Titt ......
Tiii ... iiiiiiit ....
Terdengar suara panggilan dari ponsel Pak Ammar.
“Haloo.”
“Iyah, Pak.” Jawab Karina.
Arsel dan Zafran langsung menatap ke layar ponsel Pak Ammar, dan saling melihat satu sama lain. Mereka tidak menyangka Pak Ammar akan menelpon Karina langsung seperti itu di depan mereka. Pak Ammar tersenyum sambil menatap ke arah Zafran dan Arsel.
“Karina?.” Panggil Pak Ammar.
“Kamu sudah di kantor?.” Tanya Pak Ammar.
“Iyah, Pak.”
“Sudah.” Jawab Karina.
“Ehmmm, begini Karina.” Ucap Pak Ammar serius sambil melihat ke arah Arsel dan Zafran.
Arsel dan Zafran saling melihat satu sama lain, mereka takut Pak Ammar akan memberitahu Karina bahwa mereka sedang membicarakannya. Pak Ammar yang melihat Arsel dan Zafran panik semakin bersemangat untuk mengganggu mereka.
“Apa kau ingat tentang pegawai baru di divisi ku?.” Tanya Pak Ammar kepada Karina.
“Pak, please ... .” Ucap Arsel pelan sambil memohon.
“Iyah Pak, ingat.” Jawab Karina.
“Arsel bukan?.” Tanya Karina.
“Iyah benar, Arsel.” Jawab Pak Ammar.
“Ada apa dengannya, Pak?.” Tanya Karina yang mulai mencari tau maksud dan tujuan Pak Ammar menghubunginya.
“Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu kepadamu.” Ucap Pak Ammar.
“Membicarakan sesuatu?.” Tanya Karina heran.
“Kalau boleh tau tentang apa ya, Pak?.” Sambung Karina.
“Ahh itu aku pun juga kurang tau.” Jawab Pak Arsel.
“Saat ini dia sedang bersamaku.”
“Bagaimana kau langsung tanyakan saja padanya.” Ucap Pak Ammar.
“Tanyakan pada Arsel?.” Ucap Karina pelan.
“Ehmmm ... .”
Saat Karina ingin menjawab, teman Karina menghampirinya dan membutuhkan bantuannya untuk bertemu atasan Karina, Karina meminta maaf kepada Pak Ammar untuk menyudahi panggilannya karena Karina sedang ada urusan yang harus di kerjakan.
“Karina.” Panggil temannya.
“Why?.” Ucap Karina sambil berbisik.
“Ayo ke ruangan Bapak.”
“Dia sedang menunggu kita.” Ajak Temannya.
Pak Ammar yang sedang mendengar percakapan Karina dan temannya langsung tak bersemangat, sebab waktu untuk menggoda Arsel telah selesai.
“Wah sepertinya dia sedang sibuk.” Ucap Pak Ammar pelan.
“Pak, maaf.” Ucap Karina.
“Sepertinya saya harus menutup panggilan ini.”
“Ada hal yang harus saya kerjakan.” Sambung Karina.
“Ahh, begitu?.” Jawab Pak Ammar.
“Baiklah, aku akan menelponmu lain kali.” Sambung Pak Ammar sambil menutup panggilannya.
“Iyah, baik Pak.” Jawab Karina.
“Wah, padahal aku ingin menggoda Arsel dan Zafran lebih lama.” Ucap Pak Ammar yang sudah tidak lagi bersemangat.
Arsel dan Zafran hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Pak Ammar, Pak Ammar langsung kembali masuk ke ruangannya sambil membawa laporan yang telah Arsel selesaikan. Zafran juga kembali menuju meja kerjanya. Arsel yang melihat Pak Ammar dan Zafran sudah kembali ke tempat masing-masing merasa sedikit lega.
“Wah, Pak Ammar benar-benar tak terduga.” Ucap Arsel.
“Bagaimana bisa dia langsung menelpon Karina di depan kami.”
“Jantung hampir saja berhenti berdetak.”
“Untung saja dia sedang ada kerjaan yang lain.”
“Kalau tidak kesalahpahaman ini akan terus berlanjut dan Pak Ammar akan sering menggoda ku.” SambungArsel.
Pagi itu di dalam kantor, Arsel benar-benar di buat tak bisa berkata-kata oleh sikap dan keusilan Pak Ammar. Arsel yang ingin bertanya tentang Karina dan Pak Ammar kepada Zafran malah terkena imbasnya. Ia malah menjadi bahan keusilan Pak Ammar. Zafran yang kala itu juga sedang bersama Arsel langsung tak berkutik ketika Pak Ammar menahannya untuk tidak balik ke meja kerjanya. Zafran hanya bisa melihat Arsel dan ia tak dapat membantunya ketika Pak Ammar sudah menelpon Karina. Mereka hanya bisa terdiam dan saling tatap.
Ketika Pak Ammar sudah kembali ke ruangannya, Arsel benar-benar bisa bernafas lega. Dari tadi ia hampir tak bisa bernafas ketika Pak Ammar memergokinya yang sedang membicarakan Karina. Arsel semakin curiga dengan kedekatan Pak Ammar dan Karina, kedekatan mereka sepertinya berbeda dengan yang lain. Arsel sepertinya akan mencari tau hubungan Pak Ammar dengan Karina sendirian, ia tak mau melibatkan orang lain lagi dan ia harus segera berhati-hati agar Pak Ammar tidak mencurigainya. Tapi saat Arsel ingin mencari tau hubungan Pak Ammar dan Karina ia tiba-tiba teringat perkataan seseorang kepadanya untuk tidak mengusik kehidupan pribadi orang lain pada saat bekerja.
“Ah aku jadi teringat perkataan seseorang.” Ucap Arsel.
“Aku tidak boleh mengusik kehidupan pribadi seseorang.”
“Apalagi ini tidak mengganggu kehidupan ku.” Sambung Arsel.
Arsel kembali berpikir dan mengurungkan niatnya untuk mencari tau kehidupan pribadi Pak Ammar yang beberapa belakangan ini sempat mengganggu pikirannya. Ia yang sudah memutuskan untuk tidak lagi ikut campur urusan Pak Ammar dan Karina sebab, Pak Ammar sudah banyak membantunya. Apalagi baru-baru ini Pak Ammar merekomendasikannya untuk ikut serta dalam proyek yang di gadang-gadang akan memecahkan rekor menjadi proyek terbesar di sepanjang sejarah perusahaannya. Ia tidak mau menghancurkan kesempatan ini hanya gara-gara kesalahpahaman yang mengganggu pikirannya.
Saat Arsel sedang menatap ke arah lain dan melihat hampir para pegawai lainnya sudah tidak ada di meja kerjanya ia langsung tersadar dan teringat akan pekerjaan lapangannya. Ia langsung buru-buru melihat jam yang ada di tangannya dan segera bergegas menuju parkiran sepeda motornya.
“Ha, uda jam segini.” Ucap Arsel panik.
“Kenapa dari tadi aku terlalu santai dan terbawa suasana.” Sambil membereskan meja kerjanya.
“Aku harus segera bergegas menuju lapangan.” Sambung Arsel yang segera berlari menuju lift.
“Benar-benar Pak Ammar dan Karina mengganggu pikiranku saja.” Ucap Arsel yang menunggu pintu lift terbuka.
Setelah sampai di lantai bawah, Arsel langsung menuju tempat parkiran sepeda motor. Ia sedikit menambah kecepatan motornya untuk bisa segera sampai dan mengejar yang tertinggal. Arsel langsung pergi menuju lokasi yang dimana Pak Ridwan sudah menunggunya sejak pagi disana.
“Maafkan aku, Pak.” Jawab Arsel yang berlari menghampiri Pak Ridwan dan pekerja lainnya.
“Ada apa, Sel?.” Tanya Pak Ridwan.
“Tidak biasanya kamu telat seperti ini.” Sambung Pak Ridwan.
“Iyah, Pak.”
“Ada sesuatu hal yang mendesak yang terjadi di kantor.” Jawab Arsel yang langsung ikut membantu Pak Ridwan.
“Oke .. oke.”
“Tenang saja, kami juga baru mulai kok.” Ucap Pak Ridwan sabil menenangkan.
“Oh iyah, Pak.” Jawab Arsel.
Di tempat lain, Karina yang sudah kembali ke meja kerjanya tiba-tiba teringat tentang perkataan Pak Ammar pagi tadi. Karina yang sedang tidak ingin mengingat Arsel akibat kejadian kemarin tiba-tiba harus mengingatnya kembali.
“Apa maksud Pak Ammar tentang Arsel ingin berkata sesuatu padaku?.” Tanya Karina pada dirinya sendiri.
“Kenapa disaat aku tidak ingin mengingatnya, ia malah muncul begitu saja di pikiranku.” Ucap Karina.
“Apa aku mnelponnya saja dan bertanya langsung padanya?.” Sambung Karina.
Karina berniat untuk menelpon Arsel dan menanyakan padanya tentang apa itu, Karina ingin menghilangkan rasa penasarannya dengan bertanya langsung kepada Arsel. Saat Karina mengambil ponselnya dan mencoba menghubunginya pikiran Karina mulai menolak dan mengingat kejadian yang membuat hati Karina sakit kembali.
“Ah untuk apa aku menghubunginya.”
“Kalau dia ingin mengatakan sesuatu padaku, bukankah seharusnya dia yang menghubungiku.” Ucap Karina yang mulai sedikit kesal kepada dirinya sendiri.
“Aku tidak mau menghubunginya.” Sambung Karina sambil meletakkan ponselnya kembali.
“Sebaiknya aku fokus saja mengerjakan tugasku.”
Karina akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Arsel, ia tidak ingin hatinya tersakiti kembali akibat ekpektasinya yang terlalu tinggi terhadap Arsel. Arsel yang sepertinya tidak pernah meliriknya sama sekali membuat Karina sedikit demi sedikit mulai tersadar. Karina kembali fokus mengerjakan laporannya. Saat tengah fokus mengerjakan laporannya tiba-tiba ponsel Karina berdering, masuk satu pesan ke dalam ponsel Karina. Karina tidak langsung melihatnya, Karena ia berfikir mungkin itu hanya spam dan mengabaikan pesan tersebut.
“Akhir-akhir ini kenapa pesan yang berisi spam semakin banyak.” Ucap Karina yang hanya melirik ponselnya dan kembali menatap ke layar ponselnya.
“Huaahh.” Karina menguap.
“Kenapa aku mendadak jadi mengantuk begini.” Ucap Karina.
Teman Karina yang melihat Karina sedang menguap langsung menghampirinya dan mengajaknya untuk ke pantry membuat kopi.
“Kamu ngantuk, Rin?.” Tanya teman Karina.
“Ehmm, iyanih.” Jawab Karina.
“Buat kopi dulu yuk sebentar, aku ingin ke pantry nih.” Ajak teman Karina.
“Oh, boleh.” Jawab Karina yang ikut temannya menuju pantry untuk membuat kopi agar menghilangkan rasa kantuknya.
Karina yang pergi ke pantry begitu saja meningalkan ponselnya di meja kerjanya, ia lupa membawa ponselnya dan hanya berjalan mengikuti temannya. Saat Karina berada di pantry ponsel Karina berdering, ia memiliki satu panggilan yang harus segera di jawab. Nampak dari layar ponsel Karina kalau Arsel sedang menghubunginya. Karina sedang asik bersama dengan temannya dan tak tau kalau Arsel menelponnya.
“Wah, kopi ini enak sekali.” Ucap Karina sambil menyeruput kopinya.
“Kopi ini membuat mataku segar kembali.” Sambung Karina.
“Tidak biasanya kamu ngantuk begitu, Rin?.” Tanya teman Karina.
“Apa kau tida tidur tadi malam?.” Tanya teman Karina yang sedikit penasaran.
