"Bangun kau! Dasar w************n!"
Pekikan suara seorang pria begitu membahana. Gadis yang masih asyik bergulung di bawah selimut tebalnya, tampak tidak terganggu, membuat pria itu meradang. Lalu ia menarik selimut yang menutupi tubuh polos sang gadis. Perempua itu tersentak kaget. Sehingga membuatnya terbangun dan membuka mata sayunya.
"Bangun sialan! Dasar w************n! Jadi seperti ini hah pekerjaan yang kau lakoni selama ini? Menjual tubuhmu kepada lelaki hidung belang!"
Perempuan itu masih linglung, ia mencoba untuk mengumpulkan nyawanya. Pria paruh baya itu geram. Sehingga ia pun meringsek maju dan menjambak rambut sang putri.
"Aww! Sakit, Ayah! Tolong hentikan!" pekik wanita tersebut.
"Lepas? Ayah? Cuih, aku tidak sudi bibir kotormu itu memanggilku Ayah! Aku tidak sudi mempunyai seorang anak yang bekerja kotor seperti ini! Mulai detik ini kau bukan lagi anakku!"
Bagaikan mimpi di siang bolong, Namilea mendapatkan kabar yang begitu menyesakkan. Ia tidak percaya jika pria yang menjadi cinta pertamanya itu dengan tega berkata seperti itu. Tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu, bahkan ia tidak perduli dengan keadaan putrinya yang masih bertelanjang bulat. Ya Tuhan, salahnya di mana? Kemarin keadaannya masih baik-baik saja.
"Ayah, Ayah, tunggu! Aku mohon dengarkan dahulu penjelasanku. Ini semua tidak seperti apa yang Ayah lihat!" pekiknya.
Pria paruh baya itu tidak memperdulikan teriakan putrinya. Ia bahkan menendang gadis itu hingga tersungkur. Kedua wanita yang ikut dengan sang ayah, hanya tersenyum sinis.
Namilea menangis tergugu. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Karena seingatnya, kemarin ia tengah berkerja. Dalam keadaan tubuh sakit. Ia memaksakan diri memasuki kamar mandi yang begitu luas itu. Di nyalakannya shower itu, hingga air itu pun membasahi tubuhnya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?"
Gadis itu memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Jejak yang ditinggalkan oleh Keandra tampak memenuhi seluruh tubuhnya. Ia menatap jijik pada dirinya sendiri.
"Aku kotor, aku sudah kotor. Bagaimana hidupku ke depannya? Bagaimana tanggapan dia jika mengetahui calon istrinya sudah ternoda!"
Gadis yang bernama Namilea Azzahra itu tampak menangis. Meraung di dalam kamar mandi tersebut. Hidupnya telah hancur, sehancur-hancurnya.
Satu jam kemudian, gadis itu pun keluar dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangannya menatap kamar laknat. Kamar di mana kesuciannya terenggut.
"Aku harus pulang! Aku harus menjelaskan semuanya pada Ayah, jika semua ini tidak seperti yang ia bayangkan!"
Langkah Namilea tertatih, bergerak kembali untuk memunguti kembali pakaiannya yang berantakan. Baju lusuh itu kembali ia pakai. Hari ini, dia memilih untuk pulang cepat dan beruntung sang atasan mengizinkannya.
Gadis itu berjalan dengan langkah gontainya, menyusuri lorong hotel mewah tersebut. Hotel di mana ia mengais rezeki hanya untuk sesuap nasi.
*
*
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit lamanya, bis yang membawa Namilea pulang akhirnya tiba di tempat tujuan. Dia memaksakan diri untuk berjalan, meski dalam keadaan sakit setiap kali melangkah. Butuh penuh perjuangan untuk bisa sampai di rumah yang memiliki halaman yang cukup luas tersebut.
Namilea dikagetkan dengan satu unit mobil yang parkir di depan rumahnya. Ia tahu jika mobil itu milik kekasihnya dan juga calon mertuanya. Perempuan itu menghela nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Setelah itu baru ia melanjutkan langkahnya kembali.
Satu tamparan yang mendarat di pipi kiri Namilea menjadi sambutan untuk kedatangannya pagi itu. Pelakunya wanita paruh baya, yang begitu menyayanginya. Setetes air mata jatuh, kala tidak ada satu pun orang di sana yang membelanya termasuk sang kekasih.
"Dasar, Perempuan Jalang! Perempuan Murahan! Menyesal saya karena sudah mengizinkan putra saya satu-satunya untuk mencintai perempuan kotor seperti kamu! Mulai saat ini, aku putuskan pernikahan kalian!"
Deg!
Namilea langsung menjatuhkan tubuhnya. Ia peluk lutut wanita paruh baya itu, seraya memohon dan meminta maaf. Namun, perempuan tersebut enggan untuk mendengar suara dari Namilea. Ia pun mendorong tubuh lemah Namilea dengan kasar. Hingga membuat tubuh itu tersungkur dengan kepala terkantuk ke meja.
"Ibu, tunggu aku mohon dengarkan penjelasanku! Ini semua bukan salahku, aku sama sekali tidak tahu. Kemarin sore aku tengah bekerja, tetapi entah kenapa tiba-tiba tubuhku terasa panas! Aku mohon Ibu, percaya padaku. Aku selalu menjaga kehormatan dan kepercayaan kalian," Namilea berkata sambil menangis tersedu.
Di seberang sana, sang kekasih dan juga ayahnya hanya diam. Tidak berkata apapun. Tiba-tiba, semua pakaian Namilea diangkut keluar.
"Sebaiknya kau pergi dari sini! Aku tidak sudi mempunyai putri seperti kau. Mulai saat ini, tali darah yang mengikat kita sudah tiada lagi. Kau, aku haramkan untuk kembali menginjakkan kakimu di tempatku."
Percuma. Ya semua percuma. Walau bagaimanapun Namilea berusaha keras untuk menjelaskan, tetap saja di mata mereka, ia lah yang bersalah. Air mata tak henti bercucuran, saat gadis itu memunguti pakaiannya.Baju-baju yang tidak seberapa, dibandingkan dengan kakak tirinya.
"Pergilah! Anggap saja jika Ayahmu sudah tiada!"
Ia keluar tersenyum getir, saat ia meninggalkan rumah masa kecilnya.
"Ibu! Aku hancur,Bu! Bagaimana nasibku ke depannya?"