“Maksudnya?.” Tanya Arsel lagi.
“Kamu anak baru yang kerja di kantor Pak Ammar dan Buk Seira, Kan?.”
“Apa aku salah?.” Tanya Kasir lagi.
“Ahh, iyah benar.” Jawab Arsel.
“Bagaimana mbak tau kalau saya anak baru?.” Tanya Arsel.
“Ohh itu ... .” Jawab Kasir.
Manager resto yang sedang memantau tamu tak sengaja melihat sang kasir sedang mengobrol dengan Arsel, Manager resto yang punya firasat buruk dengan sang kasir langsung menghampiri mereka.
“Kenapa mereka mengobrol lama sekali.” Ucap sang manager.
“Apa yang mereka bicarakan.”
“Sebaiknya aku menghampiri mereka. Sambung sang manager.
“Maaf, apa ada kendala lain?.” Tanya sang manager yang tiba-tiba menghampiri mereka.
Sang Kasir langsung kaget dan menjawab sedikit terbata-bata.
“Oh tidak Pak.” Jawab Arsel.
“Ini mas kartunya, terima kasih.” Ucap mbak Kasir memberikan kartu.
“Oh iya.” Jawab Arsel sambil mengambil kartunya.
“Terima kasih ya mas, jangan lupa datang lagi.” Sambung sang manager.
Arsel mengangguk dan pergi menuju parkiran tempat mobil Pak Ammar terparkir. Sang manager langsung menegur kasir.
“Apa yang sedang kamu lakukan?.”
“Apa sudah katakan kepadanya?.” Tanya manager mencecar sang kasir dengan banyak pertanyaan.
“Tidak ada, saya tidak mengatakan apa-apa, Pak.” Jawab sang Kasir.
“Mereka itu pelanggan tetap kita.”
“Jadi tolong jaga ucapanmu.” Ucap sang manager.
“Baik, Pak.” Jawab sang kasir menunduk.
“Silakan lanjutkan pekerjaanmu.” Ucap sang manager.
“Saya permisi, Pak.” Jawab sang kasir yang pergi melanjutkan pekerjaannya.
“Wah anak ini.”
“Hampir saja aku kehilangan pelanggan tetap ku.” Jawab sang manager sambil memantau tamu dan karyawan lain yang sedang bekerja.
“Apa yang sedang ingin dikatakan kasir itu?.”
“Bagaimana bisa dia mengetahui aku anak baru yang bekerja dengan Pak Ammar dan Buk Seira.”
“Apa wajahku begitu polos?.” Ucap Arsel sambil memegang wajahnya.
“Ah entahlah.” Jawab Arsel.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Arsel mengetuk kaca mobil terlebih dahulu lalu membuka pintu mobil dan duduk di samping Pak Ammar kembali.
“Apa ada kendala, Sel?.”
“Kenapa begitu lama?.” Tanya Pak Ammar yang heran Arsel di dalam terlalu lama.
“Maaf, Pak.”
“Manager dn kasirnya tadi mengobrol sebentar.” Jawab Arsel.
“Ahhh, begitu.” Jawab Pak Ammar.
“Ayo kita jalan, Pak.” Ucap Pak Ammar kepada supirnya.
Supir Pak Ammar mengangguk dan mulai mengemudikan mobilnya menuju kantor.
“Ini Pak kartunya.” Ucap Arsel sambil memberikan kartu kepada Pak Ammar.
“Oh iya.” Jawab Pak Ammar mengambil dan langsung menyimpan kartu tersebut.
“Apa masih tekejar kalau kamu balik ke kantor, Sel?.” Tanya Pak Ammar yang melihat ke arah jam yang ada di tangannya.
“Laporan saya belum selesai, Pak.” Jawab Arsel.
“Oh gitu, tapi ttd Pak Ridwan sudah kamu minta kan?. Tanya Pak Ammar.
“Sudah, Pak.”
“Segala keperluan untuk laporan yang di perlukan dari lapangan sudah saya selesaikan semua.” Jawab Arsel.
“Jadi, kenapa tidak besok saja kamu selesaikan?.” Tanya Pak Ammar.
“Mungkin kantor sudah tutup.” Jawab Pak Ammar.
“Hanya divisi lain satu dua orang paling yang lembur.” Sambung Pak Ammar.
“Apakah boleh begitu, Pak?.” Tanya Arsel melihat ke arah Pak Ammar.
“Saya tidak enak dengan yang lain.” Sambung Arsel.
“Tidak apa-apa.” Jawab Pak Ammar.
“Kalau kamu mau ya udah besok saja dikerjakan laporannya.”
“Jangan terlalu kali.” Jawab Pak Ammar.
“Tapi, Pak tetap saja saya harus ke kantor.” Ucap Arsel.
“Kenapa begitu?.”
“Apa yang membuatmu sangat ingin untuk kembali ke kantor.” Ucap Pak Ammar.
“Saya baru teringat, Pak.”
“Kalau sepeda motor saya masih terpakir di parkiran kantor.” Jawab Arsel.
“Ahhhh, dasar kamu ini.” Ucap Pak Ammar.
“Saya kira ada apa.” Sambung Pak Ammar sambil menepuk pundak Arsel.
“Hehehh.” Arsel sedikit tertawa.
“Kita singgah ke kantor ya, Pak.” Ucap Pak Ammar kepada supirnya.
“Baik, Pak.” Jawab supir Pak Ammar.
Arsel yang sudah sangat senang untuk tidak kembali ke kantor dan mengerjakan laporan di tunda sampai besok ternyata harus kembali ke kantor, sebab sepeda motor Arsel masih terparkir di parkiran kantor. Mau tidak mau dia harus kembali ke kantor. Mobil Pak Ammar balik arah dan melaju kearah kantor.
“Maafkan saya Pak.” Ucap Arsel.
“Ah tidak apa-apa.” Jawab Pak Ammar.
“Jadi bagaimana di kantor?.” Tanya Pak Ammar.
“Lebih suka bekerja di dalam ruangan apa di lapangan.” Sambung Pak Ammar.
“Bagaimana ya Pak.”
“Saya tidak bisa memilih di antara keduanya.” Jawab Arsel.
“Kenapa begitu?.”
“Atau kamu tidak suka keduanya?.” Tanya Pak Ammar lagi.
“Ahh bukan seperti itu, Pak.” Jawab Arsel.
“Lantas?.” Tanya Pak Ammar.
“Saya rasa keduany memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga saya tidak bisa membandingkannya, apalagi disuruh memilih.”
“Jelas tidak bisa, saya suka bekerja di dua tempat itu.” Jawab Arsel.
“Hmm, begitu ya.” Ucap Pak Ammar.
“Iyah, Pak.” Jawab Arsel sambil mengangguk.
“Jadi, kamu sudah siap untuk proyek baru kita?.” Tanya Pak Ammar membahas proyek baru.
“Dengan dukungan dari bapak, bismillah saya siap Pak.” Jawab Arsel penuh dengan percaya diri.
“Bagus ... .”
“Saya suka semangat kau yang membara seperti ini.” Jawab Pak Ammar.
“Oh ya Pak.”
“Kalau boleh tau diantara yang lain kenapa Bapak begitu yakin memilih saya.”
“Apa yang membuat Bapak begitu mempercayai saya?.” Tanya Arsel memberanikan diri bertanya kepada Pak Ammar tentang kenapa dia yang di percaya untuk menangani proyek ini.
“Ehmm gimana, ya.”
“Sampai sekarang juga saya sebenarnya belum begitu yakin kepada kamu.” Jawab Pak Ammar.
“Terus, Pak?.” Tanya Arsel penasaran.
“Tapi saya melihat beberapa poin ada dalam diri kamu.”
“Dan itulah mengapa saya merekomendasikan kamu.”
“Sebenarnya ada beberapa nama yang sudah saya ajukan kepada Buk Seira.”
“Salah satunya kamu, dan Buk Seira sepertinya juga menyukai kinerja kamu.”
“Jadi untuk saat ini dia akan fokus ke kamu.” Jawab Pak Ammar.
“Kalau kinerja saya buruk dalam sebulan ini, apakah saya akan di gantikan?.” Tanya Arsel serius.
“Jelas.” Jawab Pak Ammar singkat.
“Wahh, tanpa ada pertimbangan?.” Tanya Arsel lagi.
