Arsel bersandar di pundak Pak Ammar ...

2124 Kata
Karina melihat ke arah ponselnya. “Difta?.” Ucap Karina “Bagaimana ini?.” “Apa yang harus ku katakan padanya.” “Padahal aku yang sudah janji kepadanya, tapi malah aku juga yang membatalkan pertemuan ini.” Setelah berpikir, akhirnya Karina menjawab panggilan Difta dan meminta maaf harus membatalkan makan siang kali ini.                “Haloo ... .” Ucap Karina.                “Halo sayang.”                “Kenapa kamu lama sekali menjawab panggilan dariku.” Tanya Difta.                “Ahhh itu ... .” Jawab Karina. Belum sempat Karina menjawab,  Difta langsung memotong pembicaraan Karina.                “Kamu sedang sibuk, ya?.” Tanya Difta.                “Aku juga.”                “Apa sebaiknya kita tidak usah makan siang bersama dulu hari ini?.” Tanya Difta lagi.                “Ahh begitu.”                “Ternyata kamu juga sedang sibuk.” Ucap Karina lega.                “Baiklah, lain kali saja kita makan siang bersama.”                “Kembali lah bekerja.” Sambung Karina lagi.                “Iyah, sayang.” Jawab Difta                “Baiklah.”                “Bye.” Ucap Difta sambil menutup panggilannya. Ternyata Difta yang membatalkan pertemuan untuk makan siang bersama. Karina yang tadinya merasa bersalah menjadi lega karena Difta.   “Akhirnya aku bisa mengerjakan laporan ini dengan tenang.” Ucap Karina sambil melanjutkan pekerjaannya. Karina berusaha secepat mungkin untuk mengerjakan laporan yang harus di serahkan 15 menit lagi. Sesekali Karina melirik ke arah jam, memastikan bahwa ia memiliki sedikit waktu untuk menyiapkan laporan tersebut. Teman Karina yang tidak memiliki pekerjaan deadline melihat Karina sedang panik dan fokus pada komputer yang ada di depannya, datang menghampiri Karina dan menawarkan bantuan. “Karina, apa kau perlu bantuanku?.” Tanya Ara teman dekat Karina. “Ahh, tidak usah.” Karina menolak. “Sebentar lagi juga selesai.” Jawab Karina. “Pergilah makan siang, jangan menungguku.” Sambung Karina. “Apakah kamu yakin tidak perlu bantuanku?.” Tanya Ara lagi memastikan. “Hmmm, tentu saja aku yakin.” Jawab Karina. “Baiklah aku pergi makan siang dulu.” Ucap Ara sambil meninggalkan Karina. “Hmmm.” Jawab Karina tersenyum. “Apa aku benar-benar sendirian kali ini?.” Ucap Karina sambil melihat ke sekeliling. Karina berada di ruangannya sendirian, ia menolak bantuan yang ditawarkan oleh Ara teman dekatnya dan tidak bisa ikut makan siang bersama mereka. Tak berselang lama, akhirnya Karina menyelesaikan laporannya dan segera mengirimkannya ke atasan.  “Ahhhh akhirnya selesai juga.” Ucap Karina. “Sebaiknya aku segera mengirimkan ini.” Sambung Karina.   Setelah mengirimkan laporan ke atasannya, Karina berniat untuk pergi membeli makanan. Saat Karina ingin pergi ponselnya kembali berbunyi. Karina duduk kembali dan mengangkat ponselnya terlebih dahulu. “Halo, Selamat siang. “Iyah Pak.” Ucap Karina. Ternyata atasan Karina yang baru saja menerima email menelpon Karina, dan memberitahu bahwa laporan itu tidak harus dikirimkan sekarang, laporan yang deadline adalah laporan yang lain. Karina panik dan langsung terdiam. “Benarkah?.” Tanya Karina. “Bukan yang ini, Pak?.” “Aku sudah mengerjakan sesuai dengan arahan Bapak.” “Yang di map biru di atas meja Bapak sebelah vas bunga.” Ucap Karina memastikan tidak ada yang salah. “Apakah kamu tidak membacanya dengan benar?.” Ucap atasan Karina. “Betul, aku menyuruhmu mengerjakan laporan yang ada di map biru sebelah vas bunga.” “Tapi, itu yang di sebelah kanan.” “Bukan yang di sebelah kiri.” Sambung atasan Karina. “Haa?, sebelah kanan?.” Ucap Karina yang berusaha mengingat isi pesan dari atasannya. “Bacalah kembali pesanku.” “Sebentar lagi rapat akan di mulai.” “Kamu hanya memiliki waktu sekitar 25 menit.” “Tolong jangan membuang waktu.” “Segera kerjakan kembali.” Ucap atasan Karina sambil menutup panggilananya. “Baik, Pak. akan saya usahakan.” Jawab Karina. Karina yang sudah berusaha semaksimal mungkin menyiapkan laporan tepat waktu dipatahkan oleh perkataan atasannya yang ternyata, Karina salah mengambil map yang ada di meja kerja. Bahkan ia sampai melewatkan makan siang demi mengerjakan laporan tersebut. Kini, Karina memulai dari awal lagi. Ia hanya memiliki waktu dua puluh lima menit sampai rapat dimulai. “Apa yang terjadi denganku.” “Bagaimana bisa aku melakukan kesalahan seperti ini.” “Apa yang menggangguku sampai aku bisa tidak fokus begini.” Ucap Dania yang mulai mengerjakan laporan lagi. “Aku lapar.” “tapi Aku harus menyelesaikannya dalam waktu dua puluh lima menit.” “Wahhhh, aku tidak sanggup.” Ucap Karina. Karina berusaha mengerjakan laporan itu kembali, sebisa mungkin kali ini ia takkan melakukan kesalahan lagi.   Di tempat lain, Arsel yang masih berada di lokasi zona 3 nampak telah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari itu, Pak Ridwan sebagai kepala proyek untuk zona 3 menyuruh Arsel untuk beristirahat. “Akhirnya selesai juga ya, Sel.” “Pekerjaan kita untuk hari ini.” Ucap Pak Ridwan. “Iyah ya, Pak.” “Aku tidak menyangka bahwa akan secepat ini.” Jawab Arsel. “Ini berkat panduan dari kamu.” Ucap Pak Ridwan. “Bapak bisa saja.” Jawab Arsel. “Sudah, sebaiknya kamu segera istirahat.” Suruh Pak Ridwan. “Segera kerjakan laporanmu dan kembali ke kantor secepatnya.” Tambah Pak Ridwan. “Baik, Pak.” “Saya permisi dulu.” Jawab Arsel pergi untuk mencari makan siang. Mereka berpisah, Arsel langsung mengendarai sepeda motornya dan pergi mencari makan siang di sekitar lokasi dekat zona 3. Saat makan siang, Arsel langsung memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk mengerjakan laporan karena ia teringat akan perkataan Pak Ridwan bahwa, ia tidak di lokasi setelah makan siang. Tak perlu menunggu lama, Arsel langsung menghabiskan makan siangnya dengan secepat mungkin dan segera kembali ke zona 3. Dia ingin segera kembali ke kantor untuk beristirahat karena pekerjaannya di lapangan telah rampung. “Aku harus segera kembali, sebelum Pak Ridwan menunggalkan lapangan.” Ucap Arsel.   Arsel pun bergegas kembali ke lapangan untuk menemui Pak Ridwan, ia sedikit menambah kecepatan sepeda motornya menuju zona 3. Setelah sampai dan bertemu Pak Ridwan, Arsel langsung bergegas menuju kantor dengan sepeda motornya. “Ah, aku tidak menyangka bisa kembali ke kantor jam segini.” Ucap Arsel. Saat sedang di jalan menuju kantor, ponsel Arsel berdering. Arsel yang sedang mengendarai sepeda motornya tak begitu mendengar dering ponselnya. Begitu sampai di kantor, Arsel memarkirkan sepeda motornya dan berjalan masuk ke dalam, ponsel Arsel berdering kembali. “Haloo .. .” Ucap Arsel. “Iyah, Pak.” “Saya baru saja sampai di kantor.” Ucap Arsel lagi. “Bisa kamu ikut saya sebentar?.” Tanya Pak Ammar. Ternyata Pak Ammar yang daritadi menelpon Arsel. Pak Ammar meminta Arsel untuk menemaninya sebentar. Arsel yang tidak tau mau kemana hanya mengikuti perintah Pak Ammar saja. “Kalau  boleh tau ikut Bapak kemana ya?.” Tanya Arsel. “Kamu keluar sekarang, lihat mobil saya kan?.” Ucap Pak Ammar yang tidak menjawab pertanyaan Arsel sebelumnya. “Ah ituu, lihat Pak.” Jawab Arsel. “Saya tunggu sekarang, ya.” Ucap Pak Ammar menutup telponnya. “Kenapa dia bisa tau kalau aku baru saja sampai disini.” Ucap Arsel sambil berjalan menuju mobil Pak Ammar yang terparkir di bahu jalan depan kantor. “Mau kemana, ya?.” Tanya Arsel. “Kenapa dia tidak memberitahuku.” Ucap Arsel sambil bertanya-tanya.   Pak Ammar sudah menunggu Arsel di dalam mobil. Arsel mengetuk kaca mobil Pak Ammar, supir Pak Ammar turun dan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Arsel masuk. Ia duduk di samping Pak Ammar. “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?.” Tanya Pak Ammar membuka obrolan. “Sejauh ini baik, Pak.” “Hari ini pekerjaan rampung lebih cepat dari yang di perkirakan.” Jawab Arsel. “Wah, bagus dong kalau begitu.” “Sepertinya lokasi saat ini lebih mudah dari lokasi sebelumnya, ya.” Ucap Pak Ammar. “Aku juga belum begitu yakin Pak.” “Karna baru memulainya hari ini.” Sambung Arsel. “Ahh, begitu.” Jawab Pak Ammar. “Hmmm ... .” “Kalau boleh tau kita akan pergi kemana, pak?.” Tanya Arsel. “Kau akan tau setelah kita sampai.” “Tunggu saja.” Ucap Pak Ammar sambil tersenyum. “Ahh, baiklah.” Jawab Arsel. Mobil Pak Ammar menuju ke suatu tempat yang dimana Arsel tidak mengetahui tujuan tempat itu. Arsel hanya duduk diam sambil melihat kemana arah mobil itu melaju. Setelah berjalan cukup lama, mobil Pak Ammar pun berhenti, Pak Ammar memanggil Arsel. “Arsel... .” Panggil Pak Ammar. “Arsell.. .” Panggil Pak Ammar lagi. “Hmm .. .” Ucap Arsel. “Arsel.” Pak Ammar masih memanggil Arsel. “Hmm.” Jawab Arsel lagi sambil menoleh ke arah Pak Ammar. “Kamu sudah bangun?.” Tanya Pak Ammar. “Ah, maafkan aku Pak.” Jawab Arsel sambil membersihkan pundak Pak Ammar. “Maafkan aku, Pak.” “Kenapa Bapak tidak membangunkanku.” Ucap Arsel lagi. “Ah bagaimana ini, kemeja bapak sepertinya kotor karna ulahku.” Tambah Arsel lagi. Ternyata sepanjang perjalanan Arsel ketiduran di pundak Pak Ammar, Pak Ammar membiarkan Arsel bersandar di bahunya sampai ke tempat tujuan. “Sepertinya kamu kelelahan.” Ucap Pak Ammar. “Bagaimana aku bisa bersandar di pundak bosku.” Ucap Arsel. “Sudah tidak apa-apa.’” “Aku yang sengaja membiarkanmu tidur di pundakku.” Jawab Pak Ammar. “Sebaiknya ayo kita turun.” “Seseorang sudah menunggumu di dalam.” Ucap Pak Ammar sambil membuka pintu dan turun dari mobil. “Hmm, seseorang?.” “Siapa yang sedang menungguku?.” Tanya Arsel dalam pikirannya. “Ahh, aku sangat malu sekali.” Ucap Arsel sambil turu dari mobil dan mengikuti Pak Ammar masuk ke dalam cafe.”   Arsel berjalan masuk ke dalam cafe mengikuti Pak Ammar. Seseorang sudah menunggu di dalam, nampak Pak Ammar dari jauh sudah tersenyum sambil membuka pintu cafe. “Siapa itu?.” Tanya Arsel. “Sepertinya aku pernah melihat wanita itu.” Ucap Arsel lagi. “Buk Seira?.” “Benarkah itu Buk Seira.” Ucap Arsel sambil mendekat menuju meja tempat wanita itu duduk. “Wah, kenapa ada Buk Seira.” Sambung Arsel. Arsel semakin heran, seseorang yang menunggunya ternyata adalah Buk Seira manager yang pernah ia temui di lokasi yang lama. “Kenapa Buk Seira ada disini dengan Pak Ammar.” “Dan kenapa Buk Seira ingin menemuiku.” Ucap Arsel.   “Hai... .” Sapa Buk Seira. “Hai.” Jawab Pak Ammar. “Akhirnya Bapak berhasil membawa dia ikut kesini juga, ya.” Ucap Buk Seira. “Ya dong, demi kamu aku mengatur jadwal agar bisa membawanya kemari.” Jawab Pak Ammar. “Arsel kenapa berdiri saja?.” Tanya Buk Seira. “Ayo duduk sini.” Ucap Pak Ammar. “Oh iyah Pak.” Jawab Arsel langsung duduk di sebelah Buk Seira. “Kamu mau pesan apa?.” Tanya Buk Seira kepada Arsel sambil memanggil pelayan. “Aku .. .” Jawab Arsel yang tidak tau harus memesan apa. “Samakan saja sama sepertiku, seperti biasa.” Sahut Pak Ammar. “Hmm... .” “Baiklah.” Jawab Buk Seira sambil memesan minuman. “Dia sedang lelah, pesankan kopi juga.” Tambah Pak Ammar. “Benarkah?.” “Apa pekerjaanmu begitu sulit?.” Tanya Buk Seira. “Aku akan menelpon Pak Ridwan, agar dia tidak terlalu keras denganmu.” Ucap Buk Seira sambil mengambil ponselnya. “Ah, apa yang ibu lakukan.” Ucap Arsel. “Jangan Buk.” “Pak Ridwan sangat baik padaku.” “Aku saja yang hanya sedikit ngantuk karena mobil Pak Ammar sangat nyaman.” Tambah Arsel. “Kau yakin?.” Tanya Buk Seira meyakinkan. “Iyah, aku yakin Buk.” Jawab Arsel. “Baiklah.” “Aku tidak akan menelponnya.” Jawab Buk Seira sambil meletakkan ponselnya kembali. Pak Ammar hanya melihat Buk Seira dan Arsel saling meyakinkan satu sama lain, dia membiarkan mereka bersama untuk sementara waktu. Buk Seira yang melihat Pak Ammar sedang memperhatikannya langsung mengajak ngobrol Pak Ammar. “Ah maafkan kami, Pak.” “Kami terbawa suasana.” Ucap Buk Seira. “Terbawa suasana apanya.” Ucap Arsel pelan. “Ooh tidak apa-apa.” “Silakan lanjutkan.” Jawab Pak Ammar. “Aku kan memang sengaja membawanya kemari untuk bertemu denganmu.” Sambung Pak Ammar. “Bertemu denganku?.” Tanya Arsel menatap ke arah Buk Seira. “Iyah.” “Aku rindu denganmu.” “Untung ada Pak Ammar.” “Jadi aku bisa melihatmu walaupun sebentar.” Ucap Buk Seira menatap Arsel. “Hahaha... .” Pak Ammar tertawa mendengar ucapan Buk Seira. “Sudah lah.” “Jangan menggodanya terus.” Ucap Pak Ammar kepada Buk Seira. “Apa actingku begitu buruk?.” Ucap Buk Seira. “Sampai-samapi bapak tertawa seperti itu.” Sambung Buk Seira. “Karna Actingmu sangat bagus makanya aku menyuruhmu untuk menyudahinya.” “Aku takut dia akan berpikiran yang aneh-aneh.” Ucap Pak Ammar. Arsel semakin bingung dengan percakapan antara Pak Ammar dan Buk Seira, ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN