Hamil

2335 Kata
"Lea, kamu sudah bangun? Ayo, sarapan!" ajak Daisy. Pintu tampak terbuka, menampilkan Namilea yang baru selesai membersihkan dirinya. Gadis muda itu, tampak tersenyum pada perempuan baik hati, yang mau menolongnya meskipun mereka tidak saling mengenal. Daisy kemudian mengajak Namilea menuju ruang makan, di sana sang suami sudah menunggu keduanya. "Makanlah yang banyak, Lea. Kau terlihat pucat sekali." Beberapa hari terakhir Daisy memerhatikan Namilea. Wajahnya pucat, dan tubuhnya juga lemas terkesan tidak bersemangat. Wanita itu khawatir jika gadis itu akan jatuh sakit. "Bagaimana kabarmu hari ini, Lea?" tanya Zayn--suami Daisy. "Aku baik-baik saja, Kak Zayn," jawab Namilea singkat. Zayn hanya mengangguk, tidak bertanya lebih dari itu. Sudah dua bulan Namilea tinggal bersama dengan sepasang suami-istri itu, tetapi sikapnya tetap saja tertutup. Dia jarang bicara. Setiap kali ditanya pun selalu menjawab seperlunya, dia lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamarnya, gadis itu kerap menangis diam-diam. Sampai selesai sarapan, suasana meja makan begitu hening. Tidak ada obrolan apapun di antara mereka bertiga. Zayn langsung pamit untuk pergi bekerja. "Hati-hati! Jika sudah sampai segera hubungi aku." Zayn mengangguk, lalu memberikan kecupan di kening sang istri. "Kalian juga. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Namilea beranjak kembali kekamarnya setelah kepergian Zayn. Sejak bangun, kepalanya terasa sakit. Saat ini dia merasa lebih sakit dari sebelumnya, bahkan sekelilingnya terasa berputar. Pandangannya pun mulai kabur, hingga akhirnya sebelum mencapai kamarnya, ia sudah tidak sadarkan diri. "Namilea!" teriak Daisy begitu melihat gadis muda itu sudah tidak sadarkan diri. Daisy meminta para pelayan yang ada di rumahnya, untuk membantu memindahkan tubuh gadis itu ke dalam kamarnya. "Mbok, tolong hubungi dokter keluarga! Minta ia segera datang kerumah." "Baik, Nyah." Tanpa menunggu lama, si mbok pun segera melaksanakan perintah sang nyonya. Ia menghubungi dokter keluarga sang majikan. Daisy tampak menatap tubuh lemah dan wajah pucat itu. Dalam hatinya, ia merasa iba. Entah kenapa, ia merasa jika gadis muda itu tengah menyimpan masalah yang besar. Lima belas menit kemudian, dokter pun sampai di kediaman sang majikan. Tanpa menunggu ia langsung menuju kamar. Di mana sang majikan berada. "Permisi, Nyonya! Maaf saya sedikit terlambat!" Daisy tersenyum, kala melihat wanita paruh baya yang tengah berdiri di hadapannya. Dokter yang sudah lama sekali mengabdikan diri pada keluarga Andromeda. "Tidak apa-apa, Dok! Mohon periksa gadis itu. Tadi dia pingsan setelah sarapan pagi," ucap Daisy menjelaskan kejadian yang menimpa Namilea. "Baik, Nyonya. Saya meminta izin untuk memeriksa gadis muda ini." Daisy mempersilahkan sang dokter memeriksa keadaan Namilea. Daisy khawatir, takut terjadi apa-apa. Atau bahkan ia tengah sakit parah. Dokter pun mulai memeriksa keadaan Namilea. Sesekali terlihat kening wanita paruh baya itu mengerut. Perempuan paruh baya itu menghela nafasnya, dan menggelengkan kepalanya. "Bagaimana, Dok? Dia baik-baik saja,'kan?" tanya Daisy khawatir. Sebelum menjawab pertanyaan majikannya, dokter itu membereskan peralatannya. Ia menghela napasnya, lalu menatap sang nyonya. "Maaf, Nyonya! Sebelum saya menjelaskan, apakah Nona Muda sudah menikah?" tanya sang dokter. Alis Daisy terangkat sebelah, tanda ia heran. "Bagaimana maksud dokter! Maksudnya, Dok! Tolong, langsung saja jelaskan apa yang terjadi padanya!" Dokter pun menjelaskan tanda-tanda yang dialami oleh Namilea,Daisy sudah tegang kala mendengar penjelasan sang dokter. Wanita cantik itu sudah bisa menebak kemana alurnya. "Maaf, Nyonya! Saya berharap perkiraan saya salah, tetapi Nona benar-benar tengah mengandung. Perkiraan usianya menginjak minggu ke empat!" Jantung Daisy langsung berdetak kencang. Shock tentu saja. Bagaimana bisa? Apakah Namilea mengandung anak pria yang melecehkannya? Saking seriusnya Daisy mendengarkan penjelasan dokter, sampai tidak sadar jika gadis cantik itu telah sadar. Dan ia mendengar semuanya, tatapannya langsung kosong. Tangannya refklek mengelus perutnya yang masih datar. "Hamil? Tidak! Bagaimana bisa aku hamil anak pria yang sama sekali tidak aku tahu?" Dokter masih menjelaskan perkara kehamilan Namilea. Ia menyarankan untuk Daisy membawa Namilea ke rumah sakit. Guna memeriksa lebih detail keadaannya. "Tidak!" teriak Namilea. Membuat kedua orang itu langsung menoleh ke arahnya. Namilea histeris, menangis dan meraung. Bahkan ia memukul-mukul perutnya itu. "Tidak! Aku tidak mau mengandung anak pria itu. Aku tidak mau, dia harus lenyap! Aaaa!" teriak Namilea, ia bahkan menjambak rambutnya. "Lea, berhenti!" Kedua wanita berbeda usia itu langsung menghampiri Namilea yang masih histeris itu. Daisy bahkan sampai memeluk tubuhnya. Namilea berontak, ia semakin kuat memukul-mukul perutnya yang masih rata itu. Namilea sudah seperti orang kesetanan. Daisy berusaha menenangkannya. Meski ia tidak tahu, harus mengambil tindakan apa, yang bisa ia lakukan saat ini hanya memeluk gadis yang tengah rapuh itu. "Lea, Lea aku mohon tenanglah! Jangan seperti ini, kau bisa menyakitinya. Aku mohon, dia tidak bersalah, Nak!" Namilea terus berteriak histeris dan memberontak. Sampai Daisy kewalahan menghadapi amukannya. "Ya Tuhan! Aku tidak menyangka jika akibat pelecehan itu, membuatnya harus mengandung benih pria tersebut," gumam Daisy tetapi masih bisa di dengar oleh dokter paruh baya itu. "Maksudnya bagaimana, Nyonya?" tanya dokter tersebut. Daisy pun mengatakan jika beberapa waktu yang lalu, Namilea sempat bercerita jika ia menjadi korban pelecehan, ah tidak bukan pelecehan. Tapi Namilea di jebak oleh seseorang. Menggunakan obat perangsang. Pemikiran Daisy seperti itu. Sebab ia ketika melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Dan Namilea tidak mengetahui dengan siapa ia tidur dan menghabiskan malam panas itu. "Ya Tuhan, malang sekali nasibnya." Dokter pun pamit usai memeriksa Namilea. Daisy hanya mengangguk, dan tidak bisa mengantarnya, karena harus menemani Namilea yang masih menangis dalam pelukannya. * * Setelah mengetahui kehamilannya, Namilea lebih banyak diam, dan sulit di ajak bicara, dia hanya melamun terkadang juga menangis. Bahkan ia menolak untuk makan. Daisy khawatir. Sebab saat ini, dalam perut gadis itu terdapat janin yang tidak berdosa. Meskipun Namilea tidak menginginkan kehadiran bayi itu, tidak seharusnya ia menyiksa diri seperti itu. "Lea! Kau harus mengisi perutmu itu. Apa kau tidak kasihan pada janin yang kau kandung itu? Dia tidak bersalah, Lea. Jika ia boleh meminta, ia pun tidak ingin di lahirkan dari hasil yang tidak baik." Namilea diam. Ia bungkam, dan enggan menanggapi ucapan Daisy. Wanita cantik itu kesal, akhirnya membiarkan Namilea berada di kamarnya. "Aku hanya berharap kelak kau tidak akan menyesal karena sudah menelantarkan bayi di dalam kandunganmu. Ingat dia tidak bersalah!" tegas Daisy. "Aku kotor! Apa kata mereka, jika aku hamil di luar nikah! Ini semua di luar kehendakku. Andai saja aku tidak meminum air sialan itu, tentu aku tidak akan berada di situasi ini," lirih Namilea. Gadis yang tengah mengandung itu terus menyiksa dirinya sendiri. Dengan tidak makan, berharap jika janin di dalam perutnya akan mati. Namilea berharap jika ia hanya bermimpi. Namilea bingung, apa yang harus ia lakukan. Bagaimana jika ayahnya tahu, jika ia tengah mengandung. Sudah dipastikan jika pria itu akan sangat murka. * * Tidak terasa, dua minggu sudah semenjak kejadian itu. Kandungan Namilea kini berusia enam minggu. Tubuhnya semakin kurus karena ia sama sekali tidak pernah memakan apapun. Namilea hanya memakan setengah piring nasi setiap harinya. Ia masih berharap jika janinnya akan mati. Lama kelamaan Daisy muak. "Sampai kapan, Lea? Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri seperti ini?" Namilea melirik kecil Daisy. Beruntungnya, ia tidak mengalami mual dan muntah. "Sampai anak ini mati!" Daisy menggeleng tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Ibu mana yang akan tega membuat anak yang dikandungnya meninggal. "Jangan hanya karena kau putus asa, sampai mengorbankan nyawanya yang tidak berdosa!" Daisy pun pergi dari hadapan Namilea. Ia membiarkan perempuan itu sendiri, jika Daisy terus berada di sekitar Namilea. Ia takut akan lepas kontrol. Malam pun tiba, Daisy hanya melamun. Bahkan kehadiran suaminya tidak ia sadari. Zayn memerhatikan sang istri, yang sepertinya banyak pikiran. "Mikirin apa,sih? Sampai suami datang enggak sadar," tukas Zayn. Daisy langsung menoleh dan tersenyum menatap wajah tampan suaminya. Wajah yang sudah membersamainya selama beberapa tahun, mulai dari masa pacaran semenjak zaman Sekolah Menengah Atas. Hingga berlanjut kuliah, dan akhirnya menikah. "Kamu bersih-bersih dahulu. Nanti aku ceritakan." Zayn mengangguk. Tatapan pria itu masih sama, seperti ketika mereka awal mempunyai komitmen. Zayn mencium kening sang istri begitu dalam dan sayang. "Aku membersihkan diri dulu. Kamu tunggu ya, sayang!" Daisy mengangguk. Lalu ia berjalan menuju Walk In Closet, untuk menyiapkan baju suaminya. Sepuluh menit kemudian, ia pun telah seleau dan langsung menghampiri sang istri yang tengah duduk di tepi jendela. Zayn langsung membawa sang istri kedalam pelukannya. Zayn tahu, jika saat ini pasti ada yang tengah mengganggu pikirannya. Dan Zayn akan mendengarkan dengan baik, keluhan istrinya. "Mas, beberapa waktu yang lalu,Namilea sempat pingsan. Dan aku panik, lantas memanggil dokter keluarga untuk memeriksanya. Kamu tahu, Mas? Apa yang terjadi?" tanya Daisy. Zayn menatap serius sang istri. Terlihat dari matanya jika ia menyimpan kekhawatiran yang besar. "Kenapa sayang dengan Namilea?" tanya Zayn khawatir. Daisy terlihat menghela nafasnya. "Dia hamil." Zayn terdiam. Ia