Siapa orang yang berada di balik bingkai foto itu...

2062 Kata
               Buk Seira terlihat sangat senang bercanda bersama dengan Pak Ammar bahkan, Buk Seira tak melihat Arsel sedikit pun yang sedang mengantar kopi untuknya.                “Cuma dua, ya?.” Ucap Pak Lutfi.                “Eh, iyah Pak.”                “Saya tidak tau kalau Pak Ammar ada disini juga.” Jawab Arsel.                “Boleh kamu buatkan satu lagi.” Ucap Pak Lutfi.                “Baik Pak, tunggu sebentar.” Jawab Arsel.                “Thank you, Sel.” Ucap Pak Ammar sambil menyenggol tangan Arsel.                “Hmmm.” Jawab Arsel sambil tersenyum.                Arsel keluar kembali untuk membuat secangkir kopi lagi, ia bingung melihat sikap Buk Seira yang begitu terhadap Pak Ammar. Buk Seira nampak begitu akrab kepada Pak Ammar.                “Buk Seira seperti orang yang berbeda, ya.” Ucap Arsel sambil menghidupkan mesin kopi yang ada di depannya.                “Eh tapi, mengapa Pak Ammar berada disini?.”                “Apa Pak Ammar ingin menjemput Buk Seira.” Pikir Arsel.                “Apa yang sedang kupikirkan, lebih baik aku cepat mengantar kopi ini dan kembali ke kantor pusat.” Ucap Arsel yang sedang menyiapkan kopi.                Arsel yang sedang berjalan menuju ruangan Pak Lutfi untuk mengantar kopi Pak Ammar pun tiba-tiba berhenti, dilihatnya Pak Lutfi keluar ruangan berjalan ke arah Arsel.                “Bapak mau tambahan kopi lagi?.” Tanya Arsel.                “Oh, tidak.” “Ini..” sambil menunjuk kopi yang Arsel pegang.                “Biar saya saja yang membawa masuk ke dalam.” Ucap Pak Lutfi.                “Ohh, iyah Pak.” Arsel memberikan kopi yang dipegangnya kepada Pak Lutfi.                “Kamu bisa langsung kembali saja ke kantor.” Tambah Pak Lutfi.                “Baik, Pak. saya permisi kalau begitu.” Jawab Arsel sedikit menunduk dan berjalan pergi. Tak jauh Arsel berjalan, ia menoleh sedikit ke belakang, dilihatnya Pak Lutfi berjalan menuju dapur bukan masuk ke ruangan untuk menyerahkan kopi kepada Pak Ammar. Arsel berhenti sebentar dan tak mau memikirkan apa yang bukan menjadi urusannya.                “Kok Pak Lutfi malah balik ke dapur, ya.” Ucap Arsel.                “Ah, kenapa aku harus ikut campur.”                “Biarkan saja lah, itu kan bukan urusanku.” Ucap Arsel lagi sambil berjalan menuju parkiran sepeda motornya.                  Pak Lutfi yang berjalan masuk ke dapur duduk dan menikmati kopi yang dibuat oleh Arsel untuk Pak Ammar. Pak Lutfi juga tak habis pikir dengan Buk Seira.                “Wah, enak juga kopi buatan Arsel ini.” Ucap Pak Lutfi sedikit demi sedikit menyeruput kopinya.                “Ada-ada saja memang Buk Seira, bisa-bisanya dia ingin bersama Pak Ammar.” Ucap Pak Lutfi lagi.                “Sebaiknya memang aku tidak mengganggu mereka.”                “Untung saja ada Pak Ammar, kalau tidak bisa gawat aku di lapangan tadi dibuat Buk Seira.” Pak Lutfi duduk menikmati kopinya dan membaca koran yang ada di depannya. Seseorang masuk ke dapur, sontak saja Pak Lutfi langsung terkejut dan melihat ke arah pintu.                “Lihat, siapa yang sedang duduk sendirian disini.” Ucap Pak Ammar.                “Ahhh, mengagetkanku saja.” Jawab Pak Lutfi sambil mengelus dadanya.                “Loh, bagaimana kamu bisa disini.”                “Dimana Buk Seira?.”                “Kenapa kamu meninggalkannya sendirian di dalam.” Tanya Pak Lutfi lagi.                “Sepertinya kamu sudah tua, ya.”                “Melihatku saja sudah langsung jantungan seperti itu.” Ucap Pak Ammar sambil duduk di sebelah Pak Lutfi. Tak langsung menjawab pertanyaan yang di berikan Pak Lutfi, Pak Ammar malah duduk di sebelah Pak Lutfi dan menyeruput kopi milik Pak Lutfi, Pak Lutfi yang di sebelah Pak Ammar hanya bisa melihat kopinya diminum.                “Aku balik dulu kalau begitu, terima kasih atas kopinya.” Pamit Pak Ammar kepada Pak Lutfi.                “Hei, ada apa denganmu.”                “Setelah menghabiskan kopiku, kenapa malah pergi.” Panggil Pak Lutfi yang tak habis pikir kepada Pak Ammar.                “Kenapa dia melakukan itu, padahal aku atasannya.” Ucap Pak Lutfi yang melihat cangkir kopinya telah habis.   Arsel yang sedang berada di parkiran dan tengah bersiap menuju kantor di hadang oleh Pak Ammar.                “Eh... .” Ucap Arsel.                “Kamu mau balik, Sel.” Tanya Pak Ammar.                “Iyah nih, Pak.” Jawab Arsel.                “Boleh saya ikut bareng kamu?.” Tanya Pak Ammar lagi.                “Ha, gimana maksudnya Pak?.” Tanya Arsel kembali.                “Bapak ingin balik bersama saya dengan sepeda motor butut ini.” Ucap Arsel.                “Iyah, saya tidak bawa mobil.”                “Saya ikut sampai doorsmeer depan sana saja.” Jawab Pak Ammar. Arsel yang tidak menyangka bahwa Pak Ammar ingin menumpang dengan sepeda motornya pun menyetujui permintaan Pak Ammar. Ia mengijinkan Pak Ammar pulang bersama dengannya.                “Ayo Pak tapi, saya tidak membawa helm lebih.” Ucap Arsel.                “Oh, iyah tidak apa-apa.”                “Saya kan hanya menumpang sampai depan saja.” Jawab Pak Ammar menaiki sepeda motor Arsel. Mereka pun pergi bersama meninggalkan lapangan dan kembali ke kantor. Buk Seira yang melihat dari jendela ruangan Pak Lutfi pun sedikit kesal.                “Ternyata dia ingin pulang bersama Arsel.” Ucap Buk Seira.                “Bukankah tadi ia membawa mobilnya.” Tambah Buk Seira lagi. Buk Seira yang sedang melihat dari jendela terkejut saat Pak Lutfi membuka pintu, Ia langsung cepat-cepat duduk kembali dan pamit pulang kepada Pak Lutfi.                “Pak Lutfi terima kasih atas kopinya.”                “Sepertinya saya harus permisi dulu.”                “Sampai jumpa di kunjungan selanjutnya.” Ucap Buk Seira.                “Loh, sudah mau balik Buk?.” Tanya Pak Lutfi.                “Ohh, iya Buk.”                “Terima kasih atas kunjungan hari ini.”                “Mohon dibantu untuk laporannya ya Buk.” Tambah Pak Lutfi sembari tersenyum.                “Hmmm.” Buk Seira tidak mengiyakan, ia hanya tersenyum kepada Pak Lutfi. Mobil Buk Seira sudah menunggu di depan, Buk Seira kembali ke kantor pusat dengan supir pribadinya. Anggota dan tim lainnya telah kembali lebih dulu. Saat sedang di perjalanan menuju kantornya, Buk Seira sedang melihat Arsel di jalan bersama Pak Ammar di tempat cuci mobil.                “Berarti dia tidak membohongiku.”                “Benar, mobilnya sedang di cuci.” Ucap Buk Seira yang melihat Pak Ammar. Arsel hanya mengantar Pak Ammar sampai di tempat cuci mobil, ia permisi kepada Pak Ammar untuk kembali ke kantor terlebih dulu.                “Kalau begitu, saya permisi dulu Pak.” Ucap Arsel.                “Baik, Arsel. Terima kasih atas tumpangannya.” Jawab Pak Ammar.                “Iyah, Pak.” Arsel mengklakson sepeda motornya dan melanjutkan kembali perjalanannya.   Sesampainya di kantor, Arsel langsung di sambut dengan Karina. Karina yang berada di luar menyapa Arsel dan berjalan masuk bersama.                “Baru balik?.” Tanya Karina.                “Eh, iyah nih.” Jawab Arsel.                “Kamu mau?.” Ucap Karina menawarkan salah satu minuman yang di pegangnya.                “Oh, tidak usah.”                “Ini kan untuk timmu.” Jawab Arsel.                “Tidak apa-apa, aku sengaja membelinya lebih satu.”                “Lagian, ini juga sebagai ucapan terima kasihku karena telah mengantarkan ku pulang tadi malam.” Ucap Karina.                “Ahhh, begitu.”                “Baiklah.” Arsel mengambil salah satu minuman yang sedang di pegang oleh Karina.                “Thank you.” Ucap Arsel sambil berjalan lebih dulu karena ruangan Karina dan Arsel berbeda.                “Bye... .” Ucap Karina yang berhenti berjalan sambil menatap Arsel yang pergi terlebih dahulu.                “Bahkan dia berjalan begitu saja tanpa menoleh ke arahku.” Tambah Karina. Mereka berpisah di lorong sebab ruangan Arsel dan Karina berbeda, Arsel berjalan lebih dulu meninggalkan Karina dan Karina memperhatikan Arsel sampai Arsel hilang dari pandangannya. Sepertinya Karina mulai menaruh hati pada Arsel si anak baru yang tadi malam mengantarnya pulang kerumah. Tidak tau apa maksud Karina melakukan itu sebab, ia sudah memiliki tunangan seperti yang dibilang oleh Pak Ammar. “Baru balik, bro.” Ucap teman seruangan Arsel. “Eh iyah nih.” “Lanjut laporan dulu.” Jawab Arsel. “Sepertinya segar kopi itu?.” Kata teman Arsel. “Ohh, ini. Ambillah ini untukmu.” Jawab Arsel sambil memberikan kopi yang belum sempat ia minum kepada temannya. “Wah, benarkah?.” “Terima kasih bro.” Menepuk pundak Arsel. “Ahhhh... segar sekali, aku bisa melihat dunia dengan jelas.” Ucap teman Arsel. Arsel hanya tersenyum melihat kelakuan salah satu temannya itu. Ia memijit pelan pundaknya dan sedikit menggerakkan lehernya.                “Kenapa pundakku berat sekali.”                “Umur sepertinya tidak bisa dibohongi.”                “Apa aku harus membeli koyo.” Ucap Arsel sambil mulai membuat laporannya. Saat Arsel tengah serius menulis laporannya, Pak Ammar mengetuk mejanya dan sedikit melirik Arsel.                Tokk ...tokk                “Serius sekali.” Ucap Pak Ammar sambil masuk ke dalam ruangannya.                “Eh.. .” Arsel hanya menjawab dengan senyuman saja. Arsel melanjutkan untuk membuat laporannya kembali, ia fokus agar siap tepat waktu dan bisa kembali kerumah untuk segera istirahat.                “Sepertinya aku harus cepat.”                “Mumpung Pak Ammar sudah kembali, jadi aku bisa segera menyerahkannya.”                “Sebelum dia pergi keluar lagi.” Ucap Arsel yang sangat bersemangat mengerjakan laporannya.   Drrtt... drttt Drttt ...drttt ... Ponsel Arsel berdering. Arsel yang tengah sibuk mengerjakan laporannya hanya meliriknya. Tadinya dia ingin mengacuhkan ponselnya tapi, ternyata Pak Lutfi yang menelponnya. Dia langsung menjawab panggilan tersebut.                “Siapa yang menelponku disaat seperti ini.” Ucap Arsel sambil melirik.                “Haaa Pak Lutfi.”                “Sebaiknya harus segera ku angkat.” Sambil mengambil ponselnya.                “Halo, Pak.” Jawab Arsel.                “Arsel bisa kirim ke saya laporan yang kamu buat hari ini?.” Kata Pak Lutfi.                “Ini masih sedang saya kerjakan, Pak.” Jawab Lutfi.                “Baiklah, saya tunggu secepatnya ya, Sel.” Tambah Pak Lutfi.                “Ohh, iyah baik Pak.”                “itu email saya sudah saya kirimkan ya.” Ucap Pak Lutfi.                “Iyah baik, Pak. Segera akan saya kirimkan.” Jawab Arsel sambil mematikan ponselnya. Setelah di telpon oleh Pak Lutfi, Arsel langsung mengerjakan laporan yang hampir diselesaikannya. Baru saja Arsel meletakkan ponselnya, ponselnya berdering kembali.                Drttt... drttt ...                Drtttt ... drrttt ...                “Wah siapa lagi ini.”                “Kapan aku bisa siap mengerjakan laporan ini, kalau semua orang menelpon ku seperti ini.” Ucap Arsel sabil menjawab ponselnya.                “Haloo.” Jawab Arsel.                “Arsel, kamu sudah menyelesaikan laporannya.” Tanya Pak Ammar.                “Hampir selesai, Pak.”                “Sedang saya periksa kembali sebelum saya serahkan.” Jawab Arsel sambil melihat layar ponselnya.                “Santai saja, Sel. Tak usah buru-buru.” Jawab Pak Ammar.                “Nanti kamu kirim via e-mail saja ya.”                “Agar saya segera meriviewnya.”                “Saya sebentar lagi akan keluar.” Ucap Pak Ammar.                “Oh, begitu.”                “Baik, Pak.” Jawab Arsel.                “Okelah kalau begitu, Sel. “Jangan lupa, tetap Hard copynya kamu taruh di meja saya.” Tambah Pak Ammar.                “Baik, Pak.”                “Segera saya laksanakan.” Ucap Arsel mematikan ponselnya.   Setelah Arsel memeriksa laporannya, ia segera mengirimkannya kepada Pak Ammar dan Pak Lutfi, tak lupa ia langsung mengeprint laporannya dan mengantarnya ke ruangan Pak Ammar. Pak Ammar berjalan keluar dari ruangannya, Pak Ammar nampak sibuk dengan ponselnya ia tak melihat ke arah Arsel atau karyawan lainnya. Arsel yang ingin menyapanya hanya terdiam melihatnya saja.                “Sepertinya Pak Ammar sedang ada urusan yang sangat penting.” Ucap Arsel.                “Baiklah, laporan ini akan segera ku selesaikan.”                “Agar aku juga bisa cepat pulang.” Tambah Arsel yang sudah ingin rebahan. Arsel mengambil hasil laporan yang telah di print dan memasukkan ke dalam map, setelah laporan via email dikirimkan selanjutnya ia berjalan menuju ruangan Pak Ammar untuk meletakkan laporan yang telah dibuatnya tadi ke meja kerja Pak Ammar. Tak lupa Arsel mengetuk ruangan terlebih dulu walaupun Arsel mengetahui bahwa Pak Ammar sedang tidak ada di ruangannya. Tokk .. tokkk. “Permisi.” Ucap Arsel sambil membuka pintu ruangan Pak Ammar. “Nyaman sekali ruangan Pak Ammar.” Ucap Arsel. “Butuh berapa lama agar bisa menjabat seperti Pak Ammar, ya.” Tambah Arsel yang kagum denga ruangan Pak Ammar. Arsel berjalan masuk menuju meja kerja Pak Ammar meletakkan laporannya dan segera keluar kembali ke mejanya. Tapi, Arsel melihat sebuah bingkai foto yang terbalik di atas meja Pak Ammar. Arsel melihat ke arah pintu, memastikan tidak ada orang yang masuk ke dalam sebab, ia ingin membuka bingkai foto tersebut. “Foto siapa ini.” Ucap Arsel sambil memegang bingkai foto tersebut dan siap untuk melihatnya. Saat Arsel membalikkan bingkai foto tersebut, seseorang masuk ke dalam ruangan Pak Ammar. Arsel yang terkejut langsung melihat ke arah pintu. “Arsel... .” Ucap orang tersebut. “Ha... .” Jawab Arsel panik sambil memegang bingkai foto itu.         “Kamu sedang apa?.” Tanya orang yang berada di pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN