Setelah mengantarkan dokumen yang dititipkan Zafran pada Pak Lutfi, Arsel langsung menuju lokasi pekerjaannya. Arsel menaruh barang-barangnya ke dalam loker dan mengambil rompi dan peralatan lainnya. Saat Arsel hendak keluar, Arsel bertemu dengan Pak Lutfi kembali.
“Arsel.” Panggil Pak Lutfi.
“Iyah, Pak.” Jawab Arsel.
“Ikut ke ruangan saya dulu.” Ucap Pak Lutfi.
“Baik, Pak.” Jawab Arsel.
Arsel berjalan mengikuti Pak Lutfi dan masuk ke dalam ruangannya. Arsel melihat ada beberapa karyawan dari lokasi yang berbeda juga sudah berada di dalam ruangan Pak Lutfi. Arsel tidak tau kenapa dia dikumpulkan seperti itu dengan yang lain, ia hanya mengikuti perintah Pak Lutfi saja.
“Wah, kenapa sudah ramai.” Ucap Arsel pelan.
“Duduk bergabung disana, Sel.” Suruh Pak Lutfi.
“Oh, iyah Pak.” Jawab Arsel sambil duduk dengan yang lainnya.
“Jadi begini, maksud saya mengumpulkan kalian disni adalah untuk membahas rencana kerja kita minggu depan.” Ucap Pak Lutfi.
Ternyata Pak Lutfi mengumpulkan sebagian karyawan untuk membahas rencana kerja minggu depan, Pak Lutfi ingin sedikit perubahan dari setiap lokasi. Pak Lutfi membagi zona yang baru, termasuk Arsel akan mendapat zona yang berbeda dari sebelumnya.
“Wah, aku di pindahkan ke zona yang lebih jauh.” Jawab Arsel.
“Baiklah, semuanya sudah dapet e-mail masing-masing, Kan?.” Tanya Pak Lutfi.
“Sudah, Pak.” Jawab Arsel dan yang lainnya.
“Oke, bisa langsung ke tempat yang telah di tentukan ya.”
“Laporan jangan lupa seperti biasa, sore sudah langsung di serahkan.” Ucap Pak Ammar membubarkan para Karyawan yang sedang berkumpul.
“Iya, Baik Pak.
Setelah hampir satu jam, Arsel dan yang lainnya keluar dari ruangan Pak Lutfi dan bergegas menuju lokasi yang baru. Arsel yang mendapat lokasi yang lebih jauh dari sebelumnya langsung menuju parkiran, ia mengambil sepeda motornya.
“Bro, dapat zona dimana?.” Tanya teman Arsel yang sedang mengambil sepeda motor juga.
“Oh, aku dapat di zona nyaman.” Jawab Arsel sambil bercanda.
“Hahah canda, bro.”
“Aku di zona 03.” Jawab Arsel.
“Wah ahaha.. .”
“Jauh, ya.” Ucap teman Arsel.
“Iyah, Nih.”
“Kamu dapat lokasi di zona mana?.” Tanya Arsel.
“Zona U 13.” Jawab teman Arsel.
“Dimana itu?.” Tanya Arsel yang belum hafal lokasi di setiap tempat.
“Disitu belokkan pertama ke kanan.” Jawab teman Arsel sambil menunjukkan arah jalan menuju lokasinya.
“Oh, iyah iyah.” Ucap Arsel.
“Aku duluan ya kalau gitu.” Pamit teman Arsel pergi lebih dulu.
“Hmmm lanjut bro... .” Jawab Arsel yang sedang memakai helmnya.
Arsel pun mengendarai sepeda motornya dan langsung menuju zona yang telah ditentukan oleh Pak Lutfi.
“Ini dia tempatnya?.” Tanya Arsel sambil melihat ke sekeliling.
“Siapa yang harus kutemui disini.” Ucap Arsel lagi.
“Ahh, sebaiknya aku bertanya kepada Bapak yang sedang berdiri disana saja.” Sanbung Arsel sambil memarkirkan motornya.
Setelah sampai di lokasi, Arsel melihat ke sekeliling dan segera mencari parkiran sepeda motor. Saat Arsel berjalan mendatangi orang yang sedang berdiri di lokasi, Arsel terkejut ternyata orang tersebut adalah Pak Ammar.
“Maaf, permisi Pak.” Ucap Arsel.
“Haa, iyah ada apa.” Bapak tersebut menoleh.
“Eh, Pak Ammar.” Jawab Arsel.
“Loh, Arsel?.”
“Kamu di tugaskan di zona ini?.” Tanya Pak Ammar.
“Iyah, Pak.” Jawab Arsel.
“Bapak sedang apa disini?.” Tanya Arsel.
“Oh, kalau saya sedang di tugaskan untuk memantau semua zona yang hari ini sedang mengalami perubahan.” Ucap Pak Ammar.
“Tapi, kenapa saya harus menjelaskan kepada kamu.” Sambung Pak Ammar.
“Oh, maaf Pak.”
“Saya tidak bermaksud seperti itu.” Jawab Arsel.
“Hmm, lanjutkan pekerjaan kamu.” Ucap Pak Ammar.
“Baik, Pak.” Jawab Arsel sambil berjalan pergi.
“Sudah tau kamu harus ngapai sekarang?.” Tanya Pak Ammar.
“Ahh, belum Pak.” Jawab Arsel menoleh ke arah Pak Ammar.
“Kamu ini ya, jadi ngapai kamu berjalan kesana.” Ucap Pak Ammar.
“Ini, ambil ini.” Sambung Pak Ammar sambil memberikan laporan kepada Arsel.
“Oh iyah, Pak.” Arsel mengambil laporan yang diberikan Pak Ammar dan langsung membacanya.
“Setelah itu kamu temui kepala proyek untuk zona ini.”
“Kemungkinan dia saat ini sedang ada disana.” Ucap Pak Ammar.
“Ayo, ikut saya.”
“Biar saya kenalkan kamu dengannya.” Ajak Pak Ammar menemui Kepala proyek.
“Iyah, baik Pak.” Jawab Arsel sambil mengikuti Pak Ammar.
Pak Ammar mengajak Arsel untuk menemui kepala proyek di zona Arsel di tempatkan. Pada saat Arsel mengikuti Pak Ammar , Arsel sesekali menatap Pak Ammar kagum.
“Wah, Pak Ammar ini atasan yang di sukai semua para karyawan gak sih?.”
“Selama bekerja dia profesional, bisa menempatkan dimana saja.”
“Gak terlalu ngepush setiap karyawannya.”
“Gak cuman ganteng tapi juga smart, kaya, semuanya oke.”
“Terlalu sempurna gak sih?.” Ucap Arsel sambil menatap kagum Pak Ammar.
“Ah, bagaimana bisa aku kagum pada orang yang baru dua hari aku temui.” Sambung Arsel sambil mengalihkan pandangannya.
“Pak Ridwan.” Panggil Pak Ammar.
“Oh iyah, Pak.” Jawab Pak Ridwan menghampiri Pak Ammar.
“Arsel, ini Pak Ridwan kepala proyek untuk zona 3.” Ucap Pak Ammar sambil memperkenalkan Pak Ridwan.
“Oh iyah, Pak. Perkenalkan saya Arsel yang mengawasi zona 3 mulai hari ini.” Ucap Arsel sambil mengulurkan tangannya.
“Hmm iyah, Saya Ridwan.”
“Kepala proyek untuk zona 3.” Jawab Pak Ridwan sambil menjabat tangan Arsel.
“Oh iyah, Pak.”
“Mohon bantuan dan kerja samanya, ya.” Ucap Arsel.
“Iyah.” Pak Ridwan mengangguk.
“Kamu bisa mulai dari sana, ya.” Tunjuk Pak Ridwan.
“Baik, Pak. Saya kesana dulu ya.” Pamit Arsel.
Arsel berjalan sesuai dengan arahan Pak Ridwan. Pak Ammar yang masih berdiri dengan Pak Ridwan memperhatikan Arsel dari jauh.
“Mohon dibantu dan di perhatikan dia ya, Pak.” Ucap Pak Ammar kepada Pak Ridwan.
“Oh iyah Pak, pasti itu.” Jawab Pak Ridwan.
“Iyah dia itu masih sangat baru disini, baru dua hari yang lalu dia masuk.” Tambah Pak Ammar.
“Benarkah?.”
“Pasti saya akan membantunya, apalagi Bapak yang langsung meminta.” Jawab Pak Ridwan.
“Baiklah, saya kembali dulu kalau begitu.” Ucap Pak Ammar sambil melihat jam yang ada di tangannya.
“Loh, sudah mau balik Pak?.” Tanya Pak ridwan.
“Ayo, biar saya antar ke parkiran.” Ucap Pak Ridwan.
“Iyah, saya harus ke zona yang lain lagi.”
“Ahh tidak usah diantar, saya bisa kok.” Jawab Pak Ammar menahan Pak Ridwan agar tidak mengantarnya.
“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya Pak.” Ucap Pak Ridwan sedikit menunduk.
“Hmmm.” Pak Ammar mengangguk.
Arsel yang sedang memulai pekerjaannya melihat Pak Ammar baru saja pergi, Pak Ridwan langsung mendatangi Arsel dan memperkenalkan dengan pekerja lainnya.
“Arsel ... .” Panggil Pak Ridwan.
“Iyah Pak.” Jawab Arsel mendekat ke arah Pak Ridwan.
“Mari ikut saya, biar saya kenalkan dengan pekerja lainnya.” Ajak Pak Ridwan.
Pak Ridwan memperkenalkan satu persatu pekerja yang berada disana, mereka pun berbincang satu sama lain.
“Hahaha ... .”
“Jadi begitu ya, SeL.”
“Kamu harus mulai dari sini baru lanjut ke arah sana.”
“Untuk laporan bisa langsung kamu tulis.”
“Karena setiap harinya saya tiap pukul dua harus sudah pergi.” Jawab Pak Ridwan.
“Ooh gitu, iyah baik Pak.” Ucap Arsel.
“Besok ada anggota wanita yang akan menemani kamu disini.” Ucap Pak Ridwan.
“Ha? Wanita Pak?.” Jawab Arsel penasaran.
“Iyah, hari ini dia cuti dan kembali masuk besok.”
“Jadi saya memberitahumu agar kamu juga tidak terkejut kalau melihatnya disini.” Sambung Pak Ridwan.
“Iyah, Pak.” Jawab Arsel.
“Baiklah, Silakan kamu lanjutkan tugas kamu.” Ucap Pak Ridwan.
“Baik Pak, saya permisi dulu.” Pamit Arsel meninggalkan Pak Ridwan.
Arsel melanjutkan pekerjaannya. Di lain sisi Pak Ammar yang sedang mengecek zona zona lain tak sengaja bertemu dengan Pak Lutfi.
“Loh, Pak Lutfi disini juga.” Tanya Pak Ammar membuka obrolan.
“Oh, iyah nih, Pak.”
“Saya disuruh memantau zona lima sebentar, karena ada trouble tadi sedikit.” Jawab Pak Lutfi.
“Bapak sudah abis dari mana saja tadi?.” Tanya Pak Lutfi.
“Oh saya, sudah dari dua lokasi, ini yang ke tiga.” Jawab Pak Ammar sambil melihat ke sekeliling lokasi.
“Wah yang benar saja.”
“Cepat sekali Bapak sudah sampai tiga tempat.”
“Mulai start darimana tadi, Pak?.” Tanya Pak Lutfi lagi.
“Oh saya dari zona satu, terus ke tiga sekarang baru kesini.” Jawab Pak Ammar.
“Oh iyah,iyah Pak. Satu arah semua ya.” Jawab Pak Lutfi.
“Bagaimana kalau kita ngopi dulu, Pak.” Ajak Pak Lutfi.
“Ke ruangan saya saja atau bisa di cafe dekat perbatasan untuk zona selanjutnya.” Sambung Pak Lutfi
“Oh, boleh.” Jawab Pak Ammar sambil berjalan pergi bersama Pak Lutfi.
Pak Lutfi yang bertemu dengan Pak Ammar di lokasi langsung mengajak Pak Ammar untuk mengobrol di tempat lain, Pak Lutfi yang mengetahui Pak Ammar sudah memulai pekerjaannya dari pagi hari sekali menyuruh Pak Ammar untuk beristirahat sambil ngopi sebentar. Mereka langsung pergi meninggalkan lokasi menuju tempat yang disarankan oleh Pak Lutfi.
Di tempat lain Arsel yang masih mulai beradaptasi dengan lokasi baru mendapat telpon dari nomor yang tidak dikenal. Arsel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya saja.
“Kenapa tidak di jawab.” Tanya Pak Ridwan.
“Ahh, saya tidak tau siapa yang sedang menelpon, Pak.” jawab Arsel.
“Mana tau itu ada yang penting.” Ucap Pak Ridwan.
“Hmm, baiklah akan saya jawab.” Ucap Arsel sambil menjawab panggilan di ponselnya.
“Haloo. ... .” Jawab Arsel.
“Halo, Sel.”
“Kamu dimana?.” Tanya orang di dalam telpon.
“Ibu?
“Apa yang terjadi, kenapa menelponku dengan nomor ini.”
“Ini nomor siapa?.” Tanya Arsel panik.
“Ah ini.. .”
“Ini aku sedang memakai nomor teman ibu.”
“Ibu sedang tidak ada pulsa.”
“Ibu cuman mau menanyakan dimana kamu letak kunci motor adikmu yang kau pakai kemarin?.” Tanya Ibu Arsel.
“Astagaa.. .”
“Ibu mengagetkanku saja.”
“Aku kira ada apa.” Jawab Arsel lega.
“Sudahlah, cepat beritahu dimana letaknya.”
“Dia ingin pergi ini.” Ucap Ibu Arsel.
“Ohh itu, aku pun lupa meletakkannya dimana.” Jawab Arsel.
“Sudah ya, aku tutup dulu.”
“Aku sedang bekerja, nanti suruh dia cari di kamarku saja.” Jawab Arsel mematikan ponselnya.
“Ahg, aku pikir ada apa.”
“Membuat panik saja.” Ucap Arsel sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Ada apa, Sel?.”
“Apa yang terjadi dengan ibumu?.” Tanya Pak Ridwan.
“Oh itu, bukan apa-apa kok, Pak.”
“Tidak begitu penting.” Jawab Arsel.
“Ahh, syukurla kalau begitu.” Jawab Pak Ridwan yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Arsel dan Pak Ridwan kembali melanjutkan pekerjaannya, tak berselang lama telpon Pak Ridwan berbunyi. Pak Ridwan juga menghiraukan panggilan itu, Arsel yang mendengar ponsel Pak Ridwan berbunyi langsung mendekat ke arah Pak Ridwan dan sedikit menggodanya.
“Mana tau penting, Pak.” Jawab Arsel memperagakan nada bicara Pak Ridwan.
“Ah kamu ini .. .” Ucap Pak Ridwan.
Pak Ridwan melihat ke arah ponselnya. Setelah melihat ke layar ponsel, Pak Ridwan berjalan menjauh dari lokasi pekerjaan. Ia berbicara sambil sedikit berbisik agar yang lain tidak mendengar pembicaraannya. Arsel yang melihat Pak Ridwan menjauh tak berpikiran macem-macem, ia melanjutkan pekerjaannya dengan mengawasi pekerja yang lain.
“Pak, yang itu jangan sampai salah ya.” Ucap Arsel kepada para pekerja.
“Iyah itu, harus sesuai ya.” Tunjuk Arsel.
“Kalau salah, habis kita nanti Pak.” Tambah Arsel.
“Iyah, bagus Pak.”
“Sudah benar itu, tinggal tarik sedikit ke samping.”
Pak Ridwan yang sedang menelpon melirik ke arah Arsel, ia memperhatikan cara kerja Arsel dan menyampaikan kepada si penelpon.
“Iyah Buk.” Ucap Pak Ridwan
“Saat ini dia berada di zona tiga bersama saya.” Ucap Pak Ridwan.
“Pak Ammar juga tadi pagi kemari mengecek setiap lokasi yang baru di pindahkan.”
“Iyah Buk, mereka bertemu sebentar.”
“Pak Ammar memperkenalkan saya dengan Arsel.” Ucap Pak Ridwan lagi.
Arsel yang tidak sabar menunggu Pak Ridwan untuk segera memeriksa apa pekerjaannya sudah benar di pasang atau belum melirik ke arah Pak Ridwan, ia mendatangi ke arah Pak Ridwan. Pak Ridwan yang melihat Arsel sedang berjalan langsung panik.