Di Usir

611 Kata
Namilea membawa kaki mungilnya pergi, dengan berbekal tas ransel kecil berisikan bajunya. Uang? Ia hanya memiliki sisa gajinya yang tidak seberapa itu. Gadis itu terus berjalan. Membawa langkah kakinya yang entah ke mana tujuannya. Air mata seolah tidak ada keringnya. Kini gadis yang masih memakai seragam kerja itu tampak berdiri di atas jembatan. Ia menatap datar air yang mengalir deras itu. Tiba-tiba saja muncul pikiran untuk mengakhiri hidupnya. "Mengapa hidup ini begitu kejam?" lirihnya. Matanya sudah gelap. Gelap oleh keputusasaan dan juga kekecewaan. Pikiran jahatnya berkata 'Untuk apa juga hidup, sementara dirinya sudah kotor!'. Suasana di bawah jembatan, semakin mencekam. Namilea tersenyum pahit. Dia pun menutup mata, berharap saat matanya terbuka nanti dirinya sudah berpindah alam. "Apa kamu gila?" teriak seorang wanita di depan muka Namilea. Seolah tersadar, gadis itu membuka matanya. Ia melihat seorang wanita muda yang cantik. Wanita itu tampak marah. "Apa yang kau lakukan, menurutmu setelah kau lompat semua masalahmu akan selesai, Hem!" teriaknya. Namilea hanya terdiam dengan pandangan kosong. Ia seolah tersadar dari kebodohannya barusan. Wanita itu masih menetralkan nafasnya. Perempuan muda itu terus memerhatikan Namilea. Wajahnya penuh dengan keputusan asaan. Seragam yang melekat dalam tubuhnya lantas mencuri perhatian perempuan tersebut. Rupanya dia bekerja di hotel milik suaminya. "Ada apa? Ceritalah mungkin aku bisa membantumu," tukas wanita itu. "Perkenalkan namaku Daisy Aktamanov, kamu bisa memanggilku Daisy." Namilea masih terdiam. Merasa iba, Daisy membantu Namilea untuk bangun,keadaannya begitu kacau. Daisy membawa Namilea menuju mobilnya. Ya tadi ia berniat hanya lewat, tetapi ketika melihat seorang gadis hendak mengakhiri hidupnya. Reflek Daisy turun dari mobilnya dan berlari menyelamatkan Namilea. "Minumlah, agar kau merasa tenang." Daisy memberikan satu botol minuman yang masih tersegel. Namilea menatap takut pada botol tersebut, membuat Daisy mengeryitkan dahinya heran. Lalu Namilea menepis kasar tangan Daisy hingga botol itu terjatuh. "Ti-dak, aku tidak haus," lirih Namilea. Daisy hanya menatap pergerakan gadis itu, karena merasa kasihan. Setelah memastikan seat belt terpakai, Daisy memutar dan kini sudah duduk manis di belakang kemudi. Namilea menatap takut pada Daisy. Wanita itu pun peka dan tersenyum tulus. "Tenang saja, aku bukan orang jahat! Aku akan menolongmu hmm, aku lihat sepertinya kamu baru pergi dari rumah. Maafkan aku jika lancang menilaimu. Tenanglah, aku akan membawamu ke rumahku." Lalu wanita tersebut pun segera melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suaranya. Lima belas menit kemudian... Akhirnya mereka berdua pun tiba di rumah yang besar dan mewah. Di sana Daisy tinggal hanya berdua bersama dengan suaminya. Sebab mereka belum mempunyai anak. "Ayo turun!" ajak Daisy. Namilea bergeming. Sambil menatap lurus rumah mewah itu. Daisy pun mengerti. Lalu dia mengajak Namilea secara perlahan, dan mereka pun melangkah masuk. Gadis cantik itu mengedarkan pandangannya menatap keadaan rumah mewah itu. "Tenanglah. Aku di sini hanya tinggal berdua bersama dengan suamiku. Jadi kamu tidak perlu takut hmm," ujar Daisy lembut. Wanita cantik itu dapat melihat luka yang tersirat dari sorot mata gadis itu. Ia menyimpan lukanya sendiri. "Sayang," panggil seseorang. Daisy menoleh dan menatap suaminya yang sudah sangat segar itu. Pria tampan itu hanya melirik ke arah Namilea lalu kembali fokus pada sang istri. Pria itu menatap Daisy dengan penuh binar cinta. "Mbok, tolong antar temanku ke kamar tamu, ya," pinta Daisy lembut. Ketika mereka tidak ada, Daisy menatap penuh arti pada sang suami. Lalu mengajaknya duduk. Dan menceritakan di mana ia bertemu dengan gadis itu. "Dia hendak bunuh diri. Dan apa kamu lihat jika dia salah satu karyawanmu di hotel, Mas. Coba kau lihat kembali, aku kasihan sama dia, bolehkah ia tinggal di sini? Agar aku pun ada teman ketika kamu bekerja. Dan tolong periksa informasi di bagian mana ia berkerja," pinta Daisy. Pria itu pun tersenyum. "Anything for you."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN