“Buk, Sepertinya Arsel sedang berjalan menghampiri saya.” Ucap Pak Ridwan
“Bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan ini nanti saja.” Tanya Pak Ridwan.
“Iyah, baik Buk.” Sambung Pak Ridwan sambil mematikan ponselnya.
“Buk?.” Ucap Arsel.
“Pak Ridwan sedang berbicara dengan siapa.”
“Sepertinya aku mengenal nada suaranya.” Ucap Arsel yang mendengar sama-samar oramg yang menelpon Pak Ridwan.
Arsel melihat sepertinya ada yang sedang di sembunyikan oleh Pak Ridwan, tapi karna ia anak baru dan tentu saja itu bukan menjadi urusannya, ia tidak ingin berpikiran lebih jauh. Arsel menghampiri Pak Ridwan.
“Ada apa, Sel?.” Tanya Pak Ridwan.
“Oh itu, Pak.”
“Pemasangan beton menggunakan alat berat telah siap dilakukan.” Sambil menunjuk ke arah proyek.
“Mereka ingin Bapak segera mengeceknya.” Jawab Arsel.
“Oh iyah, sudah selesai ya.”
“Ayo kita kesana. Biar kita cek bersama.” Ajak Pak Ridwan.
Arsel dan Pak Ridwan berjalan bersama untuk mengecek hasil pemasangan alat berat yang dilakukan oleh pekerja. Pak Ridwan sesekali melirik ke arah Arsel. Arsel yang mengetahui Pak Ridwan sesekali memandangnya langsung menegur Pak Ridwan.
“Ada apa, Pak?.” Tanya Arsel.
“Ada apa?.”
“Maksudnya?.” Tanya Pak Ridwan balik.
“Kenapa Bapak memandangku seperti itu.” Ucap Arsel.
“Ha?.”
“Memandang siapa?.” Tanya Pak Ridwan heran.
“Maaf Pak, Sepertinya aku salah.” Jawab Arsel.
“Oh, maksudmu dari tadi aku melihat ke arah kiri karna ingin memandangmu, gitu?.” Tanya Pak Ridwan memastikan.
“Hemm.” Jawab Arsel sambil mengangguk.
“Astagaa ... .” Pak Ridwan sedikit tertawa.
“Coba kau lihat ke arah kiri.”
“Lihat siapa itu yang turun dari mobil.” Ucap Pak Ridwan.
“Ahh .. .” Ucap Arsel sambil menoleh ke arah kirinya.
Ternyata ada seseorang yang datang ke zona 3 tempat lokasi Arsel, Arsel yang sudah salah paham dengan Pak Ridwan langsung meminta maaf. Ia tak menyangka bahwa Pak Ridwan melihat ke arah lain.
“Ohh, ada yang datang, ya.”
“Siapa itu?.” Arsel bertanya-tanya.
“Oh maafkan aku atas kesalahpahaman tadi Pak.” Ucap Arsel.
“Aku tidak melihat ke arah sana.” Sambung Arsel.
“Oh iyah tidak apa-apa.” Sambil menepuk pundak Arsel.
“Tapi itu siapa, ya?.” Tanya Arsel lagi.
“Ah sudah, biarkan saja.”
“Kalau dia perlu dia akan datang pada kita.” Jawab Pak Ridwan menghampiri pekerja yang lain.
“Sudah sini, perhatikan ini.” Ucap Pak Ridwan kepada Arsel yang masih memperhatikan seseorang yang baru saja tiba ke lokasi.
“Ahh, iyah Pak.” Jawab Arsel mendekat ke arah Pak Ridwan.
Arsel dan Pak Ridwan mengalihkan pandangannya dari orang tersebut, mereka melanjutkan pekerjaannya yang sudah di mulai sejak pagi.
Di tempat lain Pak Ammar yang sedang minum kopi dengan Pak Lutfi nampak sedang membicarakan hal yang serius.
“Jadi begitu, ya.” Ucap Pak Lutfi.
“Iyah, jadi sekarang aku tidak ingin permasalahan yang sama muncul kembali.”
“Kali ini tolong bantu aku.” Ucap Pak Ammar.
“Sebisa mungkin aku akan membantumu.” Jawab Pak Lutfi.
“Tapi aku membantu juga ada batasnya.”
“Aku tidak ingin terlalu jauh terlibat dalam masalahmu lagi.”
“Apalagi kali ini, Buk Seira sepertinya tertarik denganmu.” Ucap Pak Lutfi lagi.
“Iyah, terima kasih karna mau membantuku.” Jawab Pak Ammar
“Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa menyukaiku.”
“Aku takut kalau istriku sampai mengetahui tentang dia.” Sambung Pak Ammar.
“Kamu sendiri kan tau bagaimana istriku.”
“Bisa hilang dia dari muka bumi ini.” Ucap Pak Ammar sambil tertawa.
“Hahahah ... .” Pak Lutfi ikut tertawa.
“Iyah, aku jadi ingat kejadian tahun lalu.”
“Saat istrimu datang ke kantor dan menyiram anak baru dengan kopi yang di bawanya.” Ucap Pak Lutfi yang menceritakan kejadian tahun lalu di kantor Pak Ammar.
“Wah kalau ingat waktu itu, aku sangat malu.”
“Kita lagi mengadakan rapat dengan para pimpinan.”
“Bisa-bisanya dia datang langsung mengacaukan segalanya.” Ucap Pak Ammar.
“Aku yang tidak tau apa masalahnya juga kena oleh istrimu.” Jawab Pak Lutfi yang kesal kalau mengingat hari itu.
“Maafkan istriku, ya.”
“Sepertinya dia takut kehilanganku.” Ucap Pak Ammar.
“Kamu tau kalau dia takut kehilanganmu sejak duduk di bangku SMA, dia begitu sangat mencintaimu tapi kamu malah sering membuat masalah.”
“Ahh, aku tidak habis pikir denganmu.” Jawab Pak Lutfi.
Pak Lutfi dan Pak Ammar adalah teman akrab semasa SMA, mereka sangat dekat hingga saat ini. Hanya saja saat ini lokasi pekerjaan mereka yang membuat mereka memiliki sedikit jarak.
“Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya.” Ucap Pak Ammar yang ingin mengalihkan pembicaraan.
“Menurutmu Buk Seira orang yang seperti apa?.” Tanya Pak Ammar.
“Ahh kau ini, mulai lagi.” Jawab Pak Lutfi sambil menyuruput kopinya.
“Bukan seperti itu, aku hanya sekedar ingin tau.”
“Kan dia sering datang untuk visit ke lapangan bersamamu.” Ucap Pak Ammar.
“Entah lah.”
“Aku tidak begitu tau, dia nampak seperti orang yang berbeda pada saat di luar jam kerja.” Jawab Pak Lutfi.
“Begitukah?.” Tanya Pak Ammar.
“Hmmm.”
“Kamu masih ingat saat Arsel masuk mengantar kopi ke ruanganku saat itu?.” Tanya Pak Lutfi.
“Ha ingat, memangnya ada apa?.” Tanya Pak Ammar penasaran.
“Sebelum masuk ke ruanganku dan bertemu denganmu, Buk Seira memintaku untuk menjadikan Arsel menggantikan aku di lapangan.” Ucap Pak Lutfi
“Aku tidak keberatan, tapi sepertinya Buk Seira punya maksud lain.”
“Mereka menjadi sangat dekat saat itu, tapi ketika Buk Seira bersamamu .. .”
“ia bahkan tidak melirik Arsel sedikitpun.” Sambung Pak Lutfi.
“Wah benarkah?.”
“Kenapa dia tidak melirik Arsel?.”
“Bukankah Arsel terlihat lebih tampan bahkan mereka sepertinya seumuran.” Jawab Pak Ammar.
“Aku juga tidak mengerti.”
“Kenapa dia lebih menyukaimu yang sudah tua ini.” Ucap Pak Lutfi.
“Wah, kau ini.”
“Kenapa kau terus mengatakan aku sudah tua.” Jawab Pak Ammar.
“Apakah Buk Seira memang menyukai yang lebih tua?.” Tanya Pak Lutfi.
“apa mungkin dia menyukai lelaki yang sudah memiliki pengalaman.” Sambung Pak Lutfi lagi.
“Aku tidak tau, aku sedang tidak ingin memikirkannya.” Jawab Pak Ammar.
“Oh, ya. Arsel bagaimana bisa kau masukkan dia ke zona 3?.” Tanya Pak Ammar.
“Ahh itu.”
“Aku juga tidak begitu mengetahuinya.”
“Aku menerima email langsung dari kantor pusat untuk penempatan mereka.” Jawab Pak Lutfi.
“Benarkah?.”
“Apa kantor pusat juga sekarang mengurus tentang penempatan pekerja di lapangan?.” Tanya Pak Ammar heran.
“Itulah faktanya.” Jawab Pak Lutfi singkat.
“Apa tidak bisa kalau Arsel di pindah ke kantor mu saja?
“Tidak usah turun ke lapangan.” Ucap Pak Ammar.
“Kenapa begitu?.” Tanya Pak Lutfi heran.
“Aku kasihan melihatnya terkena panas di bawah sinar matahari.”
“Sayang sekali kulitnya yang cerah itu akan merah apabila terkena panas.” Jawab Pak Ammar.
“Ahhgg, lagi-lagi kau ini.”
“Selalu memperhatikan hal-hal yang tidak penting.” Jawab Pak Lutfi.
Setelah berbincang cukup lama, Pak Ammar dan Pak Lutfi kembali ke kerjaan masing-masing. Pak Ammar pamit kepada Pak Lutfi.
“Sepertinya kita sudah berbicara terlalu panjang hari ini.” Pak Ammar melihat ke arah jam yang ada di tangannya.
“Aku pamit kembali ke kantor dulu.” Sambil berjalan pergi menuju mobilnya.
“Langsung ke kantor? Tidak lanjut ke lokasi selanjutnya?.” Tanya Pak Lutfi.
“Nanti habis makan siang mungkin aku akan lanjut.”
“Untuk saat ini aku ingin balik ke kantor dulu.” Jawab Pak Ammar dari dalam mobil.
“Apa kau yakin tidak ikut bersamaku?.”
“Aku akan mengantarmu kesana.”
“Hmmm, tidak usah.”
“Aku bisa kesana sendiri.”
“Sebaiknya kau segera jalan, ada banyak hal yang menunggumu disana.” Ucap Pak Lutfi yang menolak Pak Ammar yang ingin mengantarnya.
“Hmmm, baiklah.”
“Aku pergi.” Ucap Pak Ammar menutu kaca mobilnya.
“Hmmm ... .”
“Hati-hati di jalan.” Jawab Pak Lutfi.
“Hmmm, kau juga.” Ucap Pak Ammar.
Pak Ammar bersama supirnya kembali ke kantor, sementara itu Pak Lutfi lanjut untuk mengecek zona lima yang ia tinggalkan begitu saja ketika bertemu dengan Pak Ammar.
“Sebaiknya aku segera kembali.” Ucap Pak Lutfi.
Karina yang sedang berada di kantor melihat ke arah jam yang ada di layar ponselnya, sesekali ia melirik apa sudah masuk untuk jam makan siang atau belum.
“Ahh kenapa masih jam segini.”
“Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Difta.”
“dan meminta maaf dengannya.”
“Aku merasa bersalah dengannya.”
“Kenapa aku harus marah-marah dengannya.”
“Ahhhrgg ... .” Gumam Karina.
“Kenapa dia bisa sesabar itu, bahkan sampai saat ini aku belum begitu mencintanya.”
“Maafkan aku, Difta.” Ucap Karina lagi.
Tak berselang lama, ponsel Karina berdering. Karina memiliki satu pesan, Karina melihat ke layar ponselnya dan langsung membuka pesannya. Ternyata Pak Ammar yang mengiriminya pesan.
“Ahhh, aku kira Difta.” Ucap Karina.
“Ada apa ya Pak Ammar menghubungiku jam segini.” Sambung Karina sambil membuka pesannya.
“Ouhh ... .”
“Begitu.” Ucap Karina.
Setelah membaca pesan dari Pak Ammar, Karina langsung bergegas keluar meninggalkan pekerjaannya.
“Heii ..., mau kemana kamu Karina.” Panggil teman Karina yang bingung kenapa dia pergi begitu saja.
“Laporan yang aku minta mana?.” Sambung teman Karina.
Karina tak menghiraukan panggilan temannya, ia berlari begitu saja untuk turun ke lantai bawah untuk menemui Pak Ammar. Nampak Pak Ammar sedang menunggu Karina dari dalam mobil. Karina menghampiri Pak Ammar dan mengetuk kaca mobilnya.
Tok.. tok ...
“Permisi Pak.” Ucap Karina.
Pak Ammar membuka kaca mobil.
“Masuklah.” Kata Pak Ammar.
Karina masuk dan duduk di kursi depan samping kursi supir Pak Ammar.
“Bagaimana tentang yang aku minta kemarin?.” Tanya Pak Ammar.
“Ah itu, sudah aku bereskan semuanya Pak.”
“Malam ini, Bapak bisa datang lagi.” Jawab Karina.
“Hmm, baiklah kalau begitu.”
“Kamu bisa kembali ke ruanganmu.”
“Uangnya akan segera ku transfer ke rekening.” Jawab Pak Ammar.
Karina dan Pak Ammar hanya berbicara dari parkiran mobil dan hanya sebentar. Karina keluar dari mobil Pak Ammar dan langsung masuk kembali menuju ruangannya. Salah satu teman Karina yang tak sengaja melihat Karina turun dari mobil Pak Ammar langsung menghampiri Karina.
“Wah, sedang apa kamu dari mobil Pak Ammar?.” Tanya teman Karina penasaran.
“Ha ... .” Karina Kaget.
“Ah, itu .. .”
“Ada yang sedang aku urus.” Jawab Karina.
“Benarkah?.”
“Urusan apa?.” Tanya teman Karina lagi.
“Ya urusan pekerjaan.”
“Kenapa kau sangat ingin tau?.” Tanya Karina balik dengan menatap sinis temannya.
“Kau yakin hanya urusan pekerjaan.” Jawab teman Karina yang semakin menggodanya.
“Ah, apa yang kau bicarakan.”
“Aku masuk duluan.” Ucap Karina sambil berjalan masuk ke dalam ruangan meninggalkan temannya.
“Heiii, tunggu aku.” Panggil teman Karina
“Wah benar-benar, Karina.” Ucap temannya yang semakin penasaran dengan sikap Karina.
Karina berlari meninggalkan temannya dan segera masuk ke dalam ruangan. Sampai di ruangan ia bertemu dengan teman yang memanggilnya saat ia buru-buru keluar dari ruangan untuk menemui Pak Ammar.
“Wah, kenapa dia melihatku seperti itu.” Ucap Karina
“Bisa jadi bahan gosip ini kalau yang lain sampai mengetahui.” Sambung Karina.
“Kamu dari mana saja, Karina?.” Tanya teman seruangan Karina.
“Kenapa kamu pergi terburu-buru seperti itu.”
“Ahh itu, ada urusan yang mendesak.” Jawab Karina sambil duduk ke meja kerjanya.
“Ohh, ku kira kamu ingin kabur dari laporan ini.”
“Segera kamu siapkan Kar sebelum makan siang.” Suruh temannya.
“Ha? Sebelum makan siang?.” Ucap Karina Panik.
“Yang benar saja.”
“Sepuluh menit lagi sudah jam makan siang.” Jawab Karina.
“Kamu tanya saja sama atasan.”
“Aku hanya menyampaikan pesannya.” Jawab teman Karina.
Karina yang harus menyelesaikan laporan sebelum jam istirahat teringat akan janji makan siang dengan Difta.
“Mana aku sudah ada janji lagi dengan Difta.”
“Ahgrr bagaimana ini.” Gumam Karina yang fokus mengerjakan laporan yang sudah deadline.
“Pak Ammar sih, kenapa menyuruhku menemuinya di saat seperti ini.”
“Padahal hanya permasalahan sepele.”
“Kenapa ia tidak bisa menyelesaikannya.” Ucap Karina.
Drttt ..drttt
Ponsel Karina berbunyi.
Difta, tunangan Karina menelponnya dan menanyakan tentang makan siang bersama. Difta berniat ingin menjemput Karina.