“Iyah, Sel.” Jawab Karina menoleh ke arah Arsel yang sedang berlari menghampirinya.
“Sudah siap menelponnya?.” Tanya Karina.
“Ahh, begini Rin.” Ucap Arsel gugup.
“Sepertinya aku tidak bisa mengerjakan laporan malam ini.”
“Aku lupa kalau aku sudah ada janji dengan Cathrine.”
“Maafkan aku.” Ucap Arsel.
“Oh, gitu.”
“Okeh gak apa-apa.” Jawab Karina.
“Aku pulang dulu ya kalau begitu.” Sambung Karina sambil berjalan pergi meninggalkan Arsel sendirian.
“Ah, benarkah?.”
“Tunggu dulu, Rin.” Tahan Arsel.
“Aku akan mengantarmu sampai simpang depan tempat kamu menunggu bis.” Ucap Arsel.
“Tidak perlu repot-repot, Sel.”
“Aku bisa sendirian kok.” Jawab Karina.
“Kamu yakin?.” Tanya Arsel.
“Hmm ... .” Jawab Karina.
“Thank you sudah mau memahamiku.” Ucap Arsel.
Karina dan Arsel akhirnya tidak jadi mengerjakan laporan bersama, pasalnya Arsel harus bertemu dengan Cathrine. Karina yang sudah sangat senang bisa memiliki kesempatan berduaan dengan Arsel akhirnya pupus, Karina berjalan pulang sendirian dengan rasa kecewa akibat ekspektasinya yang terlalu tinggi hari itu.
“Bye .. .”
“Hati-hati di jalan.” Ucap Arsel.
“Hmm.” Jawab Karina sambil melambakan tangannya dan berjalan menuju tempat menunggu bis.
Arsel langsung menuju parkiran dan segera menghidupkan sepeda motornya untuk bertemu dengan Cathrine. Doa Arsel akhirnya terkabul, saat Karina memaksanya untuk ikut menemani mengerjakan laporan Arsel sempat berdoa.
“Ya Allah tolong aku, datangkan seseorang yang bisa membantuku agar aku tidak bersama dengan Karina malam ini.”
Arsel yang mengetahui bahwa Karina sudah memiliki tunangan tidak ingin begitu dekat dengan Karina di luar urusan kantor, lagipula Arsel sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap Karina. Ia tak ingin orang yang melihat mereka bersama menjadi salah paham.
“Terima kasih ya Allah, engkau mengirim Cathrine untuk membantuku.” Ucap Arsel sambil bergegas menghampiri Cathrine yang sudah menunggunya.
Karina yang kecewa karena Arsel lebih memilih bertemu Cathrine dari pada dirinya tiba-tiba menendang kaleng yang ada di depannya.
Tranggg ....
“Ahhh CATHRINE ... .”
“Lain kali aku tidak akan membiarkanmu.” Ucap Karina kesal.
Dia terus berjalan dan sesekali melihat ke belakang berharap Arsel akan mengejarnya dan tidak jadi bertemu dengan Cathrine. Entah apa yang ada di pikiran Karina saat itu, jelas dia sudah memiliki tunangan yang sebentar lagi akan mengadakan pesta pernikahan tapi ia masih saja melirik ke arah Arsel dan marah ketika Arsel bersama dengan wanita lain.
Karina duduk di tempat menunggu bis, sambil menunggu bis datang ia menyandarkan kepalanya ke tiang yang ada di sampingnya. Ponsel Karina berdering, Karina melihat ponselnya. Nampak dari layar ponsel Karina kalau Difta, tunangan Karina sedang menelponnya.
“Aku ingin Arsel bersamaku.” Ucap Karina.
“Bukan kamu .... .” Ucap Karina sambil melihat ke arah ponselnya.
“Aku tidak mencintai kamu.”
“Aku ingin menyudahi perjodohan ini.”
“Aku tidak ingin kamu semakin terluka bila tau bahwa aku sama sekali tidak pernah mencintaimu.”
“Tapi kenapa malah kamu yang selalu ada di saat aku seperti ini.” Tangis Karina pecah saat itu.
“Aku harus bagaimana?.”
“Aku juga berhak bahagia dengan orang yang aku cintai.” Sambung Karina yang semakin menangis.
Karina yang sedang menunggu bis tak bisa menahan rasa sakitnya, ia menumpahkan perasaannya kala itu. Ia menangis sejadinya, ternyata Karina dan Difta melakukan pertunangan karena di jodohkan oleh orang tua mereka. Difta dari awal bertemu sudah sangat menyukai Karina bahkan Difta yang memaksa orang tuanya agar segera melakukan pesta pernikahan. Karina yang tidak bisa menolak karena permintaan orang tuanya pun mau tidak mau harus menurutinya.
Karina berusaha sebaik mungkin untuk tetap tersenyum di depan Difta dan keluarganya. Ia tidak ingin menyakiti hati mereka karena cuma perasaan Karina yang tak bisa menerima Difta. Karina yang pernah mencoba berkata jujur mengungkapkan isi hatinya kepada Difta malah berakibat Fatal. Difta melakukan hal-hal di luar batas kemampuan, bahkan ia pernah hampir mencoba untuk melakukan aksi bunuh diri yang berakhir di rumah sakit karena Karina tidak ingin lagi bersamanya. Karina menyerah, ia akhirnya pelan-pelan berusaha untuk menerima Difta di hidupnya yang berujung sakit hingga saat ini karena ia sama sekali tidak bisa mencintai Difta.
“Aku capek... .” Ucap Karina.
Difta menelpon ke ponsel Karina berulang kali, berulang kali juga Karina mengabaikan panggilannya. Ternyata, Difta sedang berada di sebrang jalan melihat ke arah Karina yang duduk bersandar sambil menangis di halte sedang menunggu bis. Difta ingin menghampirinya, tapi ia takut itu malah akan mengganggu Karina. Difta berusaha menelpon Karina untuk mengajak pulang bersama.
“Apa yang terjadi dengannya?.”
“Kenapa ia begitu bersedih?.”
“Kenapa panggilanku tidak di jawab.”
“Aku mencemaskanmu, Rin.” Ucap Difta dari dalam mobilnya melihat Karina di sebrang jalan.
“Tunggu aku.”
“Aku akan datang padamu.” Sambung Difta sambil memutar mobilnya.
Akhirya Difta memutuskan untuk memutar mobilnya dan menghampiri Karina. tidak peduli sikap Karina kepadanya nanti, ia tetap melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, ia tak ingin Karina merasa kesepian disaat seperti ini.
Saat Difta memutar mobilnya dan sampai di halte tempat Karina menunggu, Difta langsung turun dari mobilnya dan terkejut Karina sudah tidak ada disana.
“Kemana dia perginya?.” Ucap Difta sambil melihat ke sekeliling.
“Apa dia naik bis itu?.” Tanya Difta.
Tanpa pikir panjang Difta langsung mengikuti bis yang ada di depannya, dia berusaha menyalip bis tersebut dan melihat apakah Karina berada di dalamnya. Difta panik pasalnya saat itu jalanan sedang mengalami macet. Difta bolak balik membunyikan klakson mobilnya dan menghidupkan lampu jarak jauh agar supir bis memberi jalan kepadanya.
Tiiinnn... tinnn.
Tiiinnnnn .....
Tinnnn ... tinnn ....
“Ada apa dengan pengguna mobil tersebut.” Ucap Pak Supir sambil memberi jalan kepada Difta.
Karina yang berada di dalam bis tak begitu menghiraukan apa yang sedang terjadi di luar. Karina yang masih terlihat sedih menyandarkan kepalanya ke jendela bis dan menatap keluar dengan tatapan kosong. Difta yang berhasil bisa berada di samping bis melihat Karina sedang menyandarkan kepalanya, sesekali Difta membunyikan klakson mobilnya untuk memberi kode kepada Karina tapi Karina tetap tidak menghiraukan Difta.
“Kenapa dia tidak melihat ke arahku.” Ucap Difta.
