“Ada apa dia menelponku?.” Ucap Karina dalam pikirannya.
“Dia juga mengirimiku pesan.” Sambung Karina sambil membuka pesan dari ponselnya.
Karina, ini aku Arsel.
Aku ingin menjelaskan kesalahpahaman tadi pagi,
Bisa aku berbicara sebentar padamu?.
“Kesalapahaman?.” Ucap Karina.
“Aku tidak mengerti apa yang dia maksud.” Sambung Karina yang mencoba menghubungi Arsel.
Titttt ....
Tiiiittt ..... Nada suara.
“Hallo.” Jawab Arsel.
“Halo, Sel.” Ucap Karina.
“Hmm.”
“Iyah Karina, ada apa?.” Tanya Arsel.
“Ada apa?.” Tanya Karina bingung.
“Bukankah kamu yang tadi menelponku lebih dulu?.” Tanya Karina lagi.
“Ahhh, benar.” Jawab Arsel.
“Maafkan aku.”
“Aku lupa kalau tadi menelponmu lebih dulu.” Ucap Arsel.
“Hmm.” Jawab Karina.
“Aku ingin menjelaskan kejadian tadi pagi, saat Pak Ammar menelponmu.” Ucap Asel.
“Ahhh, itu.”
“Memangnya kenapa?.” Tanya Karina yang berpura-pura tidak penasaran.
“Ahh, sepertinya kau tidak mengingatnya, ya.” Ucap Arsel.
“Mengingat apa.” Ucap Karina yang berusaha agar Arsel menjelaskan kepadanya.
“Ahh, bukan apa-apa kok.”
“Sepertinya aku yang salah dengar.”
“Sudah ya, maaf sudah mengganggumu.” Jawab Arsel sambil menutup telponnya.
“Apa yang sedang kau bicarakan?.” Tanya Karina.
“Halo ... halooo, Sel.” Panggil Karina sambil melihat ke layar ponselnya, ternyata Arsel sudah menutup panggilannya.
Karina yang berusaha berpura-pura agar Arsel menjelaskannya kepadanya malah berujung Arsel tidak ingin membahasnya dan melupakannya begitu saja. Arsel yang tidak paham kode wanita hanya bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya saja. Karina kesal, pasalnya dia yang ingin berbicara dan penasaran apa yang dikatakan oleh Arsel malah berujung berantakan sebab ulahnya sendiri yang berpura-pura tidak mengingat apa yang sedang di bahas oleh Pak Ammar dan Arsel.
“Ahh, kenapa aku malah mengacaukannya.” Ucap Karina menyalahkan diri sendiri.
“Sekarang aku malah tidak bisa mengetahui apa-apa.” Sambung Karina.
Arsel yang sedang berada di lokasi sedikit tersenyum setelah selesai menutup telponnya dengan Karina, Pasalnya Arsel yang sebelumnya sudah overthinking karena Karina pasti akan berpikiran yang bukan-bukan tentangnya malah sebaliknya, Arsel tidak menyangka bahwa Karina tidak penasaran dan bahkan tidak mengingat perkataan Pak Ammar di telepon tadi pagi. Arsel senang, karena ia tidak perlu repot menjelaskan kepada Karina akibat keusilan dari Pak Ammar. Arsel yang sudah merasa tidak perlu menjelaskan kepada Karina langsung bergegas kembali menghampiri Pak Ridwan untuk melanjutkan pekerjaan.
“Terima kasih Karina.”
“Karena kau tidak mengingatnya, aku jadi tidak perlu repot menjelaskan kepadamu.” Ucap Arsel sambil tersenyum dan berjalan menghampiri Pak Ridwan.
“Sudah menelponnya?.” Tanya Pak Ridwan.
“Sudah, Pak. Jawab Arsel.
“Kenapa begitu cepat?.” Tanya Pak Ridwan lagi.
“Karena memang sudah tidak ada yang perlu di omongin lagi, Pak.” Jawab Arsel.
“Ahh, begitu.” Jawab Pak Ridwan.