tidak percaya jika gadis itu akan mendapatkan hal seperti ini. Sesuatu yang tentu saja tidak akan mudah ia terima. Zayn yakin jika wanita itu saat ini tengah terpukul. Sudah mengalami malam yang panas, diusir oleh sang ayah. Kini, ia harus kembali mendapatkan kabar, bila dirinya tengah mengandung anak pria itu. "Lantas dia gimana, Sayang?" Daisy terlihat sedih. Apalagi mata wanita itu terlihat sendu. "Sudah berhari-hari ia tidak mau makan. Dan tubuhnya begitu kurus, Mas! Ia hanya berbaring sebab tubuhnya begitu lemah. Aku hanya takut terjadi sesuatu padanya dan juga bayinya." "Kamu tenang, Sayang! Mungkin kita bisa melihat dia ke kamarnya, entah kenapa firasat Mas jelek, setelah mendengar ceritamu." Daisy menatap suaminya. Dan tak lama wanita cantik itu mengangguk. Pasangan suami istri itu tampak keluar dari dalam kamarnya. Kini mereka berjalan bersisian menuju kamar yang ditempati Namilea. Begitu sampai di depan kamar, pintu kamar itu terkunci dari dalam. Membuat keduanya khawatir. "Namilea, buka pintunya! Namilea ayo kamu jangan seperti ini!" teriak Daisy sambil terus mengetok pintu itu. Namun sayang, pintu itu tidak kunjung terbuka. Daisy semakin khawatir dan panik. "Mundur, Sayang! Aku akan mendobrak pintunya!" "Hati-hati, Mas!" Zayn pun mengambil ancang-ancang untuk mendobraknya. Satu kali, dua kali, pintu itu tidak kunjung terbuka. Hingga Daisy meminta bantuan para penjaga. Ke dua pria itu mencoba mendobrak meski sangat susah. Tapi pada akhirnya, pintu itu terbuka juga. Di sana, di atas ranjangnya, Namilea sudah tidak sadarkan diri dengan tangan yang tergores dan darah sudah membasahi ranjangnya. "Tidak! Namilea!" teriak Daisy. Ketiga orang itu mendekat. Daisy sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Zayn memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil, ia dan istrinya akan membawa Namilea ke rumah sakit. "Kita bawa ke rumah sakit, Sayang! Sudah jangan menangis hmm, izinkan aku untuk membawa dia," izin Zayn. "Iya, Mas. Ayo, aku takut kita terlambat menolongnya!" Zayn langsung membawa Namilea yang sudah tidak sadarkan diri itu. Mereka bertiga menaikki mobil. Zayn berusaha menekan luka di tangan Namilea supaya tidak semakin merembes darahnya. Daisy terlihat begitu khawatir dan panik. Bahkan ia sudah menangis. Zayn mencoba menenangkan sang istri, Zayn juga meminta sang bodyguard melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perjalanan yang seharusnya di tempuh dengan waktu hampir tiga puluh menit itu. Kini hanya dalam waktu sepuluh menit mereka sudah sampai. "Dokter! Suster! Tolong adik saya!" teriak Zayn. Ya lebih baik seperti itu. Tidak mungkinkan ia berkata jika Namilea adalah istrinya. Para medis yang mendengar teriakan Zayn lansung menghampirinya. Tanpa menunggu lama, Namilea segera di rebahkan di atas brankar. Dan dokter langsung membawanya ke ruang UGD. "Ya Tuhan, semoga gadis itu baik-baik saja," ucap Daisy penuh harap. Tangan Zayn tampak berlumur darah. Ia permisi untuk mencuci tangannya. Meninggalkan sang istri sendiri di depan ruang UGD. "Bagaimana, Sayang? Apakah dokter sudah memberitahu keadaannya?" Tanya Zayn begitu mendaratkan bokongnya di kursi tunggu. "Belum, Mas. Aku takut, terjadi sesuatu pada mereka, Mas. Walau bagaimanapun, bayi itu tidak berdosa." Zayn memeluk tubuh wanita yang dicintainya itu. Daisy selalu emosional kala membicarakan anak. Mungkin karena mereka belum di karuniai seorang anak. Lama mereka menunggu. Hingga satu jam lamanya, salah seorang dokter baru keluar. Daisy dan Zayn langsung berdiri. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Daisy begitu dokter berhadapan dengannya. Dokter itu menghela napasnya. Terlihat sekali gurat lelah di wajahnya itu. Daisy dan Zayn sudah was-was. "Syukurlah, gadis itu sudah melewati masa kritisnya. Dia banyak kehilangan darah, beruntung stok darah kami sedang ada dan cukup." "Lalu bagaimana keadaan bayi yang berada di dalam kandungannya?" Daisy harap-harap cemas. Ia takut, jika benar janin itu akhirnya mati. Karena tidak kuat menahan apa yang ia dapatkan. Jika itu terjadi, Daisy yakin jika Namilea akan hidup dalam penyesalan. Kehilangan bukanlah hal yang mudah untuk di lupakan. Ia akan terus membekas di dalam ingatan. "Alhamdulillah, janinnya sangat kuat. Meski sepertinya sang ibu jarang mengisi perutnya. Dan alhamdulillah juga, dia sudah melewati masa kritisnya, dan hanya perlu menunggu ia siuman." Terlihat kelegaan dalam raut wajah pasangan suami istri itu. Apa yang mereka takutkan ternyata tidak menjadi kenyataan. "Syukur Alhamdulillah, terima kasih, dokter sudah melakukan yang terbaik. Untuk menyelamatkan nyawanya." "Sudah menjadi tugas saya. Semoga adiknya lekas sembuh. Mari saya permisi," pamitnya. Namilea pun akhirnya di pindahkan ke ruang perawatan. Daisy dan Zayn mengkuti brangkar gadis itu. Zayn meminta ruangan VVIP. Kini Namilea sudah berada di ruangan. Matanya masih menutup, hanya deru napasnya yang terlihat. Pasangan suami istri itu menatap sendu. "Kita duduk," ajak Zayn. Kini mereka berdua mendaratkan bokongnya di atas sofa lebar yang ada di ruangan. Zayn menyuruh sang istri untuk beristirahat. Bila Namilea sadar, ia pasti akan membangunkan Daisy. "Tidurlah, Sayang. Istirahatkan tubuhmu, bila nanti dia siuman. Aku pasti akan membangunkanmu." "Tapi seharusnya Mas yang istirahat. Mas baru pulang kerja," lirih Daisy. Zayn hanya tersenyum. Dan membawa tubuh itu kedalam pelukannya. Zayn juga mengelus-elus punggung sang istri. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibirnya. Zayn menunduk, lalu mengecup lembut bibir sang istri. Zayn menatap lurus, pada perempuan yang tengah tergolek lemah tak berdaya. "Aku harus mencoba menyelidiki kejadian yang menimpa gadis itu. Kasihan sekali dia, semoga saja setelah kejadian ini, ia akan sadar dan tidak kembali melukai dirinya sendiri." * * "Namilea, Sayang." panggil seorang wanita paruh baya. Namilea kini berada di tempat yang ia sendiri tidak tahu. Hanya ada hamparan bunga yang tumbuh di sekitarnya. Namilea mencari ke arah sumber suara. Samar ia melihat siluet seorang wanita. Tapi wajahnya tidak terlihat. Ia hanya tersenyum kepadanya. "Jagalah bayi yang ada di dalam kandunganmu. Janganlah lagi melukai diri sendiri, apalagi sampai berniat melenyapkannya. Syukuri karena kelak anak itu yang akan membawa kebahagiaan dalam hidupmu!" Namilea langsung terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu tidak beraturan. Keringat membasahi pelipis wanita itu. "Ya Tuhan, ternyata aku masih hidup."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN