Pagi Karina di awali dengan senyuman Difta...

2090 Kata
Setelah berhasil menenangkan Karina, Difta mengajak Karina untuk masuk ke dalam rumah. “Sebaiknya kita segera masuk ke dalam.” “Tidak baik untukmu terlalu lama diluar, angin malam bisa mengganggu kesehatanmu.” Ucap Difta sambil mengajak Karina masuk ke dalam. Difta berjalan ke dapur untuk mengambilkan Karina segelas air minum, ia melihat isi dapur Karina dan nampak terkejut setelah melihat isi kulkas Karina yang kosong. “Bagaimana dia bisa seperti ini?.” Ucap Difta. “Seperti bukan Karina yang aku kenal.” Sambung Difta. Difta melihat Karina sedang tertidur, ia pergi keluar untuk membeli air minum dan sedikit mengisi sebagian isi kulkas Karina. Seteleh membeli beberapa makanan, Difta pulang tanpa pamit kepada Karina, ia tak ingin mengganggu Karina yang suda tertidur lelap. “Aku pulang, Rin.” “Kalau ada apa-apa jangang sungkan untuk menelponku lebih dulu.” Tulis Difta di kertas note dan menempelnya di sebelah gelas dan sebungkus roti yang sudah di siapkan Difta di meja. Difta yang sudah di dalam mobil masih menatap ke arah kamar Karina, Tak berselang lama akhirnya Difta menghidupkan mobilnya dan berjalan pulang menuju rumahnya.   “Kamu gak mau singgah dulu?.” Tanya Cathrine. “Mungkin lain kali.” Jawab Arsel sambil melihat ke arah jamnya. “Okehh, aku akan menunggu sampai kau siap.” Ucap Cathrine. “Hmm.” “Aku pulang.” “Sampai jumpa.” Ucap Arsel yang sedang berada di depan rumah Cathrine. “Ehmm .. .” “Sampai jumpa.” Ucap Cathrine. “Kamu hati-hati di jalan, jangan lupa kabari kalau sudah sampai rumah.” Sambung Cathrine. “Bye.” Ucap Arsel sambil menyalakan sepeda motornya. “Bye.” Ucap Cathrine sambil melambaikan tangannya. Akhirnya Arsel mengantar Cathrine pulang ke rumahnya, Cathrine yang sangat ingin memperkenalkan Arsel dengan orang tuanya pun langsung mengurungkan niatnya sebab Arsel belum siap untuk bertemu dengan orang tua Cathrine. Bukan karena takut dengan orang tua Cathrine, sebab hubungan mereka yang masih ambigu dan masih terbilang baru. Arsel tidak tau sebenarnya apa hubungannya dengan Cathrine saat ini, belum ada kata jadian tapi Cathrine sudah bersikap dan seolah mereka telah bersama. Arsel tak mau buru-buru dan terlalu percaya diri karna sikap Cathrine. Arsel tetap menjaga hubungannya dengan baik dan akan segera menanyakan oleh Cathrine apakah dia ingin serius dengan Arsel atau hanya sekedar menganggap Arsel teman biasa. “Maafkan aku Cath.” Ucap Arsel saat mengendarai sepeda motornya. “Bukan aku tak ingin bertemu dengan orang tuamu.” “Aku sangat ingin.” “Tapi aku ingin menemuinya saat kau sudah ingin serius denganku.” “Aku ingin kau memperkenalkan aku dengan mereka bukan karena aku temanmu.” “Melainkan orang yang akan menjagamu.” Ucap Arsel yang masih bingung dengan hubungannya dengan Cathrine. “Aku akan segera memperjelas hubungan kita.” “Tunggulah aku sebentar lagi.” Ucap Arsel yang sedikit menambahkan kecepatan sepeda motornya. Setelah sampai di rumah Arsel langsung membersihkan tubuhnya dan langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya, Ibu Arsel yang mendengar Arsel sudah pulang langsung menju kamarnya.   “Kamu sudah pulang?.” Ucap Ibu Arsel membuka pintu kamar Arsel. “Hmmm.” Ucap Arsel. “Akhir-akhir ini sulit sekali bertemu denganmu.” Ucap Ibu Arsel. “Apakah kau sudah makan?.” “Ayo makan lah terlebih dulu, ibu akan memanaskannya untukmu.” Sambung ibu Arsel yang  membujuk Arsel untuk makan lagi dirumah. “Aku sudah makan, Bu.” Jawab Arsel. “Perutku sepertinya sudah tidak bisa menampung makanan lagi akibat terlalu kenyang.” Tambah Arsel. “Cepatlah kemari.” Ucap Ibu Arsel yang sudah berjalan ke dapur dan memanaskan makanan untuk Arsel. “Wah ibuku benar-benar akan membuat tubuhku ini penuh lemak.” Ucap Arsel sambil bangkit dari tempat tidurnya menuju dapur. “Kemana yang lain?.” Ucap Arsel menggeserkan kursi makan. “Kamu lihat jam berapa sekarang?.” Ucap Ibu Arsel ambil melihat ke arah jam. “Kenapa akhir-akhir ini kau pulang begitu larut?.” Sambung ibu Arsel. “Apa pekerjaanmu begitu banyak?.” Tanya Ibu Arsel lagi. “Ahhh benarkah?.” “Mereka sudah tidur?.” Ucap Arsel ambil melihat ke arah jam. “Aku ada urusan dengan temanku, Bu.” Sambung Arsel. “Oh, begitu.” “Tetap jaga kesehatanmu dan pastikan kau tetap bisa tidur yang cukup.” Jawab Ibu Arsel sambil menyiapkan makanan di meja. “Ehmm, baiklah.” Jawab Arsel. “Wah, sepertinya ini enak.” Sambung Arsel langsung melahap makanan yang di berikan ibunya. “Sudah cepat habiskan.” Ucap Ibu Arsel. “Kenapa ribut sekali sudah malam begini.” Sahut Ayah Arsel yang keluar dari kamarnya. “Ehmm, makanlah bersamaku.” Ucap Arsel. “Ooh ternyata kau sudah pulang.” “Tidak, aku tidak mau makan malam.” “Aku sedang menjaga tubuhku.” Jawab Ayah Arsel. “Menjaga tubuh apa?.” “Barusan kau memasak indomie sesaat sebelum Arsel sampai rumah.” Sahut Ibu Arsel kepada suaminya. “Hahhaha benarkah?.” “Wah Indomie memang pas di makan saat malam-malam seperti ini.” Ucap Arsel. “Kau ini, ada apa denganmu?.” “Memangnya aku tidak boleh makan indomie.” Sambung Ayah Arsel yang tidak terima Ibu Arsel berbicara seperti itu. “Sudahlah, ayo kita kembali ke kamar.” “Biarkan Arsel menikmati makanannya dan segera beristirahat.” Ucap Ibu Arsel mengajak Ayahnya untuk segera masuk kembali ke kamarnya. “Ibu ke kamar dulu.” “Makan lah yang banyak, dan nikmati makananmu jangan terburu-buru.” Ucap Ibu Arsel. “Hmm.” “Terima kasih atas makanan malam ini.” Ucap Arsel. “Ehmmm .. .” Jawab Ibu Arsel sambil berjalan menuju kamarnya. Ibu dan Ayah Arsel masuk kembali menuju kamarnya, Arsel yang masih berada di meja makan sedang menikmati makanan yang sudah di hidangkan oleh ibunya untuk dirinya. “Wahh ini enak sekali.” “Padahal perutku sudah kenyang.” “Tapi aku tidak bisa melewatkan masakan ibuku.” Ucap Arsel yang melahap habis masakan ibunya.     *** Keesokan harinya Arsel berangkat ke kantor lebih awal untuk mengerjakan laporan yang kemarin belum siap ia kerjakan, ia tidak sempat sarapan dan bergegas menuju kantor. Ibu Arsel yang melihat Arsel sedang buru-buru langsung menyiapkan roti ke dalam lunch box untuk bisa di makan ketika sampai di kantor. “Bu, aku pergi dulu.” Ucap Arsel sambil berjalan ke arah sepeda motornya. “Arsel tunggu, bawa ini bersamamu.” Sahut Ibu Arsel yang mempersiapkan roti untuk di bawa oleh Arsel. “Tidak usah, Bu.” “Nanti aku beli saja disana.” Jawab Arsel. “Jangan beli.” “Bawa saja ini.” Ucap Ibu Arsel yang menghampirinya dan memasukkan ke dalam tas Arsel. “Aku pergi.” Ucap Arsel. “Hmmm.” “Hati-hati.” Jawab Ibu Arsel. Arsel langsung mengendarai sepeda motornya menuju ke kantor, ia takut hari ini akan banyak kegiatan sehingga mengganggu waktunya dan tidak bisa mengerjakan laporan yang seharusnya sudah siap di kerjakan. Ayah Arsel yang baru selesai mandi langsung keluar menemui Ibunya dan bertanya kepada ibu Arsel. “Dasar anak itu.” “Bisa-bisanya dia melewatkan sarapan bersama keluarganya.” “Kenapa dia buru-buru seperti itu?.” Tanya Ayah Arsel. “Entah lah.” “Aku pun juga tidak begitu tau.” Jawab Ibu Arsel sambil masuk kembali dan mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.                  Sesampainya di kantor, Arsel langsung memarkirkan sepeda motornya dan bergegas menuju ruangan. Nampak, baru satpam dan cleaning service yang sudah datang di kantor. Arsel melihat ke sekeliling.                “Wah apa aku kepagian?.” Tanya Arsel.                “Entah lah.”                “Aku harus segera mengerjakan laporanku yang tertunda.” Ucap Arsel sambil merapikan kemejanya.                Saat Arsel membuka pintu ruangan ia terkejut, ternyata teman seruangannnya sudah ada di dalam. Bahkan temannya ada yang sampai menginap di kantor malam itu.                “Wah, kenapa kalian sudah ada disini?.” Tanya Arsel heran.                “Kalian tidur disini?.” Tanya Arsel lagi.                “Ehhmm.” Jawab teman Arsel yang masih tidur di kantor.                “Jam berapa sekarang?.”                “Apa para karyawan sudah pada datang.” Ucap teman Arsel yang langsung bangun.                “Belum kok belum.” Jawab Arsel.                “Kami tidur disini malam ini.” Jawab salah satu teman Arsel.                “Apa yang kau lakukan disini?.”                “Sepagi ini?.” Tanya teman Arsel.                “yang benar saja?.”                “Kalian tidur disini?.” Tanya Arsel yang tak percaya kalau temannya tidur di kantor malam itu.                “Aku belum menyelesaikan laporanku yang kemarin.” Jawab Arsel.                “Ahhh begitu.”                “Selamat mengerjakan laporanmu kalau begitu.” Ucap teman Arsel.                “Aku pergi keluar dulu membeli kopi.” Sambung temannya.                “Apakah kau mau kopi?.” Tanya teman Arsel.                “Hmmm.” Arsel mengangguk.                “Okeh.” Jawab teman Arsel sambil pergi ke bawah untuk membeli kopi. Arsel tak menyangka beberapa teman seruangannya sudah berada di kantor untuk mengerjakan laporan yang deadline bahkan sampai rela tidur di kantor, ia pikir ia yang paling rajin dan paling bekerja keras untuk masuk lebih awal mengerjakan laporan. Ternyata temannya lebih begitu totalitas dan tidur di kantor sampai laporan siap di selesaikan. “Aku tak menyangka mereka benar-benar totalitas dalam bekerja.” Ucap Arsel yang langsung mengerjakan laporannya. “Apa mereka juga salah satu yang di rekomendasikan oleh Pak Ammar, sehingga mereka begitu bekerja keras dalam bekerja.” Sambung Arsel. “Entah lahh.” “Aku tidak ingin pikiranku pagi ini terganggu oleh itu.” “Aku harus fokus mengerjakan laporan ini sebelum Pak Ammar datang ke kantor dan segera mengirimkannya kepada Pak Lutfi.” Ucap Arsel yang fokus pada komputer yang ada di depannya.   Di tempat lain, Karina baru bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya melihat catatan kecil di meja makannya yang di tulis oleh Difta. Ia mengambil note itu dan membacanya. Ia melihat air, roti serta vitamin sudah tersedia di meja itu. Karina tak begitu menanggapi catatan itu, ia langsung bergegas menuju kamar mandi dan segera bersiap menuju kantor. Bahkan ia melewatkan sarapan yang sudah disiapkan oleh Difta. Saat ia membuka pintu dan keluar dari rumahnya ia terkejut melihat Difta sudah ada disana.   “Selamat pagi, Cantik.” Sapa Difta. “Apa kau tidur nyenyak tadi malam?.” Ucap Difta. “Apa yang kau lakukan disini?.” Tanya Karina yang tak membalas sapaan Difta. “Aku?.” “Aku akan mengantarmu dengan selamat pagi ini.” Ucap Difta. “Masuklah.” Sambung Difta sambil membukakan pintu mobilnya. Karina berjalan masuk ke dalam mobil. Difta tersenyum padanya dan langsung masuk ke dalam mobil bergegas untuk mengantar Karina menuju kantor. “Apa kau sudah sarapan?.” Tanya Difta sambil melihat ke arah Karina. “Hmm, sudah.” Jawab Karina datar. “Aku belum sarapan.” Ucap Difta yang tau bahwa Karina berbohong. “Temani aku sarapan sebentar saja.” Ajak Difta agar Karina bisa sarapan dan tetap menjaga kesehatannya. “Aku sudah terlambat.” Jawab Karina. “Sebentar saja.” “Aku janji tak akan memakan waktu begitu lama.” Ucap Difta memohon. “Ehmmm, baiklah.” Jawab Karina. Difta tersenyum melihat ke arah Karina.   Difta menghentikan mobilnya di tempat sarapan yang tak jauh dari kantor Karina. Ia memesan dua porsi sarapan pagi dan memakannya di dalam mobil. Karina yang terkejut melihat ada dua porsi langsung bertanya kepada Difta. “Kenapa ada dua?.” “Bukankah ku bilang kalu aku sudah sarapan tadi?.” Ucap Karina. “Ah benarkah?.” “Mengapa dia mengantarnya dua porsi.” Ucap Difta yang ngeles mencari alasan. “Mungkin Bapak itu salah dengar.” “Sudah makanlah, mungkin ini memang rezeki untukmu.” Sambung Difta sambil menyantap sarapannya. “Aku sedang tidak berselera.” Jawab Karina. “Setelah melihat sarapan yang begitu menggoda ini, kau tetap tidak berselera?.” Tanya Difta. “Wahh, lihatlah berapa orang yang mengantri untuk bisa membeli sarapan ini.” Sambil melihat orang yang sedang antri membeli sarapan. “Rasanya sangat enak, mereka sampai rela antri demi sarapan ini.” Ucap Difta. “Benarkah?.” “Apakah rasanya seenak itu?.” Tanya Karina yang mulai tergoda dengan ucapan Difta. “Ehhmm, enak sekali.” Jawab Difta. “Ayo, cobalah.” Suruh Difta. “Ehhmmm.” Jawab Karina sambil menyuapkan sesendok sarapan ke mulutnya. “Bagaimana?.” “Enak kan?.” Tanya Difta. Karina hanya diam saja, Dia menyendokkan beberapa sarapan lagi ke mulutnya. “Tanpa kau bicara aku sudah tau kalau ini enak.” Ucap Difta sambil tersenyum melihat Karina yang akhirnya mau memakan sarapan yang telah susah payah dia dapatkan dengan mengantri. “Ini minumlah.” Difta memberi air kepada Karina. “Jangan karena sarapan ini terlalu enak kau jadi lupa minum.” Ucap Difta. Karina melihat ke arah Difta dan mengambil air yang di berikan padanya lalu meminumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN