“Ahh, Aku ... .” Jawab Arsel segera meletakkan foto tersebut.
“Aku sedang menaruh laporan.” Jawab Arsel melihat ke arah pintu.
“Eh, Pak.” Sapa Arsel.
“Iyah, Sel. Sudah selesai?.” Tanya Pak Ammar.
“Ada kunci mobil saya tertinggal disitu, Sel?.” Tambah Pak Ammar yang sedang mencari kunci mobilnya.
“Sudah Pak. Ini hard copynya saya taruh disini, ya.”
“Oh, ini Pak, ada.” Jawab Arsel yang melihat kunci mobil disamping bingkai foto.
“Untuk yang file sudah saya kirimkan ke email, Pak.” Ucap Arsel sambil memberi kunci mobil Pak Ammar.
“Oh, Oke.”
“Thank you, nanti saya cek ya.” Jawab Pak Ammar.
“Kalau begitu kamu sudah boleh pulang.”
“Sudah lewat jam pulang soalnya.” Tambah Pak Ammar sambil melihat ke arah jam.
“Oh iya, baik Pak. Saya permisi dulu kalau begitu.” Jawab Arsel sambil berjalan keluar.
Ternyata Pak Ammar yang membuka pintu, ia masuk kembali karena kunci mobilnya tertinggal di meja kerjanya. Arsel belum sempat melihat siapa yang ada di balik foto tersebut. Ia hanya melihat sekilas seseorang memeluk pinggang wanita yang memakai baju berwarna coklat.
“Untung saja sudah langsung ku taruh.” Ucap Arsel.
“Apa itu foto istri Pak Ammar, ya?.”
“Tapi kok tidak di pajang malah di tutup seperti itu.” Tambah Arsel.
“Ah kenapa aku malah memikirkan yang bukan urusanku, sebaiknya aku segera pulang.”
“Aku sangat ingin rebahan.” Ucap Arsel lagi.
Arsel segera menuju meja kerjanya, ia bergegas membereskan barang-barangnya dan pulang kerumah. Arsel melihat ke arah teman-teman yang lain yang belum pulang dan masih fokus pada pekerjaannya.
“Apa tidak apa-apa kalau aku pulang duluan.” Ucap Arsel melihat temannya.
“Apalagi aku baru masuk dua hari.”
“Apa kata mereka nanti junior pulang duluan.”
“Bagaimana ini.” Ucap Arsel bingung.
Pak Ammar yang sudah mendapatkan apa yang ia cari kembali keluar dari ruangannya. Ia berjalan terburu-buru dan lagi-lagi ia tak melihat Arsel.
“Wah Pak Ammar buru-buru sekali, bahkan aku tidak dilihatnya.’’
“Apa yang kupikirkan, kenapa aku malah berharap Pak Ammar menyapaku.” Jawab Arsel.
Arsel yang bingung bagaimana caranya agar bisa segera pulang, melihat salah satu temannya pamit pulang terlebih dulu.
“Wah akhirnya siap pekerjaanku.”
“Aku pulang duluan ya, guys.”
“Semangat untuk kalian.” Ucap teman Arsel yang tak sengaja melihat ke arah Arsel.
Arsel yang sedang melihat temannya juga langsung mengalihkan kontak mata dengan temannya. Ia berpura-pura bermain dengan ponselnya. Teman Arsel yang mengetahui maksud Arsel langsung mendatanginya.
“Arsel.. .” Panggil Zafran.
“Ha, iya bro.. .” Jawab Arsel.
“Kau uda selesai?.”
“Ayo, kita pulang bersama.” Ajak Zafran mendatangi Arsel.
“Haa, oke.” Jawab Arsel yang merasa senang akhirnya ia bisa pulang.
Zafran merangkul Arsel. Arsel merasa canggung sebab mereka belum terlalu dekat untuk saling merangkul apalagi di depan teman yang lain.
“Udah ikuti saja aku, ayo.” Ucap Zafran sambil merangkul Arsel.
“Hmm.” Jawab Arsel melihat Zafran yang friendly.
Mereka keluar kantor bersama sampai di depan lift perusahaan, Zafran pamit untuk pergi terlebih dahulu dan meninggalkan Arsel. Arsel bingung kenapa Zafran tidak naik lift bersamanya, ia malah turun lewat tangga darurat.
“Aku duluan, ya.” Ucap Zafran.
“Oh, Oke. Thank you bro.” Jawab Arsel yang sangat berterima kasih kepada Zafran karena telah membantunya.
“Eh tapi... .”
“Kok dia lewat tangga?.” Kata Arsel heran sambil menatap Zafran membuka pintu tangga darurat.
“Kenapa dia tidak sabar menunggu sampai lift ini datang, ya.”
“Ah sudahlah, yang penting aku sudah berhasil keluar.” Ucap Arsel yang sedang menunggu di depan lift.
Arsel menunggu di depan pintu lift sambil bermain dengan ponselnya, tiba-tiba Karina dan teman-temannya datang menuju lift dan melihat Arsel sedang menunggu.
“Hai ... .” Sapa Karina.
“Oh, Hi ... .” Jawab Arsel sambil melihat ke arah Karina.
“Kamu uda dari tadi?.” Tanya Karina membuka obrolan.
“Enggak, Kok. Baru sampai juga.” Jawab Arsel sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Hai ... .” Ucap salah satu teman Karina.
“Oh, Hai juga.” Jawab Arsel menoleh kebelakang.
“Wah, ternyata kamu lebih ganteng kalau dilihat dari dekat ya.” Goda teman Karina.
“Heeeh ... .” Ucap Karina sambil menepuk tangan temannya.
“Hah terima kasih.” Jawab Arsel tersenyum tipis.
Pintu lift pun akhirnya terbuka, Arsel kaget ternyata sudah banyak orang yang berada di dalam lift tersebut, Arsel mempersilahkan Karina dan teman-temannya masuk lebih dulu.
“Silakan. Masuklah lebih dulu.” Ucap Arsel melihat ke arah Karina.
“Eh, gak apa-apa kami duluan?.”
“Bukannya kamu sudah menunggu dari tadi.” Kata Karina.
“Gak apa-apa.”
“Masuklah.” Jawab Arsel.
Karina dan teman-temannya masuk lebih dulu, Arsel yang melihat liftnya sudah penuh dan tidak bisa untuk masuk langsung mengurungkan niatnya, ia melangkahkan kakinya kembali. Karina yang melihat Arsel tidak masuk langsung bertanya.
“Kenapa?.”
“Ayo, masuklah.” Jawab Karina sambil memegang tombol lift agar pintu tidak tertutup lebih dulu.
“Masih bisa.”
“Ayo.” Ucap Karina memaksa.
“Ahh, sepertinya kunci motorku tertinggal di dalam.” Sambil memegang sakunya.
“Turunlah lebih dulu.”
“Aku menunggu lift yang lain saja.” Jawab Arsel mempersilakan Karina.
“Aku mengambil kunci sepeda motorku dulu.” Tambah Arsel sambil berlari ke arah ruangannya.
“Oh, oke deh.” Jawab Karina sambil membiarkan pintu lift tertutup.
Pintu lift tertutup, Karina dan teman-temannya masuk ke dalam dan tinggal Arsel yang masih berada di luar.
“Ahh, akhirnya pintu liftnya sudah tertutup.” Ucap Arsel yang berjalan kembali menuju lift.
Arsel hanya berpura-pura mengatakan kalau kuncinya tertinggal di dalam, ia sadar diri bahwa liftnya tidak muat kalau dia masuk. Apalagi dia hanya sendiri disitu, tidak mungkin kalau Karina dan teman-temannya yang mengalah keluar.
“Apa aku lewat tangga juga ya, seperti yang dilakukan Zafran.” Ucap Arsel yang menunggu di depan lift lagi.
Pada saat Arsel ingin turun melewati tangga lift selanjutnya datang, ia langsung berlari menuju lift. Ketika pintu terbuka, ternyata Karina masih berada di dalam lift tersebut. Arsel kaget ia berjalan masuk ke dalam sambil melihat ke arah Karina.
“Apa yang sedang kamu lakukan?.”
“Kenapa masih berada disini?.” Tanya Arsel.
“Aku menjaga lift ini agar kamu bisa segera masuk.” Jawab Karina tersenyum.
“Ha .. .” Ucap Arsel yang tak menyangka bahwa Karina akan melakukan itu.
“Aku tidak apa-apa.”
“Santai saja.” Jawab Arsel lagi.
Pintu lift tertutup, suasana menjadi canggung, pasalnya hanya Karina dan Arsel yang berada di dalam lift itu. Karina sesekali melirik ke arah Arsel. Arsel tak begitu menghiraukan, ia berdiri sambil melihat ke depan saja. Saat Karina ingin mengajak Arsel berbicara, ponsel Arsel berdering.
“Arsel ... .” Panggil Karina.
“Hmm .. .” Arsel menoleh.
“Kamu .. .” Belum sempat Karina berbicara, ponsel Arsel berdering.
Drttt .. drttt ...
Drttt ... drttt ..
“Ehm sebentar .. sebentar.” Ucap Arsel sambil mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celananya.
“Hmm okeh.” Jawab Karina.
Arsel melihat ke layar ponselnya siapa yang menelponnya sore hari begini, ternyata Cathrine yang menghubungi Arsel dan mengajak untuk makan malam bersama.
“Halo, Cath.” Jawab Arsel.
“Cath?.”
“Siapa wanita itu.” Gumam Karina.
“Arsel nampak senang sekali.”
“Apakah dia pacarnya Arsel.” Ucap Karina yang sedang melirik Arsel.
Karina yang berada di samping Arsel langsung kaget, Arsel berbicara dengan wanita di telpon. ia bertanya-tanya siapa wanita yang sedang dekat dengan Arsel itu. Karina berusaha mendengarkan sedikit demi sedikit pembicaraan Arsel dengan Cathrine di telpon. Karina melihat wajah Arsel tersenyum bahagia saat sedang berbicara dengan wanita yang Arsel panggil Cath itu.
“Iyah?, makan malam?.”
“hari ini?.”
“Ehmm, bisa kok.” Jawab Arsel lagi.
“Iyah, bener.”
“Ini aku sedang di lift, sudah jalan keluar kantor.”
“Mau bertemu dimana?.” Tanya Arsel.
“Oke, baiklah.”
“Bagaimana kalau kita pergi bersama?.”
Karina sangat penasaran, pasalnya Arsel ingin makan malam bersama wanita itu dan iya ingin menjemputnya terlebih dulu. Karina yang mencoba mendengarkan lagi langsung terhalangi oleh pintu yang tiba-tiba terbuka. Mereka sudah sampai di lobi. Arsel langsung pamit kepada Karina untuk pergi lebih dulu. Karina hanya melihat Arsel meninggalkannya dan pergi begitu saja untuk kedua kalinya.
“Oh, iyah iya aku akan segera ke tempatmu.” Arsel melirik ke arah Karina.
“Aku duluan, ya.” Bisik Arsel sambil berjalan keluar dan melanjutkan panggilannya dengan Cathrine.
“Ehmm, oke.” Jawab Karina sambil berjalan keluar melihat Arsel pergi.
“Yah, ditinggal lagi.”
“Padahal aku sudah berusaha keras.” Ucap Karina.
Karina langsung lesu, ia berjalan pelan keluar kantor. Ketika Karina membuka pintu kaca tampak dari jauh seseorang sedang melambaikan tangannya pada Karina. Karina mengkrenyitkan dahinya ia pun menoleh ke belakang, memastikan apa orang itu memang melambaikan tangan padanya.
“Apa dia memanggilku?.” Ucap Karina sambil menoleh kebelakang dan melihat sekitar.
“Siapa itu?.” Jawab Karina sambil berjalan mendekati.
Ternyata itu adalah tunangan Karina yang sudah menunggu dari tadi untuk menjemput Karina pulang kantor. Karina sangat terkejut, pasalnya ia tidak ada menghubungi Karina untuk mengajak pulang bersama tiba-tiba sudah ada di kantor Karina. Karina langsung cepat-cepat masuk ke dalam mobil, ia melihat ke sekitar takut kalau Arsel akan melihatnya.
“Ayo, cepat jalan.” Ucap Karina sambil melihat ke arah parkiran tempat Arsel memarkirkan motornya.
“Apa yang terjadi?.”
“Kenapa kamu panik?.” Tanya tunangan Karina.
“Ahh, tidak apa-apa.”
“Sebaiknya kamu fokus menyetir saja.” Ucap Karina.
“Hmm, baiklah.
Karina dan tunangannya pergi dari kantor, Arsel juga sudah meninggalkan kantor untuk menjemput Cathrine dan makan malam bersama. Arsel sama sekali tak menyangka kalau Cathrine yang mengajak bertemu duluan.
“Wah, Cathrine .. .” Ucap Arsel yang sedang mengendarai motornya.
“Sepertinya aku harus ke atm dulu.”
“Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri di depan Cathrine.”
“Apalagi ini first date.” Ucap Arsel lagi.
“Aaa... .” Arsel tersenyum.
Arsel menjemput ke tempat kerja Cathrine dan langsung menuju lokasi makan malam. Saat Arsel memasuki tempat yang di kunjungi bersama Cathrine, Arsel tak sengaja melihat Karina sudah berada disana dengan laki-laki yang Arsel belum pernah lihat.
“Kamu mau duduk dimana?.” Tanya Arsel kepada Cath yang tak sengaja melihat ke arah Karina.
“Bukannya itu Karina?.” Ucap Arsel pelan.
“Ha, gimana Sel?. Tanya Cathrine bingung apa yang sedang dikatakan oleh Arsel.
“Oh, bukan apa-apa kok.” Jawab Arsel.
“Kita duduk disana saja yuk.” Tunjuk Cathrine yang ingin duduk dekat dengan bangku Karina.
“Oh, Oke.” Jawab Arsel sambil berjalan mendekat.
Karina yang melihat Arsel langsung berpaling dan sedikit menutupi wajahnya, ia tak ingin Arsel mengetahui bahwa ia sedang bersama tunangannya.
“Ha, Arsel?.” Ucap Karina.
“Kamu kenapa?.”
“Kok dari tadi sikap kamu aneh begitu?.” Tanya tunangan Karina.
“Engga, kok.”
“Itu hanya perasaan kamu saja.” Jawab Karina yang sesekali melirik Arsel.
Karina yang melihat Arsel bersama dengan seorang wanita langsung penasaran ingin melihat dengan jelas wanita itu.
“Secantik apa sih wanita itu.” Ucap Cathrine dalam hati.
Tak perlu menunggu lama untuk melihat wajah Cathrine, pasalnya Cathrine ijin kepada Arsel untuk pergi ke toilet dulu dan melewati tempat duduk Karina.
“Aku ke toilet dulu, ya.” Ucap Cathrine.
“Hmm, baiklah.” Jawab Arsel.
Karina tak berkedip saat melihat Cathrine lewat di sampingnya. Karina terpesona melihat kecantikan Cathrine. Tunangan Karina heran melihat Karina memandang orang lain sebegitunya.
“Sayang, why?.”
“Ohh, bukan apa-apa.”
“Seperti kenalan ku.” Jawab Karina.
“Kenapa cantik sekali.” Ucap Karina.
Karina dan Cathrine sama-sama cantik, mereka tidak bisa dibandingkan satu sama lain karena setiap wanita memiliki kecantikkan yang sudah sesuai dengan porsinya masing-masing tergantung bagaimana dari kita melihatnya.
Arsel yang melihat dari jauh Karina sedang memandang Cathrine sebegitunya hanya tersenyum, ia membuka menu yang diberikan oleh pelayan dan membaca apa yang ingin ia pesan. Karina juga pergi ke toilet. Ia berjalan menuju wastafle dan mencuci tangannya tepat berada di samping Cathrine dan menatapnya dari kaca.
“Jadi dia pacar Arsel.” Ucap Karina yang melihat kearah Cathrine sinis.