Kini pikiran Arsel sudah lega tidak ada yang mengganggunya lagi, akhirnya dia bisa melanjutkan pekerjaannya dengan Pak Ridwan. Pak Ridwan yang sedang berbicara dengan pekerja dan melihat ke arah Arsel tak sengaja menyebut nama Buk Seira. Arsel langsung teringat tentang Pak Ridwan yang berbicara dengan seseorang lewat telepon dan panik begitu Arsel menghampirinya.
“Apakah seseorang yang waktu itu berbicara dengan Pak Ridwan adalah Buk Seira?.” Tanya Arsel dalam pikirannya.
“Kalau memang iyah, kenapa Pak Ridwan harus berbisik saat bicara dengannya?.”
“Bukannya semua orang tau kalau Buk Seira adalah manager dan sering melakukan visit untuk memeriksa bagian lapangan.” Ucap Arsel.
“Entah lah.”
“Aku tidak mengerti sikap orang-orang yang berada di kantor ini.” Sabung Arsel sambil melanjutkan pekerjaanya.
Di tempat lain, Karina yang tengah melakukan pekerjaanya melihat ke arah jam yang ada di ponselnya. Karina tiba-tiba kepikiran Difta yang mengajaknya makan siang bersama dan sampai sekarang belum ada kabar, padahal sepuluh menit lagi pukul dua belas pas. Karina mulai berpikiran aneh-aneh tentang Difta.
“Sudah jam segini kenapa Difta belumada kabar juga?.”
“Tidak biasanya dia seperti ini.” Ucap Karina.
“Apa dia marah padaku atas sikap ku tadi pagi?.”
“Atau dia sudah ada janji dengan yang lain?.”
“Kemana dia perginya?.”
“Sebaiknya aku menelponnya.” Sambung Karina yang meninggalkan gengsinya sementara untuk menghubungi Difta lebih dulu.
Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat di hubungi ......
“Wah, kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?.”
“Apa dia benar-benar marah padaku?.” Ucap Karina yang mulai berpikiran sesukanya.
Karina mulai overthinking karena Difta tak bisa di hubungi. Saat jam istirahat sudah tiba, Difta juga belum menghubunginya. Karina memutuskan untuk ikut makan siang dengan teman-temannya. Saat Karina sampai di bawah dan berjalan keluar kantor ia melihat ke sekeliling dan melirik ke arah parkiran, ia berfikir Difta akan sudah berada di bawah untuknya seperti waktu itu. Tapi, ternyata tidak. Difta tidak sedang menunggunya bawah, Karina mengecek ponselnya kembali dan mencoba untuk menghubungi Difta kembali. Hasilnya tetap sama, ponsel Difta tidak bisa di hubungi. Seketika Karina langsung panik, ia takut terjadi apa-apa dengan Difta seperti waktu itu.
“Kenapa masih belum bisa di hubungi.”
“Kemana perginya dia.” Ucap Karia yang mulai panik.
Teman Karina yang melihat Karina tengah cemas dan panik sambil meliha ponselnya terus menerus mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada Karina.
“Karina, ada apa?.” Tanya temannya?.”
“Ahh, bukan apa-apa.” Jawab Karina.
“Kamu yakin buka apa-apa?.”
“Kamu kelihatan sangat cemas sekali.” Ucap teman Karina.
“Benarkah?.”
“Apa begitu kelihatan.” Tanya Karina sambil memegang wajahnya.
“Hmmm.”
“Sangat-sangat kelihatan.” Jawab teman Karina.
“Sepertinya aku tidak bisa ikut makan siang bersama kalian.” Ucap Karina.
“Aku harus ke kantor Difta.” Tambah Karina.
“Hmmm.”
“Pergilah, selesaikan masalahmu dengan cepat.” Suruh teman Karina.
“Sepertinya aku kembali sedikit terlambat.” Ucap Dania sambil berlari mencari taxi segera menuju ke kantor Difta.
“Jangan pikirkan itu.” Jawab teman Karina.
