Arsel hanya mendengar Buk Seira dan Pak Ammar berbicara, ia menikmati makanan yang telah di pesan oleh Buk Seira untuknya.
“Wah enak sekali makanan ini.” Ucap Arsel.
“Biarkan sajalah mereka mengobrol yang penting aku bisa menikmati makanan ini.”
“Kapan lagi makan di tempat fancy seperti ini.” Tambah Arsel.
Pak Ammar yang sedang mengobrol dengan Buk Seira melihat ke arah Arsel, nampak Arsel tengah menikmati makanannya.
“Wahh, sedap sekali sepertinya makanan Arsel.” Ucap Pak Ammar.
“Biarkan saja dia, Pak.”
“Kita jangan mengganggunya.” Sambung Buk Seira.
“Ahh, Maafkan aku Pak.” Jawab Arsel.
“Aku jadi tidak enak.” Tambah Arsel.
“Ah tidak apa-apa.”
“Silakan lanjutkan, nikmati makananmu.” Jawab Pak Ammar.
“Baik Pak.” Jawab Arsel.
Arsel melanjutkan makannya, Pak Ammar dan Buk Seira kembali mengobrol sambil menikmati makanannya. Setelah Arsel selesai makan, Pak Ammar mulai mengajak ngobrol Arsel.
“Jadi begini, Sel.” Ucap Pak Ammar.
Baru ingin mengajak ngobrol, Ponsel Pak Ammar berdering. Pak Ammar meminta ijin kepada Buk Seira untuk menjawab ponselnya terlebih dahulu.
Drrrtt ... drttt
“Sepertinya saya harus mengangkat panggilan ini.” Ucap Pak Ammar melihat ke arah Buk Seira dan Arsel.
“Iyah Pak, silakan.” Jawab Buk Seira.
Pak Ammar pergi sedikit menjauh dari keramaian untuk mengangkat panggilan dari ponselnya.
“Kamu mau pesan yang lain?.” Tanya Buk Seira kepada Arsel.
“Ooh engga, Buk. Terima kasih.” Jawab Arsel.
“Arsel, saya dengar kamu akan menikah dala waktu dekat?.” Tanya Buk Seira lagi.
Uhukk... Hukkk..
Arsel langsung batuk mendengar pertanyaan Buk Seira yang sangat random dan tidak masuk akal.
“Wah kamu langsung batuk.”
“Berarti benar ya berita itu.” Ucap Buk Seira.
“Ibu mendengar kabar itu dari mana?.” Tanya Arsel.
“Jangan kan untuk menikah, punya pacar dalam waktu dekat saja pun saya belum tau Buk.” Jawab Arsel.
“Yang benar?.”
“Kamu tidak memiliki pacar?.” Tanya Buk Seira penasaran.
“Seperti itulah, Buk.” Jawab Arsel.
“Kalau jadi pacar saya mau?.” Tanya Buk Seira sambil menatap Arsel.
“Ha ... .” Ucap Arsel sambil melihat ke arah Buk Seira.
“Wah sepertinya ibu salah makan, deh.” Jawab Arsel.
“Saya serius.” Ucap Buk Seira.
“Saya juga serius.” Jawab Arsel.
“Wah kamu ya, benar-benar semakin membuat saya ingin memiliki kamu.” Ucap Buk Seira.
“Jangan gitu lah, Buk.”
“Saya kan jadi takut.” Jawab Arsel.
“Apa yang kamu takutkan?.”
“Saya kan seumuran sama kamu.”
“Cuma beda kelas jabatannya saja.” Ucap Buk Seira.
“Kalau di luar kantor ya kita setara.” Tambah Buk Seira.
Buk Seira sengaja menggoda Arsel, Dia hanya menebak apakah Arsel memang akan menikah dalam waktu dekat atau tidak. Buk Seira usianya di bawah Arsel satu tahun, tetapi ia memulai karir lebih dulu dan di percaya menjadi manager berkat kerja kerasnya dan orang tuanya yang memiliki andil besar di perusahaan itu.
“Jangan berbicara seperti itu lah, Buk.” Ucap Arsel.
“Mana mungkin seorang Buk Seira belum memiliki pacar.” Ucap Arsel lagi.
