“Thank you.” Ucap Karina.
“Hmm.” Jawab Difta.
“Kamu uda siap sarapannya?.”
“Mau tambah?.” Tanya Difta kepada Karina.
“Tambah?.”
“Kamu mau aku gendut?.” Jawab Karina sambil menatap sinis ke arah Difta.
“Hahaha.” Difta tertawa.
“Sepertinya kamu sudah kembali menjadi diri kamu lagi.” Ucap Difta pelan.
“Jadi menurut kamu tadi aku bukan sedang menjadi diri aku? Jadi diri siapa?.” Ucap Karina yang mulai sensi.
“Aku mau ke kantor.” Ucap Karina kesal.
“Aku sedang tidak mood ngobrol sama kamu.” Sambung Karina.
“Oke .. oke .. .”
“Maafkan aku.”
“Sekarang kita jalan ke kantor.” Ucap Difta sambil menghidupkan mobilnya dan bergegas menuju kantor Karina.
Difta yang melihat Karina sudah kembali menjadi dirinya sendiri terlihat senang, walaupun berulang kali Karina menjawab dengan ketus setidaknya Karina sudah tidak murung dan sedih kembali seperti sebelumnya, ia berulang kali menggoda Karina sampai akhirnya mood Karina rusak. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Karina hanya cemberut saja di mobil. Difta berusaha mengembalikkan mood Karina yang telah rusak karenanya, Difta berulang melemparkan candaan-candaan kepada Karina tetapi Karina tidak meresponnya sama sekali ia hanya sesekali melirik ke arah Difta.
“Kamu kalau cemberut gitu kenapa semakin gemes, sih.” Ucap Difta yang mulai menggoda Karina.
“Aku sedang tidak ingin di goda oleh kamu.” Jawab Karina ketus.
“Tapi aku ingin.” Sambung Difta.
“Yauda goda yang lain aja sana.”
“Jangan aku.” Ucap Karina kesal.
“Aku inginnya kamu.”
“Kamu terus, kamu lagi, kamu kamu kamu.” Ucap Difta yang semakin menggoda Karina yang sedang kesal.
“Bodo ... .”
“Terserah ... .”
“Aku gak dengar.” Ucap Karina yang semakin kesal dan menutup telinga dengan tangannya.
“Kamu yakin gak mau mendengarkanku.” Ucap Difta sambil melepaskan tangan Karina yang sedang menutupi telinganya dan menggenggamnya.
Karina sedikit luluh, ia menatap ke arah Difta yang sedang menyetir saat itu. Karina sedikit membuka pikirannya sambil melihat tangannya yang sedang di genggam oleh Difta, ia merasa Difta selalu ada disaat Karina sedang kesal, senang, sedih dan lainnya. Difta selalu bisa menenangkan Karina dan selalu mencari cara agar Karina terlihat bahagia.
“Kenapa kau begitu mencintaiku?.” Tanya Karina secara random.
“Ahh?.” Ucap Difta yang terkejut mendengar pertanyaan Karina pagi itu.
“Ada apa denganmu?.”
“Kenapa random sekali.”
“Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?.” Tanya Difta yang sesekali melihat ke arah Karina yang duduk di sampingnya.
“Cepat lah jawab.”
“Aku ingin mendengar jawabanmu.” Ucap Karina yang masih menatap ke arah Difta.
“Baik, aku akan menjawabnya.” Jawab Difta.
“Jangan menatapku seperti itu.”
“Nanti aku jadi tidak fokus menyetir.” Sambung Difta.
“Cepaattt.” Ucap Karina yang mulai kesal kembali.
“Aku tidak bisa menjawabnya.” Sahut Difta.
“Kenapa?.” Tanya Karina.
“Kenapa kau tidak bisa menjawabnya?.” Sambung Karina yang penasaran.
“Ya karena tidak ada alasan aku untuk tidak mencintaimu.” Jawab Difta.
“Aku sedang tidak ingin bercanda.” Ucap Karina.
“Aku sedang tidak bercanda sayang.” Jawab Difta meyakinkan Karina.
“Percayalah padaku.”
“Semua orang yang melihatmu pasti akan langsung jatuh cinta padamu.” Sambung Difta sambil menggenggam erat tangan Karina.
“Aku tidak percaya.” Jawab Karina sambil melepas tangan Difta.
“Jangan seperti itu lah.” Ucap Difta Sambil memegang tangan Karina lagi.
“Kau ingin aku bagaimana?.” Tanya Difta.
“Kau masih belum yakin kepadaku?. Sambung Difta.
“Entah lah.” Jawab Karina.
“Lihat lah ke arah ku.” Suruh Difta.
“Aku harus bekerja.”
“Turunkan aku disana saja.” Jawab Karina yang sedang mengalihkan pembicaraannya.
“Baiklah.” Ucap Difta sambil mengarahkan mobilnya ke bahu jalan.
“Nanti kita makan siang bersama ya, mengganti makan siang kita yang batal waktu itu.” Sambung Difta.
“Aku akan menghubungi mu nanti.” Jawab Karina.
“Aku bekerja dulu.”
“Bye.” Ucap Karina sambil turun dari mobil dan bergegas menuju kantor.
“Hmmm.”
“Bye.” Jawab Difta yang melihat Karina berjalan sampai hilang dari pandangannya.
“Kenapa moodnya sering berubah akhir-akhir ini.” Ucap Difta sambil menghidupkan mobilnya dan begegas menuju kantornya.
Setelah mengantar Karina, Difta langsung bergegas menuju kantornya. Di dalam mobilnya ia mulai kepikiran dengan pertanyaan yang ditanyakan oleh Karina, apa yang membuat Karina belum yakin kepadanya.
“Apa yang membuat dia belum yakin kepadaku?.” Tanya Difta pada dirinya sendiri.
“Aku sangat mencintainya.”
“Tapi kenapa dia tidak bisa sedikit saja melihat ke arah ku.” Sambung Difta yang mulai overthinking di pagi hari.
“Apa ada orang lain di dalam hatinya selain aku.”
“Sudahlah, aku tidak mau berpikiran yang bukan-bukan.”
“Mungkin dia sedang ada masalah dengan pekerjaannya.”
“Aku percaya padanya.” Tambah Difta yang kembali fokus menyetir mobilnya.
Difta tak mau berlarut dalam pikirannya, ia mempercayai Karina bahwa ini hanya masalah biasa yang tidak perlu di perbesar.
Di ruangan Arsel, nampak satu persatu karyawan sudah mulai berdatangan. Arsel yang tak begitu memperhatikan tetap fokus pada laporannya yang belum siap. Saat Arsel sedang fokus, Pak Ammar menghampiri meja Arsel.
Tok.. tokk..
“Heiii ... .” Sapa Pak Ammar.
“Kenapa terlihat begitu serius.” Tanya Pak Ammar.
“Eh, Pak.” Ucap Arsel terkejut.
“Iyah ini sedang mengerjakan laporan yang kemarin, Pak.” Jawab Arsel yang masih melihat ke arah komputer yang ada di depannya.
“Bapak sudah mau mengambilnya?.” Tanya Arsel sambil melihat ke arah Pak Ammar.
“Emangnya sudah siap?.” Tanya Pak Ammar balik.
“Ah, beri aku waktu lima belas menit lagi Pak.” Ucap Arsel.
“Okeh, saya tunggu di dalam.” Jawab Pak Ammar masuk ke dalam ruangannya.
“Baik, Pak.” Jawab Arsel yang mulai panik melihat Pak Ammar sudah datang ke kantor.
“Kenapa Pak Ammar cepat sekali datang.” Ucap Arsel sambil menyelesaikan laporannya yang hampir rampung.
Tak sampai sepuluh menit setelah Pak Ammar masuk ke dalam, laporan yang Arsel kerjakan akhirnya selesai juga. Ia langsung mengeprint dan membuat rangkap laporannya dan segera mengantarkan ke ruangan Pak Ammar.
“Huahhhh ... .” Arsel menghela nafasnya.
“Akhirnya selesai juga.” Ucap Arsel.
“Aku harus segera mengantarkan laporan ini ke ruangan Pak Ammar.” Sambung Arsel sambil berjalan menuju ruangan Pak Ammar.