“Iyah, tanpa ada pertimbangan.”
“Kamu akan langsung di gantikan dengan yang lain.”
“Buk Seira tidak main-main dalam setiap proyek, ia benar-benar memilih orang-orang yang berkualitas untuk menjalankan proyeknya.”
“Jadi, begitu kinerja kamu buruk, ya uda out and cut.” Jawab Pak Ammar.
“Wahh, ketat sekali ya Pak.” Jawab Arsel yang merasa dirinya harus lebih totalitas dalam pekerjaannya.
“Dan backup untuk menggantikan kamu itu sebenarnya sudah ada.” Tambah Pak Ammar.
“Buk Seira pasti menerima rekomendasi dari divisi lain, dan mereka juga dalam sebulan ini akan dilihat kinerjanya.”
“Jadi pastikan kamu memang pantas untuk ikut serta dalam proyek ini.” Jawab Pak Ammar.
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak.” Jawab Arsel.
“Ya, harus.” Ucap Pak Ammar.
“Bukan cumakamu yang dilihat kinerja dan usahanya dalam sebulan ini.”
“Saya juga akan dapat penilaian dari Buk Seira.”
“Sebab saya akan menjadi penanggung jawab proyeknya nanti.”
“Buk Seira memang masih sangat muda, dia seumuran kamu. Tapi kalau soal pekerjaan dia sangat jeli dan tidak main-main.”
“Eksekutif saja bisa di pecat sama dia apalagi yang seperti kita ini.”
“Koneksi hanya membantu sedikit, kinerja dan usaha kamu yang menentukan hasilnya.” Sambung Pak Ammar.
“Wah Buk Seira memang sangat keren sekali.” Jawab Arsel yang kagum kepada Buk Seira.
“Dia di kantor di segani oleh semua orang baik atasan maupun bawahan.”
“Kalau orang belum mengenal dan tidak pernah bekerja dengannya akan mengira di menjadi manager karna privilege dari orang tuanya.”
“Padahal dia merangkak dari bawah sampai bisa menjadi manager seperti ini.” Ucap Pak Ammar yang berbicara tentang Buk Seira.
Pak Ammar dan Arsel banyak mengobrol saat itu, Arsel banyak mendapat informasi dari Pak Ammar. Pak Ammar tak segan memberitahu karakter orang di kantor yang sebaiknya di hindari ataupun sebaliknya.
Di tempat lain, Buk Seira juga masih dalam perjalanan menuju kantor. Ia kembali ke kantor untuk mengerjakan sesuatu, ia lebih suka bekerja hingga larut malam daripada pulang cepat kerumahnya.
“Ahh, kenapa telingaku gatal sekali.” Ucap Buk Seira yang berada di dalam mobilnya.
“Apa ada yang sedang menceritakan ku.” Sambung Buk Seira.
Mobil Pak Ammar akhirnya berhenti di depan kantor, Arsel turun untuk mengambil sepeda motornya. Nampak dari jauh Karina yang baru keluar dari kantor melihat Arsel turun dari mobil Pak Ammar dan tak sengaja berpapasan dengannya.
“Hei ... .” Sapa Karina.
“Oh hai ... .” Jawab Arsel.
“Baru pulang?.” Tanya Arsel.
“Hmm, iya nih.” Jawab Karina.
“Kamu? Baru datang?.” Tanya Karina.
“Ahh, aku?.”
“Iyah, baru sampai.” Jawab Arsel.
“Kenapa bisa bareng dengan Pak Ammar?.” Tanya Karina penasaran.
“Oh itu, tadi dia habis dari lapangan.” Jawab Arsel.
“Hmm gitu.” Jawab Karina.
“Kau mau pulang atau masuk lagi ke dalam?.” Tanya Karina.
“Aku juga masih bingung. Masuk atau pulang saja.” Jawab Arsel.
“Di dalam uda sepi sih, tapi masih ada satu atau dua orang yang tinggal.” Jawab Karina.
“Oh gitu.” Jawab Arsel.
“Bagaimana kalu kamu pulang saja.” Ucap Karina.
“Pulang?.”
“Laporanku belum selesai.”
“Aku harus segera menyiapkannya.”
“Takutnya besok aku malah kerepotan dengan tugas di lapangan.” Jawab Arsel.
“Apa mau aku temani?.” Tanya Karina sedikit memaksa.
“Ahh tidak usah, sebaiknya kamu pulang saja.”
“Matahari hampir tidak terlihat.” Ucap Arsel.
“Tidak apa-apa.”
“Aku memiliki banyak waktu.” Jawab Karina.
Karina tetap memaksa Arsel untuk memilih antara pulang bersamanya atau mengerjakan laporan di temani olehnya. Arsel yang tidak tau harus menolak Karina bagaimana lagi akhirnya putus asa dan memutuskan untuk mengerjakan laporan di temani oleh Karina.
“Baiklah, kalau kamu memaksa menemaniku.”
“Aku akan mengerjakan laporan dulu sebelum kembali pulang.” Ucap Arsel.
“Okeh, Kamu jalan duluan saja ke atas.”
“Aku mau membeli sedikit cemilan.” Jawab Karina.
“Tidak usah repot-repot.” Jawab Arsel.
“Biar aku saja yang membeli.”
“Kamu tunggu lah di atas.” Jawab Arsel yang tidak bisa membiarkan Karina membeli cemilan dengan uangnya.
“Hmm bagaimana kalau kita bersama-sama saja membeli cemilan.” Usul Karina.
“Hmmm, Okeh.” Jawab Arsel.
Saat mereka hendak pergi untuk membeli cemilan, ponsel Arsel kebetulan berbunyi. Cathrine menelpon Arsel dan mengajaknya bertemu mala itu.
Drttt... drttt ..
“Sepertinya ponselmu berdering.” Ucap Karina.
“Ahh benarkah?.” Ucap Arsel sambil mengambil ponsel yang berada di saku celananya.
“Ahh Cathrine .. .” Ucap Arsel sambil menjawab panggilan Cathrine.
“Ha Cathrine?.” Ucap Karina pelan.
“Aku mengangkat panggilan ini sebentar, ya.” Ucap Arsel kepada Karina sambil berjalan menjauh dari Karina.
“Hmmm, silakan.” Jawab Karina.
“Kenapa dia harus menjauh untuk menjawab panggilan dari Cathrine saja.” Ucap Karina sambil melirik ke arah Arsel.
“Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?.”
“Kenapa dia tersenyum seperti itu.”
“Cathrine menggangguku saja.”
“Ahhh, bikin orang kesal saja.” Sambung Karina.
Arsel yang menjauh dari Karina sedang menjawab panggilan dari Cathrine, wajah Arsel langsung bersemangat menjawab panggilan tersebut.
“Halo.. .” Jawab Arsel.
“Haloo ... .”
“Apa aku sedang mengganggumu?.” Tanya Cathrine.
“Tidak dong, mana mungkin kamu menggangguku.” Jawab Arsel.
“Yang benar?.” Tanya Cathrine.
“Iyah, kamu sedang dimana?.” Tanya Arsel.
“Aku?.”
“Hmmm, aku sedang berada di dekat kantormu.” Jawab Cathrine.
“Benarkah?.” Tanya Arsel.
“Iyah.” Jawab Cathrine.
“Kamu lagi dimana, Sel?.” Tanya Cathrine.
“Aku sekarang lagi di kantor.” Jawab Arsel.
“Apa kamu mau pulang bersama denganku?.” Tanya Arsel.
“Memangnya kerjaan kamu sudah siap?.” Tanya Cthrine lagi.
“Sudah.” Jawab Arsel sambil melihat ke arah Karina.
“Benar? Sudah?.” Tanya Cathrine memastikan.
“Iyah.” Jawab Arsel.
“Kamu share loc ya, biar aku langsung kesana.” Ucap Arsel.
“Tapi aku masih ada sedikit urusan yang belum selesai.” Ucap Cathrine.
“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu dan menemanimu disana.” Jawab Arsel.
“Baiklah, aku akan menunggumu disini.” Jawab Cathrine.
“Bye.” Ucap Arsel sambil mematikan ponselnya dan bergegas menghampiri Karina.
Arsel berlari menghampiri Karina dan meminta maaf tidak jadi mengerjakan laporan, saat ini ia harus menjemput Cathrine yang sudah menunggunya.
“Karina ... “ Panggil Arsel.