“Seenggaknya aku tau kalau dia berada di dalam sana.” Tambah Difta.
Difta membiarkan bis berjalan lebih dulu, mobil Difta tepat berada di belakang mengikuti arah bis sampai ke tempat tujuan Karina turun. Karina tuurun dari bis tanpa menoleh ke arah manapun, ia hanya berjalan lurus ke depan.
Setelah Karina turun dari bis, Difta tetap mengikutinya sampai Karina masuk ke dalam rumahnya.
“Ada apa denganmu, Rin?.”
“Kenapa kau memendamnya sendirian?.”
“Aku sangat mengkhawatirkanmu.”
“Aku akan tetap menunggumu selama apapun itu, sampai kau yang ingin bercerita denganku.” Ucap Difta yang mengikuti Karina berjalan menuju rumahnya.
Difta yang tulus mencintai Karina tetap memberikan ruang sendiri untuk Karina, ia tak ingin mengganggu Karina di saat seperti ini. Tapi, ia juga tak bisa melihat Karina seperti itu. Ia ingin berada di sisi Karina walaupun Karina tak mengetahui itu.
“Aku selalu ada untukmu, Rin.”
“Please, lihat aku sekali saja.”
“Aku disini.”
“Jangan pernah sedih sendirian, berbagi lah denganku.” Ucap Difta yang hampir putus asa melihat Karina dari jarak jauh.
Karina yang berjalan dengan tatapan kosong hampir menabrak pejalan kaki yang berada di depannya. Difta panik, ia langsung menghentikan mobilnya di tengah jalan dan ingin turun membantu Karina tapi mobil yang berada di belakang Difta langsung membunyikan klaksonnya. Difta mengurungkan niatnya dan kembali melihat Karina yang sedang berjalan dari dalam mobilnya.
“Ahh, maafkan aku.” Ucap Karina kepada pejalan kaki yang hampir ditabraknya.
“Jalan lihat-lihat dong, mbak.” Ucap pejalan kaki.
“yaahhh, oke.” Jawab Karina sambil mengacungkan ibu jarinya kepada pejalan kaki tersebut.
Akhirnya Karina sampai juga ke rumahnya. Sebelum masuk ia duduk di tangga yang ada di depan pintu rumahnya sambil menangis kembali. Difta yang melihat Karina menangis dari dalam mobilnya tidak bisa menahan lagi, ia turun dari mobil dengan sedikit berlari menghampiri Karina dan langsung memeluknya. Karina yang sedang menangis terkejut melihat Difta menghampirinya dan langsung memeluknya. Karina menatap Difta dengan mata bercucuran air mata.
“Tak apa, menangislah ... .”
“Luapkan semua keluh kesah dan amarahmu.”
“Aku disini bersamamu.” Ucap Difta sambil memeluk Karina.
Karina yang mendengar ucapan Difta langsung membalas pelukan Difta dan itu membuat Karina semakin tak bisa menahan tangisnya, air mata Karina membasahi baju Difta yang sedang memeluknya dan mereka menangis bersama di tangga depan rumah Karina.
Di tempat lain, nampak Arsel sangat bahagia bisa bertemu dengan Cathrine. Arsel sedang menunggu Cathrine yang sedang ada urusan lain di dekat kantornya.
“Maaf ya, Sel sudah menungguku terlalu lama.” Ucap Cathrine menghampiri Arsel.
“Ahh, tidak apa-apa.” Jawab Arsel.
“Apa urusanmu disini sudah selesai?.” Tanya Arsel.
“Sudah, ayo kita pergi.” Ajak Cathrine sambil menggandeng tangan Arsel.
“Hmmm.” Arsel terkejut melihat Cathrine menggandeng tangannya.
“Ayo.” Jawab Arsel gugup sambil menatap ke wajah Cathrine dan menggenggam tangan Cathrine.
Cathrine tersenyum sambil menatap wajah Arsel. Arsel dan Cathrine berjalan keluar menuju tempat sepeda motor Arsel terparkir. Arsel memasangkan helm ke wajah Cathrine. Cathrine tersenyum lebar melihat ke arah Arsel. Arsel yang sedang berbunga-bunga semakin bahagia melihat senyum Cathrine yang berada tepat di depan wajahnya.
“Cath, Terima kasih karena telah mau mengendarai motor butut ini bersamaku.” Ucap Arsel sambil memasangkan helm di wajah Cathrine.
“Aku memang sangat ingin menaikinya dari dulu.” Jawab Cathrine sambil melihat ke arah sepeda motor Arsel.
“Hmmm ... .”
“Wajahmu memerah.” Goda Cathrine.
“Ahh benarkah?.” Jawab Arsel sambil memegang wajahnya.
“Ehmmm ... .” Ucap Cathrine sambil meletakkan tangannya di wajah Arsel.
“Ahhh, sepertinya tangan ini yang membuat wajahku memerah.” Jawab Arsel.
“Hahahah.” Cathrine tertawa.
Mereka tertawa bersama, tiba-tiba cacing yang ada di perut Cathrine berbunyi. Cathrine tak sungkan mengatakan kepada Arsel bahwa dirinya sedang lapar, Arsel langsung tertawa melihat sikap Cathrine yang tidak jaim sama sekali.
Krkkk ... krrrkkk ...
“Ahh perutkuu ... .” Ucap Cathrine sambil memegang perutnya.
“Aku lapar.” Sambung Cathrine sambil memelas.
“Wah, maafkan aku.” Ucap Arsel sambil tertawa.
“Kenapa kau yang minta maaf?.” Tanya Cathrine.
“Maafkan aku karna aku tida peka dan langsung membawakanmu makanan.” Jawab Arsel.
“Seharusnya aku yang minta maaf karna membuatmu menunggu dan kelaparan.” Ucap Cathrine.
“Tidak, aku bisa menahannya.” Jawab Arsel.
“Ayo kita makan-makanan kesukaanmu.” Ajak Arsel.
“Hmm, ayo.” Jawab Cathrine.
“Lets go ... .” Ucap Arsel.
“Lets gooooo ... .” Sambung Cathrine.
Mereka menaiki sepeda motor pergi mencari makanan kesukaan Cathrine dan berhenti di salah satu tempat yang Cathrine pilih.
“Kita makan disitu aja.” Tunjuk Cathrine.
“Baiklah.” Jawab Arsel sambil membelokkan sepeda motornya.
Setelah selesai makan, mereka segera bergegas kembali. Arsel mengantarkan Cathrine pulang kerumahnya.
“Ahh, kenyang sekali.” Ucap Cathrine.
“Sepertinya aku tidak sanggup berjalan.” Sambung Cathrine.
“Apakah kau ingin aku menggendongmu?.” Tanya Arsel.
“Hahaha, apa yang sedang kau katakan.” Jawab Cathrine.
“Kau ini selalu saja .. .” Sambung Cathrine.
“Ya kenapa?.”
“Tidak ada yang salah ka dengan ucapanku?.” Tanya Arsel.
“Salah.” Jawab Cathrine singkat.
“Ahh sekarang aku mengantuk.” Ucap Cathrine.
“Ayo, kita pulang.” Ajak Cathrine.
“Apa kau sudah bisa berjalan?.” Tanya Arsel.
“Akan ku paksa kaki ini untuk berjalan.” Jawab Cathrine sambil berdiri.
“Hahaha ... .” Arsel tertawa.
Arsel dan Cathrine mengendarai sepeda motor yang dibawa oleh Arsel secara perlahan sambil menikmati waktu bersama. Arsel memanfaatkan waktu bersamanya dengan Cathrine. Begitu pun juga Cathrine, ia menyandarkan kepalanya ke bahu Arsel dan memeluknya dari belakang. Arsel yang tidak berekspektasi apapun untuk pertemuan mereka kali ini sangat-sangat terkejut dan bahagia. Ia tidak menyangka Cathrine akan memulainya lebih dulu. Arsel tersenyum tersipu malu wajahnya memerah. Pasalnya ia tak pernah di peluk oleh wanita seperti saat ini.