“Kalau memang belum kamu mau atau tidak?.” Tanya Buk Seira penasaran.
“Tidak.” Jawab Arsel cepat.
“Wah, kau ini ... .” Ucap Buk Seira yang langsung meminum air yang ada di gelasnya.
“Kau menolakku?.” Tanya Buk Seira.
“Aku tidak percaya.”
“Baru kali ini ada yang menolakku secara langsung seperti ini.” Sambung Buk Seira yang tak habis pikir Arsel langsung menolaknya walaupun itu hanya bercanda.
“Wah... .”
“Benar-benar aku tidak percaya.” Ucap Buk Seira.
“Maafkan aku, Buk.”
“Aku tidak bermaksud begitu.” Jawab Arsel.
“Apa Ibuk beneran tidak memiliki pacar?.” Tanya Arsel polos.
“Iyah, saya tidak memiliki pacar.” Jawab Buk Seira.
“Tapi kenapa ada cincin di jari manis Ibuk?.” Tanya Arsel yang melihat cincin terpasang di jari manis Buk Seira.
“Ohh ini.” Ucap Buk Seira sambil memperlihatkan cincin yang ada di jari manisnya.
“Ini dari tunangan saya.” Jawab Buk Seira santai tanpa ada beban.
“Eihh... tunangan?.”
“Saya tidak salah mendengarnya?.” Tanya Arsel yang kaget.
“Tidak.”
“Saya memang sudah bertunangan.” Jawab Buk Seira meyakinkan.
“Tapi kenapa Ibuk bilang belum memiliki pacar.” Tanya Arsel lagi.
“Pacar? saya memang tidak ada, karna saat ini saya memiliki tunangan.” Jawab Buk Seira sedikit tersenyum.
“Wah Buk Seira benar-benar pemain ya.” Ucap Arsel dalam pikirannya.
“Hahah.. .”
“Ibu ini bisa saja.” Ucap Arsel.
“Apa saya salah?.” Tanya Buk Seira.
“Perempuan selalu benar, Buk.” Jawab Arsel.
“Haahha ... .” Buk Seira tertawa.
Selagi menunggu Pak Ammar kembali, Arsel dan Buk Seira tertawa dan bercanda bersama. Sesekali Buk Seira menggoda Arsel, tapi Arsel tetap tidak termakan oleh bujuk rayu Buk Seira. Arsel yang sedikit polos ternyata berani menolak Buk Seira yang sedang menggodanya.
“Jadi Buk, saya ikut kesini itu mau ngapai ya sebenarnya?.” Tanya Arsel.
Akhirnya Arsel memberanikan diri untuk langsung bertanya kepada Buk Seira kenapa dia di ajak untuk bertemu dengan Buk Seira.
“Ohhh itu ... .”Ucap Buk Seira.
“Saya ingin mengenal kamu lebih dekat saja.” Ucap Buk Seira sambil bercanda.
Arsel yang merasa itu tidak lucu hanya diam saja menatap Buk Seira serius. Buk Seira yang sedang tertawa langsung berhenti melihat Arsel diam saja sedang menatap ke arahnya.
“Okehh .. okehh.. .”
“Akan saya beritahu.”
“Santai dong, jangan tegang begitu.” Ucap Buk Seira.
“Hmmm.” Jawab Arsel yang masih tetap diam.
“Baik ... baikk.”
“Rileks dong.”
“Kamu kemari karna saya akan memberimu pekerjaan.”
“Kamu saya percaya untuk memegang proyek baru yang akan segera di umumkan di perusahaan.”
“Tetap di bawah naungan Pak Ammar.”
“Seharusnya saya memberitahu ini disaat Pak Ammar bersama kita, tapi karena kamu sudah sangat memaksa jadi sekalian saja saya jelaskan.” Ucap Buk Seira.
“Proyek?.” Tanya Arsel.
“Iyah, jadi perusahaan kita itu menang tender dan akan dipilih orang-orang yang akan bertanggung jawab atas proyek tersebut.”
“Saya sebagai manager berhak memilih dan menolak orang-orang yang tidak seharusnya ada di proyek ini.” Ucap Buk Seira mulai serius.
“Sebelum perusahaan mengumumkan untuk memulai proyeknya, saya sudah harus mensortir orang-orang yang akan berada di dalamnya.”
“Setiap divisi menyarankan orang-orangnya, termasuk Pak Ammar.”
“Dia menyarankanmu menjadi salah satu yang harus ikut serta dalam proyek ini.”
“terlebih kamu masih anak baru masih memilki semangat bekerja, ya walaupun dalam pengalaman sama sekali tidak ada ya.” Ucap Buk Seira yang merasa Arsel tidak begitu menonjol.
“Tapi Pak Ammar bersikeras kamu masuk dalam proyek ini.”
“Jadi saya ingin meihat kinerja kamu unutuk sebulan ke depan.”
“Saya akan pantau terus setiap pergerakkanmu dalam bekerja.” Jawab Buk Seira.
“Bagaimana?.”
“Kamu mau?.” Tanya Buk Seira.
“Saya memang masih belum begitu banyak pengalaman, apalagi di bidang ini.”
“Terlebih saya juga baru masuk kerja beberapa hari.”
“Menurut saya ini terlalu cepat, tapi saya juga sepertinya tidak mungkin menolak kesempatan yang ada.”
“Apalagi ini bisa menunjang untuk karir saya ke depanya.”
“Pastinya setiap orang yang memiliki kemampuan dan pengalaman di mulai dari tidak mengetahui apa-apa.”
“Sama seperti saya, kalau belum mencoba mana mungkin kita tau apa yang terjadi apa hasilnya.”
“Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” Jawab Arsel mengulurkan tangannya kepada Buk Seira.
“Baiklah, berarti kamu sudah setuju.” Jawab Buk Seira menjabat tangan Arsel.
“Saya percaya Pak Ammar tidak akan salah dalam menilai orang, apalagi untuk proyek sebesar ini.” Tambah Buk Seira.
“Saya akan bekerja keras dan tak akan mengecawakan Pak Ammar yang sudah merekomendasikan saya.” Jawab Arsel.
Pak Ammar yang sedang berjalan menuju meja tempat Arsel dan Buk Seira menunggu melihat Arsel dan Buk Seira yang masih berbincang cukup serius. Pak Amar hanya melihat dari kejauhan sambil sedikit tersenyum. Sepertinya ia sudah tau jawaban Arsel dari raut wajah Buk Seira.
“Sepertinya Seira sudah menjelaskan kepada Arsel.” Ucap Pak Ammar.
“Haii ... .”
“Maaf ya, lama.” Ucap Pak Ammar.
“Ah tidak apa-apa, Pak.”
“Saya jadi memiliki banyak waktu bisa lebih dekat mengobrol dengan Arsel.” Jawab Buk Seira yang mulai menggoda Arsel lagi.
“Benarkah?.”
“Apakah itu artinya saat ini saya sedang mengganggu waktu kalian?.” Tanya Pak Ammar.
“Ya engga dong Pak.” Jawab Arsel spontan.
“Hahah... .” Buk Seira dan Pak Ammar tertawa melihat jawaban Arsel. Mereka tidak menyangka bahwa Arsel akan sepolos itu.
“Kenapa kamu polos sekali.” Ucap Buk Seira.
“Ahhh, Ibuk sedang menggodaku lagi.” Jawab Arsel tersipu malu.
“Jadi bagaimana? Kamu sudah menjelaskan kepadanya?.” Tanya Pak Ammar kepada Buk Seira.
“Sudah saya jelaskan kepadanya.” Jawb Buk Seira.
“Tebak dia menjawab apa?.” Tanya Buk Seira.
“Entahlah.”
“Aku pikir dia menolaknya.” Jawab Pak Ammar.
“Tebakan apak kali ini salah, bahkan dia langsung menerimanya.” Jawab Buk Seira.
“Benarkah?.” Tanya Pak Ammar yang tidak percaya.
“Kamu menerimanya?.” Tanya Pak Ammar lagi.
“Ehmm iyah, aku menerimanya.” Jawab Arsel.
“Aku memang tidak salah memilihmu.” Ucap Pak Ammar.
“Sepertinya kita nanti akan sering bersama.” Sambung Pak Ammar.
“Iyah, Pak.”
“Mohon bantuannya.” Jawab Arsel.
“Hmm.”
“Tenang saja, aku akan membantumu.” Jawab Pak Ammar sambil menepuk pundak Arsel.
“Jangan senang dahulu.” Ucap Buk Seira.
“Ha, kenapa?.” Tanya Pak Ammar.
“Aku harus melihat kinerjanya dulu selama sebulan ini.”
“Walaupun Pak Ammar yang merekomendasikan tapi tetap semua keputusan akan kita lihat setelah kinerja kamu sebulan kemudian.” Jawab Buk Seira yang masih belum yakin sepenuhnya kepada Arsel.
“Kamu harus buktikan kepada saya bahwa kamu mampu dalam mengelola proyek ini.” Sambung Buk Seira.
“Iyah, Sel. Benar apa kata Buk Seira.”
“Saya hanya bisa merekomendasikan untuk perwakilan dari divisi.”
“Tapi semuanya balik lagi ke kamu. Kalau kinerja kamu buruk yasudah kita cut, apalagi kamu masih sangat baru, jelas Buk Seira butuh sesuatu untuk meyakinkannya dengan melihat kinerja kamu. Ini proyek besar, tidak semua orang bisa ikut di dalamnya.” Ucap Pak Ammar.
“Beruntung kamu memiliki atasan seperti Pak Ammar, ia sangat memperhatikan karyawan di divisinya.”
“Apalagi anak baru, biasanya butuh waktu sekitar 3 tahun untuk bisa ikut di proyek besar seperti ini.” Ucap Buk Seira.
“Terima kasih Pak, karena telah percaya kepada saya dan merekomendasikannya kepada Buk Seira.” Jawab Arsel melihat ke arah Pak Ammar.
“Hmmm, sama-sama.”
“Saya juga tidak sembarangan merekomendasikan kamu.” Jawab Pak Ammar.
“Saya beberapa hari ini memperhatikan kamu dalam bekerja.”
“Saya lihat kamu memiliki potensi dalam bidang ini, hanya saja kamu belum menemukan cara untuk mengembangkannya.”
“Jadi saya ingin kamu benar-benar totalitas dalam proyek ini nanti ketika sudah berjalan.” Ucap Pak Ammar.
“Sebisa mungkin jangan kecewakan kami, terutama Pak Ammar.” Sambung Buk Seira
“Baik, Pak.”
“Saat ini saya belum bisa menjanjikan apapun.”
“Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin.” Jawab Arsel berusaha meyakinkan Buk Seira dan Pak Ammar.
Setelah berbincang cukup lama, Buk Seira dan Pak Ammar akhirnya kembali ke kantor masing-masing. Buk Seira masuk ke dalam mobilnya dan berangkat terlebih dahulu, begitu pun Pak Ammar dan Arsel mereka juga segera bergegas kembali ke kantor.
“Baiklah, sepertinya kita sudah cukup mengobrol untuk hari ini.” Ucap Buk Seira.
“Aku harus kembali ke kantor.” Tambah Buk Seira.
“Iyah, baiklah.”
“Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.” Sambung Pak Ammar.
“Aku permisi dulu.” Ucap Buk Seira sambil berjalan pergi menuju parkiran mobilnya.
“Iyah.” Jawab Pak Ammar.
“Kita juga sebaiknya segera kembali ke kantor.” Ajak Pak Ammar kepada Arsel.
“Iyah, Baik Pak.” Jawab Arsel.
“Ini kartu saya, sebaiknya kamu bayar dulu tagihan ini.” Ucap Pak Ammar sambil meberikan kartu untuk membayar makanan hari itu.
“Saya akan menunggu di mobil.’ Ucap Pak Ammar.
“Iyah, Pak.” Jawab Arsel sambil mengambil kartu yang diberikan Pak Ammar dan segera membayarnya.
Saat Arsel sedang membayar, Kasir yang melayani pembayarannya sedikit berbisik kepada Arsel.
“Kamu anak baru, ya?.”Tanya Kasir tersebut.
“Ha ... .” Jawab Arsel yang sedikit terkejut, bagaimana bisa dia tau kalau Arsel anak baru.