“Sepertinya ia hanya mengandalkan kecantikannya saja.” Lirik Karina yang menatap Cathrine dari bawah hingga atas.
Cathrine yang merasa sedang dilihatin, menatap balik Karina dari kaca. Karina yang melakukan kontak mata dengan Cathrine langsung pura-pura tersenyum. Cathrine yang tidak tau maksudnya apa membalas senyuman Karina. Cathrine keluar lebih dulu dan kembali mendatangi Arsel. Saat ingin berjalan keluar, Karina memulai obrolan.
“Kamu pacar Arsel, ya?.” Tanya Karina.
“Hmmm ... .” Jawab Cathrine menoleh ke arah Karina.
Karina menghampiri ke arah Cathrine. Cathrine yang tidak kenal siapa dia memberanikan diri untuk bertanya.
“Siapa, ya?.” Tanya Cathrine.
“Kenalkan, Aku Karina teman kantor Arsel.” Jawab Karina mengulurkan tangan.
“Ohh, iya.” Cathrine menjabat tangan Karina.
“Tadi aku melihat Arsel di depan.” Ucap Karina.
“Oh gitu.” Jawab Cathrine singkat.
“Kamu pacarnya, kan?.” Tanya Karina yang sangat penasaran.
“Hmmm, itu .. .”
Karina yang ingin mencari tau lebih banyak tentang Cathrine langsung terhenti saat ponsel Cathrine berdering. Cathrine meninggalkan Karina dan berjalan keluar.
Drttt... drttt ...
“Maaf, sepertinya aku harus segera pergi.” Ucap Cathrine sambil menunjukkan layar ponselnya, ternyata Arsel sedang menelpon.
“Halo, Kamu khawatir padaku?.”
“Iyah ini aku berjalan kesana.” Jawab Cathrine sambil berjalan keluar.
Arsel khawatir Cathrine sudah terlalu lama di toilet, dia pun langsung menghubunginya. Tak lama Cathrine nampak keluar dari toilet, Arsel memandangi Cathrine dari jauh dan terlihat kagum pada Cathrine.
“Mimpi apa aku tadi malam, bisa makan berdua bersamanya.” Ucap Arsel.
“Bahkan dari jauh saja, aura kecantikannya sudah memancar sampai sini.” Tambah Arsel yang masih melihat ke arah Cathrine.
Karina yang berada di dalam toilet pun masih melihat ke arah Cathrine. Karina yang tadi melihat layar ponsel Cathrine merasa Cathrine terlalu berlebihan.
“Hmm.”
“Ahh, sombong sekali.” Ucap Karina.
“Arsel kenapa bisa sangat menyukainya.”
“Arsel hanya melihat dari parasnya saja.” Karina berjalan keluar dan kembali ke mejanya.
Karina duduk kembali ke mejanya dan melihat ke arah Arsel. Namak Arsel tersenyum bahagia dan sesekali tertawa lepas bersama Cathrine. Karina yang tidak tahan melihatnya mengajak tunangannya untuk kembali pulang.
“Aku sudah selesai, ayo kita pulang.” Ucap Karina sambil mengambil tasnya.
“Ah pulang? Tapi, aku belum selesai.” Jawab tunangan Karina sambil menyusul Karina yang sudah berjalan terlebih dulu.
“Sayang, tunggu.” Panggil tunangan Karina.
Karina mencari jalan lain agar tidak melewati Arsel dan Cathrine. Arsel hanya melihat sekilas Karina yang pergi terburu-buru, tetapi Cathrine memergoki Arsel sedang melirik wanita yang ia temui di toilet.
“Itu teman satu kantor kamu, ya?.” Tanya Cathrine yang melihat ke arah Karina.
“Haaa.. .” Jawab Arsel kaget Cathrine kenal dengan Karina.
“Kamu kenal?.” Tanya Arsel.
“Enggak.” Jawab Cathrine singkat.
“Terus?.” Tanya Arsel penasaran.
“Tadi aku berjumpa dengannya di toilet.”
“Dia menyapaku lebih dulu.” Jawab Cathrine melihat wajah Arsel.
“Oh, ya?.”
“Berarti dia mengenalmu.” Jawab Arsel yang tak mau ambil pusing.
“Tidak juga.” Ucap Cathrine lagi.
“Dia mengatakan apa aku pacarmu.” Tambah Cathrine.
“Hukk..hukkk.” Arsel yang sedang makan langsung batuk.
“Minum, minum.” Ucap Cathrine sambil mendekatkan gelas Arsel.
“Apa yang salah?.” Tanya Cathrine.
“Oh, tidak apa-apa.”
“Aku hanya heran kenapa dia bisa bertanya seperti itu.”
“Apalagi kalian baru bertemu, bahkan aku saja tidak dekat dengannya.” Ucap Arsel yang melanjutkan makanannya.
“Kalian tidak dekat?.” Tanya Cathrine penasaran.
“Tidak begitu dekat.” Jawab Arsel.
“Ohh, gitu .. .” Ucap Cathrine yang terlihat senang mendengar jawaban Arsel.
Arsel dan Cathrine menyelesaikan makan malamnya dan kembali kerumah, Arsel mengantar Cathrine kembali kerumahnya.
“Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Cathrine.
“Wah, aku yang terima kasih sudah dikasih kesempatan makan malam bersamamu.” Jawab Arsel tersipu malu.
“Kalau begitu aku permisi dulu.”
“Bye .. .” Pamit Arsel.
“Iyah, hati-hati dijalan.”
“Jangan lupa hubungi aku kalau sudah sampai.” Jawab Karina sambil melambaikan tangannya.
Arsel mengendarai sepeda motornya dan kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan Arsel masih mengingat wajah Karina sampai-sampai ia hampir menabrak seorang wanita yang ingin menyebrang.
CIIIIITTTT ... .... bunyi rem Arsel.
“HEIIIIII, KALAU NAIK MOTOR LIHAT-LIHAT DONG.”
“JANGAN MELAMUN.” Ucap Wanita itu sambil berjalan pergi.
“Maaf, maafkan aku.” Jawab Arsel meminta maaf.
“Ahh, apa yang barusan aku lakukan.”
“Sepertinya aku sudah dibutakan oleh cinta.” Ucap Arsel yang kembali mengendarai sepeda motornya.
Arsel memarkirkan sepeda motornya di depan ind*mart, ia singgah sebentar untuk membeli minuman dan duduk diluar untuk menghabiskan minumannya sebelum ia balik kerumah.
“Wahhh, benar-benar diluar pikiranku.” Ucap Arsel.
“Jantungku berdebar sekali.” Arsel memegang jantungnya yang berdetak sangat cepat akibat kejadian itu.
“Kaki ku langsung lemas.”
“Bodohnya aku.” Sambil meminum minuman yang ada di tangannya.
“Ahh segarnya.”
Kasir yang sedang menyusun rak makanan melihat tingkah Arsel sedikit heran.
“Apa yang sedang dilakukannya.”
“Kenapa dia memegang dadanya.”
“Aishhh apa dia pria mesum.” Gumam kasir tersebut sambil melanjutkan pekerjaannya.
Arsel yang merasa sudah lebih baik melanjutkan perjalanannya, ia menghidupkan motornya dan berjalan cukup pelan, ia sangat hati-hati dalam mengatur kecepatan sepeda motornya.
“Sebaiknya aku pelan-pelan saja.” Ucap Arsel.
***
Keesokan harinya di tempat kerja
Arsel sedang berjalan menuju ruangan, nampak Pak Ammar dan lainnya sedang sibuk. Arsel bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, ia buru-buru menuju meja kerjanya.
“Apa yang sedang terjadi?.”
“Kenapa mereka sibuk sekali.” Ucap Arsel sambil melihat ke arah temannya.
Arsel yang masih belum tau apa yang terjadi, tetap menjalani pekerjaannya seperti biasa. Ia bersiap untuk segera pergi menuju lapangan. Saat ia hendak pergi, Zafran memanggilnya.
“Arsel ... .” Panggil Zafran.
“Hmm.” Arsel menoleh.
“Ada apa?.” Tanya Arsel.
“Kamu sudah mau berangkat ke lapangan?.” Tanya Zafran lagi.
“Iyah, nih.”
“Aku bisa minta tolong kepadamu?.”
“Ha, tolong?.”
“Tolong apa itu?.” Tanya Arsel.
“Ini ada dokumen yang harus dikasih ke Pak Lutfi, aku belum sempat kesana.”
“Kamu lihat sendiri disini, Pak Ammar sedang memberiku banyak kerjaan.” Ucap Zafran.
“Oh yauda, tinggal kasih aja kan?. Tanya Arsel memastikan.
“Iyah, thank you ya.” Ucap Zafran kembali melanjutkan pekerjaannya.
Arsel tidak begitu melihat apa isi dokumen itu, ia langsung memasukkan ke dalam tas ransel yang di bawanya. Arsel berjalan menuju lift, saat sedang menunggu Arsel beretemu dengan Pak Ammar yang juga sudah menunggu disana. Arsel menyapa Pak Ammar.
“Pak.” Ucap Arsel sedikit membungkuk.
“Ehmm .. .” Jawab Pak Ammar.
“Sudah mau berangkat, ya.” Tanya Pak Ammar.
“Iyah, Pak.” Jawab Arsel.
“Kebetulan saya mau ke arah sana, ayo kita pergi bersama.” Ajak Pak Ammar.
“Terima kasih, Pak.”
“Tapi sebaiknya saya pergi naik sepeda motor saja, karena saya mau ada yang di singgahi nanti.” Jawab Arsel sopan.
“Oh, gitu.” Jawab Pak Ammar sambil mengangguk.
Pintu lift terbuka, Pak Ammar masuk lebih dulu. Pak Ammar yang melihat Arsel tidak ikut masuk dengannya bertanya-tanya.
“Ayo, masuklah.” Ucap Pak Ammar.
“Iyah, Pak silakan.”
“Saya naik lift selanjutnya saja.” Jawab Arsel.
“Oke, baiklah.
Arsel yang merasa tidak nyaman satu lift dengan Pak Ammar memutuskan untuk menunggu lift selanjutnya. Ia membiarkan Pak Ammar menggunakan lift terlebih dulu.
“Oh, Pak Ammar dengan supirnya.” Ucap Arsel yang melihat Pak Ammar dari parkiran.
Arsel yang sedang berada di parkiran sepeda motor bergegas untuk segera berangkat, saat ingin berangkat Arsel melihat pria yang bersama Karina semalam sedang berada di parkiran.
“Loh, itu bukannya pria yang bersama Karina semalam?.” Ucap Arsel yang melihat pria itu.
“Kenapa masih pagi begini ia sudah disini.” Tambah Arsel.
Tak lama kemudian, Karina keluar dari arah kantor menuju parkiran dan mendatangi pria tersebut. Arsel hanya melihatnya dan tak begitu menghiraukan, ia menghidupkan sepeda motornya dan berlalu pergi meninggalkan parkiran. Saat sedang mengendarai motornya, Arsel melihat ke arah spion tampak Karina sedang beradu argumen dengan pria tersebut.
Karina mengambil minuman yang di pegang oleh pria tersebut dan membuangnya. Arsel yang terkejut langsung menghentikan sepeda motornya, ia heran dengan sikap Karina.
“Wahh, apa yang sedang ia lakukan.” Ucap Arsel.
“Kenapa ia kasar padanya.”
“Sepertinya Karina memiliki masalah yang serius.” Tambah Arsel sambil menghidupkan motornya kembali.
Arsel yang tidak mengetahui permasalahannya hanya mengambil kesimpulan dari apa yang ia lihat tanpa mengetahui kebenarannya. Karina yang masih berada di parkiran langsung masuk ke dalam mobil, dan menyuruh tunangannya juga ikut masuk.
“Masuklah.” Ucap Karina.
“Hmm.” Ucap tunangannya yang mengikuti Karina masuk mobil.
“Apa yang sedang kamu lakukan?.” Tanya Karina.
“Aku sedang menunggumu.” Jawab tunangan Karina.
“Bukan itu maksudku.” Ucap Karina.
“Oh, ituu ... .”
“Aku belum meminumnya.”
“Jangan marah begitu lah.” Jawab tunangan Karina yang sedang membujuk Karina.
“Aku tak habis pikir denganmu”.
“Kamu tidak ingat? Kalau kamu pernah di rawat karena meminum kopi dingin di pagi hari?.” Ucap Karina yang kesal melihat tunangannya.
“Aku mengerti maksudmu.”
“Tapi dengarkan aku dulu.” Jawab tunangan Karina.
“Kopi itu sengaja aku belikan untukmu.”
“Aku datang kemari hanya karena kamu bilang ingin meminum kopi tapi, tidak bisa keluar karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.” Ucap tunangan Karina yang berusaha menjelaskan.
“Hmm, benarkah?.” Tanya Karina menatap tunangannya.
“Yah, tentu.” Jawab Difta.
“Jadi sekarang bagaimana?.”
“Kopinya sudah tumpah.” Ucap Karina yang melihat ke arah kopi yang sudah ia buang ke jalan.
“Mau bagaimana lagi, sudah tumpah.”
“Nanti aku pesankan lagi, dan menyuruh kurir mengantarkan kepadamu.” Jawab Difta.
“Maafkan aku.” Ucap Karina.
“Tidak apa-apa.”
“Aku mengerti, kamu sedang mengkhawatirkan aku.” Jawab Difta sambil memeluk Karina yang hampir menangis.
“Sudah tidak apa-apa.”
“Sebaiknya kamu segera kembali bekerja.” Ucap Difta.
“Hmmm, aku kerja dulu.” Jawab Karina sambil keluar dari mobil.
Karina kembali ke ruangannya, ia telah menyelesaikan kesalahpahaman yang dibuatnya sendiri. Difta tunangan Karina berusaha menjelaskan dan mengerti dengan sikap Karina yang akhir-akhir ini sedikit penuh dengan emosi. Difta yang melihat Karina berjalan masuk menuju ruangannya langsung mengambil ponselnya dan memesan kopi untuk Karina.
“Dia sampai begitunya mengkhawatirkan aku.” Ucap Difta.
Difta pernah di rawat di rumah sakit akibat meminum kopi di pagi hari yang membuat asam lambungnya naik dan harus dilarikan ke rumah sakit, itulah yang membuat Karina marah serta khawatir kejadian yang sama akan terulang kembali. Setelah memesan kopi, Difta langsung keluar dari kantor Karina dan menuju kantornya.
“Ahh, ada apa denganku.”
“Kenapa emosiku sudah sangat berlebihan pagi-pagi begini.” Ucap Karina.
“ini karena kejadian kemarin.”
“Aku terlalu memikirkan Arsel dengan wanita lain.”
“Kasihan sekali dia, karena aku dia harus memesan kopi lagi.” Tambah Karina.
Karina yang merasa bersalah kepada tunangannya mencari cara agar bisa menebusnya.
“Apa nanti aku ajak dia makan siang lagi saja, ya.” Ucap Karina.
“Ahh, nanti la itu. Sekarang aku harus mengerjakan laporanku yang sudah deadline.” Tambah karina.
Karina bergegas menuju meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang sudah harus di laporkan. Arsel yang sudah sampai di lapangan langsung menuju ruangan Pak Lutfi untuk mengantar dokumen yang dititipkan oleh Zafran.
“Apa Pak Lutfi sudah ada di ruangannya, ya.” Ucap Arsel yang berjalan menuju ruangan Pak Lutfi.
Tokk .. tokk ..
“Permisi Pak ... .”
“Arsel masuk, Pak.” Ucap Arsel sambil membuka pintu.
“Yah, Kosong.”
“Sepertinya Pak Lutfi belum datang.” Ucap Arsel.
“Siapa yang belum datang?.” Tanya Pak Lutfi yang sudah berdiri di belakang Arsel.
“Eh, Bapak. Mengagetkan saja.” Jawab Arsel.
Arsel yang tak tau bahwa Pak Lutfi berada di belakangnya sedikit terkejut. Ia langsung memberikan dokumen yang dititipkan oleh Zafran kepada Pak Lutfi dan segera menuju lokasi tempat ia bekerja.
“Begitu saja sudah kaget.”
“Ada apa ini, kenapa pagi-pagi sudah ada di ruangan saya.” Tanya Pak Lutfi.
“Oh, ini Pak.” menyerahkan dokumen.
“Apa ini?.” Tanya Pak Lutfi mengambil dokumen.
“Ini titipan dari Zafran, Pak.” Jawab Arsel.
“Oh, iya-iya.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak.” Pamit Arsel.