Sementara Luna masih berada di ruangan Zidni, video yang dilihatnya sudah selesai, Luna diam seribu bahasa, ia tak tahu harus berkata apa, matanya nampak mulai mengembun, hadir rasa bersalah dalam benak Luna, karena tidak menggubris kata-kata Zia, bahwa sebenarnya memang Zia tidak bersalah. "Gimana Luna? Udah melihat isi video ini kan? Selanjutnya keputusan ada di tangan kamu. Seperti di awal yang saya bilang." "I-iya dok, Luna ga ta-u ha-rus gima-na, hiks, hehe." Jawab Luna terisak sambil terkekeh. "Loh kok ga tau harus gimana." Zidni pun terkekeh melihat Luna yang menangis sambil tertawa. Tok.. Tok.. Tok.. "Masuk!" Kata Zidni. "Mas, ada ap..!" Pekik Zia namun terjeda, begitu melihat ada Luna yang sedang menoleh ke arahnya. "Kak Zia, huwaaa." Luna bang