Karina langsung berlari meninggalkan teman-temannya, ia segera mencari taxi menuju kantor Difta. Di dalam taxi Karina sudah memulai berfikiran yang bukan-bukan, ia takut apa yang ia pikirkan atau kejadian yang terdahulu terulang kembali. Karina sampai tidak bisa menahan air matanya, Kali ini ia benar-benar mengkhawatirkan Difta. Sepertinya Karina mulai luluh dengan Difta, ia seperti kehilangan sosok yang benar-benar menjaganya. Hatinya seperti kosong setelah mengetahui bahwa Difta tak bisa di hubungi. Supir taxi yang melihat Karina sedang menangis tidak berani untuk langsung bertanya kepada Karina, ia hanya memberikan tissu kepada Karina tanpa berbicara sedikit pun.
Setelah sampai di kantor Difta, Karina berlari dengan air mata yang masih menetes di pipinya. Ia langsung menuju ruangan Difta, saat masuk ke dalam ruangan nampak Difta tidak berada di dalam ruangannya. Karina semakin panik, ia bertanya kepada orang yang berada disana apakah melihat Difta atau tidak. Saat Karina tengah sibuk bertanya kepada orang-orag yang ada di kantor tersebut, nampak Difta baru saja keluar dari ruangan rapat beserta rekan-rekan yang lainnya. Difta yang melihat Karina langsung menghampiri Karina.
“Sepertinya aku mengenal wanita itu.” Ucap Difta sambil berjalan mendekat ke arah Karina.
“Maaf, siapa Pak?.” Tanya salah satu karyawan.
“Ah bukan apa-apa.”
“Silakan kalian masuk ke ruangan terlebih dahulu.”
“Ada yang mau aku urus terlebih dahulu.” Ucap Difta.
“Baik, Pak.” Jawab para Karyawan.
“Sayang... .” Panggil Difta.
“Kamu tidak apa-apa?.” Tanya Karina sambil memeriksa seluruh badan Difta.
“Apa yang sakit?.”
“Apakah kau terluka?.” Sambung Karina.
“Sayang, hei lihat aku.” Ucap Difta.
“Tarik nafas perlahan lalu buang.”
“Ayo ulangi lagi.”
“Tenang la sedikit.” Ucap Difta sambil memeluk Karina.
Karina yang mendengar ada yang memanggilnya langsung menoleh ke arah Difta dan berlari menghampirinya. Karina langsung memeluknya dan kembali menangis. Difta yang melihat Karina langsung memeluknya sambil menangis sangat terkejut sekaligus bingung. Pasalnya Difta tidak mendapat berita apapun, tapi kenapa Karina seperti terjadi sesuatu. Sebelum bertanya ada apa kepada Karina, Difta langsung membawa Karina ke ruangannya. Difta tak ingin Karina menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di kantor saat itu.
“Sayang, sebaiknya kita bicara di ruanganku saja.” Ajak Difta.
Difta menyuruh Karina untuk duduk terlebih dahulu dan ia mengambilkan Karina air minum, setelah melihat Karina sedikit tenang baru Difta memberanikan diri bertanya pada Karina apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa kamu sudah sedikit tenang?.” Tanya Difta.
“Hmm.” Jawab Karina.
“Apa yang sebenarnya terjadi?.” Tanya Difta penasaran.
“Ha?.”
“Kau menanyakan itu padaku?.” Ucap Karina.
“Terus?.”
“Aku harus bertanya pada siapa?.” Ucap Difta yang benar-benar tidak tau apa permasalahannya.
“Kau benar-benar tidak tau?.”
“Atau pura-pura tidak tau?.” Tanya Karina dengan nada yang mulai meninggi.
“Sayang, lihat aku.” Ucap Difta sambil memeluk Karina.
“Aku benar-benar lupa dan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.”
“Bolehkah kalau kau yang menjelaskannya padaku?.” Tanya Difta berusaha menenangkan Karina perlahan.
Karina melepas pelukan Difta, ia melihat ke arah Difta dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa kau lupa kalau hari ini kita ada janji untuk makan siang?.” Tanya Karina.
“Ahh ituu ... .”
“Pada saat aku ingin memberitahumu kalau aku ada rapat mendadak ponselku kehabisan baterai dan aku mengechargenya di sana.” Menunjuk ke arah ponselnya yang masih tercharger.
“Namanya juga rapat mendadak jadi waktunya mepet dan aku tidak sempat untuk menguhubungimu kembali.”
“Maafkan aku.” Ucap Difta tulus.
“Aku sudah berfikiran yang bukan-bukan tentangmu, aku sangat takut.” Jawab Karina yang tak bisa menahan air matanya, ia menangis kembali.
“Aku langsung berlari menuju kemari untuk mencari tau apa yang terjadi denganmu.” Sambung Karina.
“Iyah, ini salahku.” Ucap Difta sambil memeluk Karina.
“Maaf telah membuat kekacauan ini dan membuatmu jadi begitu khawatir.” Tambah Difta.
“Saat ini aku lapar.” Ucap Karina melihat ke arah Difta.
“Ehmm.” Difta tersenyum.
“Bersihkan lah wajahmu dahulu.” Ucap Difta.
“Setelah itu kita pergi mencari makan siang.” Sambung Difta.
“Hmmm.”
“Apa kau malu membawaku seperti ini?.” Tanya Karina.
“Bukan begitu.” Ucap Difta.
“Hanya saja aku tidak ingin orang-orang membicarakanmu di belakang ku.” Tambah Difta.
“Benarkah begitu?.” Tanya Karina lagi meyakinkan.
“Iyah sayang.” Jawab Difta.
Karina pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya, setelah membersihkan wajahnya mereka keluar dari kantor Difta untuk mencari makan siang. Para karyawan yang tadi melihat Karina menangis terseduh-seduh hanya bisa diam ketika Karina dan Difta lewat, mereka tidak berani untuk menceritakan Karina sebab mereka tau akan berurusan dengan siapa.
Di lokasi zona 03 nampak Arsel sedang berusaha keras dalam pekerjaannya, Arsel begitu serius dalam pekerjaannya sampai ia lupa waktu istirahat berlalu begitu saja. Ia tersadar ketika seseorang memanggilnya.
“Arsel .... .” Panggil orang tersebut.
“Hmmm.” Jawab Arsel.
“Kemari lah.”
“Istirahat dan bergabung lah bersama kami.
“Ahh, oke.” Jawab Arsel yang membersihkan tubuhnya dan menghampiri pekerja lainnya.
Saat Arsel menghampiri mereka nampak Buk Seira sudah berada di sana dan duduk bergabung dengan yang lainnya, Arsel sedikit terkejut melihat Buk Seira berada disitu, pasalnya Buk Seira adalah tipe orang yang sulit di ajak untuk berkumpul apalagi ini makan siang bersama. Pak Ridwan yang sedang duduk bersama Buk Seira juga memanggil Arsel untuk bergabung bersama mereka.
“Arsel kemari lah.” Panggil Pak Ridwan.
“Duduk lah disini dan bergabunglah bersama kami.” Ucap Pak Ridwan.
“Iyah, bergabunglah kesini, Sel.” Sahut Buk Seira sambil teersenyum ke arah Arsel.
“Oh iyah Pak.” Jawab Arsel sambil menghampiri Pak Ridwan dan Buk Seira.
“Kamu sudah makan?.” Tanya Buk Seira.
“Ahh belum Buk.” Ucap Arsel.
“Pas sekali.” Ucap Buk Seira.
“Aku membawa banyak makanan hari ini.” Tambah Buk Seira.
“Oh iyah, Buk.”
“Terima kasih.” Jawab Arsel.
“Jadi bagaimana pekerjaanmu hari ini?.” Tanya Buk Seira to the point.
“Ahh ituu... .”
“Menurut saya lancar Buk, tapi sebaiknya Ibu tanyakan saja kepada kepala proyek.”
“Karna jawaban Kepala proyek tidak mungkin salah.” Ucap Arsel.
“Baiklah nanti akan saya pertanyakan padanya.” Ucap Arsel.
“Baiklah, sekarang saatnya kita makan saja.” Ajak Buk Seira.
Saat Arsel ingin menyuapkan nasi ke mulutnya tiba-tiba ponselnya berdering. Arsel menggeserkan nasinya dan melihat ponselnya.
“Pak Ammar?.” Ucap Arsel.