Arsel yang sedang mencari makan siang, hanya melewati tempat makan yang sedang dikunjungi oleh Buk Seira dan yang lainnya.
“Sebaiknya aku jangan makan disini, aku makan di tempat lain saja.” Ucap Arsel.
Sampailah Arsel di warung nasi padang yang berada tidak jauh dari lokasi tempat Arsel bekerja.
“Mau makan pake apa bang?.” Tanya pemilik warung.
“Nasi pake ayam bakar aja bang.” Jawab Arsel sambil menuang air ke gelas.
“Iyah, bang.”
Selagi menunggu pesanan datang, Arsel membuka ponselnya dan terlihat dari layar ponsel satu pesan dari Cathrine. Arsel buru-buru langsung membukanya.
“Cathrine mengirimiku pesan.” Ucap Arsel.
“Wah bikin semangat hariku saja.”
Tak tau apa isi dari pesan tersebut apa, tapi Arsel sudah sangat senang sekali. Ia yang tak pernah berkirim pesan dengan wanita-wanita merasa saat ini diperhatikan khusus oleh wanita yang ia sukai.
“Arsel, kamu baik-baik saja?.” Tanya Cathrine.
“Kenapa Kemarin kamu tidak membalas pesanku.” Tambah Cathrine.
“Astagaa, bagaimana aku bisa lupa membalas pesannya.” Ucap Arsel.
“Oh, iyah. Karena buru-buru mengantar Karina aku jadi tidak sempat membalas pesan dari Cathrine.”
“Apa sebaiknya langsung ku telpon saja, ya.”
“Apa tidak mengganggu jam makan siangnya?.”
“Ahh, sudahlah. Kutelpon saja dia ini.” Ucap Arsel yang sudah memutuskan harus berbuat apa.
Saat Arsel sedang menelpon dan menunggu dijawab oleh Cathrine, pesanan Arsel datang. Arsel meletakkan ponselnya dimeja dan membantu meletakkan makanannya.
“Ini, bang.”
“Minumnya apa bang?.” Tanya pemilik warung.
“Es jeruk, ya bang satu.” Jawab Arsel.
“Oke, sebentar ya bang.”
“Iyah, bang.” Jawab Arsel.
Tak berpikir lama, Arsel langsung menyantap makanannya yang sudah datang, ia tidak teringat bahwa tadi sedang menelpon Cathrine.
“Wah, nikmat sekali.”
“Bang, nasi tambahnya satu ya.” Ucap Arsel yang merasa lapar dan masakannya pas sesuai dengan selera Arsel.
“Oke, bang.” Jawab pemilik warung.
“Sepertinya aku bakalan langganan disini nih.” Ucap Arsel.
Pemilik warung datang lagi mengantar pesanan Arsel es jeruk dan nasi tambah. Arsel langsung menyantapnya.
“Pas sekali es jeruk dengan cuaca saat ini.” Sambil melihat kearah luar yang sangat terik.
“Ahh segarnya.” Ucap Arsel sambil meminum minumannya.
Setelah selesai makan, Arsel duduk sebentar sambil melihat kearah luar. Ia masih tidak tau kalau Cathrine sudah menjawab telponnya. Arsel melihat jam yang ada ditangannya.
“Sebaiknya aku segera kembali.” Ucap Arsel.
Arsel pun bergegas membayar pesanannya dan memasukkan ponselnya ke saku celana tanpa melihat layar ponselnya.
“Makasih ya, bang.” Ucap Arsel sambil berjalan menuju sepeda motornya.
Disaat Arsel menuju lokasi kerjaan, Arsel melihat ke tempat makan yang di datangi oleh Buk Seira, Pak Ammar dan Pak Lutfi tadi. Ia melihat mereka sudah tidak berada disana.
“Apa mereka sudah kembali, ya.” Tanya Arsel.
“Hmmm, biarkan sajalah.” Tambah Arsel.
Nampak dari jauh Buk Seira, dan Pak Lutfi turun dari mobil yang sama. Arsel yang sedang mengendarai sepeda motornya menuju parkiran mulai bertanya-tanya kembali dan melihat mereka sedang menaiki mobil Pak Ammar.
“Ternyata diluar mereka akrab, ya.” Ucap Arsel.
“Bahkan dengan Pak Ammar sekalipun.” Tambah Arsel.
“Sebaiknya kutunggu sampai mereka masuk kedalam dahulu.” Sambil mengurangi kecepatan sepeda motornya.
“Aku sedang tidak ingin bertemu dengan Buk Seira.” Sambil melihat kearah celananya.
“Ahrrg kalau diingat-ingat aku malu sekali.” Ucap Arsel.
Saat Arsel mulai memarkirkan sepeda motornya, ponsel Arsel berbunyi. Sepertinya Cathrine sudah menutup panggilannya.
“Siapa ini yang menelponku.” Tanya Arsel sambil mengambil ponselnya.
“Haa, Cathrine.”
“Astaga, aku lupa tadi sedang menghubunginya.” Ucap Arsel.
Arsel baru sadar kalau tadi ia sedang menghubungi Cathrine, Cathrine yang penasaran ada apa mencoba menelpon kembali Arsel.
“Haloo.. .” Jawab Arsel.
“Cathrine.” Panggil Arsel.
“Iyah, Arsel.”
“Ada apa?.”
“Kamu baik-baik saja.” Tanya Cathrine.
“Maafkan aku Cath, aku lupa kalau tadi sedang menelponmu.”
“Tadi aku sedang makan.” Jawab Arsel.
“Iyah, aku tau.
“Tadi aku mendengarmu sedang menikmati es jeruk.” Jawab Cathrine sambil sedikit tertawa.
“Aduhh, aku malu sekali.” Ucap Arsel.
“Oh ya Cath, nanti aku hubungi kembali ya.”
“aku mau melanjutkan pekerjaanku.” Ucap Arsel.
“Oh, iyah Sel.”
“Selamat bekerja.” Jawab Cathrine menutup panggilannya.
Arsel juga mematikan panggilannya dan segera menuju lokasi untuk melanjutkan pekerjaannya. Pada saat Arsel berjalan menuju lokasi nampak Pak Lutfi sudah menunggu Arsel. Arsel sedikit panik dan bergegas mendtangi Pak Lutfi.
“Wah, ada apa lagi ini.” Ucap Arsel yang sedikit penasaran.
“Sepertinya ada masalah baru.” Tambah Arsel sambil sedikit berlari.
“Bapak sudah dari tadi?.” Tanya Arsel.
“Oh kamu sudah datang.” Jawab Pak Lutfi.
“Sudah, Pak.” Jawab Arsel.
“Jadi gini, Sel. Permasalahan yang tadi jangan dibawa serius.”
“Biar dia saja yang urus.” Ucap Pak Lutfi sambil menunjuk orang yang menjadi penanggung jawab atas lokasi yang bermasalah.
“Oh, iyah Pak.”
“Sebaiknya kamu bantu Buk Seira dan tim untuk mengecek lokasi selanjutnya.”
“Buk Seira saat ini sedang berada lokasi yang tadi.” Ucap Pak Lutfi.
“Soalnya saya ada janji dengan yang lain.” Tambah Pak Lutfi.
“Ha, saya Pak?.”
“Saya belum begitu mengerti lokasi-lokasi yang ada disini.” Jawab Arsel yang berusaha mencari alasan agar tidak bertemu dengan Buk Seira.
“Dia yang menyarankan kamu, jadi saya tidak bisa menolak.” Jawab Pak Lutfi.
“Oh, begitu Pak.”
“Baiklah, Pak.” Jawab Arsel.
“Kamu bawa buggy car yang ada di depan sana.”
“Biar Buk Seira tidak capek berjalan.” Kata Pak Lutfi.
“Ooh iya, siap Pak.” Jawab Arsel.
Arsel bergegas mendatangi Buk Seira, ia berjalan menuju parkiran buggy car (Mobil Golf) untuk menjemput Buk Seira.
“Ah, aku sengaja menghindarinya.”
“Malah dia yang memilihku.” Gumam Arsel.
“Bagaimana mengendarainya?.” Ucap Arsel sambil melihat-lihat ke arah dasboard.
“Aku belum pernah mengendarainya.”
“Wahh ...” Arsel berhasil menjalankan buggy car tersebut.
“Dimana Buk Seira? Kenapa dia tidak nampak.” Ucap Arsel sambil melihat ke sekeliling.
Arsel turun dari buggy car dan mencari Buk Seira ke lokasi yang tidak bisa dijangkau dengan buggy car.
“Hmm, Kemana dia ya.” Ucap Arsel sambil melihat kekanan dan kekiri.
“Kamu mencari saya?.” Jawab Buk Seira yang sudah berada di samping Arsel.
“Wahhh, bikin kaget saja.” Ucap Arsel.
“Kenapa kamu kaget? Seperti melihat hantu saja.” Ucap Buk Seira.
“Lokasi mana selanjutnya yang harus saya datangi?.” Tanya Buk Seira sambil berjalan menuju buggy car.
“Tim yang lain berada dimana buk?.” Tanya Arsel yang hanya melihat Buk Seira seorang diri.
“Tim sudah dijemput dengan yang lain.” Jawab Buk Seira.
“Baik, Buk.” Jawab Arsel sambil menghidupkan buggy carnya.
“Kenapa kamu lama sekali menjemput saya.” Tanya Buk Seira yang melihat kearah Arsel.
“Oh, iyah maaf buk.” Jawab Arsel yang hanya fokus mengendarai buggy carnya.
“Arsel.. .” Panggil Buk Seira.
“Iyah, Buk. Ada yang bisa saya bantu?.” Jawab Arsel yang akhirnya melirik Buk Seira.
“Gitu dong, kalau orang sedang berbicara sebaiknya kamu melihat wajah orang tersebut.” Jawab Buk Seira.
“Heheh maaf Buk.” Jawab Arsel.
Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di lokasi selanjutnya, Buk Seira langsung turun dan mendatangi tim yang sudah terlebih dahulu berada di lokasi.
“Oh, itu mereka.” Ucap Arsel.
“Hmmm.” Jawab Buk Seira yang sedang fokus membaca laporan.
“Kamu tidak turun?.” Tanya Buk Seira yang melihat Arsel masih duduk di buggy car.
“Ini Buk saya mau turun.” Jawab Arsel.
“Padahal aku ingin menunggu disini saja.” Gumam Arsel.
“Ha, kenapa?.” Tanya Buk Seira yang mendengar suara Arsel.
“Tidak Buk, tidak apa-apa.”
“Silakan Buk.” Arsel mempersilahkan Buk Seira berjalan terlebih dulu.
Arsel menjaga jaga jarak antara dirinya dan tim Buk Seira yang sedang visit. Ia tak ingin mengganggu fokus Buk Seira karena kehadirannya. Ia hanya melihat dari kejauhan dan sesekali melihat kearah lain.
“Ternyata Buk Seira cantik sekali, ya.” Ucap Arsel yang kagum.
“Auranya ituloh.” Arsel malah salah fokus kepada Buk Seira yang sedang menjelaskan kepada anggota yang lain.
“Ahh, apa yang sedang kulihat.” Ucap Arsel sambil menutup matanya.
Buk Seira sesekali melirik Arsel, ia tau bahwa Arsel sedang memandanginya dari jauh. Buk Seira yang sedang menjelaskan tiba-tiba tersenyum, angota dan tim lainnya yang melihat Buk Seira tersenyum langsung bertanya-tanya.
“Apa yang salah Buk?.” Tanya salah satu tim.
“Oh, tidak ada.” Jawab Buk Seira.
“Mari kita lanjutkan.” Tambah Buk Seira,
Setelah selesai visit dari satu lokasi ke lokasi selanjutnya, akhirnya mereka kembali menuju ke ruangan Pak Lutfi. Di perjalanan mereka banyak berbicara dan sesekali bercanda.
“Wah, akhirnya selesai juga hari ini.” Ucap Buk Seira.
“Akhirnya ya, Buk.” Jawab Arsel.
“Ibuk terlihat lelah.” Kata Arsel.
“Ha, benarkah?.” Jawab Buk Seira yang langsung megambil cermin untuk melihat keadaan wajahnya.
“Wahh, aku terlihat lelah sekali.”
“Apa Ibu mau kubawakan kopi?. Tanya Arsel.
“Hmm... boleh. Sepertinya aku harus meminum kopi.”
“Biar aku semangat kembali.” Jawab Buk Seira.
“Tapi dimana disini membelinya?.” Tanya Buk Seira lagi.
“Saya tidak membelinya Buk, nanti saya buatkan ketika sudah sampai diruangan Pak Lutfi.” Jawab Arsel.
“Ahhh, begitu.”
“Baiklah.” Jawab Buk Seira.
“Oh, ya Sel.”
“Kamu sudah menikah?.”
“Eh, tapi boleh kah saya bertanya seperti ini?.” Tanya Buk Seira.
“Tidak apa-apa, Buk.”
“Saya belum menikah.” Jawab Arsel.
“Oh, gitu.” Ucap Buk Seira.
“Ibuk sudah menikah?.” Tanyan Arsel kembali.
“Ya, belumlah.” Jawab Buk Seira cepat.
“Oh, benarkah?.” Jawab Arsel tidak percaya.
“Kenapa wajahmu seperti itu?, Kamu tidak percaya?.” Kata Buk Seira melihat Arsel serius.
“Bukan seperti itu buk.” Jawab Arsel sambil meyakinkan Buk Seira.
“Wah yang benar saja. Saya masih muda tau.” Ucap Buk Seira.
“Iyah, saya melihatnya dan saya tau ibu masih muda.” Jawab Arsel.
“Terus? Bahkan, mungkin saya lebih muda dari kamu.” Ucap Buk Seira.
“Tidak mungkinlah, mana mungkin sekelas manager umurnya masih angat muda.” Jawab Arsel.
“Wah jadi menurut kamu saya sudah tua, begitu?.” Tanya Buk Seira.
Buk Seira dan Arsel saling bercanda satu sama lain, Arsel yang tadinya malu dan canggung bertemu Buk Seira malah asik mengobrol seperti teman sepantaran. Sampai pada akhirnya mereka sampai keruangan Pak Lutfi.
“Kita sudah sampai, buk.” Ucap Arsel.
“Oh iyah, cepat sekali ya.”
“Bagaimana kalau kita mutar kembali. Saya sedang tidak ingin buru-buru masuk kedalam.” Jawab Buk Seira yang tidak ingin buru-buru masuk.
“Hahah.” Arsel tertawa melihat keinginan managernya yang satu itu.
“Kenapa ibu lucu sekali.” Ucap Arsel.
“Benarkah?”.
“Bagaimana kalau kita pacaran saja.” Ucap Buk Seira.
“Wah sepertinya ibuk memang butuh asupan kopi.” Jawab Arsel.
“Sebaiknya Ibu cepat turun, biar saya buatkan kopi.” Ucap Arsel.
“Kamu mengusir saya.” Jawab Buk Seira sambil sedikit tersenyum.
“Baiklah, saya turun kalau begitu.”
“Bukan begitu Buk, maksud saya.. .” Jawab Arsel yang ikut tertawa juga.
Buk Seira akhirnya masuk ke ruangan Pak Lutfi diikuti Arsel dari belakang, Buk Seira mengingatkan Arsel untuk segera mengantar kopinya.
“Jangan lupa kopi saya.” Kata Buk Seira sambil membuka pintu ruangan Pak Lutfi.
“Baik, Buk.” Jawab Arsel.
Arsel dan Buk Seira berpisah di depan ruangan Pak Lutfi. Arsel menuju dapur untuk menyiapkan kopi Buk Seira.
“Sebaiknya aku membuat dua.”
“Satu untuk Buk Seira dan satu lagi untuk Pak Lutfi.” Ucap Arsel sambil mengambil gelas.
Setelah siap membuatkan kopi, Arsel berjalan menuju ruangan Pak Lutfi, Tak lupa ia mengetuk pintunya sebelum masuk.
Tokkk..tokk..
“Permisi.” Kata Arsel sambil membuka pintu.
Terdengar Buk Seira sedang tertawa lepas bersama Pak Lutfi dan satu orang lainnya.
“Suaranya seperti tidak asing.” Gumam Arsel.
“Masuk.” Kata Pak Lutfi.
Ternyata Pak Ammar sudah berada di dalam, dan duduk disamping Buk Seira. Arsel melihat Buk Seira sedang duduk menatap ke arah Pak Ammar sambil tertawa sesekali menepuk lengan Pak Ammar.
“Maaf mengganggu Pak, ini kopinya.” Ucap Arsel sambil menaruh gelas kemeja dan sedikit melirik ke arah Buk Seira yang sama sekali tak melihat kearah Arsel.