“Hmm.”
“Iyah, tadi malam aku tidur sedikit lebih lama dari biasanya.” Jawab Karina yang masih menikmati kopi buatan temannya.
“Apa yang membuatmu tidur larut malam?.”
“Apa kau pergi bersama Difta?.” Tanya temannya lagi.
“Ahh, engga kok.”
“Dia hanya singgah sebentar.”
“Hanya saja aku tidak bisa tertidur.” Jawab Karina sambil mengingat kejadian tadi malam saat setelah Difta pulang dari rumahnya.
Ternyata saat Difta pulang kerumahnya dan meninggalkannya, Karina tidak benar-benar tidur di kamarnya. ia pura-pura tertidur agar Difta bisa kembali ke rumahnya, Ia melihat Difta dari jendela kamarnya sedang menatap ke arah rumahnya sampai Difta pergi dengan mobilnya. Karina yang melihat perjuangan Difta saat itu langsung kembali menangis, bagaimana bisa Karina menangisi laki-laki lain di depan tunangannya sendiri. Karina sangat bingung, sebab ia belum bisa menerima Difta sepenuhnya dan malah melihat ke arah laki-laki lain yaitu Arsel. Entah kenapa Karina lebih memilih menyukai orang lain dari pada berusaha membuka hatinya untuk menerima Difta. Difta yang begitu mencintai dan lebih mengerti Karina malah Arsel yang tidak memiliki rasa sedikitpun terhadap Karina yang bisa membuat Karina menangis dan sangat menyedihkan malam itu.
“Jadi bagaimana persiapan pernikahanmu, Rin?.” Tanya teman Karina.
“Ha?.”
“Persiapan?.” Ucap Karina gugup.
“Iyah persiapan pernikahan kalian?.”
“Bukannya akan di adakan tahun ini, ya?.” Tanya teman Karina.
“Ahh itu ... .” Ucap Karina
“Entah lah.”
“Ku serahkan semuanya kepada keluarga Difta.” Sambung Karina.
Tiba-tiba pertanyaan temannya mengingatkan pernikahan Karina yang rencananya akan di adakan tahun ini, Karina yang tidak ikut mempersiapkan pernikahannya menyerahkan semuanya kepada keluarga Difta. Ia yang tidak bersemangat akan pernikahan tersebut tidak ingin tau sudah sampai mana persiapannya. Karina sampai sekarang ingin membatalkan pernikahannya, ia belum siap menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai.
“Rin ... .”
“Are you okey?.” Ucap Teman Karina yang melihatnya melamun.
“Ahh ... .”
“Im oke .. .” Jawab Karina.
“Jangan di tahan sendiri, kalau memang perlu diluapkan ceritakan lah padaku.”
“Walaupun aku tida bisa memberi masukan atau nasihat setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu.” Sambung teman Karina.
“Hmmm.”
“Thank you.” Ucap Karina yang menahan tangisnya.
“Aku kembali dulu, ya.” Ucap teman Karina.
“Oke.” Jawab Karina.
Saat teman Karina keluar dari pantry, tangis Karina pecah kembali. Kali ini ia tak bisa menahannya, Karina menangis mengingat pernikahannya yang sebentar lagi akan di adakan. Tak berselang lama, Karina tersadar bahwa tak ada gunanya menangisi hal yang bisa merusak mentalnya. Ia menyemangati dirinya sendiri dan kembali menuju meja kerjanya.
Ketika Karina kembali ke meja kerjanya, ia mengambil dan mengecek ponselnya sebelum melanjutkan pekerjaan, saat melihat ke layar ponselnya ia terkejut sebab ia memiliki satu panggilan tak terjawab dan satu pesan dari Arsel. Sebelum membaca isi pesannya Karina terdiam sejenak, ia tidak tau harus senang atau sedih melihat pesan dan panggilan dari Arsel tersebut.
“Arsel?.” Ucap Karina.
“Kenapa jantungku berdebar seperti ini.” Sambung Karina sambil meletakkan tangannya ke d**a.