Arsel berjalan menuju ruangan Pak Ammar, sebelum masuk ia mengetuk pintu ruangan Pak Ammar terlebih dulu. Saat ingin mengetuk pintu, Arsel tak sengaja mendengar percakapan antara Pak Ammar dengan temannya di telpon. Arsel mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam dan berniat kembali ke meja kerjanya terlebih dahulu lalu akan kembali menuju ke ruangan Pak Ammar nanti. Saat Arsel berbalik arah ia tak sengaja mendengar Pak Ammar sedang menyebut nama Buk Seira dan Karina.
“Apa aku tidak salah dengar?.” Ucap Arsel sambil mendekatkan telinganya sedikit ke pintu ruangan Pak Ammar.
“Pak Ammar menyebut nama Buk Seira dan Karina.” Sambung Arsel yang masih mendengarkan.
“Astaga.” Ucap Arsel.
“Apa yang sedang aku lakukan.” Tambah Arsel sambil berjalan menuju meja kerjanya.
Arsel yang sadar apa yang dilakukannya tidak benar langsung meninggalkan ruangan Pak Ammar dan segera menuju meja kerjanya. Arsel duduk di meja kerjanya dan teringat percakapan Pak Ammar dengan seseorang di telepon.
Pagi itu pikiran Arsel di penuhi oleh Pak Ammar, sudah beberapa kali ia mendengar percakapan antara Pak Ammar dengan seseorang yang menyebut-nyebut nama Karina. Kali ini bahkan nama Buk Seira juga terikut dalam percakapan Pak Ammar. Arsel jadi teringat kejadian malam itu, dimana Pak Ammar meminta bantuan Arsel untuk mengantarkan Karina pulang kerumahnya. Arsel semain yakin, kalau Pak Ammar sepertinya memiliki hubungan khusus dengan Karina. Tapi Arsel juga teringat bahwa Karina sudah bertunangan dengan seseorang yang ia lihat waktu di cafe saat sedang bersama Cathrine dan Pak Ammar juga telah mengetahui itu.
“Ada apa sebenarnya antara Pak Ammar dengan Karina?.” Ucap Arsel.
“Apa sebenarnya Karina sedang membutuhkan bantuan agar bisa terbebas dari Pak Ammar?.” Tambah Arsel.
“Kenapa Pak Ammar sering kali menyebut-nyebut nama Karina.”
“Apalagi kali ini nama Buk Seira juga terbawa.”
“Ahh entahlah.”
“Apa yang sedang aku pikirkan pagi-pagi begini.” Ucap Arsel yang berusaha tidak memikirkan tentang percakapan yang ia dengar barusan.
Saat Arsel berusaha mengalihkan pikirannya teman Arsel, Zafran menghampirinya.
“Ada apa bro?.”
“Kenapa raut wajamu seperti itu?.” Tanya Zafran.
“Ini masi pagi kenapa pikiranmu sepertinya berat sekali.” Sambung Zafran.
“Ah benarkah?.”
“Apa begitu terlihat dari wajahku?.” Ucap Arsel sambil memegang wajahnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?.” Tanya Zafran lagi.
“Ahh.” Ucap Arsel gugup
“Tidak ada.” Tambah Arsel.
“Jangan untuk cerita padaku dan teman-teman lainnya apabila ada masalah yang tak bisa kau selesaikan sendiri.”
“Kami disini sudah seperti keluarga dan siap untuk membantumu.” Ucap Zafran.
“Oke bro, thank you.” Jawab Arsel.
“Hmm.” Jawab Zafran sambil melihat laporan yang berada di meja Arsel.
“Kenapa laporan ini masih ada padamu?.” Tanya Zafran sambil memegang laporan tersebut.
“Ohh ini.”
“Kemarin aku belum menyelesaikannya.”
“Baru tadi siap ku kerjakan.” Jawab Arsel.
“Ah begitu.”
“Kenapa belum di antar ke ruangan Pak Ammar.”
“Bukankah dia sudah ada di dalam?.” Tanya Zafran.
“Hmm, aku baru saja siap menyelesaikannya.” Jawab Arsel.
“Aku ingin istirahat sebentar.”
“Mungkin sebentar lagi aku akan mengantarnya.” Sambung Arsel.
“Oh okeh.”
“Aku kembali ke meja ku dulu.” Ucap Zafran sambil berjalan menuju meja kerjanya.
Saat Zafran ingin kembali menuju meja kerjanya, Arsel memanggil Zafran.
“Oh ya, bro.” Panggil Arsel.
“Apa kau mengenal Karina dari divisi lain?.” Tanya Arsel.
“Karina?.” Ucap Zafran sambil menoleh ke arah Arsel.
“Karina dari bagian accounting?.” Tanya Zafran yang tidak jadi pergi menuju meja kerjanya.
“Iyah.” Jawab Arsel.
“Tentu kenal.”
“Siapa yang tidak kenal dia?.” Jawab Zafran.
“Memangnya ada apa dengan Karina?.” Tanya Zafran yang mulai penasaran.
“Ohh, tidak apa-apa.”
“Tiba-tiba aku teringat padanya.” Jawab Arsel.
“Aishhh jangan berbohong padaku.” Ucap Zafran sambil merangkul Arsel.
“Kau menyukainya kan?.” Goda Zafran.
“Eihhh.” Jawab Arsel terkejut.
“Jujur saja padaku.”
“Kau suka padanya kan?.” Ucap Zafran lagi menggoda Arsel.
“Sepertinya aku salah sudah bertanya padanya.” Ucap Arsel sambil melepaskan tangan Zafran yang merangkulnya.
“Jadi kalau bukan karena suka, karena apa?.”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentangnya.” Ucap Zafran yang semakin penasaran.
“Bukan apa-apa kok.” Jawab Arsel.
“Eh ayolah beritahu aku.” Ucap Zafran sambil memaksa Arsel untuk memberitahunya.
Saat Zafran menggoda Arsel, ternyata Pak Ammar sudah berada tepat di depan meja Arsel. Pak Ammar yang mendengar Arsel dan Zafran sedang membicarakan Karina langsung ikut bergabung dengan Zafran untuk menggoda Arsel. Arsel yang terkejut Pak Ammar sudah ada di depannya dan mendengar pembicaraannya denga Zafran langsung panik dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Pak Ammar yang tau Arsel sedang mengalihkan pembicaraan dan tak mau membahas Karina langsung mengambil ponselnya dan menelpon Karina, Pak Ammar menyalakan penguat suara agar Arsel mendengar pembicaraan Pak Ammar dan Karina. Arsel semakin panik saat Karina menjawab panggilan Pak Ammar, ia tak tau kalau Pak Ammar akan melakukan hal itu.
“Karina?.” Ucap Pak Ammar yang sudah berdiri di depan meja Arsel.
“Kalian sedang membahas Karina dari bagian accounting?.” Tanya Pak Ammar kepada Arsel.
“Eh, Pak.” Ucap Zafran.
“Aku balik ke meja ku dulu.” Sambung Zafran.
“Kenapa terburu-buru.” Ucap Pak Ammar menahan agar Zafran tidak kembali ke mejanya.
“Bagaimana Karina?.” Tanya Pak Ammar.
“Bagaimana apanya, Pak?.” Tanya Arsel pura-pura polos.
“Maaf, Pak. ini laporannya yang tadi.” Ucap Arsel.
“Ah, nanti saja bicara laporan.” Ucap Pak Ammar menggeserkan laporan yang diberikan oleh Arsel.
“Aku sedang ingin membahasa soal Karina bersama kalian.” Sambung Pak Ammar yang penasaran.
“Apa yang Bapak maksud?.” Ucap Zafran yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Heii ayolah.”
“Jangan menutupinya dariku.” Jawab Pak Ammar sambil mengeluarkan ponselnya.
“Jadi kalian tidak ingin membicarakannya denganku?.” Tanya Pak Ammar.
Arsel dan Zafran saling melihat satu sama lain. Pak Ammar menatap ke arah mereka dengan tatapan sinis.
Titt ...... tiiiiiiit ....
“Haloo.”
“Iyah, Pak.” Jawab Karina.
Arsel dan Zafran langsung menatap ke layar ponsel Pak Ammar,