Di hadapan Zhorak, dengan susah payah Xheira mencari posisi duduk bersila yang enak. “Maaf athas ketherlambatan kami, thidak sephanthasnya thuan membuang wakthu unthuk kami.” Kata Caravik dengan keluwesan seorang alumni SMU, sekolah asrama putri yang mengajarkan segala t***k bengek tradisi Zirac. “Unthuk dua wanitha yang akan mengukir sejarah dunia Zirac, seribu thahunphun aku harus sabar menunggu.” Kata Byjak dengan gaya hiperbola . “Baiklah, semua sudah berkumphul? Bagaimana jika kitha mulai dengan menu phembuka, Ayah?” Tanya Sashik tanpa mengalihkan pandangannya Xheira. “Baiklah.” Kata Byjak. Lalu Sashik menjentikan tangan memanggil pelayan untuk memulai perjamuan. Para pelayan membawa bahan-bahan mentah untuk sebuah menu pembuka. Dari balik kerudung yang menjuntai, mata Xhe

