segala." Rutuk Luna dalam hati.
"Emang nya boleh kalo Luna balas semua pesan.?" Tanya Luna takut-takut dengan wajah bersemu merah.
"Tentu.! siapa tau ada yang penting.. lagi pula papa kan masih dikamar." Bunda Lea memberikan kesempatan kepada Luna agar membalas semua pesan yang masuk.
Muka Luna blushing karena tatapan bundanya yang sepertinya mengetahui apa yang di rasakan Luna, Luna malu jika bundanya tahu perasaan Luna saat ini, terlebih mengenai Zia yang mengirimkan pesan kepadanya.
"Ya udah Luna balas dulu bund.. makasih." Luna tersenyum senang. Bundanya hanya memggelengkan kepalanya saja.
Pertama Luna membalas ucapan yang memberikan semangat ujian kepadanya terutama teman-teman Luna dari sanggar dan dari sekolah, lalu para kerabat Luna, ia mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas doa dan dukungannya, dan yang terakhir Luna akan membalas pesn dari Zia, namun mendadak hatinya berdesir kencang, rasa gugup seketika dan sekaligus bahagia, pokoknya sulit di ungkapkan deh gimana perasaan nya Luna saat ini.
"Waalaikumsalam kak Zia.. kabar Luna baik kak.. maaf baru membalas pesan dari kakak.. soalnya Luna hari ini ujian negara jadi biar konsentrasi dalam belajar jadi hape Luna di sita bunda." Balas Luna polos sambil memberi emot meringis.
"Kak Zia apa kabar.? ohya kak.. doakan Luna ya.. selama 3 hari kedepan Luna ujian negara." Balas Luna lagi dengan perasaan deg-degan.
Betul kata bundanya tadi bahwa ada pesan yang membuat nya semangat.
"Aaaah bunda tau aja." Batin Luna malu.
"Bund.. papa berangkat dulu ya." Pamit papa Zaki seraya mencium pipi istrinya, Luna menengok lalu segera mematikan hapenya dan memberikannya kepada bundanya. Setelah itu papa Zaki dan Luna segera berangkat.
*
*
*
*
Zia terusik dengan suara dentingan pesan masuk di handphonenya, dengan mata masih terpejam Zia merada-raba nakas untuk mencari benda pipih itu. Setelah mendapati handphonennya Zia segera membuka hapenya dengan mata sedikit tertutup separo.
"Haaa.. Luna.!" Kontan mata Zia langsung melotot, yang tadinya masih mengantuk kini Zia sudah bugar dan tidak ngantuk lagi.
Dengan tak sabaran Zia membuka dan membaca pesan dari Luna, apa yang di lakukan Zia ternyata sama dengan apa yang di lakukan Luna yaitu membaca pesan dengan berulang-ulang.
"Oooh kamu sedang ujian ya." Gumam Zia, namun Zia sengaja tidak membalas pesan dari Luna, karena percuma saja kan hape Luna juga kan sedang di sita oleh bundanya.
"Saya doakan ujian kamu lancar ya Luna.. semoga mendapatkan nilai yang bagus." Doa Zia dalam hati.
"Aku yakin kamu bisa dan mampu Luna." Lirih Zia.
"Apa gue langsung ke sekolah nya aja ya.. kasih support buat Luna secara langsung." Monolog Zia seraya menyibakkan selimut dari badannya.
"Tapiiii nanti ada yang ngenalin gue dong---tapi bomatlah gue akan ke sekolah Luna.. gue akan tunggu sampe Luna pulang." Ucapnya lagi.
Zia jadi bersemangat setelah mendapatkan pesan dari Luna, ia segera bergegas masuk kamar mandi seraya bersiul merdu.
Zia menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk mandi saja, setelah di rasa tubuhnya benar-benar segar Zia menyudahi kegiatan mandinya, ia berjalan menuju wall in closet sambil berkaca dan berdendang Zia lalu menyibakkan rambutnya yang basah, selain hidung mancung wajah bule dengan rambut gondrong nya juga di kaca terlihat jelas bentuk tubuhnya yang agak berlemak efek dari sakit yang membuat Zia hanya tidur dan makan saja.
"Gue harus fitnes lagi nih.. tapi kata dokter nggak boleh berat-berat dulu." Gumam nya.
Tak lama terdengar bunyi telepon berdering Zia segera keluar dari ruang ganti nya, di lihatnya ada wajah Dodit di sana.
"Halo bro Zi.. apa kabar.!" Sapa Dodit
"Hai men gue baik.. lo gimana.?" Sapa Zia balik.
"Gue baik juga bro.. ente kaga ada kabar.. hape ente kenape sih.?" Cecar Dodit.
"Lo kaga tau hape gue di sandra sama mas Zizi, baru di balikin pas gue pulang dari rumah sakit.. sueeek banget deh mas Zizi." Ucap kesal.
"Pantesan pesan gue nggak lo baca-baca.. telepon juga kaga di angkat-angkat." Curhat Dodit.
"Iya sorry men."
"Ente udah sembuh bro.?"
"Alhandulillah udah men.. tapi gue nggak boleh cape-cape dulu."
"Pastilah bro ente jangan cape-cape dulu.. tapi btw ente kapan balik kemari lagi.?"
"Nanti lah tunggu gue bener-bener pulih men.. ohya ngomong-ngomong udah ada perkembangan dari kasus penusukan gue.?"
"Belum ada bro.. cuma di rumah sakit tiap hari ada aja wartawan yang dateng.. di sangkain ente di umpetin pihak rumah sakit dari kejaran wartawan yang mau wawancara ente bro."
"Gue taunya salah satu wartawan yang kebetulan dulu gue pernah minta tukeran nomor handphone.. nanyain keberdaan ente saat ini ada di mana."
"Ya udah tinggal jawab aja gue sekarang lagi ada di Jakarta di rumah orang tua gue."
Dodit menjeda kalimatnya.
"Apalagi.?"
"Ente jujur sama ane ye.. bener ente keluarga Dewananta pengusaha dari Bali yang punya rumah sakit itu."
"Ennggg sorry Dit.. iya bener." Jawab Zia pada akhirnya.
"Aaaaaah shit.!" Umpat Dodit kesal.
"Sorry men.. gue nggak bermaksud membohongi lo semua.. tapi emang demi kebaikan diri gue sendiri."
"Iya tapi kan setidaknya ente jujur aja sama ane."
"Sorry men.. gue punya alasan tersendiri mengapa gue sembunyiin indentitas diri gue."
"Pasalnya wartawan udah mulai curiga bahwa ente bukan anak orang sembarangan."
"Ya terus gue kudu giaman men.?"
"Kalo menurut bang Troy lo harus ngadain jumpa pers bro."
"Maksud lo gue harus akuin bahwa gue cucu dari keluarga Dewananta gitu.?"
"Tepat bro Zi."
"Bukan apa-apa ya men.. gue sembunyiin karena keluarga gue nggak jadi santapan public.. apalagi saat ini dalam kondisi gue kayak gini.. pasti keluarga gue terutama kakek gue di Bali nggak setuju."
"Gue ngerti maksud lo bro.. tapi coba ente pikirin dulu deh.. atau lo omongin dulu sama keluarga lo."
Obrolan Zia dan Dodit kali ini sangat serius sebab mengenai nama baik keluarga Dewananta, karena jangan sampai nanti ada indikasi bahwa Zia adalah menipu masyarakat banyak dengan menyembunyikan identitasnya meskipun itu tidak ada pihak yang di rugikan.
Rencana pagi ini Zia ingin mendatangi sekolah Luna mendadak gagal pasalnya Zia menjadi tidak bersemangat sejak mendapat telepon dari Dodit, otak Zia berpikir keras apa yang harus di lakukan dan harus berbicara dengan siapa supaya mendapatkan solusi dan jalan yang terbaik, karena selama ini keluarga Dewananta sangat anti sekali sama yang namanya publikasi, mereka takut di bilang sombong dan pamer.
Setelah panggilan dari Dodit di tutup Zia langsung bergegas turun ke bawah guna menemui mamanya, Zia akan meminta saran yang terbaik mengenai embel-embel Dewananta di belakang namanya. Tapi Zia ragu karena papa nya dan kakeknya pasti tidak setuju. Setelah sampai di ruang makan suasana nampak sepi, bisa jadi mereka sudah berangkat ke rumah sakit.
Satu minggu telah berlalu, akhirnya Zia sudah memutuskan akan melakukan jumpa pers, setelah keluarga Zia sudah menyetujui dan tidak masalah jika seluruh dunia mengetahui bahwa Zildjian Ganesha Paramayoga Dewananta adalah cucu dari Dewananta pengusaha terkenal dari Bali, dan memang masyarakat berhak tahu siapa dir Zia sebenarnya.
Bersambung..