Pelaku Pelecehan

635 Kata
"Kasihan dia, sepertinya dia tengah ada masalah, sehingga membuatnya mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya." Daisy terus menceritakan kejadian tadi yang dialaminya. Sang suami hanya mendengarkan saja. Setelah selesai bercerita, Daisy meminta izin untuk Namilea tinggal bersama mereka. Sang suami pun mengizinkan. Yang terpenting adalah istrinya senang. Ia pun akan memeriksa identitas Namilea, benar atau tidak dia salah satu karyawan hotelnya. "Ya, sudah. Aku mau membersihkan diri dulu, Sayang. Kamu sudah makan malam belum?" Pria itu pun menggeleng. Daisy tersenyum, suaminya memang selalu manis. Meskipun mereka sudah beberapa tahun menikah dan belum juga di karuniai anak, tetapi tidak mengubah rasa cinta yang mereka miliki. "Kita ke kamar, Hmm! Aku juga ingin membersihkan diri," ucapnya sambil mengerlingkan matanya nakal. Keduanya pun beranjak dan menuju kamar utama milik mereka. Sementara, Namilea kini tengah melamun sambil menatap pekatnya malam dari jendela kamarnya. Pikirannya menerawang jauh, mengingat bila ayahnya dulu tidak pernah berbuat kasar. * * Semenjak Daisy menemukan Namilea satu bulan yang lalu, wanita itu terus berusaha untuk membuat gadis itu berbicara. Sementara itu, Daisy sudah tahu jika ia bekerja di hotel sang suami. Kini keduanya tengah duduk di ruang tengah. "Namilea, kamu sudah sarapan?" tanya Daisy lembut. Namilea hanya tersenyum dan mengangguk. Beberapa hari ini ada sedikit perubahan dalam diri perempuan itu. Meskipun belum pernah mengeluarkan suaranya, setidaknya dia sudah bisa tersenyum. Daisy pun bersyukur, karena suaminya sama sekali tidak mempermasalahkan keberadaan Namilea. Suaminya hanya bisa berdo'a semoga masalah perempuan itu segera mendapatkan jalan keluarnya. Begitu juga Daisy. "Kak Daisy!" Namilea memanggil Daisy dengan suara pelannya. Lalu ia menatap wajah perempuan yang begitu cantik itu. Namilea tersenyum, ia bersyukur karena di pertemukan dengan orang-orang yang baik. Di saat keluarga dan calon suaminya membuangnya. "Maaf, dan terima kasih karena sudah menolongku waktu itu. Jujur sebenarnya saat itu aku kalut. Tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Aku kotor dan Ayah beserta calon suami mengusirku dari rumah. Mereka sama sekali enggan mendengarkan penjelasanku. Di mata mereka aku salah," lirih Namilea, matanya sudah memanas dan sebentar lagi air mata itu meluncur membasahi pipinya yang pucat. Daisy menggenggam tangannya, "Alhamdulillah, akhirnya kau mau berbicara juga. Aku sangat khawatir padamu. Dan kau bisa mempercayaiku, aku akan menolongmu sebisaku," jawab Daisy. Namilea terdiam. Ia menimang apakah harus berbicara mengenai masalahnya. Atau lebih memilih untuk memendam masalahnya sendirian. Namilea dilema. Tentu ia membutuhkan bahu. Bahu untuk membagi bebannya. Namun, siapa yang mau berbagi dengannya. "Katakan! Katakan semua masalahmu. Mungkin aku atau suamiku bisa membantumu keluar dari masalah yang menjeratmu." Namilea diam, tidak langsung menjawab. Gadis itu melihat kesungguhan dalam binar mata perempuan di depannya. Seulas senyum Namilea berikan. "Aku---aku, waktu itu aku tengah berkerja, dan entah kenapa tiba-tiba merasa haus. Kebetulan aku melihat sebuah botol, tanpa pikir panjang aku meminumnya. Hingga ketika aku hendak membersihkan satu kamar presiden suite, tubuhku tiba-tiba terasa terbakar. Panas sekali hingga---ketika terbangun, ayahku sudah berkacak pinggang memarahiku pun ketika aku pulang ke rumah, aku langsung diusir, di sana calon suamiku hanya menatapku datar dan terakhir dia membuang muka. Ya, memangnya dia mau apa mempertahankan perempuan kotor sepertiku yang bahkan aku tidak tahu siapa yang menodaiku malam itu. Hidupku sudah hancur, Kak. Lantas bagaimana jika aku hamil? Siapa yang akan menolongku?" lirih Namilea. Daisy mengeratkan genggaman tangannya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang menimpa Namilea ia juga tidak percaya dengan tindakan yang diambil oleh ayah gadis itu. Tidak seharusnya ia langsung menilai perbuatannya. "Bahkan ayahku berkata jika dia tidak mau mempunyai putri sepertiku. Ibu dan saudara tiriku hanya tersenyum puas ketika aku keluar dari rumah itu." "Sayang, maaf apakah kamu ingat siapa pria yang sudah merenggut mahkotamu. Maksud aku setidaknya kamu mengingat mungkin sedikit bagaimana penampilan pria tersebut?" tanya Daisy penasaran. Namilea diam. Ia mencoba mengingat kejadian di malam kelam itu. Sungguh ia tidak mengingat apapun. Namun, selintas Namilea mengingat. Kala pria tersebut menyebutkan namanya. "Aku tidak mengingat apapun kak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN